"Eeh gimana jadinya rencana perjodohan kamu Nya?" Yoga memecah keheningan diantara mereka bertiga.
"Udah ketemu sama orangnya?" Yoga melanjutkan pertanyaannya dan tetap santai melahap makanannya.
Anya terbelalak mendengar pertanyaan Yoga. Ia memicingkan matanya. "Kurang aj*r, cari masalah banget nih orang" Batinnya.
Eka menatap Anya seolah menunggu jawaban Anya.
"Emmhh, perjodohan apa?" Anya pura-pura tidak tau.
"Loh bukannya mama kamu mau jodohin kamu sama anak temennya?" Yoga masih tak menyerah.
"Ooh itu.. emm.. gak jadi kok, iya gak jadi. Kan Anya bisa cari pacar sendiri" Anya menatap Eka dan tersenyum. Eka membalas tersenyum. Yoga yang melihat Anya dan Eka tidak terganggu oleh pertanyaannya membuat ulah kembali.
Ia sengaja menyenggol minuman di dekat tangannya hingga tumpah mengenai Eka.
"Sorry sorry Bro"
"Iya kak, gak papa. Aku ke kamar mandi dulu bersihin baju." Pamitnya kepada Anya.
Eka berlalu, raut Anya yang awalnya tersenyum langsung berubah seketika.
"Maksud kakak apaan sih daritadi?"
"Aku gak ada maksud apa-apa Anya, aku cuma mau kita bicara Anya. Kasih aku waktu buat jelasin. Soal cewek yang kamu bilang kemarin, aku benar-benar gak punya cewek."
"Kak, penjelasan itu udah gak penting buat aku. Aku liat dengan mata aku sendiri tapi kakak masih ngelak begini."
"Okay, kamu liat aku dimana? Sama siapa? Atau gini gini, kamu bisa tanya Boy, Boy pasti tau kalau aku gak punya pacar bahkan gak dekat dengan siapapun."
"Penting banget aku nanya ke Kak Boy hal beginian." Anya memutar matanya jengah.
"Anya plis, kapan kamu liat? Aku bisa jelasin."
"Aku gak sengaja liat kamu di mall." Jawab Anya santai sambil melanjutkan makannya.
"Ya ampun Anya, itu Gina. Dia adik aku, yang lagi dekat sama Boy. Mereka mau nonton dan aku gak bolehin kalau mereka cuma nonton berdua."
"Sudah?" Jawab Anya tetap santai. Karena baginya mendengar penjelasan atau tidak sama saja. Ia sudah kecewa dengan sikap egois Yoga tempo hari.
"Anya plis jangan jutek gini lagi dong. Aku minta maaf soal sikapku yang egois kemarin. Aku begitu karena kebawa emosi."
"Emosi? Emosi karena apa coba?"
"Aku gak suka liat kamu dan Eka." Yoga menatap mata Anya tajam. Tidak ada keraguan dalam ucapannya. Anya menatap Yoga, membisu.
Eka datang setelah membersihkan bajunya di kamar mandi membuat Anya dan Yoga mengakhiri perbincangan mereka. Anya hanyut dalam pikirannya sendiri. "Kenapa dia gak suka liat gue sama Eka?" Batin Anya.
***
Weekend telah tiba, tapi Anya sudah berencana untuk pergi ke kosan Ika. Ke empat orang sahabat itu akan berkumpul guna mengerjakan tugas presentasi.
Sebenarnya baik Yoga maupun Eka sudah melancarkan aksi mengajak Anya keluar weekend ini, tak semua tidak digubris oleh Anya. Anya benar-benar ingin fokus kuliah minggu ini, karena banyaknya ujian dan presentasi. Anya merasa perlu belajar sungguh-sungguh agar nilainya tidak turun dan mengambil perbaikan.
Tugas yang mereka kerjakan memang masih bisa dikumpulkan tiga hari lagi, tapi Anya yang serba perfeksionis tidak senang kalau harus mengerjakan tugas yang sudah lama diberi dosennya dengan sistem kebut semalam. Itulah Anya, temannya pun memahami dan justru menjadi efek positif untuk mereka berempat karena tugas yang selesai lebih awal tentunya tidak akan menjadi beban lagi nantinya.
Anya, Ika dan Mela sedang sibuk berdiskusi tentang tugas manajemen proyek. Namun, Oki sedari tadi menelpon seseorang diluar. Nampak sesekali Oki mengusap wajahnya kasar dengan satu tangan, Oki seperti terlibat pertikaian dalam perbincangan tersebut.
"Iish dasar cewek emang." Oki menutup kesal telpon dan melangkah masuk ke kosan Ika.
"Kenapa Ki?" Tanya Mela.
"Biasa, ngambek lagi."
"Kenapa lagi ngambeknya?" Tanya Anya.
"Karena ngerjain tugas bareng kalian, cewek semua. Jealous dan bilang kalau gue udah gak sayang lagi, ntar gue macem-macem lah. Hadeeh, selalu drama deh pokoknya." Curhat Oki.
"Sabar yah Ki. Mungkin cewek lu lagi PMS." Hibur Ika.
"Kalau PMS sih gak papa sebulan sekali, lah ini ngambeknya sebulan bisa berkali-kali. Mau PMS berapa kali dia sebulan." Mendengar kekesalan Oki ketiga sahabatnya malah ketawa bersama.
"Anemia yang ada yah kalau PMS terus." Celoteh Mela.
"Butuh sangobi*n tuh Ki berarti." Semua tergelak bersama.
***
Sudah hampir seminggu Sonya tidak bertemu Ezza. Kadang mereka bertukar chat hanya sekedar menanyakan kegiatan itupun tidak terlalu intens. Sonya hanya bisa menikmati weekend di rumah.
Sonya menonton tivi tapi pikirannya melayang kemana-mana. Ingin sekali Ia menghubungi Ezza, tapi tentu saja Ia terlalu gengsi.
"Tumben dirumah aja?" Mama Meli membuyarkan lamunan Sonya. Mama Meli duduk disamping Sonya dengan sepiring buah yang diletakkan di meja.
"Makan buahnya, segar nak."
"Iya ma. Lagi gak sibuk di rumah sakit ma. Jadi bisa weekend di rumah." Sonya mencomot buah dan melahapnya.
"Sonya, kapan kamu kenalin calon kamu? Mama udah nungguin."
Sonya terdiam sejenak berpikir.
"Emmh, iya ma. Secepatnya nanti Sonya kenalin ke mama."
"Jangan lama-lama nak. Kalau dia memang gak serius kamu gak usah buang-buang waktu dan tenaga."
"Iya ma, nanti Sonya coba bicarakan dulu." Mama Meli manggut-manggut dan melanjutkan menonton tivi.
"Sonya ke kamar dulu yah ma."
Sonya merebahkan tubuhnya di kasur. Baru kali ini dia bingung menghabiskan waktu. Mau bekerja pun rasanya tidak bisa konsen karena pikirannya tertuju pada kelangsungan hubungannya dengan Ezza. "Apa gue coba hubungi aja yah." Batin Sonya. "Tapi ntar dia ngira gue agresif." Sonya terus menimbang-nimbang sambil memutar-mutar handphonenya dengan satu tangan. "Aah telpon aja deh daripada penasaran."
"Halo.."
"Halo, Ezza"
"Iya, kenapa Sonya?"
"Emm, kamu lagi apa?"
"Aku lagi di rumah sakit. Lagi ngecek proyek. Kamu dimana?"
"Kamu lama disana?"
"Kayaknya sih sampe sore. Kamu sendiri lagi dimana? Di rumah sakit apa enggak?"
"Eemmmhh, aku lagi di jalan kok. Mau ke rumah sakit. Mau ketemu di cafetaria buat makan siang gak?" Sonya berbohong padahal daritadi dia tidak ada semangat untuk keluar rumah. Mendadak jadi semangat untuk pergi.
"Boleh. Yaudah kamu hati-hati di jalannya."
"Byee."
"Byee."
Dengan sigap Sonya memilah-milah pakaiannya. Berganti pakaian dan memoleskan make up tipis yang membuatnya makin terlihat cantik.
"Perfect." Gumam Sonya sambil melihat penampilannya di cermin.
***
Sesampainya dirumah sakit Sonya langsung ke cafetaria dan mengirim pesan pada Ezza bahwa Ia sudah sampai. Tak berselang lama Ezza datang, Sonya berbedar melihat Ezza tersenyum dan menghampirinya.
"Sudah lama?"
"Enggak kok, barusan banget."
"Em, mau makan siang di luar?"
"Boleh."
"Yaudah yuk."
Mereka berjalan menuju parkiran mobil Ezza. Saat melewati mobil dan hendak masuk Sonya teringat bahwa bekas goresan tabrakan di mobil Ezza sudah tidak ada.
"Mobilnya sudah dibenerin yah? Kok gak bilang aku."
"Gak papa, cuma lecet sedikit kok ternyata. Udah gak usah dipikirin."
"Tapi kan aku yang jadi gak enak sama kamu. Harusnya aku tanggung jawab karena aku yang udah bikin lecet."
"Kamu udah tanggung jawab kok."
"Tanggung jawab apa coba, orang sudah kamu benerin sendiri." Jawab Sonya sambil memanyunkan bibirnya.
"Tanggung jawab dengan ngasih nomor kamu lah."
"Sekarang kita jadi bisa dekat, itu udah bentuk tanggung jawab kamu." Ezza berbicara sambil mendekatkan wajahnya pada Sonya dan menatapnya lembut dan tersenyum. Sonya tersipu, wajahnya bersemu merah.
Mereka melaju resto dekat rumah sakit dan makan siang bersama. Saling bertukar cerita pekerjaan masing-masing selama seminggu ini. Sonya sebenarnya ingat obrolan penting tempo hari, tapi Ia enggan menanyakan kembali. "Mungkin Ezza menunggu momen yang pas untuk bicara hal itu." Batin Sonya.
Kebersamaan makan siang sudah membuat Sonya melayang bahagia. Mereka berdua harus berpisah karena Ezza harus mengecek proyek kembali. Sonya hendak pulang ke rumah namun melihat sosok yang Ia kenal di depan rumah sakit.
"Om Ehan."
"Sonya."
"Ngapain Om? Nunggu Iqbal kah?"
"Enggak, om cuma ngecek-ngecek aja tadi. Terus pingin keliling sebentar."
"Mau Sonya temenin?"
"Tentu mau dong." Om Ehan merangkul pundak Sonya dan mereka berjalan beriringan.
Om Ehan adalah ayah Iqbal. Paman dari Sonya dan Anya. Paman Ehan adik kandung mama Meli. Ia seorang dokter anak sekaligus direktur di rumah sakit keluarga tersebut.
"Kamu ini libur gini masih kerja. Rajin sekali kayak almarhum papa kamu. Persis." Sonya nyengir karena kedatangannya ke rumah sakit hari ini bukan untuk bekerja.
"Iya kah om? Ceritain sedikit dong om tentang papa." Om Ehsan berpikir sejenak sebelum memulai bicara.
"Papa kamu dulu senior Om waktu di kampus. Almarhum senior yang populer, selain pintar papa kamu juga ganteng. Teman Om aja banyak yang naksir."
"Masa sih Om? Terus kok bisa jadi sama mama? Padahal mama kan bukan anak kedokteran." Om Ehan tertawa mendengar pertanyaan kepo dari Sonya.
"Hehehe kepo yang Om. Abis Sonya gak tau ceritanya. Mau tanya ke mama takut mama kepikiran lagi." Om Ehan mengangguk paham.
"Dulu waktu Om kuliah, mobil dirumah cuma ada satu. Jadi terpaksa mama kamu antar jemput Om kuliah karena memang kantor mama kamu lebih jauh dari kampus Om."
"Suatu hari mama kamu jemput Om lebih awal, dan kebetulan papa kamu waktu itu jadi asisten dosen yang mengajar di kelas Om. Pas kelas Om selesai, dan papa kamu keluar kelas mama kamu ngelihat almarhum dan langsung jatuh cinta."
"Mama yang jatuh cinta duluan?" Om Ehan mengangguk.
"Papa kamu itu populer banget, tapi tidak suka main-main perempuan. Mama kamu ketika sudah suka sama sesuatu ya pasti akan dikejar sampai dapat, pantang menyerah. Akhirnya papa kamu yang luluh deh."
Sonya tersenyum mendengar cerita Om Ehan.
"Mama nih bener-bener, kan malu Om masa cewek yang ngejar- ngejar cowok."
"Loh kenapa malu Sonya, itu namanya jatuh cinta jadi ya perlu diperjuangkan. Kecuali kalau jatuh cinta sama suami orang itu yang baru gak boleh. Orang papa kamu masih single waktu itu, ya gak papa dong mamamu berusaha. Kalau mamamu gak berusaha gak akan hadir di dunia ini kamu sama Anya." Keduanya tertawa.
"Iya bener-bener Om."
Hari semakin sore, Om Ehan pulang ke rumah karena ada jadwal praktek di rumahnya. Sonya juga pulang karena tidak ada pekerjaan.
***
"Anyaaaa.." Sonya melenggang masuk ke kamar adiknya. Anya sedang sibuk berkutat dengan buku di kasurnya.
"Yaelah, weekend gini belajar mulu. Ngedate dong." Goda Sonya.
"Emang lu abis ngedate kak?"
"Iya doooong. Nih liat wajah kakak jadi cerah sumringah kan."
"Hemmm iya deh. Anya mending belajar aja. Minggu depan banyak kuis kak."
"Uuww adiktu tayaaang. Rajin amat ciiihh. Yaudah lanjut belajar lagi gih. Semangat yah."
Saat Sonya hendak melangkah keluar kamar, Anya menghentikan aksinya dengan buku di depan wajahnya.
"Kakak ngedate sama Pak Ezza?"
"Iya iyalah, emang mau siapa lagi."
"Kak Sonya yakin sama Pak Ezza?"
"Yakin lah, kenapa emang?"
"Udah pacaran?"
"Belum."
Anya mengangguk-angguk.
"Kenapa emang?" Gantian Sonya yang bertanya dan kembali duduk di kasur. Anya menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Kenapa? Lu tau sesuatu tentang Ezza kah? Dari awal tau gue deket sama Ezza kayaknya ada yang aneh dari reaksi lu." Selidik Sonya.
"Emm, gimana yah Kak. Anya juga takut kalau Anya salah. Tau sendiri gue jarang ngikutin dunia pergosipan. Tapi Pak Ezza itu cukup terkenal di kampus. Jadi ya pasti gosip tentang dia cepat nyebarnya."
"Gosip tentang Ezza? Emang apaan gosipnya? Paling gosip pacaran sama mahasiswa yah. Kalau gosip begitu mah udah biasa buat dosen seganteng Ezza. Gue gak kaget."
"Bukan kak."
"Anya ngerasa bersalah ceritanya nih, Anya harap kakak bisa cari kebenarannya tanpa kepancing emosi dulu ya."
"Apaan sih? Cepet iih gue penasaran."
"Janji dulu jangan sedih."
"Iya janji." Jawab Sonya cepat karena sudah sangat penasaran.
Anya menghela nafas panjang dan membenarkan posisi duduknya lebih tegak untuk menyiapkan diri bercerita.
"Jadi pas Anya maba tiga tahun lalu kak, Anya sempat dengar gosip kalau ada hari patah hati nasional di jurusan Anya karena Pak Ezza nikah. Pak Ezza sudah nikah kak, Anya takut aja kakak nanti akan dapat cap pelakor kalau terus dekat sama Pak Ezza." Sonya terbelalak mendengar cerita Anya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
HARTIN MARLIN
waduh.... Ezza udah nikah 😱😱
2022-09-13
0