Hati yang Patah

"Jadi pas Anya maba tiga tahun lalu kak, Anya sempat dengar gosip kalau ada hari patah hati nasional di jurusan Anya karena Pak Ezza nikah. Pak Ezza sudah nikah kak, Anya takut aja kakak nanti akan dapat cap pelakor kalau terus dekat sama Pak Ezza." Sonya terbelalak mendengar cerita Anya.

"Kamu yakin?"

"Anya memang cuma denger gosipnya kak. Tapi semua senior pun banyak yang patah hati kak. Apa kakak coba tanya ke Pak Ezza dulu kak?"

"Iya." Sonya shock dengan perkataan Anya. Pikirannya kosong. Anya merasa bersalah sudah mengatakan hal ini pada kakaknya. Ada rasa tidak tega, tapi Ia juga tidak ingin nantinya kakak yang Ia sayang harus di cap pelakor.

Sonya kembali ke kamar. Ia terduduk lemas di pinggir kasur. Air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya tumpah juga. Baru siang tadi Ia merasa sangat senang dan dibuat melayang bahagia, sekarang Ia dihadapkan dengan berita yang membuat dadanya sesak.

***

Sonya sudah mulai bisa mengondisikan emosinya. Ia mulai mencari kesibukan dengan menambah jadwal prakteknya. Sudah hampir dua hari Ia tak menghiraukan chat dari Ezza. Besar keinginannya untuk membalas ataupun menanyakan kabar Ezza, tapi Ia takut tenggelam semakin dalam dan tidak bisa mengontrol perasaannya. "Cukup sampai disini saja, daripada semakin patah hati lagi." Batin Sonya.

Praktek Sonya berlangsung hingga sore. Setelah lelah menangani pasiennya, Sonya memutuskan mencari cafein untuk meredakan lelahnya. Ia melewati poli anak dan melihat Ezza yang sedang berbincang dengan seorang wanita. Terlihat Ezza juga menggendong gadis kecil usia 3 tahun yang tertidur di pundaknya. "Benar yang diomongin Anya, tega banget kamu Za." Gumam Sonya. Ezza yang sedang berbincang dengan wanita itu melihat Sonya yang pergi, ingin Ezza mengejarnya namun jarak yang terlalu jauh dan menggendong anak kecil tidak memungkinkan baginya.

Sonya menuju kamar mandi, Ia mencari bilik yang kosong dan menguncinya. Menangis sejadinya untuk melepaskan semua kekecewaannya. "Apa ini yang dulu mau kamu omongin Za." Batin Sonya. "Kenapa dari awal kamu bilang mau dekat sama aku." Sonya merasakan perih yang teramat sangat dihatinya. Baru pertama kali Ia merasakan jatuh cinta, namun semua harus berakhir sebelum cinta itu berbalas.

Hampir 15 menit Sonya menangis. Matanya bengkak dan merah membuatnya malu untuk ke cafetaria. Terpaksa Ia mengurungkan niatnya mencari kopi dan terpaksa kembali ke ruangan. Sonya berjalan sambil menunduk agar tidak ada yang melihat matanya yang bengkak dan merah setelah menangis.

Bruukk..

Sonya menabrak dada seseorang, terpaksa Ia mengangkat kepala melihat sosok di depannya.

"Ezza.." Gumamnya. Bulir air mata Sonya menetes, Sonya membalik badan hendak menjauh dari Ezza.

"Tunggu Sonya.." Ezza terlebih dahulu menahan lengan Sonya.

"Kamu kenapa? Kenapa menjauh dari aku?"

"Lepasin Ezza, aku gak pingin jadi pengganggu di rumah tangga kamu. Tolong jangan hubungi aku lagi." Sonya pergi meninggalkan Ezza yang masih terdiam.

***

Yoga nyelonong masuk ke ruangan Boy.

"Ngapain bro?" Boy tampak sedang merapikan dokumen di mejanya.

"Boy, lu tau gak makanan kesukaannya Anya?"

"Anya?" Boy memperjelas nama yang disebut Yoga.

"Iya Anyaaa. Tau gak lu?"

"Hmm, dulu waktu kecil dia suka banget kue rasa strawberi sih. Kalau mamanya bikin kue pasti yang rasa strawberi dicomot duluan sama dia."

"Oke oke, thanks bro."

"Kenapa emang? Ngapain lu nanyain soal Anya?"

Bukannya menjawab Yoga malah nyelonong pergi.

Hari ini Yoga tidak sanggup menahan dirinya untuk menahan keinginannya menghubungi Anya. Entahlah, ketika melihat Anya hatinya merasa tenang. Walaupun Anya selalu melihatnya dengan jutek namun itu yang membuat Yoga terus membayangkan dan merindukannya. Yoga nekad menemui Anya di kampus dan sebelumnya Ia membeli kue strawberi.

Yoga datang di saat jam makan siang, Ia bergegas menuju kantin untuk mencari Anya. Yoga melihat sosok yang dikenalnya dan mencoba mendekati hendak bertanya.

"Permisi" Oki, Mela dan Ika menoleh ke arah suara. Oki yang mengenali Yoga menganggukkan kepala bermaksud membalas sapaan.

"Ada apa?" Tanya Oki.

"Anya dimana yah?"

"Ooh, Anya lagi di perpus kak."

"Perpusnya dimana?"

"Di sebelah gedung itu, nanti ada penunjuknya kok keliatan." Jawab Oki sambil menunjuk salah satu gedung.

"Makasih." Yoga pergi menuju perpustakaan.

"Siapaaa Ki?" Tanya Ika sambil berbisik.

"Itu polisi yang kapan dulu itu sempet salah tanggep gue sama Anya."

"Polisi? Ganteng banget gilaaa." Ucap Mela sambil melihat punggung Yoga yang sudah menjauhi mereka.

"Heeeh inget udah ada Vico." Ika mengingatkan.

"Tau nih cewek, gampang banget pindah-pindah."

"Yeee, gue kan cuma bilang kalau tuh polisi ganteng. Tapi yang dihati yah tetep Vico dong."

"Cieeee." Ika menggoda.

"Bucin bucin." Oki ikut menggoda. Mereka heboh membuat orang disekitar menoleh kearahnya.

Yoga memang datang tanpa memakai seragamnya, Ia terlebih dahulu berganti pakaian casual dengan memakai kemeja lengan pendek bewarna navy dan dipadupadankan dengan celana jeans hitam. Tentu membuatnya terlihat tampan.

***

Anya seorang diri menuju perpustakaan karena setelah jam makan siang dia harus menghadapi kuis mata kuliah yang dia ambil sendiri. Teman-temannya tidak ikut mengambil mata kuliah itu sehingga bisa bebas menikmati jam makan siang. Anya merasakan cacing di perutnya protes minta diberi makanan, Ia mengganjalnya hanya dengan sebuah susu dan pie.

Yoga melihat Anya yang sibuk dengan buku di depannya. Ia tersenyum dari kejauhan menikmati kecantikan Anya. "Lagi belajar aja cantik banget." Batinnya.

Yoga duduk di kursi yang agak jauh dari posisi Anya sambil memandanginya. Ia tidak ingin mengusik Anya yang sedang sibuk belajar, Ia tahu kuliah adalah prioritas bagi Anya. Satu jam berkutat dengan buku, Anya merasa pegal. Ia mendongakkan kepala dan menggerakkan ke kanan ke kiri. Sambil melihat sekeliling. Matanya bertemu dengan mata Yoga yang duduk di seberangnya.

"Kak Yoga." Gumamnya.

Yoga melemparkan senyum dan menghampiri Anya.

"Sudah selesai belajarnya?"

Anya mengangguk.

"Makan dulu, biar gak sakit. Aku bawa kue strawberi kesukaan kamu." Anya tersenyum kegirangan seperti anak kecil yang mendapat mainan.

"Kakak kok bisa tau Anya suka kue strawberi?"

"Itulah kehebatannya polisi." Yoga tersenyum.

"Mau makan disini atau di luar?"

"Di luar aja kak, kalau disini gak boleh makan." Jawab Anya berbisik.

Anya dan Yoga duduk di kursi depan perpustakaan. Anya menikmati kue strawberi kesukaannya dengan lahap karena memang perutnya sangat lapar.

"Pelan-pelan makannya. Aku gak minta kok." Yoga tersenyum melihat Anya makan dengan lahap.

"Makasih yah kak, aku laper banget emang. Sengaja gak makan siang karena nanti ada kuis."

"Anya, kesehatan lebih penting. Jangan sampai lupa makan. Kalau kamu sakit yang ada malah gak maksimal nanti ngerjain kuisnya."

"Iya kak."

Yoga terpaksa meninggalkan Anya karena jam kuliah Anya akan dimulai. Namun Ia sudah cukup bahagia bisa melihat Anya tanpa wajah jutek. Sepanjang perjalanan Yoga senyum-senyum sendiri.

"Tumben banget kak Yoga." Batin Anya. Anya menuju kelas dengan tersenyum juga. Perutnya sudah terisi penuh dengan kue kesukaannya dan siap untuk mengerjakan kuis.

***

Malam hari Sonya masih duduk di ruangannya dengan mata sembab. Ia menatap layar handphonenya yang terus bergetar nampak "Ezza" yang terus menghubunginya.

Iqbal nyelonong masuk ke ruangan Sonya.

"Lu gak ba.." Iqbal terheran melihat wajah Sonya yang sangat berantakan.

"Lu kenapa? Abis nangis."

"Huhuhu Iqbaaaallll huwaaa." Sonya menangis sejadi-jadinya kembali.

Setelah agak tenang Iqbal menyodorkan teh hangat untuk Sonya.

"Lu kenapa? Gak pernah gue liat lu sekacau ini."

"Gue patah hati Bal."

"Kenapa?"

Sonya mengangguk.

"Dia ternyata udah nikah. Kemarin Anya cerita ke gue kalau gosip nikahnya itu udah ada dari Anya maba. Awalnya gue mau gak percaya, tapi tadi gue liat dia ada di poli anak sama cewek dan lagi gendong anak kecil. huhuhu"

"Dia bukan cuma udah nikah Bal, dia juga udah punya anak."

"Sabar sabar."

"Ngapain dia deketin gue kalau udah nikah dan punya anak, gue gak mau jadi pelakor."

Iqbal mengangguk setuju dengan ucapan Sonya. Pandangan Iqbal tertuju pada handphone Sonya yang terus bergetar di atas meja.

"Biarin aja. Dari tadi dia ngehubungi gue terus. Paling mau minta maaf. Gue gak pengen ketemu lagi. Takutnya gue yang kebawa perasaan bal." Sonya tertunduk lesu.

"Harusnya dia gak deketin gue Bal, sejak awal dia cuma main-main aja. huhuhu." Sonya kembali menangis dan Iqbal hanya bisa terdiam dan mengusap-usap lengan saudara sepupunya itu.

"Sonya.."

"Hmm" Sonya mengelap airmatanya dengan tisu.

"Saran gue, lu terima perjodohan tante aja. Gimana? Biasanya obat patah hati ya orang yang baru lagi sih."

"Mau gak mau Bal, gue pasti bakal terima perjodohan dari mama." Sonya menarik nafas panjang.

"Cukup Sonyaaa cukup. Lupain dia." Sonya berbicara pada dirinya memberi semangat.

***

Anya melewati masa kuis dengan baik. Nilainya tetap menjadi yang terbaik. Karena kesibukannya belajar Ia jadi tidak fokus dengan kakaknya. Ia teringat tentang kondisi Kak Sonya. Sudah beberapa hari kakaknya selalu terlihat lesu dan kacau, selalu pulang tengah malam dan kembali bekerja pagi hari sekali. Ia merasa sedih karena kejujurannya membuat kakaknya menjadi seperti ini. Namun bukankah hal ini lebih baik daripada kakaknya memiliki perasaan makin dalam lagi pada Pak Ezza.

Dirumah Anya pergi menuju kamar Sonya. Anya mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dari dalam. Anya khawatir dan mencoba membuka pintu kamar. Kakaknya masih menggunakan baju kerja tertidur di kasur. Sonya nampak menggigil dan mengigau memanggil nama Ezza.

"Kak, Kak Sonya." Anya mendekat dan menepuk pelan tangan kakaknya. Ia mencoba meraih dahi kakaknya.

"Ya ampun kak, panas banget ini."

Mama Meli saat ini sedang di luar kota untuk mengurus cabang bakerynya. "Kalau aku kasih tau mama, takutnya mama khawatir. Aku hubungi kak Iqbal aja deh." Batin Anya.

"Haloo.."

"Haloo Nya, kenapa?"

"Kak Iqbal, bisa ke rumah sekarang gak? Kak Sonya sakit kak. Badannya panas banget."

"I iya dek, kakak berangkat kesana."

Tak lama Iqbal datang dan memeriksa Sonya. Untungnya Sonya hanya kelelahan dan tidak ada yang serius.

"Mending Sonya istirahat dulu beberapa hari. Nampaknya dia benar-benar patah hati."

"Ini semua pasti karena Anya kak. Coba Anya gak ngomong ke kak Sonya, pasti kak Sonya gak bakal kepikiran dan jadi sakit begini."

"Sabar Anya. Sebenarnya Kak Sonya sempat ngelihat sendiri mereka di rumah sakit. Bersama anak kecil juga."

"Haaah, serius kak? Kasian kak Sonya."

"Yaudah, kakak pulang dulu yah. Kalau Sonya udah sadar suruh minum obat di nakas. Bye."

"Bye. Terima kasih banyak kak."

Anya melihat kondisi kakaknya yang lemas dan makin kurus. "Harusnya dari awal aku bilang ke kak Sonya. Maafin aku kak." Batinnya. Melihat kondisi kak Sonya yang patah hati tentu membuat Anya takut untuk jatuh cinta. Baik pada Yoga ataupun Eka, bisa jadi mereka akan memberikan luka seperti ini.

***

Beberapa hari ini Anya merawat Sonya dirumah. Sonya sudah merasa lebih baik, Ia ingin menyendiri dan pergi ke vila milik keluarganya.

"Jangan bilang mama yah dik." Sonya berpamitan pada Anya dengan koper di tangannya.

"Iya kak, kakak hati-hati. Kabarin Anya kalau butuh sesuatu." Sonya mengangguk.

"Kalau sudah tenang kakak bakal siap untuk perjodohan mama."

"Kak, jangan pikirin hal itu dulu. Kakak pikirin diri kakak dulu."

"Kakak paham, tapi kakak gak pingin mama kepikiran dan drop lagi dik." Mata Sonya mulai basah.

"Sabar yah kak, kakak wanita yang kuat." Anya memeluk kakaknya.

Satu setengah jam Sonya berkendara dan sampai di vila keluarganya. Suasana yang tenang dan asri cukup membuat Sonya melupakan sakit hatinya.

"Sudah sampai non? Mau makan?"

"Iya bik Darti. Bibi apa kabar? Enggak bi, Sonya pingin nyemil aja, singkong keju bikinan bibi."

"Siap non, bibi bikinin dulu."

"Makasih bi." Bi Darti adalah penjaga vila milik keluarga Sonya. Bi Darti pergi ke dapur dan membuat cemilan yang diinginkan Sonya.

Sonya duduk di kursi sofa yang menghadap dinding kaca, Ia melamun sejenak. Dibalik dinding itu terlihat pemandangan taman yang hijau dengan bayangan gunung yang terlihat dekat. Lamunan Sonya terpecah ketika handphonenya bergetar, Ezza. Sonya melihat nama yang sudah menorehkan sakit di hatinya. "Goodbye Ezza." Gumam Sonya. Ia memblokir nomor Ezza agar dengan cepat Ia bisa melupakannya. "Mungkin ini yang terbaik. Kuat Sonya, kuat."

***

Dirumah sendiri membuat Anya sedikit bosan. Ia mencoba menghubungi teman-temannya, dan hanya Ika yang ada waktu untuk keluar dengannya. Mela sudah ada janji keluar dengan Vico mengingat waktu kebersamaan mereka sebentar lagi akan berakhir. Oki, Ia terbang ke Jogja untuk menjelaskan semuanya pada pacarnya.

"Kita kemana nih Ka?" Tanya Anya bingung sambil mengemudi.

"Ke mall aja gimana?"

"Iya deh, gue juga bingung mau kemana benernya. Yuk let's go."

Mobil Anya memasuki parkiran mall, mereka berdua berkeliling untuk melakukan window shopping karena memang mereka tidak ada niatan membeli apapun. Setelah merasa lelah berkeliling mereka memutuskan mencari makan di foodcourt.

"Ika.." Sapa suara yang tidak asing bagi Ika. Ika menoleh ke asal suara tersebut.

"Kak Eric."

"Sama siapa kesini?"

"Ini sama Anya."

"Halo kak." Sapa Anya.

"Halo." Eric membalas sapaan Anya.

"Kak Eric sama siapa?"

Eric tersenyum.

"Sama mama aku." Sesaat kemudian wanita paruh baya mendekati Eric.

"Ma, kenalin ini Ika yang sering aku ceritain sama mama. Ini Anya temannya."

"Halo tante." Ika dan Anya bergantian menyalami punggung tangan mama Eric.

"Mau makan bareng? Ayo bareng sekalian kita cari tempat duduk." Mama Eric berlalu untuk mencari tempat duduk.

"Cerita apaan aja kak tentang aku?" Bisik Ika pada Eric.

"Banyak dong. Kalau mau tau tanya sendiri sama mama. Mama udah setuju kok." Eric menggoda Ika. Pipi Ika bersemu merah.

"Iih apaan sih kak, norak tau gak." Ika tersenyum dan berlalu meninggalkan Eric.

***

Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!