Bantuan Si Boy

"Mau kemana?" Gina terkaget dengan pertanyaan introgasi dari Yoga setelah melihat dandanan Gina yang rapi lengkap dengan sapuan make up di wajahnya.

"Hmmm itu gue mau nonton"

"Sama siapa? Boy?"

"Ii iyaaa kak"

"Yaudah tungguin. Kakak ikut"

"Haaahhh? ngapain ikutan kak? emang kakak gak ada janji lain apa? ini weekend kak pliiisss"

"Gak ada, kamu tau sendiri kakakmu jombloo"

"Hmmm yadeh yadeh terserah. Yaudah cepetan siap-siapnya"

"Wait a minute"

Yoga menuju ke kamarnya dan berganti pakaian dengan kaos maroon dan celana pendek hitam di tambah dengan topi hitam.

"Yuuuk gue udah siap"

"Ayooookkk pak polisi. Baru ini deh mau nonton aja pake di kawal pak polisi dua sekaligus. Gak sekalian aja gue pake sirine biar langsung dibukain jalan juga"

"Udah jangan banyak ngomel. Ini tuh karena kakak sayang sama lu"

"Iya deh abangku sayaaaangggg. Yukk cepetin berangkat, tar keburu kak Boy nunggu kelamaan"

"Biar aja tuh anak nunggu kelamaan. Enak aja main ajak-ajak adik orang sembarangan. Gak pake ijin lagi"

"Iiihhhh sekarang situ yang bawel. Ayok dah cepetan" Gina menarik tangan Yoga.

Sesampainya di mall, Gina bergelayut manja di lengan kakaknya. Mereka menaiki eskalator menuju tempat teater dan karena Boy juga sudah menunggu di atas. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat kemesraan mereka.

***

"Tumben lu main ke kosan gue?" Mela tiba-tiba merasa galau dan ingin main ke tempat Ika.

"Gue galau"

"Galaaauuu? buahahahaha" Ika tertawa terbahak-bahak.

"Beneran galau gueee" Mata Mela berkaca-kaca.

"Eehh eehhh seriusan lu, kenapa beb?"

"Tadi gue ngedate sama Vico, terus dia bilang kalau dia keterima kerja"

"Waaahhhh, bagus dong. Lu harusnya seneng dong, Vico itu definisi cowok gak macem-macem. Walaupun kerja kayaknya gak bakal selingkuh juga deh."

"Bukan masalah selingkuhnya Ika, tapi dia itu kerjanya di kalimantan"

Ika manggut-manggut.

"Hmmm, terus kalian LDRan kan? atau jangan jangan.. Lu minta putus sama Vico? Lu gila Mel?"

"Iiissshhh, ya enggak Ika. Gue gak minta putus. Tapi gue galau. Jujur banget nih, gue dulu gak bakal mau LDR , di dalam kamus gue pacaran cuma buat seneng-seneng. Kalau gue LDR kan jadinya gak seneng, tapi ngenes."

"Ya terus? Jadi lu maunya gimana?"

"Gue juga bingung. Gue susah banget putus sama Vico. Dia tuh definisi cowok yang baik buat gue. Tapi LDR itu juga pasti berat Ika. huuuuhuuuu"

"Heeeh Melaaa, lu nangis. sudah sudah sini peluk dulu. cup cup jangan nangis dong"

"Ka, gue nginep sini yah. Kalau balik ntar di rumah malah bikin galau lagi"

"Iya iya, sekarang nginep sini dulu sampe lu tenang. Mau nonton netpliz?"

Mela mengangguk sambil mengusap air mata di pipinya.

"Udah jangan sedih lagi yaaahh. Harusnya lu seneng Vico bisa mudah dapet kerja. Dibalik itu semua ada hal yang tetap lu syukuri kok beb. sini peluk peluk"

"Makasih yah Ka, pasti kalau curhat sama lu jadi auto tenang" Kedua sahabat itu berpelukan dan berakhir menghabiskan malam dengan menonton film di netpliz.

***

Minggu pagi yang cerah, Anya memilih untuk berjogging dengan kedua sahabatnya, Mela dan Ika. Walaupun joggingnya hanya berapa menit dan sisanya dihabiskan untuk wisata kuliner. Kali ini mereka mampir di abang bubur ayam langganan mereka. Obat kegalauan wanita memang hanya makan dan makan. Dengan makan, maka semua kegalauan bisa hilang seketika. Mela dan Anya makan dengan lahap dan porsi jumbo. Ika hanya terbengong melihat kedua sahabatnya yang makan dengan porsi kuli, membuat Ika tak sanggup menghabiskan satu porsi normal karena melihat teman-temannya itu sudah membuatnya langsung kenyang.

"Kalian ini abis jogging apa abis gak makan satu minggu?"

"Emm uinii uenaaakk buangueetttt" Anya menjawab dengan mulut penuh makanan, masih Ia tambahkan lagi dengan sate telur puyuh ke dalam mulutnya. Ika menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya.

"Yaudahlah, makan yang banyak. Biar sehat yah gaes. Ini sekalian kalau masih laper. Gue langsung kenyang ngeliat kalian makan" Ika menyodorkan mangkoknya yang masih terisi hampir tiga perempat makanan.

"Makasih loh Kaaa.. Ntar gue abisin" Mela langsung meraih mangkok Ika.

"Lu kenapa Nya? Tumben-tumbenan makan kalap begini. Macem orang galau aja" Mela melirik ke arah Anya yang pagi ini tingkahnya sama seperti dirinya, macam orang galau atau orang patah hati.

"Gue gak galau, gue cuma lagi kesel aja sama seseorang. Makanya gue butuh banyak makan biar banyak tenaga kalau tiba-tiba ketemu orang yang bikin kesel"

"Siapa emang yang bikin lu kesel?" Ika nimbrung.

"Hmmm, adalah orangnya. Kalian gak usah kenal deh. daripada ntar ikutan emosi juga. Nah lu sendiri kenapa Mel?"

"Dia galaaauuu hahaha" Ika langsung menjawab.

"Mela galaaau? sure?"

"Si Vico keterima kerja di kalimantan, dia gak mau LDR tapi juga gak mau putus. Tapi udah terlanjur bilang ke Vico mau LDR dan dukung keputusannya" Ika berbisik sambil melirik Mela yang seolah tidak mendengar sambil terus melanjutkan makannya.

"Waaaooo, Mela mau LDR. Lu beneran suka Vico yah Mel?" Anya menoleh ke arah Mela sambil memindai ekspresi Mela.

"Suka yah suka biasa aja" Mela berkilah.

"Eheeemmm, yakin nih? yaudah kalau gitu putus aja. Lu kan bisa cari cowok lain lagi"

"Ya gak bisa gitu dong. I iya deh gue jujur, gue udah mulai sayang banget sama Vico. Dia beda banget sama mantan yang dulu-dulu" Mela tertunduk lesu mengakui dirinya mulai jatuh cinta.

"Sabar yah Mela sayaaanggg. Lu pasti bisa ngelalui LDR ini"

"Makasih yah Nya, gue mesti cari kesibukan kayaknya selepas Vico berangkat nanti. Biar gue juga gak galau-galau amat"

"Kesibukan apaan Mel?"

"Paling gue mau magang di kantornya om gue deh. Itung-itung latihan kerja. Semester depan kan cuma dikit mata kuliahnya, gue bisa bagi waktu sambil magang"

"Tapi tetep jaga hati jaga pikiran looh" Semua tertawa bersama. Mela memang satu-satunya yang mudah berpindah hati, kriteria fisik yang utama baginya. Jadi kalau ada cowok yang mendekati dan lulus screening fisik sesuai tipe Mela, Mela akan senang hati menerima. Namun, hebatnya walapun sering gonta ganti pacar semua mantannya tetap berhubungan baik dengannya. Mungkin karena karakter Mela yang tomboy dan supel, jadi sekalipun dengan mantannya sudah tidak bersama, Mela masih tetap saling tegur sapa dengan baik.

Saat asyik mengobrol dan bergosip ria manja, handphone Anya berdering sedari tadi. Nama yang sama seperti tempo hari. Anya berusaha menjauh dari orang ini. Kalaupun masalah kepentingan kerjaan, bagi Anya cukup disampaikan lewat chat saja, toh Ia merasa sudah paham keinginan desain kliennya ini. Kalau ada yang ingin direvisipun tidak seharusnya mengganggu hari minggunya.

"Nyaaa, hp lu getar dari tadi."

"Biarin, paling orang ngeselin itu lagi"

"Iiih siapa sih, kepo gue"

"Adalah, udah gak usah dipikirin" Anya mengambil handphonenya dimeja dan dimasukkan kedalam slingbag yang dia pakai.

Sebenarnya Anya masih tidak sanggup mengobrol dengan orang diseberang telpon itu. Anya mengingat yang dia lihat saat turun dari eskalator tempo hari. "Gue gak mau jadi pelakor" Batin Anya.

***

Yoga merasa kesal, sudah 3 hari ini telponnya tidak kunjung di angkat oleh Anya. Seminggu yang lalu Yoga memang disibukkan dengan urusan pekerjaannya. Ia harus melatih adik-adik calon polisi dari fisik hingga mental. Selama ini pun Anya kerap mengirimkan chat, walaupun seputar pekerjaan dan draft email desain cukup membuat Yoga senang dan bersemangat kembali menjalani kesibukan. Namun, setelah kesibukannya usai dan ingin menjalin komunikasi yang lebih dengan Anya, gadis ini malah menjauh dan sekarang menghilang tanpa jejak.

Pagi ini seperti biasa Yoga melakukan absen di kantornya dan membuat laporan pelatihan seminggu lalu. Hingga hampir jam makan siang Boy mengetuk ruangan Yoga.

"Lu gak makan bro?"

"Kenapa emang, mau nraktir gue? Masa si Gina mulu yang lu traktir. Abangnya juga lah"

"Iyeee calon kakak ipar. Lain waktu deh gue traktir. Gue ada janji makan siang"

"Sama Gina?" Yoga memasang ekspresi serius dari yang menatap layar komputer langsung menatap mata Boy dengan lekat.

"Sabar broo. Enggak, gue mau makan siang sama adiknya temen gue"

"Siapa?"

"Adik sepupunya Iqbal yang tempo hari"

Yoga terkaget, bisa-bisanya gadis kecil ini malah mengajak Boy makan siang tapi justru telpon darinya diabaikan.

"Emhhh emang kenapa dia ngajak lu makan siang? awas ya lu mainin adik gue" Yoga mencoba kepo.

"Weeesss sabar brooo, gue sama Anya udah kayak adik kakak, apalagi gue tau gimana ingusannya dia dulu"

"Jadi kemarin gue main ke rumah nyokapnya, sama si Iqbal juga, si Anya agak galau dan minta dikenalin junior kita, kan kemarin pas kita pelatihan tuh ada Eka yang lumayan ganteng dan seumuran tuh. Rencananya gue mau comblangin mereka. Jadi gue gak makan siang berduaan doang kok, tapi bertigaan" Boy tidak menyadari bahwa ucapannya tentang menjodohkan Anya dengan junior mereka membuat Yoga emosi.

Yoga naik pitam, bisa-bisanya gadis kecil itu malah minta dicarikan calon pacar oleh Boy. Padahal Ia sudah jelas-jelas mau membantunya.

Yoga memutar otak untuk mengerjai Anya.

"Boy, gue ikutan yah. Kan daripada lu jadi obat nyamuk, mending gue temenin"

"Tumben lu, yaudah yuk boleh. gue chat Eka dulu sekalian"

Beberapa saat setelah Eka membalas, mereka bergegas ke mobil dan melaju ke resto dekat kampus Anya.

Anya mendapat chat bahwa Boy sudah on the way ke resto tempat mereka janjian. Anya melaju ke resto itu dan sampai terlebih dahulu karena memang jaraknya yang lebih dekat dari kampusnya.

#Flashback on..

Kemarin malam..

Sepulang jogging dan bermain bersama Ika dan Mela sore hari Anya merebahkan diri di kasurnya. Ia terlelap. Malam hari Ia terbangun dan mendengar suara di ruang keluarga. Ia terpaksa turun karena perutnya juga meronta minta diisi makanan. Anya menuju dapur dan melihat di ruang keluarga ada Iqbal dan Boy bercanda ria dengan Sonya. Anya mengambil roti di kulkas dan diolesi selai strawberi kesukaannya kemudian melahapnya.

Anya berpikir sejenak dan membulatkan tekad mengajak Boy berbicara. Ia menuju ruang keluarga.

"Haloooo.." Sapa Anya.

"Halooo.. Dari mana aja lu Nya?" Sapa Iqbal.

"Haloo.." Balas Boy.

"Abis molor, eeh kak Boy bisa ngobrol bentar. Kak Iqbal kak Sonya aku pinjem kak Boy bentar yah"

Anya menarik Boy menuju taman dan duduk di kursi taman.

"Kenapa Nya?"

"Kak, bantuin Anya dong"

"Bantu apaan?"

"Emmmhhh, kakak gak ada tuh temen yang jomblo dan lumayan gitu" Boy mengernyitkan dahi dan berpikir.

"Cowok?"

"Iya iyalaaah cowok, masa cewek kak"

"Buat siapa Nya?"

"Buat Anya kak" Anya memanyunkan mulutnya.

"Mama tuh pengen aku sama kak Sonya punya pacar, kak Sonya udah punya calon walaupun calonnya punya.. aahh biarin gak usah dibahas. Sekarang yang penting calonnya Anya kak. Anya gak mau berakhir dijodohin sama mama"

"Kemarin kakak kebetulan abis ngelatih para junior, kayaknya ada yang lumayan oke. Ya tapi mereka masih pendidikan, mungkin usianya seumuran sama kamu" Anya tersenyum sumringah.

"Ada kak? jomblo gak? Kenalin dong kak. Tapi jangan keliatan Anya ngebet banget yah. Emmhhh, alasan apa gitulah kak. Terus ntar tiba-tiba kakak kenalin deh."

"Kan malu kalau keliatan minta kenalan kak"

"Nanti aku hubungin deh, coba besok kita makan siang gitu gimana. Aku ajak dia buat ngomongin pelatihan kemarin"

"Okeee siaaap kak, kabarin yah besok" mata Anya berbinar.

"Yaudah aku ke dalem lagi yah" Anya mengangguk.

"Kak Boy" Boy menghentikan langkahnya dan berbalik badan.

"Jangan cerita-cerita ke kak Sonya yah. Takutnya dia ember ngomong ke mama"

"Oke beres" Boy melenggang pergi.

#Flashback off..

***

Di resto Anya bermain ponsel untuk menghabiskan waktu sambil menunggu. Baginya memang menunggu adalah hal yang paling membuatnya sebal. Tapi bagaimana lagi, demi terbebas dari perjodohan lebih baik seperti ini.

Sebenarnya Anya masih belum ingin punya hubungan serius dengan laki-laki. Ia ingin bekerja dan nantinya bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri. Ia tidak mau menikah dan berakhir di dapur saja, karena banyak kasus wanita yang berhenti berkarir setelah menikah dan punya anak. Anya sudah punya mimpi yang ingin Ia kejar oleh karena itu hubungan dengan lawan jenis tidak menjadi prioritasnya, malah takutnya menjadi penghalang semuanya.

Namun, sekarang Ia terpaksa harus mencari calon pacar setidaknya untuk meredakan aksi mamanya hendak menjodohkannya. Ia akan bertahan dengan hubungan pura-puranya sampai sekiranya Ia bisa mandiri dan bisa tegas menolak perjodohan dari mamanya.

Awalnya Ia senang Yoga mau membantunya waktu itu, tapi setelah apa yang Anya liat di mall Ia menjadi ragu dan takut mendapat cap pelakor. "Mungkin cuma main-main, tapi kalau gue tiba-tiba baper kan repot juga" Batinnya. Ia tak menampik bahwa semua manusia bisa jatuh cinta, bisa jadi Ia nanti jatuh cinta atau bisa jadi tidak pada calon pacarnya, tapi kalau dengan pacar pura-pura yang memang jomblo setidaknya Ia tidak merasa bersalah pada orang lain. Makanya Anya sekarang lebih memilih menghindari Yoga dan membatasi hubungannya sebatas klien dan designer rumahnya daripada harus menerima tawaran bantuannya tempo hari.

***

Di perjalanan, Boy mengendarai mobil dan Yoga yang duduk disebelahnya memasang wajah jutek. Ia kesal membayangkan bisa-bisanya Anya meminta dikenalkan Eka, junior mereka. Eka duduk di kursi tengah. Memang Ia masih muda dan perawakannya gagah, kulitnya tetap putih walaupun terbakar matahari saat pelatihan. Rahangnya yang tegas juga memberi kesan maskulin. "Tapi gue juga ganteng" Batin Yoga. "Apa gue ketuaan.. Aiissshhh siaaall.. Gue emang kalah di umur sih" Gumam Yoga.

"Kenapa Yog? Lu ngomong apa?"

"Eehh enggak, gue tadi nanya restonya dimana?"

"Bentar lagi nyampe kok, tunggu bentar"

Mobil mereka masuk ke parkiran sebuah resto dengan konsep jawa. Mereka bertiga dengan seragam polisi melenggang masuk ke resto dan Boy langsung menuju meja yang tadi sudah disebutkan Anya di chat setelah Ia sampai.

"Haii Nya.." Boy mendekati meja disusul oleh Yoga dan Eka.

Anya terbelalak melihat Yoga dengan tatapan tajam hendak menerkamnya.

Terpopuler

Comments

Bocah Gaming

Bocah Gaming

ku suka

2022-10-23

0

keyla safira

keyla safira

Up lagi thoor penasaran bn reaksi yoga

2022-08-19

1

lihat semua
Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!