Salah Tangkap

"Pak, kok saya harus ikut ke kantor. ngapain pak?" sergah Anya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Yoga.

"Okiii, tolongiiinnn Kiiiii.." Teriak Anya sambil melihat Oki yang berdiri panik melihat sahabatnya ditarik paksa.

Oki berlari ke arah depan polisi yang menarik tangan Anya, dan berbalik badan.

"Pak, jangan ke kantor Pak. Kita jelaskan disini saja, ini sudah malam dan teman saya juga ditunggu keluarganya"

"Iya pak, saya panggil orangtua saya aja kesini" Anya menimpali dan memasang wajah memelas.

Tapi Yoga kekeuh menyuruh Anya dan Oki ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Mereka berdua pun pasrah dan masuk ke dalam mobil patroli. Sedangkan polisi lain ada yang membantu mengendarai motor Oki.

***

"Nama "

"Oki ,Pak"

"Nama lengkap" tanya polisi yang sudah agak tua itu sambil mengetik di depan komputernya. Oki dan Anya duduk berhadapan dengan polisi itu. Mereka melihat ada nama di dada polisi itu bertuliskan Helmi. Nama orang itu adalah Helmi. Mereka duduk berhadapan dan terhalang layar komputer yang agak menyerong di meja.

"Oki Herlangga"

"Usia"

"21 tahun"

"Alamat"

"Jalan Aluminium 34"

Polisi itu berganti menatap ke arah Anya untuk menanyakan data dirinya.

"Nama lengkap"

"Anya Meliana Wibowo"

"Usia"

"20 tahun"

"Alamat"

"Jalan Cikini 12 Blok B7".

Polisi itu terdiam dan kembali mengetik sembari menatap layar komputer.

Anya melihat sekeliling ruangan tempat mereka berada dan merasa tidak nyaman dengan pakaiannya. Ia melihat ke pintu yang terbuat dari kaca, sehingga bisa melihat yang terjadi di luar ruangan. Terlihat papan penunjuk nama ruangan tempat Anya berada, ruang penyelidikan.

"Ciiihh apa yang perlu diselidiki coba" batin Anya.

Tak berapa lama Anya menatap ke pintu ruangan, ada Yoga yang nampak berjalan menuju ke ruangan dimana Anya dan Oki berada. Anya menatapnya dengan tatapan geram. Ia merasa kesal dengan pemuda itu. Seenaknya saja main tangkap anak gadis orang tanpa mau dengar penjelasan. Anya langsung menyilangkan kedua tangannya di dada, melihat sinis ke arah Yoga yang memasuki ruangan. Yoga hanya melirik sebentar ke arah Anya, dan berbisik dengan Pak Helmi yang sedari tadi mengetik di depan komputer.

"Silakan pindah kesitu mas, mbak" ucap Pak Helmi sambil menunjuk meja di sebelahnya. Meja yang sama persis dengan meja komputer, hanya tidak ada komputer di depannya. Hanya ada beberapa lembar kertas dan juga map diatas meja tersebut. Anya dan Oki beranjak dan pindah ke tempat yang di maksud. Yoga lalu duduk di depan mereka berdua.

"Jadi gini mas mbak, karena kalian malam-malam masih berkeliaran, belum lagi mbaknya juga tidak pakai helm dan tidak bisa menunjukkan identitas jadi dengan terpaksa mas dan mbak kita amankan disini terlebih dulu. Kalau nanti mbak bisa menunjukkan bukti identitas mbak yang benar maka saya bisa membebaskan" jelas Yoga pada kedua muda mudi di depannya itu.

"Tapi Pak, saya dan teman saya kan sudah menjelaskan tadi kalau kita baru pulang kuliah. Temen saya juga udah ngasih bukti identitas yang jelas. Kita emang beneran mahasiswa Pak. gak ada gunanya juga kita keluyuran malam begitu gak jelas" jawab Anya.

"Tapi kita harus tetap mengikuti prosedur mbak. karena banyak sekali orang yang membuat kebohongan disaat seperti ini. makanya kami butuh bukti yang jelas yang bisa menunjukkan identitas mbak, kalau tidak dengan terpaksa mbak dan mas tetap disini dulu"

"Jadi maksud bapak kami bohong gitu? apa gunanya pak buat saya?" jawab Anya dengan nada mulai meninggi.

"Nyaaa tenang.. tenangg.." bisik Oki sambil memegang lengan Anya agar tetap tenang dan tidak terbawa emosi.

"Gini mbak, disaat begini ini banyak sekali kasus yang terpaksa berbohong untuk dibebaskan. saya sudah menangani banyak orang, jadi saya tidak bisa langsung percaya tanpa bukti. Saya juga gak tau kalau mbaknya sama masnya apa cuma temenan, apa ternyata pacaran. bisa jadi mas dan mbak bukannya mau pulang, tapi mau ke hotel atau mau dugem. apalagi pakaian mbak yang kurang bahan begini. Karena di jalan Arjuno itu banyak keluhan warga tentang transaksi narkob* dan juga wanita panggilan. Jadi jangan salahkan kami, buktikan dulu identitas mbak agar kami bisa segera membebaskan kalian." jawab Yoga dengan tegas.

Nyuuuuutttt.. Hati Anya begitu teriris. Baru kali ini dia mendapat ucapan yang begitu merendahkan harga dirinya. Mau dia berpakaian seperti apapun seharusnya polisi ini tidak berhak menghakiminya mau ke hotel atau dugem sekalipun, apalagi seperti menuduh bahwa Ia adalah wanita panggilan.

Brraaaaakkkkkkkkk.. Anya langsung berdiri dan memukul meja. Anya emosi mendengar ucapan lelaki kekar dihadapannya. Dengan mata tajam Ia melihat lelaki itu yang menatapnya tak kalah tajam juga. Seperti akan ada peperangan diantara mereka. Lelaki itu tetap duduk di kursinya dan melihat sinis Anya yang sudah seperti sangat terbakar emosi.

"Sudah sabar sabarrr Nyaaa... sabaaarrrr" Oki menarik tangan Anya agar kembali duduk dan tenang. Tapi Oki tau kalau Anya sudah terlewat sabar dan menahan emosi sedari tadi.

Yoga tersenyum tipis seolah menghina Anya yang mudah terpancing emosi. Jelas saja Anya emosi, seumur hidup baru sekarang Ia berurusan dengan kepolisian. Bahkan dia tidak melakukan apapun yang salah, yang ada malah dituduh sebagai wanita panggilan.

"Baik saya buktikan. Saya pastikan saya akan buat Bapak malu dengan ucapan Bapak tadi" Jawab Anya bergegas menghampiri meja Pak Helmi yang menyaksikan percakapan sengit tadi.

"Permisi Pak, saya mau pinjem handphone saya dan telpon kantornya. saya mau telpon orangtua saya."

"I-iya mbak, tapi untuk sementara tetap saya awasi yah mbak"

Handphone Anya dan Oki serta kartu identitas Oki memang disita oleh Pak Helmi sejak baru tiba di kantor. Karena untuk menghindari mereka menutupi sesuatu.

Setelah menjelaskan kondisi lewat telpon kepada mamanya, Anya menutup telpon dan menunggu kedatangan mamanya. Ia melenggang ke kursi panjang yang biasanya digunakan untuk menunggu antrian kalau ingin melaporkan sesuatu. Ia menatap tajam ke arah Yoga yang ada diseberangnya. Hatinya sungguh terbakar emosi melihat lelaki itu, lelaki yang tidak punya hati baginya.

"Ucapannya sungguh keterlaluan. Awas saja dia." Batin Anya.

"Sorry yah Ki, gara-gara gue, lu jadi kena masalah juga disini" Bisik Anya, yang membuat Yoga menoleh ke arah Anya dan Oki.

"It's Okay. udah lu sabar aja. Kita tunggu nyokap lu datang."

"Iya, makasih"

Yoga menatap dengan tatapan sinis.

"Bilangnya temenan tapi kelakuan kayak orang pacaran. Dasar anak muda jaman sekarang." batin Yoga.

***

"Malam maa.."

"Tumben pulang jam segini Sonya, biasanya subuh baru pulang" sindir mamanya.

Biasanya Sonya memang baru pulang ke rumah saat subuh, dan kembali bekerja jam 10 pagi. Jadwalnya sangat padat sebagai dokter spesialis bedah.

"Iya ma, lagi capek mau istirahat. hari ini juga gak ada jadwal operasi kok, sonya juga kangen masakan mama yang supeeeer enaaakkk" rayu Sonya sambil memeluk mamanya yang duduk di sofa sambil menonton tv. Sonya tau kalau mamanya sangat kesepian seorang diri dirumah karena adiknya juga sering pulang malam hari karena banyaknya tugas kuliah.

"Anya belum pulang ma?"

"Belum tuh, abis ini mungkin. yaudah sana makan dulu." Jawab Mama Meli sambil mengikuti Sonya menuju meja makan.

Meliana Purnomo atau mama Meli panggilan dari customer langganan bakery milik mama Meli. Mama Meli sudah lama menjadi janda dan menjalankan usaha bakery hingga sangat sukses dan punya banyak cabang di berbagai kota. Suami Mama Meli meninggal karena kecelakaan saat Sonya dan Anya masih kecil. Tepatnya saat Anya masih 2 tahun. Hal itu membuat mama Meli menjadi wanita karir yang sukses guna melupakan kesedihannya. Sebenarnya sepeninggalan suaminya pun mama Meli tak perlu bekerja sangat keras untuk menafkahi Sonya dan Anya, karena memang mama Meli berasal dari keluarga yang kaya. Keluarganya mempunyai sebuah rumah sakit di tengah kota yang sangat maju. Akan tetapi hobi mama Meli yang suka membuat kue dan juga tidak mengerti dunia kesehatan, Ia lebih memilih membuka usaha sendiri. Selain itu dengan membuka usaha yang sesuai dengan hobinya, bisa membuat Mama Meli sedikit melupakan kesedihannya setelah ditinggal oleh mendiang suaminya.

trriiiinggg trriiiinggg..

Handphone Mama Meli yang ada di meja ruang keluarga berbunyi nyaring khas nada dering handphone emak-emak yang mesti super kenceng. Mama Meli mengecek siapa penelpon diseberang sana, namun hanya ada deretan nomor seperti nomor kantor yang tertera di layar smartphonenya.

"Halooo"

"Halooo, ma. Ini Anya"

"Anya, kamu dimana nak? kok telpon pake nomor ini? ini nomor siapa?"

"Ma, tolongin Anya. mama bisa kesini gak? tadi Anya ketangkep razia polisi gitu pas mau balik sama Oki. karena dompet Anya ketinggalan di mobil, mau gak mau Anya harus ikut ke kantor. Anya ada di kantor polisi daerah Arjuno ma. Tolong kesini yah maaa, pliiissss" Ujar Anya sambil memohon.

"Iya iya nak, kamu tenang yaaah. Mama langsung kesana. Byeeee"

Klikk..

Mama Meli langsung mengambil kontak mobil dan tak lupa menghampiri Sonya di meja makan.

"Sonya, mama jemput Anya dulu yah. Anya gak sengaja ketangkep karena razia polisi. Jadi mama mau kesana dulu. Kamu dirumah aja istirahat yah"

Astaga ma, kok bisa sih. Sonya ikut yah ma. Biar mama gak sendirian" Bujuk Sonya yang khawatir dengan mamanya yang panik.

"Enggak usah nak, kamu dirumah aja. mama bisa kok sendirian. Kamu abisin makannya dulu terus istirahat yah" Mama Meli mengecup kepala Sonya dan berlalu.

"Ati ati yah ma." Ucap Sonya sambil memandang punggung mamanya yang menjauhinya.

***

"Permisi, saya mau cari anak saya. Tadi katanya dibawa kesini karena razia"

"Ooh iya, ibu masuk saja lurus. nanti di depan situ ada ruang penyelidikan, anak ibu disana"

"Baik, terima kasih Pak"

Mama Meli berlalu menuju ruang penyelidikan. Tanpa sadar ada yang mengenali suara Mama Meli dan berdiri di meja lobby sembari memastikan apakah suara itu adalah suara yang dikenalnya. Lelaki itu merasa yakin mengenal wanita paruh baya yang bergegas ke ruang penyelidikan tadi dan langsung mengikutinya.

tok tok tok..

"Mamaaaaa...." Seru Anya sambil memeluk mamanya.

"Ada apa ini Nak?" Tanya mamanya sambil mengusap-usap rambut Anya.

"Tau deh ma, ada polisi salah tangkep tuh." jawab Anya dengan cuek dan menunjuk ke arah tempat duduk Yoga dengan menggoyangkan dagunya sambil memonyongkan bibirnya.

Mama Meli melepaskan pegangannya dari Anya dan mendekati Yoga, Yoga sedari tadi berdiri mengetahui kehadiran Mama Meli.

"Silakan duduk Ibu" Ucap Yoga dengan halus mempersilakan Mama Meli duduk di depannya.

Anya memutar bola matanya merasa jengah dengan Yoga yang bisa berubah 180 derajat. Ketika ngomong dengannya sangat kasar, tapi ketika berhadapan dengan Mama Meli bisa lembut dan sopan.

"Jadi gini Ibu, anak Ibu kami bawa ke kantor karena tidak bisa menunjukkan identitasnya. Kami tidak bisa percaya begitu saja sebelum ada bukti, apalagi tadi anak Ibu berada di daerah yang memang sudah lama kami tandai" Jelas Yoga.

"Anyaaa kan?" Selidik Boy yang barusan masuk ke dalam ruangan.

Anya menoleh ke arah suara yang mengenalinya, begitupun Yoga dan Mama Meli.

"Siapa?" Jawab Anya sambil mengernyitkan dahi berusaha mengingat siapa orang tersebut.

"Iya, ini aku Boy. Teman SMA Sonya. Masih inget kan?"

"Astagaaa, iya kak. Anya baru inget"

"Assalamualaikum tante, ini Boy temen Sonya" Boy langsung mencium punggung tangan Mama Meli.

"Tante inget Boy, apalagi Nak Boy sering main bareng sama Sonya sama Iqbal. Mana mungkin tante lupa sama trio kwek kwek" Jawab Mama Meli dan Boy terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Ada masalah apa ini tante? Kok bisa disini?" Tanya Boy.

"Ini nak, Anya tadi kena razia dan gak bisa nunjukin identitas jadi tante disuruh datang kesini"

"Oooh gituu, tenang tante. Biar Boy yang jelasin."

"Broo, ini adiknya temen gue, Sonya, sepupunya Iqbal. Lu kenal kan sama Iqbal." Bisik Boy ke Yoga dengan posisi berdiri merangkul pundak Yoga yang sedang duduk.

"Yakin Lu?"

"Yakin laaahh, udah bebasin Bro. Anak baik-baik nih. Gue jamin."

Anya berhasil bebas dari kantor polisi dan pulang bersama Mamanya. Malam ini menjadi malam yang sangat tak terlupakan buatnya. Ditambah wajah polisi yang benar-benar tidak ingin ditemuinya lagi.

di kamarnya saat memakai skincare, Anya meneteskan air mata mengingat penghinaan dari Yoga yang menuduhnya wanita panggilan. Seumur hidup Ia akan sulit melupakan tuduhan itu, apalagi tidak ada kata maaf yang Ia terima dari mulut polisi itu.

"Dasar polisi brengs*kkkkk, awas aja Lu" Batin Anya sambil menenangkan dirinya.

Malam ini terasa panjang, Anya meraih handphonenya dan mencari pesan grup untuk asistensi besok dan mulai mengetik.

"Mulai besok dan seterusnya tidak ada asistensi malam, besok saya bisa pagi jam 10 atau siang jam 2. Lewat jam 5 saya tidak ada asistensi."

***

Ting tooonggg..

Pintu terbuka..

"Ngapain Lu? Pulang ke rumah lu sana kalau ngantuk"

"Gak kuat gue pulang ke rumah, ngantuuukk. gue nebeng tidur disini dulu ya. Ntar malem gue jaga lagi soalnya. Lu hari ini kemana? bukannya lu libur ya" Tanya Boy pada Yoga.

"Kebiasaan lu itu ya. yaudah sana deh, gue mau ke kantor nanti ngasih laporan ke komandan, abis itu mau servis mobil, lu jangan berantakin apapun, ngerti"

"Iyeee" jawab Boy dan langsung terbang ke alam mimpi.

triiingggg.. Handphone Boy berbunyi menandakan adanya pesan singkat yang masuk. Yoga yang melihatnya tergeletak di meja tak sengaja membaca pesan singkat itu sedikit.

--Pagi Kak Boy. Kak, ini Anya. Anya dapet nomor kakak dari kak Sonya. Makasih banyak yah kak semalem udah bantuin Anya di kantor polisi.--

Yoga kaget melihat pesan dari wanita yang semalam emosi padanya. Yoga merasa bersalah atas semua yang menimpa pada gadis itu semalam, sebenarnya Ia ingin meminta maaf tapi karena Anya bergegas pergi Ia jadi tidak sempat meminta maaf atas kejadian kemarin. Yoga menyesalinya, ada perasaan menyesal sudah berkata kasar dan menyakiti Anya, padahal mengenal dan mengetahuinya saja tidak. Tak disangka ternyata gadis itu adalah sepupu dari dokter yang pernah merawatnya karena luka saat menghadapi residiv*s, dokter Iqbal.

***

"Yuuk berangkat sekarang"

"Yukk" Jawab Anya pada kakak satu-satunya.

Pagi ini Anya berangkat ke kampus bersama kakaknya. Beruntung Sonya juga tidak ada jadwal praktek terlalu pagi.

"Ma, Sonya sama Anya pamit yah" Ucap Sonya berpamitan dan mencium punggung tangan mama Meli disusul dengan Anya yang melakukan hal yang sama

"Hati-hati kalian yah"

Di mobil..

"Kak"

"Hmmmm"

"Kakak punya nomornya Kak Boy gak?"

"Buat apaan dek?"

"Anya kemarin belum sempet ngucapin terima kasih ke kak Boy atas bantuannya"

Oooh gitu. Kirain naksir. Yaudah sana cari di handphone kakak, cari kontak namanya BoboiBoy"

"Kok gitu namanya kak?" tanya Anya sambil tertawa dan mencoba mencari kontak yang dimaksud kakaknya.

"Ya dia dulu sok superhero banget makanya panggilannya boboiBoy"

"Tapi dia emang superhero kok, buktinya udah nolongin Anya"

"Eeehhh eeehhh ati-ati loh ya. jangan sampe terlena. Boy itu baik sama kamu karena kamu adik sahabatnya. Kalau bukan pasti udah dipacarin dan dimainin kamu. Dia itu playboy cap kambing guling deh"

"Masa sih kak? kok dulu dia baik banget kalau ke rumah?"

"Iya baik sama playboy itu beda Anyaaa. BEDA. pokoknya jangan sampe kamu terlena. cukup anggep Boy itu kakak. kakak gak rela kamu dimainin sama Boy nantinya"

"Iiissshhh kakak nih, siapa juga yang terlena. Anya kan juga gak tertarik pacaran. Anya cuma mau say thankyouuu ajaaa"

"Iyaaa iya, pokoknya kamu mesti cerita ke kakak kalau si Boy macem-macem. Okeee?"

"Iyaaaa kakak Sonya kuuu sayaaaaangggkuuu cintaaakuuuuu. kakak mah ngomongnya kayak yang paling pengalaman pacaran. Kita mah sebelas duabelas kak, gak pernah pacaran"

"Yeee, kakak mah realistis dek. Cowok itu bikin ribet kuliah dan kerjaan kakak. Belum juga kakak gak tega kalau mesti ninggalin mama nantinya"

Anya tersenyum dan mengangguk mendengar penjelasan kakaknya. Ia merasa yang diucapkan kakaknya benar. Dengan usia mereka yang sekarang kalau mereka jatuh cinta, pacaran dan nantinya serius, mau tidak mau mereka harus ikut dengan laki-laki yang mereka pilih dan ninggalin mama Meli sendiri. Mereka tidak ingin mama Meli sedih dan kesepian, sehingga mereka lebih memilih membentengi hati mereka untuk tidak jatuh cinta, entah sampai kapan.

***

"Pagi Pak" Sapa Polisi Helmi.

"Pagi, Pak Hemli."

"Pak, ini saya nitip laporan untuk komandan yah. Saya mau servis mobil soalnya. Nanti saya hubungi komandan kalau laporannya dititipkan ke pak helmi."

"Siaaap Pak Yoga. Oiya ini kemarin KTM mas mahasiswa kemarin itu ketinggalan Pak, gimana yah pak?" Ucap Pak Helmi

"Yaudah sini coba saya nanti kembalikan. kebetulan tempat servis mobil saya dekat sama kampus ini pak"

"Baik Pak, terima kasih"

Yoga berlalu dari kantornya menuju tempat servis mobil. Butuh waktu cukup lama karena antrian sudah ramai. Yoga memutuskan menunggu sambil mencari mahasiswa kemarin untuk mengembalikan KTMnya, sekaligus ingin meminta maaf kepada mereka.

Yoga masuk ke kampus Bina Nusabakti. Kampus terbaik di Ibu Kota, sudah pasti anak-anak berprestasi yang bisa masuk kampus itu. Ia mencari gedung teknik sipil, sesuai dengan petunjuk jurusan yang ada di kartu KTM itu dan sampailah Ia di gedung yang dituju. Seketika dengan mudah Ia menemukan laki-laki yang memiliki KTM tersebut. Oki memang sering nongkrong di depan jurusan bersama teman-temannya sambil menunggu kelas.

"Permisi" Ucap Yoga memecah perbincangan Oki dan teman-temannya. Oki menengok dan seketika mengenali Yoga. Polisi yang semalam menangkapnya.

"Pak polisi kemarin kan? Ada apa yah pak?" jawab Oki.

"Bisa ngobrol sebentar? Ada yang ingin saya sampaikan"

Oki dan Yoga berbincang berdua tak jauh dari tempat nongkrong Oki tadi. Yoga menyampaikan maaf serta memberikan KTM Oki yang tertinggal, Ia juga ingin Oki menyampaikan permintaan maafnya kepada Anya.

"Kalau soal itu mungkin bapak bisa minta maaf sendiri Pak, karena saya merasa kalau Anya sangat emosi kemarin alangkah baiknya kalau bapak yang langsung minta maaf ke Anya"

"Hmmm begitu yah mas. Kalau begitu saya bisa ketemu dia dimana yah?"

"Tadi sih dia di gasebo. Bapak lurus saja, nanti belok kanan. Anya seringnya nongkrong disitu Pak" Jelas Oki

"Oke kalau begitu, makasih"

"Sama-sama"

***

Yoga menghentikan langkahnya dari kejauhan, Ia melihat Anya dengan tampilan yang berbeda, celana jeans panjang, kemeja biru muda lengan panjang rapi dan tertutup, rambut dikuncir kuda, makeup tipis dan kacamata. Anya duduk di depan laptop sambil menjelaskan sesuatu ke seseorang disebelahnya.

"Cantiikk" Gumam Yoga.

Yoga tersadar dari kekagumannya dan langsung bergegas mencari duduk di gasebo lain yang membelakangi duduk Anya sambil menunggu Anya selesai dengan aktivitasnya.

Tak sampai 30 menit, seseorang yang ada disamping Anya bergegas pergi. Anya melepaskan kacamata yang memang hanya Ia gunakan saat belajar, kalau sehari-hari Ia masih bisa melihat jelas tanpa memakai kacamata. Anya menutup laptop dan memainkan handphone.

"Permisi" Sapa Yoga mendekat ke arah Anya duduk.

"Kamuuuu? ngapain kesini?" Jawab Anya dengan mata terbelalak tak percaya siapa yang datang menemuinya. Anya mengenali lelaki di depannya, dengan tampilan yang beda dari semalam hanya memakai kaos polos hitam dan celana cream serta sepatu sneakers, sekilas Anya mengagumi ketampanan laki-laki di depannya itu. Tapi dia langsung sadar dan memasang muka Jutek. Memori tentang kejadian semalam dan ucapan kasar lelaki itu Ia hadirkan kembali di otaknya sehingga Ia dengan mudah bersikap ketus kepada Yoga.

"Boleh Saya bicara sambil duduk?" pinta Yoga tenang.

"Terserah" jawab Anya asal dan memutar bola mata malas menanggapi.

Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!