Hari demi hari hubungan Yoga dan Anya mulai akur. Setiap Yoga menelpon Anya pun tidak sejutek yang dulu, Yoga pun juga memberi ruang untuk Anya karena Ia tau bahwa prioritas Anya saat ini bukanlah cinta-cintaan. Yoga ingin sedikit demi sedikit masuk dalam hati Anya, perlahan tapi pasti.
Hari ini Yoga mengajak Anya makan siang, anehnya Anya tidak merasa risih dan menerima dengan tanpa pikir panjang. Yoga sampai di kampus Anya untuk menjemputnya, Ia tidak menggunakan seragam polisinya, hanya menggunakan kaos navy dan celana pendek coklat yang dipadupadankan dengan sandal japit santai. Tapi saat Ia lewat banyak wanita yang terperangah melihat ketampanannya. Anya yang melihat Yoga menjadi pusat perhatian cewek-cewek kampus membuatnya uring-uringan.
Anya menunggu di depan gedung kampusnya, menunggu Yoga yang datang menghampirinya. Namun dari parkiran menuju depan gedungnya Yoga berjalan santai dengan banyak tatapan tertuju padanya. Anya yang awalnya sumringah berubah menjadi cemberut.
"Sudah selesai kuliahnya?"
"Hmmm." Anya menjawab dengan jutek.
"Loh kok jutek sih."
"Ya gak papa dong, suka-suka."
"Yaudah sekarang pengen makan dimana?"
"Pengen makan sushi." Anya memanyunkan bibirnya.
"Yuk cari sushi." Mereka berjalan beriringan menuju mobil.
"Kakak nih sengaja mau jemput disini biar bisa tepe-tepe yah?"
"Tepe-tepe apaan?"
"Tebar pesona tebar pesona. Tuh liat cewek-cewek pada curi-curi pandang." Keluh Anya sewot.
"Yang curi-curi pandang kan mereka, aku mana tau." Yoga masih dengan cueknya. Anya semakin memasang wajah jutek sambil melihat cewek-cewek yang berbisik-bisik sambil sesekali mencuri pandang sama Yoga.
"Emang kenapa sih? Biarin juga itu kan mata mereka, mereka berhak liat apa aja yang mereka mau."
"Bilang aja seneng diliatin cewek. Sok kecapekan." Anya berlalu mendahului Yoga berjalan cepat menuju mobil Yoga. Bersender di depan pintu kursi penumpang. Yoga yang masih santai berjalan terheran dengan sikap Anya. Yoga membuka pintu mobil dengan kunci otomatisnya.
"Iih lama banget." Gerutu Anya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Yoga mencoba tenang menanggapi tingkah Anya karena tidak ingin ada perang dunia.
"Kamu kenapa? Lagi PMS?"
"Gak kenapa-napa." Jawab Anya.
"Terus kenapa jutek banget cuma karena cewek-cewek tadi?"
"Siapa yang jutek. Biasa aja."
"Apa kamu cemburu?"
"Aku? Cemburu? Sama kakak? Ya enggaklah." Kilah Anya.
"Yaudah kalau gitu jangan jutek-jutek lagi dong."
"Hmmm." Anya menjawab sekenanya. Perasaannya bergejolak "Masa iya gue cemburu. Ngapain coba." Batinnya.
***
Sonya dan Iqbal sedang berbincang pasca operasi Airelle yang dilakukan Iqbal.
"Gimana kondisinya anaknya Ezza?"
"Operasinya lancar. Tapi masih belum sadar. Kita tunggu sampai efek biusnya habis dulu."
"Iya Bal. Gue gak tega, pasti Ezza sedih banget liat kondisi anaknya."
"Gue juga sedih liat kondisi lu. Udah mau kawin sama calon jodoh lu tapi masih mikirin cowok lain."
"Iih apaan sih Bal. Beda tau. Ini tuh anak gitu loh. Pasti sedih banget si Ezza."
"Kalau lu merasa dia sedih, lu hibur dia dong. Ajak makan gitu, kayaknya support dari orang yang disayang bisa menghapus sedikit kesedihan."
"Pengennya gitu. Tapi gue takut sama perasaan gue sendiri nantinya. Gue gak bisa ngendaliin kalau deket-deket sama Ezza."
"Hmmm susah amat yah. Kan cuma makan bareng udah bisa jadi baper berarti." Sonya mengangguk.
"Lu tau sendiri gue mau nikah. Jadi gak mungkin gue aneh-aneh sekarang."
"Tapi lu yakin mau nikah? Lu udah kenal siapa itu Andre Andre itu. Kok bisa secepat itu dia mutusin buat nikahin lu." Andre memang sempat melamar Sonya beberapa hari lalu. Hal itu dilakukan Andre karena kepentingannya yang Ia sembunyikan dari Sonya. Jika Ia berhasil menikah dengan Sonya, maka orang tuanya bisa langsung mengabulkan firma hukum untuknya. Tentu saja hal itu membuat Andre harus bekerja keras untuk mendekati Sonya.
"Gue pasrah Bal. Semua kan keputusan mama. Sejauh ini Andre laki-laki yang baik. Dia care banget dan perhatian sama hal-hal kecil."
"Gue yang gak tega liat kondisi lu Nya. Lu idup tapi kayak gak ada semangat hidup gitu. Badan makin kurus banget. Mending lu jujur sama tante Meli tentang semuanya, sebelum terlambat. Ingat, penyesalan datang belakangan. Karena kalau di awal namanya pendaftaran."
"Hmm mesti deh garing banget nih orang."
"Iya sekali-sekali bercandaan dong. Kalau lu cemberut terus gitu bisa cepet tua, keriput disana sini. Terus jadi perawan tua. Aaawwwhh serem kan."
"Sial*n lu! Lu juga perjaka tua. Kita mah sebelas dua belas Bal."
"Hahahaha iya yah, bener-bener. Percuma kita susah payah jadi dokter endingnya juga cuma nikmati jomblo di rumah sakit."
"Hahahaha sabar yah mblo." Mereka berdua tertawa bersama mengingat nasib kejombloan dan perjodohan mereka yang sangat ironis.
***
Oki bergegas untuk melakukan asistensi. Adik tingkatnya sudah menunggunya di gasebo kampus. Saat mendekati gasebo Ia melihat Sisil yang sedang bercanda dengan teman-teman kelompoknya. Oki terpana dengan kecantikannya, hingga langkahnya terhenti. Lamunannya buyar ketika mendengar handphonenya berdering. Lusi.
"Halo."
"Sayang lagi apa?" Sapa Lusi manja.
"Lagi di kampus, mau asistensi."
"Sibuk amat sih sayang. Aku kangen tau, kayaknya udah lama banget kamu gak nyamperin aku ke Jogja." Oki ingat terakhir kalinya Ia ke Jogja tapi hendak memberi Lusi kejutan, yang ada Ia yang terkejut melihat Lusi yang pergi ke hotel dengan laki-laki lain.
"Iya aku lagi sibuk, banyak kerjaan dan tugas kuliah."
"Bukan karena Anya itu kan."
"Lusi stop! Sudah berapa kali aku bilang kalau kita cuma berteman dan gak ada hubungan apa-apa."
"Jangan emosi dong sayang, kalau emang gak ada apa-apa jangan marah-marah. Kan jadi bikin aku makin curiga dan kepikiran. Apalagi kita LDR aku tuh jadi takut kamu macem-macem."
"Sekarang kamu mojokin aku terus, emang yakin kamu disana gak akan macem-macem?"
"A akuuu? Ya gak mungkin lah sayang aku macem-macem disini." Lusi tergagap mendengar tuduhan Oki.
"Aku gak mungkin macem-macem disini, aku kan cintanya sama kamu." Sambung Lusi merayu.
"Ooh ya bagus kalau gitu." Jawab Oki sekenanya yang mulai muak dengan suara manja Lusi. Entah kenapa wanita yang sedari tadi Ia pandangi sedang tertawa dengan teman-temannya itu lebih menarik daripada pacarnya yang sedang menelponnya.
"Yaudah kalau gitu kamu lanjut urusan kamu sayang. Aku juga mau keluar sama teman-teman."
"Bye." Oki memutus sambungan telpon dengan cepat. Akhir-akhir ini Ia merasa malas jika Lusi menghubunginya. Ia pun juga jarang menghubungi Lusi karena hatinya yang sudah mati rasa ketika melihatnya ke hotel dengan laki-laki. Namun, Ia mesti bersabar untuk mencari bukti semua itu. Di tengah rasa malas itu muncul Sisil yang bak angin segar ditengah hubungan mereka. Oki yakin bahwa Sisil tidak akan mau menjadi orang ketiga di hubungannya, maka dari itu Ia berusaha menjaga jarak dengan Sisil. Oki tidak ingin kehilangan akal karena perasaannya.
***
Ezza mendapat titipan bingkisan dari owner proyek untuk diberikan kepada Andre. Mengingat jasa Andre yang sudah membantunya menyelesaikan kasus hukum kecelakaan proyek kemarin. Ezza memutuskan memberikannya pada saat jam makan siang. Namun sayangnya Andre sedang ada janji makan siang dengan Sonya. Andre yang sedang berada di cafe dekat rumah sakit menawarkan untuk Ezza mendatanginya seperti waktu itu. Ezza pun menyetujuinya karena setelah bertemu Andre dia berencana untuk menjenguk Airelle.
Perjalanan cukup macet membuat Ezza cukup terlambat datang ke cafe tersebut. Untungnya Andre belum bergegas pergi.
"Selamat siang Pak Andre."
"Selamat siang Pak Ezza, silakan duduk pak."
"Iya terima kasih. Sendirian saja Pak Andre?" Tanya Ezza penasaran sambil celingukan.
"Enggak, sama calon istri saya pak. Tapi masih ke kamar mandi."
"Tapi bukan yang tempo hari Pak Ezza lihat. Beda lagi yang ini Pak." Sambung Andre.
Ezza manggut-manggut.
"Pak Andre, ini ada bingkisan dari Pak Henry, owner proyek." Ucap Ezza sambil menyerahkan bingkisan kepada Andre.
"Terima kasih banyak. Repot-repot sekali Pak Henry. Salam untuk beliau."
"Iya, nanti saya salamkan kepadanya. Yaudah saya langsung saja kalau begitu Pak Andre."
"Loh kok buru-buru pak, biar sekalian saya kenalin dulu sama calon istri saya."
"Tidak apa-apa pak lain kali saja. Permisi."
Ezza keluar dari cafe, tak berselang lama Sonya kembali dari toilet.
"Sorry lama, tadi toiletnya antri."
"Iya gak papa. Tadi ada klienku kesini. Pengennya aku kenalin tapi orangnya buru-buru jadi sudah pergi duluan."
"So sorry banget."
"Iya gak papa kok. Yaudah ayok aku anter kamu ke rumah sakit dulu."
"Yuk." Sonya dan Andre berjalan menuju parkiran mobil dan melaju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Andre menghentikan mobilnya di lobby untuk menurunkan Sonya. Ezza baru saja memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju lobby rumah sakit. Ia melihat Andre dan terkaget.
"Pak Andre?" Sapa Ezza saat melihat Andre sedang membuka pintu penumpang.
"Loh Pak Ezza. Waah kebetulan sekali. Saya kenalkan sama calon istri saya pak."
Andre membukakan pintu penumpang, Sonya turun dari mobil. Sonya dan Ezza saling pandang.
"Sayang, ini klien yang tadi aku ceritain."
"Ezza." Sonya masih tertegun melihat Ezza di depannya.
"Jadi kamu sudah kenal sama klienku?"
"Sonya.." Ezza juga tidak menyangka bahwa calon istri Andre adalah Sonya.
"Pak Ezza ini calon istri say..."
Buuugggghhhhh.. Belum sempat Andre mengenalkan Sonya padanya, Ezza sudah menghadiahinya dengan bogem mentah.
"Jangan harap kamu bisa menikah dengan Sonya!"
Ezza menarik tangan Sonya meninggalkan Andre yang kebingungan dan tak terima dengan perlakuan Ezza yang sudah membuatnya malu di depan umum. Andre bergegas masuk ke mobil dan melaju menuju kantornya.
"Brengs*kkk! Awas kamu Ezza! Beraninya kamu cari masalah dengan Andre. Kamu gak akan hidup tenang." Andre memukul dinding di ruangannya meluapkan emosinya. Teman-teman kantornya kaget melihat Andre yang seperti kesetanan sejak sampai di kantor.
***
Ezza menarik tangan Sonya masuk kedalam rumah sakit.
"Lepasin Ezza, lepasin!" Suara Sonya meninggi.
"Maaf Sonya." Ezza melepaskan tangannya.
"Sonya, ada yang perlu aku bicarakan."
"Yasudah kita bicara diruanganku."
Sonya berlalu terlebih dahulu menuju ruangannya diikuti oleh Ezza.
Sonya memasuki ruangannya, Ia menyuruh Ezza duduk di sofa, memberikannya teh hangat karena Ia tau Ezza sedang dalam emosi ketika melihatnya dengan Andre tadi.
"Gak seharusnya kamu seperti itu Ezza. Andre itu calon suamiku. Kenapa kamu harus memukulnya. Karena cemburu?" Ucap Sonya.
Ezza menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Aku tidak rela kamu menikah dengan Andre."
"Rela atau tidak, tapi kami akan menikah. Hanya karena kamu kenal sama Andre lalu aku tidak bisa menikahinya, gitu?"
Ezza menggeleng.
"Dia bukan laki-laki yang baik Sonya."
Sonya kaget dengan ucapan laki-laki di depannya.
"Maksud kamu? Ezza, aku gak suka cara kamu menjelekkan calon suami aku. Selama ini aku kenal Andre, dia laki-laki yang baik."
"Dia sudah punya pacar, dan sampai sekarang mereka masih berhubungan." Ezza berterus terang tentang yang Ia ketahui. Sonya kaget mendengar penuturan Ezza.
"Mungkin sulit untuk mengakhirinya, aku yakin cepat atau lambat Andre akan putus dengan pacarnya. Karena dia sudah niat serius denganku. Kami akan menikah."
"Andre berniat menikahimu, juga karena suatu hal."
"Suatu hal? Maksud kamu apa?"
"Orangtuanya menjanjikan firma hukum jika Ia menerima pernikahan denganmu."
"Apa? Ka kamu serius?" Sonya kaget, sudut matanya basah. Ia tidak menyangka dirinya hanya dijadikan alat oleh Andre untuk mendapatkan sebuah firma hukum.
"Maaf Sonya aku harus mengatakan ini semua. Awalnya aku tidak peduli saat Andre mabuk dan menceritakan semuanya, tapi saat aku tau kalau yang dijodohkan dengannya adalah mau, aku gak bisa tinggal diam."
"Aku mohon Sonya, batalkan perjodohanmu." Sambung Ezza.
"Aku tidak bisa Ezza, bagaimana dengan mama kalau tau semua ini."
"Sonya, kebahagianmu ada ditanganmu sendiri. Aku tidak rela melihat kamu tersiksa, kamu wanita yang sangat baik. Andre tidak pantas untukmu. Jika kamu menikah dengan laki-laki yang pantas, aku tidak akan berbuat seperti ini."
"Ezza.." Sonya terisak, hatinya terasa perih. Ingin rasanya Ia jujur tentang perasaannya pada Mama Meli, tapi Ia takut membuat Mama Meli kecewa. Memang benar memilih jodoh harusnya tergantung kita yang menjalaninya. Jika tidak ada perasaan yang cocok lebih baik tidak dilanjutkan daripada nantinya hanya saling menyakiti. Sonya semakin bingung, ketika tau bahwa ada rahasia dibalik Andre menerima perjodohan dengannya rasanya Ia ingin mengakhiri semua.
"Ezza, kenapa kamu sampai seperti ini? Kamu tau sendiri Andre tidak akan terima kamu perlakukan seperti tadi."
Ezza tersenyum teduh. Menenangkan hati Sonya yang nampaknya khawatir jika sesuatu terjadi padanya karena Andre yang tidak terima.
"Aku gak peduli tentang apa yang akan dilakukan Andre. Asal aku bisa lihat kamu bahagia aku rela."
"Kalau aku bahagia saat aku.." Sonya menghentikan ucapannya.
"Saat apa?" Ezza penasaran.
"Enggak gak kenapa-kenapa. Lupain aja. Aku ngelantur."
"Yasudah, kalau gitu aku keluar dulu. Aku mau jenguk Airelle dulu. Kamu tenangkan diri yah."
Sonya mengangguk.
"Kamu hati-hati yah. Semoga Andre tidak berbuat yang aneh-aneh."
Ezza tersenyum dan mengangguk. Berlalu meninggalkan Sonya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
HARTIN MARLIN
katakan sama mama yang sejujurnya bahwa kamu gak jadi menikah sama Andre karena dia udah punya kekasih dan memanfaatkan kamu untuk mendapatkan farma
2022-09-13
1