Anya mengerjakan tugas di kamarnya, namun perbincangannya dengan Ika di mobil tadi membuatnya melamun. "Masa iya gue kangen?" Gumam Anya. Anya mengingat momen terakhir kali bertemu Yoga. Mereka berpelukan, sangat dekat. Anya bersemu merah dan deg-degan kembali mengingatnya. "Sadar Anya, wake up." Anya menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Apa gue minta maaf aja yah, mungkin omongan gue kemarin terlalu kejam." Anya dibuat bingung sendiri dengan pikirannya. Setelah cukup lama berpikir sendiri tentang Yoga, Anya memutuskan untuk menghubungi Yoga dan meminta maaf. Anya mengambil handphonenya di nakas. Saat hendak menelpon, handphone Anya berdering terlebih dahulu. Eka menelpon.
"Angkat gak yah." Batin Anya yang kebingungan teringat pesan Yoga dulu yang tidak membolehkannya mengangkat telpon Eka.
Anya memutuskan mengangkat telpon Eka.
"Halo."
"Halo Anya."
"Iya, kenapa Eka?"
"Aku khawatir Nya, sejak dari kampus kamu tempo hari aku sulit buat ngehubungi kamu."
"Emh, iya maaf Eka. Aku bingung mau jelasin semuanya, karena aku tau kamu pasti butuh penjelasan waktu itu."
"Kamu pacaran sama Kak Yoga?"
"Emh, soal itu aku.. gak bisa jawab Eka."
"Kenapa?"
"Maaf banget aku gak bisa kasih tau tentang hal itu." Anya merasa sedikit bingung harus menjelaskan pada Eka Ia memutuskan untuk diam saja dan membiarkan Eka bertanya-tanya.
"Iya Anya, gak papa kalau kamu memang belum bisa cerita. Apa kita bisa ketemu Nya?"
"Ketemu?"
"Iya, aku pengen ngajak kamu makan siang. Besok gimana?"
"Emh, i iya boleh."
"Oke, besok aku ke kampus yah. Bye."
"Bye."
"Harusnya gue gak merasa bersalah gini kan." Batin Anya. Entah kenapa Ia merasa bersalah saat membuat janji dengan Eka. Mungkin itu hanya perasaan saja karena kejadian yang lalu di kampus tentu membuat Anya menjadi canggung. Anya memutuskan mengakhiri kegiatannya mengerjakan tugas, Ia membaringkan tubuh di kasur dan memejamkan mata. "Dia benar-benar menghilang hari ini." Gumam Anya.
***
Siang ini, Ezza akan memberikan beberapa dokumen tentang proyeknya ke kantor Andre guna kebutuhan persidangan. Namun karena jam makan siang jalanan sungguh macet dan Andre sedang makan siang. Ezza berinisiatif untuk menyusul Andre ke cafe tampat Ia makan siang karena setelah jam makan siang Ia ada jam mengajar.
Ezza sampai di cafe yang di maksud. Cafe itu tidak jauh dari kantor Andre sehingga dengan cepat Ezza sampai disana. Sesampainya di cafe Ezza celingukan mencari sosok yang dia cari. Ezza menemukan Andre sedang makan siang dengan seorang wanita dengan pakaian yang cukup seksi dan bergelayut mesra. Ezza tidak heran, Andre adalah pengacara yang handal, Ia juga cukup tampan jadi pasti banyak wanita-wanita yang rela berpenampilan seksi untuk memikat hatinya.
"Halo Pak Andre."
"Oh iya, halo Pak Ezza."
"Maaf mengganggu, ini untuk kekurangan dokumennya."
"Loh tidak mengganggu kok, saya cuma sedang makan siang dengan pacar saya. Untuk dokumennya saya terima yah."
"Baik, terima kasih. Saya pamit karena ada jam ngajar juga sebentar lagi."
"Gak duduk dulu pak Ezza? Ngopi-ngopi dulu gitu."
Ezza melihat jam sekilas.
"Takut terlambat nanti pak. Kapan-kapan kita jadwalkan saja ngopi-ngopinya."
"Waaah siap pak."
"Saya pamit." Ezza memberi senyum sekilas pada pacar seksi Andre dan Andre, Ia segera berlalu dan kembali ke kampus.
***
Sore ini Eka menjemput Anya tanpa gangguan. Mereka sudah sampai di cafe untuk sekedar minum kopi karena ternyata Anya masih merasa kenyang, sedangkan Eka merasa tidak enak kalau harus makan sendirian.
"Em Nya, maaf aku kepo lagi. Tapi apa beneran kamu gak ada hubungan sama kak Yoga?"
Anya menarik nafas panjang.
"Aku bingung jelasinnya sama kamu. Mungkin lain kali kalau waktunya sudah tepat yah." Eka mencoba memaklumi, Ia tersenyum tipis.
"Maaf Eka, aku gak maksud apapun." Batin Anya.
"Yaudah kalau gitu kita ngobrol hal lain aja gimana? Tentang kuliah kamu mungkin atau temen-temen kamu"
"Iya boleh."
Eka dan Anya mengobrol santai satu sama lain. Mereka saling menceritakan kegiatan masing-masing dan teman dekat satu sama lain. Mereka tidak sadar ada sepasang mata yang melihat kebersamaan mereka sejak tadi.
Hari bergulir malam, Eka dan Anya pulang. Sesampainya dirumah Anya dikagetkan dengan Yoga yang sedang mengobrol seru dengan mamanya.
"Nak, kok malam pulangnya."
"Iya ma, tadi ada janji sama teman."
"Yaudah sini, ini ada nak Yoga. Nak Yoga bawa kue kesukaan kamu, kue strawberi."
Anya mengikuti titah mamanya, Ia duduk di sebelah Yoga dengan canggung.
"Yaudah kalian ngobrol dulu, mama masuk mau bikin kue."
Mama Meli berlalu masuk ke dalam dapur.
"Abis dari mana?"
"Ngopi." Jawab Anya sekenanya. Ia antara takut karena tadi jalan sama Eka atau antara malas melihat Yoga.
"Sama siapa?"
"Temen." Jawab Anya.
"Eka? Sorry aku tadi sempat liat pas di cafe."
Anya mengangguk mendengar pengakuan Yoga yang rasanya akan percuma kalau dia berbohong. Ia melihat ekspresi Yoga sekilas. Ia tidak marah.
"Tumben gak ngomel. Malah minta maaf." Batin Anya.
"Udah makan?" Anya menggeleng.
"Mau beli nasi goreng di depan? Aku juga belum makan nih." Yoga memegang perutnya.
"Boleh."
Mereka berdua berjalan menuju tempat kaki lima yang menjual nasi goreng.
"Bang, nasi gorengnya 2. Satu pedas, satunya enggak."
"Kakak gak suka pedas?"
"Bukan gak suka, tapi gak kuat."
"Yeee sama aja dong. Pokoknya gak bisa makan pedes. Cemen iih om-om nih." Ledek Anya.
"Bukan gitu, kalau makannya aja bisa Anya. Tapi efek abis makan langsung bolak balik kamar mandi. Masa besok kerja sambil bolak balik kamar mandi."
Anya membayangkan Yoga bolak balik ke kamar mandi saat kerja dan membuatnya ketawa-ketawa sendiri.
"Bayangin apaan coba?"
"Ada deh."
"Awas ya, aku keluarin jurusku loh." Yoga mengeluarkan dua telunjuknya hendak menggelitik Anya.
"Iya iyaa, aku bayangin kakak mules-mules gitu pas di kantor."
"Bilang aja seneng bayangin aku. Yakan yakan?"
"Iiih pede banget." Anya menjulurkan lidahnya.
"Kan kenyataan kamu bayangin aku." Yoga tersenyum.
"Terserah." Anya memanyunkan bibirnya.
"Lucu banget kalau lagi manyun gitu." Anya memicingkan matanya.
"Ampun deh." Mereka tertawa bersama.
"Kakak kemana beberapa hari kemarin?"
"Tuh kan nyariin. Kemarin disuruh pergi jauh-jauh. Sekarang nyariin."
"Lah kan kakak sendiri yang tadi main ke rumah. Situ yang gak pernah nurut omonganku." Anya melipat tangannya.
"Aku beberapa hari kemarin ada tugas kantor dan sibuk banget. Terus masalah nurut omongan kamu, aku sih gak ada niatan nurut yah pastinya. Yang jelas aku bakal tetep ganggu-ganggu kamu terus." Anya melotot. Bisa-bisanya beberapa hari ini Ia merasa bersalah dengan omongannya tempo hari, tapi yang ada malah Yoga tidak menggubris omongannya.
"Harus nurut, gak usah ganggu Anya lagi."
Yoga menggeleng.
"Aku gak mau kamu nyari-nyariin aku kalau aku nurutin omongan kamu buat gak ganggu-ganggu." Yoga mendekatkan wajahnya ke wajah Anya membuatnya bersemu merah.
"Iih susah banget nih om-om dikasih tau." Anya salah tingkah.
Mereka berdua melanjutkan obrolannya sambil melahap nasi goreng pesanannya. Tak terasa hari semakin malam, Yoga pamit pulang. Entah kenapa hati Anya merasa tenang melihat Yoga yang ternyata muncul kembali.
***
Iqbal memeriksa kembali pasiennya, Ia mengecek untuk persiapan operasi yang akan dilakukan. Saat hendak membicarakan teknis operasi dengan walinya, Iqbal dibuat terkaget karena melihat Selly dengan sosok yang dikenalnya, Ezza. Iqbal sudah tau dari Sonya tentang kondisi Ezza yang sudah bercerai. "Apa mantan istrinya itu Selly?" Batin Iqbal.
Iqbal mencoba tenang dan berusaha menyampaikan kondisi pasien dan teknis operasi yang akan dilakukan. Benar saja, Selly menangis dan meratapi kondisi anak mereka membuat Iqbal yakin bahwa Ezza adalah mantan suami Selly. Tak lupa Iqbal menyampaikan butuhnya transfusi darah untuk pasien sehingga diharapkan kedua orangtuanya melakukan tes darah untuk melihat kecocokan guna transfusi. Setelah menyampaikan semuanya Iqbal berlalu pergi.
Di jalan menuju ruangan Iqbal bertemu Sonya.
"Bal."
"Eeh Sonya."
"Ngapain lu? Kok ngelamun."
"Gak papa gak papa."
"Mau ngopi gak? Ke cafetaria yuk."
"Yuk."
Mereka berdua sampai di cafetaria dan memesan kopi. Memilih tempat duduk yang agak sepi karena mereka ingin mencari ketenangan.
"Capek banget gue. Pasien kecelakaan kemarin itu banyak banget."
"Sabar sabar. Lu biasanya pasien banyak gak pernah ngeluh. Tumben."
Iqbal menghela nafas panjang.
"Masalahnya tuh, kemarin gue meriksa pasien anak dan lu tau itu anaknya siapa?"
"Siapa?"
"Anaknya Selly."
"Selly? Selly mantan lu yang udah nyelingkuhi lu itu kan." Jawab Sonya dengan suara kencang.
"Sssstttt sssttt jangan kenceng-kenceng. Tadi gue ketemu dia lagi dan lu tau apa yang bikin gue makin kaget?"
"Apaan?"
"Dia sama mantan suaminya."
"Mantan? Emang lu tau dia udah cerai? Hmmm dia bilang udah cerai gitu? Terus ngibulin lu lagi gitu. Gak aneh-aneh yang Bal. Dulu dia pernah sampai kayak gitu, endingnya juga selingkuh lagi kan. Jangan tertipu bujuk rayu tipu daya wanita."
"Nah lu kan wanita juga."
"Gue beda, gue kan sodara lu."
"Iya gue tau dia mantan suaminya. Karena yang sama dia itu Ezza."
"APAAA?"
"Gue bilang jangan teriak-teriak kok. Itu ada orangnya kesini." Iqbal memberi kode melihat Selly dan Ezza berjalan beriringan menuju cafetaria. Sonya membalik badan dan melihat Ezza dengan Selly. "Jadi mantan istri kamu itu Selly. Kamu beneran punya anak juga Ezza." Batin Sonya.
"Bal, gue balik ke ruangan." Sonya bergegas keluar dari cafetaria.
"Tunggu, gue ikutan." Iqbal berlari mengikuti Sonya.
***
Setelah selesai kuliah Mela bergegas untuk pergi ke apartemen Vico. Ia membantu Vico mengemas barang-barang yang dibutuhkannya di kalimantan. Sisanya dia tinggal di apartemen apabila nantinya dia berkunjung.
"Kurang apa lagi sayang? Takutnya nanti ada yang penting dan ketinggalan."
"Kalau ada yang ketinggalan bisa aku bawa sekalian berangkat kok yang. Sekarang barang yang dikirim paket dulu aja. Kayaknya sih udah yah, gak ada yang kurang."
"Yaudah kalau gitu ditutup selotip nih yah, yakin?"
"Eeh jangan dulu yang."
"Kenapa? Ada yang ketinggalan kah?"
"Ada, satu yang ketinggalan."
"Yaudah ambil dulu sana. Baru nanti aku selotip yang." Vico berlalu ke belakang Mela. Tiba-tiba dia memeluk Mela dari belakang. Mela kaget.
"Yang, mana ih barangnya. Nanti ketinggalan." Protes Mela.
"Ini yang ketinggalan. Maunya aku paketin juga kesana."
"Oooh jadi aku barang nih." Sindir Mela.
"Hahaha gak gitu sayang." Vico terkekeh.
"Aku pengennya juga dibawa kesana sayang. Tapi nanti kuliahku gimana coba."
"Iya sayang, aku paham kok."
"Yaudah ayok sekarang cepet selesaiin packingnya."
"Lima menit lagi peluknya." Ucap Vico manja sambil mempererat pelukannya. Mela tersenyum.
"Aku juga pasti kangen banget nanti sama kamu." Ucap Mela lirih. Vico menempelkan kepalanya di pundak Mela dan mengangguk.
"Aku juga pasti kangen banget. Sama cerewetnya kamu."
"Iiih mesti deh."
"Enggak sayang, ya kangen sama semuanya lah. Bawelmu, tingkahmu pokoknya semuanya."
"Jangan macem-macem loh yah disana."
"Siap tuan putri."
"Cewek kalimantan kan cantik-cantik, nanti kamu tergoda."
"Yee, aku gak semudah itu. Aku tergodanya cuma sama kamu."
"Gombaaaaaall." Mereka berdua tertawa bersama.
***
Oki sedang duduk di gasebo membereskan buku-bukunya setelah selesai asistensi dengan adik tingkatnya. Ia melihat Sisil yang sedang bingung melihat ponselnya.
"Kenapa Sil?"
"Eh kak, ini ojek onlinenya di cancel terus. Mana udah malem."
"Mau kakak anterin pulang?"
"Enggak usah kak, ngerepotin dong."
"Enggak ngerepotin, lagian ini udah malam juga. Yuk."
"Eh iya kak."
"Oiya, pinjem helm dulu di himpunan ya. Mungkin punya anak-anak ada yang gak dipakai." Sisil mengangguk mengikuti perintah seniornya sekaligus asisten tugas besarnya itu.
Di jurusan teknik dikenal adanya tugas besar. Tugas di luar mata kuliah yang dikerjakan selama satu semester penuh, dalam pengerjaannya dibantu oleh senior yang biasanya disebut asisten.
Mereka sampai di parkiran dan pergi bergegas ke kosan Sisil.
"Sil."
"Iya kak."
"Sudah makan belum?"
"Belum kak."
"Mampir makan bentar mau gak?"
"Boleh kak."
Oki menepikan motornya ke angkringan lengkap dengan pengamen yang sedang memainkan lagu dengan gitarnya. Mereka menikmati makan malam masing-masing dan masih canggung. Sisil walaupun cantik, imut dan cukup populer namun dia termasuk anak yang pendiam dan tidak pernah berpacaran.
"Sisil pengen deh nanti bisa jadi asisten kayak kak Oki."
"Iya nanti daftar aja kalau ada lowongan asisten dek. Tapi ya mesti belajar dulu biar bisa lolos."
"Susah gak kak tesnya?"
"Gak juga kok. Kamu kan pinter, pasti bisa."
"Apanya yang pinter kak. Sisil mah butiran debu. Kak Oki jauh jauh jauh lebih pinter pake banget."
"Yeee, kak Oki bukannya lebih pinter. Cuma lebih dulu paham dek."
"Tuh kan, merendah pula. Gak mau sombong."
"Ya emang gak ada yang disombongin. Banyak yang jauh lebih pinter di angkatan kakak."
"Tapi kakak pinter banget menurut Sisil. Kalau Sisil diajarin kakak langsung paham banget loh kak."
"Wah bahaya ini, ntar minta diajarin semua muanya dong."
"Yaah gak papa dong kak. Kan baik berbagi ilmu itu. Yah yah?" Sisil memasang wajah memohon yang membuat wajah imutnya semakin menggemaskan. Oki merasa deg-degan melihat ekspresi Sisil.
"I iya deh. Nanti kalau ada yang gak dipahami bisa tanya ke kakak. Tapi kalau kakak gak tau ya maaf dek."
"Kalau kakak gak tau gak papa kak. Kan bisa dipelajarin bareng-bareng." Sisil memasang senyum kembali yang membuat Oki semakin deg-degan melihatnya. Setelah selesai makan mereka berdua kembali melaju di kegelapan malah menuju kosan Sisil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Andriyati
kayaknya yg ngadu oki sama lucu adalah sisil dech,,
2022-12-30
0
HARTIN MARLIN
Oki sama Sisil aja
2022-09-13
0