Anya membuang nafas kasar. Emosinya sudah sampai diubun-ubun. Bagaimana tidak, setiap hari Yoga selalu mengabsen dirinya dimana, dengan siapa, pulang naik apa. Dia tau hal itu yang sering dilakukan teman-temannya saat pacaran, namun Ia merasa sesak saat merasakannya sendiri. Apalagi pacarannya hanya sebatas pura-pura.
"Kak, aku ingin bicara serius." Ucap Anya ditelpon setelah sesi absen yang dilakukan Yoga.
"Tentang apaan?" Yoga agak kaget mendengar nada bicara Anya.
"Nanti kakak tau sendiri. Ketemu di cafe dekat kampus saja. Sepulang Anya kuliah."
"I iya. Nanti aku kesana."
Setelah jam pulang kuliah Anya bergegas ke cafe untuk menemui Yoga yang sudah sampai lebih dulu dan menunggunya. Anya sampai dan mencari seseorang yang sudah membuatnya tersiksa akhir-akhir ini. Yoga duduk di ujung cafe, dari tempat duduknya Ia bisa bebas melihat seseorang yang baru masuk ke cafe namun berbeda dengan yang baru masuk akan sulit melihat ke arah Yoga karena ada partisi berongga yang sedikit menutupi.
"Anya." Panggil Yoga. Anya menghampiri Yoga.
"Mau pesan dulu?" Yoga menawari dengan tersenyum sumringah. Anya menggeleng.
"Mau bicara apa?" Anya membenarkan duduknya tegak, menaruh kedua tangannya di atas meja dan mulai menyusun kata perkata di kepalanya.
"Kak, jujur Anya mulai tersiksa sama hubungan pura-pura ini. Anya gak suka dengan sikap kakak yang sedemikian. Tolong hargai keputusan Anya, jangan hubungi Anya lagi." Ucap Anya tegas membuat Yoga terbelalak kaget.
"Ta tapi Nya, aku bikin salah apa?"
"Bukan salah atau benar kak, tapi Anya gak nyaman. Anya memang belum siap berhubungan pacaran. Anya masih nyaman sendiri, apalagi untuk pacaran pura-pura kakak sangat berlebihan."
"Itu karena perasaan aku gak pura-pura Anya." Yoga menggenggam tangan Anya. Deg.
Anya berusaha melepaskan genggaman Yoga.
"Maaf banget kak, Anya lebih nyaman sendiri. Lebih nyaman tanpa gangguan kakak." Anya blak-blakan dengan hal yang dia rasakan.
"Jadi selama ini aku sudah ganggu kamu?" Tanya Yoga dengan sedikit lesu, Anya mengangguk.
"Aku butuh space sendiri kak, rasanya kakak akan menemukan orang yang tepat nantinya. Untuk pacaran pura-pura kita, Anya nanti akan berusaha jelasin ke mama pelan-pelan."
"Apa karena Eka?" Yoga menatap Anya lekat.
Anya menggeleng.
"Bukan karena siapa-siapa kak."
"Aku akan berusaha Nya."
"Berusaha apa kak?" Anya mengernyitkan dahi.
"Berusaha membuat kamu jatuh cinta sama aku."
Anya terdiam, dia tidak bisa menanggapi ucapan Yoga. Ia hendak beranjak, saat melihat ke arah pintu masuk Anya langsung terduduk kembali dan menutup wajahnya dengan tangannya. Yoga terkaget.
"Kenapa Nya?"
"Sssttt ssstttt." Anya menaruh jari telunjuknya di bibirnya yang sedikit Ia manyunkan. Anya melihat perlahan ke arah pintu masuk, sosok yang Ia kenal tadi sudah duduk di meja lain. Kedua orang itu nampak mesra, tak jarang mereka berpegangan tangan dan berpelukan. Anya menatapnya dengan tatapan sinis.
"Awas aja lu." Gumam Anya. Ia mengeluarkan ponselnya dan merekam apa yang Ia liat saat itu.
"Kenapa Nya?" Yoga dibuat bingung dengan tingkah Anya di depannya.
"Apa itu pacar kamu yang asli? Dia selingkuh gitu?" Selidik Anya.
"Iissh apaan sih kak, Anya gak punya pacar." Anya berbisik.
"Terus itu siapa?" Yoga menggerakkan dagunya kearah meja yang diisi oleh kedua manusia tersebut.
"Sini sini." Anya menyuruh Yoga mendekatkan wajahnya.
"Itu calonnya kak Sonya. Namanya Andre, katanya nerima perjodohan sama kak Sonya, tapi kelakuannya begitu." Anya berbisik menjelaskan tetap dengan nada geramnya.
"Apa?" Braaaakkkkk. Yoga menepuk meja cukup keras membuat semua pengunjung cafe menoleh tak terkecuali Andre dan wanitanya. Untungnya Anya duduk membelakangi mereka sehingga tidak terlihat wajah Anya.
"Kakak, jangan gitu. Nanti mereka tau ada Anya disini."
"Eh iya sory. Abis brengs*k banget cowok kayak gitu."
"Yaudah sekarang bantuin aku keluar biar gak keliatan pas ngelewatin mereka." Yoga mengangguk.
Mereka berdua berdiri dan Yoga memeluk Anya lalu menutupi wajah Anya dengan dadanya yang kekar. Mereka berjalan beriringan hingga keluar cafe. Wajah Anya bersemu merah. Jantungnya berdegup kenceng. "Kenapa gue deg-degan gini coba, mungkin karena takut keliatan kak Andre." Batin Anya.
Mereka berdua sampai di tempat parkir, Anya bergegas meninggalkan Yoga dan menenangkan dirinya.
***
Hampir satu pekan Sonya dan Andre saling mengenal satu sama lain. Akan tetapi bayangan Ezza masih terus membayangi Sonya. Hari ini Sonya dan Andre menjadwalkan diri untuk mengenal satu sama lain kembali. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke cafe dan mengobrol agar bisa lebih mengenal.
"Kamu duduk disini dulu ya, biar aku pesanin. Mau pesan apa?" Tanya Andre.
"Vanila latte aja."
"Gak makan?" Sonya menggeleng. Andre berlalu memesankan Sonya minuman.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang.
"Jadi kamu pengacara kan?" Sonya membuka pembicaraan.
"Iya bener."
"Kasus apa yang sedang ditangani sekarang?"
"Em, ada beberapa sih. Ada kasus kecelakaan kerja di proyek pembangunan, ada kasus sengketa juga. Ya macam-macam lah kasusnya." Sonya memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kamu sendiri dokter spesialis apa?"
"Dokter bedah." Andre mengangguk.
"Sebentar yah." Andre meminta ijin ketika tau nada dering di ponselnya berbunyi. Sonya sesekali melihat Andre menelpon, Ia terlihat tertawa dan sesekali berbisik.
Setelah telpon selesai, Andre kembali duduk di hadapan Sonya.
"Sorry, tadi teman kantor nelpon." Sonya mengangguk.
"Jadi tadi sampai mana obrolan kita?"
"Belum sampai mana-mana kok."
"Aku seneng kita makin dekat begini. Kita jadi gak ngecewain orang tua kita masing-masing."
Andre langsung memegang tangan Sonya, Sonya tersentak. Ia ingin melepaskan genggaman itu. Ia mencari cara mencari alasan melepaskan genggaman tangan Andre.
"Aku ke toilet dulu yah." Sesaat kemudian handphone Andre berdering kembali, Ia langsung mengangkatnya karena Sonya sedang ke kamar mandi.
"Haloo.."
"Iya sayaang, nanti malam yah kita keluar. Aku masih ada urusan. Bye."
***
Entah kenapa setelah kejadian di cafe, Yoga sudah beberapa hari tidak mengganggu Anya. Awalnya Anya senang karena itu berarti Yoga mengerti yang dia harapkan. Tapi ada perasaan sepi dan kehilangan menyelimuti hati Anya.
Braaakkk..
Anya berjalan di lorong kampus dengan gontai dan tak sadar menabrak seseorang.
"Maaf maaf.." Ia mengambil buku-buku yang berserakan.
"Anya, ngelamunin apa?"
"Eh, pak Ezza. hehe enggak kok pak."
"Lain kali hati-hati yah." Anya mengangguk.
Ezza hendak berlalu..
"Pak."
"Iya kenapa?"
"Kak Sonya dijodohkan." Ezza tersenyum.
"Saya tau Anya."
"Tapi calonnya tidak jauh lebih baik dari bapak. Kak Sonya juga tersiksa pak." Ezza tertunduk sejenak.
"Tapi tidak ada yang bisa bapak lakukan Anya. Pilihan orang tuamu pasti itu yang terbaik."
"Enggak pak, dia bukan orang baik." Ezza menggeleng.
"Tidak Anya, kamu jangan hanya melihat sekilas. Coba kamu kenali calon kak Sonya lebih dekat. Mungkin kalian sama-sama masih canggung."
"Bukan masalah dekat atau tidaknya pak. Tapii.."
"Tapi apa?"
"Tapi calonnya kak Sonya punya pacar lain pak."
Ezza kaget mendengar penuturan Anya.
"Tapi saya bisa apa. Sonya sendiri yang memilihnya." Ezza berlalu meninggalkan Anya yang masih mematung.
Ezza kembali ke ruangan dosen. Ia mengumpulkan keberanian untuk menelpon Sonya. Telpon Ezza terhubung.
"Halo."
"Halo Sonya. Apa kabar?"
"Baik Ezza, kamu sendiri apa kabar?"
"Aku juga baik Sonya."
"Emmm, tentang perjodohan kamu bagaimana?"
"Semua berlangsung baik kok, kita sedang mengenal satu sama lain." Sonya berkilah. Ia tau bahwa hatinya hanya terbuka untuk yang sedang menelponnya, tapi Ia tak kuasa mengungkapkannya.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Semoga semua lancar."
"Iya Ezza semuanya lancar."
"Yang terpenting, kamu bahagia Sonya." Sonya terdiam sejenak menahan tangis. Seandainya Ia bisa berkata bahwa bersama Ezza adalah kebahagiaannya.
"Makasih Ezza."
"Iya sama-sama. Yaudah kalau gitu aku ngajar dulu. Bye."
"Bye."
***
Hari ini UGD sangat sibuk, ada pasien kecelakaan beruntun yang terjadi dan kebanyakan pasien dengan luka parah dilarikan ke rumah sakit tempat Sonya dan Iqbal bekerja.
Dokter Iqbal, ada pasien anak kecil yang menjadi korban. Tampaknya terjadi pendarahan."
Iqbal memeriksa kondisi korban tersebut, gadis cantik berusia 3 tahun. Setelah mengetahui kondisinya, Iqbal segera memberitau wali untuk persetujuan tindakan.
"Selly.."
"Iqbal."
"Kamu walinya anak Airelle?"
"Iya." Wanita cantik itu mengangguk. "Bagaimana kondisinya?"
"Pasien perlu dioperasi karena ada pendarahan." Selly menitikkan air mata.
"Tolong lakukan yang terbaik, untuk anakku."
Iqbal masih mengingat bagaimana perasaannya dulu pada Selly. Wanita cantik yang dicintainya amat dalam. Dahulu saat Ia sibuk berkuliah di kedokteran, Ia tidak sengaja bertemu gadis cantik yang mengambil jurusan apoteker. Tak disangka Iqbal jatuh hati. Iqbal berpacaran satu setengah tahun dengan Iqbal, namun semua kandas karena Ia baru tau Selly tidak bisa hidup dengan satu lelaki. Selain Iqbal, Selly memiliki pacar lain. Saat Iqbal disibukkan dengan kuliahnya, justru saat itu Selly sedang asik dengan laki-laki lain.
Sekarang Iqbal harus berusaha profesional. Gadis kecil itu tidak berdosa. Ibunya mungkin menorehkan luka yang amat dalam di hatinya, namun Ia tidak mungkin tega membiarkan gadis kecil yang sedang tak sadarkan diri itu mengalami hal yang buruk.
Iqbal mengangguk pertanda Ia akan berusaha melakukan yang terbaik untuk anak mantan kekasihnya. Ia ingat tentang sumpah dokternya, Ia akan membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan medis. Melupakan sakit hatinya sejenak.
Setelah putus dari Selly pun Iqbal masih betah sendiri hingga saat ini. Luarnya yang tegar membuatnya tidak nampak ada luka menganga di dalam hatinya. Untung waktu mempertemukan mereka 5 tahun setelahnya. Setidaknya Iqbal sudah merasa lebih baik dari yang dulu.
***
Anya terduduk di gasebo, seperti biasa Ia melakukan asistensi. Namun entah kenapa pikirannya tidak fokus. Pikirannya melayang kemana-mana memikirkan apa yang dilakukan Yoga. Biasanya Yoga akan menelponnya, menanyakan kegiatannya dan akan memberitau kegiatan yang akan dilakukan Yoga. Namun sekarang sudah tidak lagi.
Anya semakin tidak fokus mengajari adik tingkatnya. Ia memutuskan untuk mengakhiri asistensinya kemudian Anya mencari teman-temannya di kantin.
"Kenapa Nya?" Ika bertanya setelah melihat Anya datang dengan muka cemberut.
"Gak papa, lagi sebel aja sama orang gak jelas."
Mela, Ika dan Oki memilih diam dan tidak kepo karena ekspresi Anya sudah nampak seperti akan makan orang.
"Mel, kapan Vico berangkatnya?"
"Minggu depan." Mela menjawab sambil memanyunkan bibir.
"Loh dimajuin?" Mela mengangguk.
"Semua urusannya sudah beres. Seminggu ini dia cuma ngurusin barangnya abis itu berangkat."
"Semangat pejuang LDR." Ika menyemangati.
"Terus magangnya gimana Mel?" Anya ikut kepo.
"Jadi, masih diurus paman buat di proyeknya. Proyeknya kemarin sempat ada masalah karena ada kecelakaan kerja gitu. Untung pengawasnya dosen kita jadi kemarin kisruh minta ganti rugi gitu."
"Proyek apa?"
"Paviliun rumah sakit."
"Ooo.." Ketiga temannya manggut-manggut.
Sore hari Anya dan teman-temannya sudah selesai kuliah. Ika bareng pulang sama Anya. Saat di mobil Anya melihat handphonenya berulang kali membuat Ika bertanya-tanya.
"Kenapa Nya? Nungguin telpon? Atau ada janji?"
"Enggak kok. Gak kenapa-kenapa." Anya kembali fokus menyetir. Namun tak berselang lama Ia mengecek handphonenya kembali.
"Ehem Anya, lu jujur deh. Lu kenapa?"
"Jujur apaan?"
"Lu gak biasanya gini Anya. Pasti ada yang ganggu pikiran lu kan?"
"Gimana yah Ka, bingung gue ceritanya."
"Siapa emang?"
"Emm, lu inget polisi yang pernah nyari gue ke kampus?"
"Aah iya inget, yang ganteng itu kan. Kenapa emang?"
"Kan dia selalu gangguin gue yah, sampe bilang kalau kita pacaran ke nyokap. Terus kemarin gue peringatin supaya gak ganggu gue lagi karena gue capek. Beneran dong dia gak ganggu gue lagi. Tapi gue ngerasa kayak jadi aneh gitu Ka."
"Aneh? Harusnya kan lu seneng gak digangguin lagi."
"Iya harusnya gue seneng dong. Tapi kenapa gue gak bisa seseneng itu. Kok rasanya aku yang kejam banget disini."
"Lu tertarik sama dia Nya?"
"Iih ya gak mungkin lah Ka. Gue yakin ini cuma perasaan bersalah karena kemarin udah ngomong cukup kasar aja. Iya kan? Iya dong. Pasti."
"Yee dijawab jawab sendiri. Kalau udah aneh begini itu ibarat lu udah ada rasa kayaknya Nya sama tuh polisi ganteng"
"Iiih gak mungkin. Gue mah gak mau sama dia. Ngeselin banget orangnya Ka. Lagian gue gak mau pacaran dulu, nantinya riweuh kayak Oki atau Mela gitu."
"Riweuh atau enggaknya itu tergantung lu sama pasangan lu sendiri Nya."
"Iya tapi kita kemarin pacaran pura-pura aja dia udah video call tiap saat. Ganggu banget, jadi riweuh juga kan?"
"Jadi kalau pacaran beneran dan gak video call tiap hari gak jadi riweuh kan?"
"Yaa gak gitu juga konsepnya Ika."
"Lu tuh yah, di video call tiap hari ganggu. Giliran sekarang gak di video call kangen."
"Ikaaaa gue gak kangen."
"Gak kangen tapi diliatin terus handphonenya. Berharap di telpon. Yaelah Nya Nya.."
"Iiihhh udah aaah. Kok malah gue diledekin mulu jadinya."
"Lah abisnya temen gue yang satu ini gak pekanya kebangetan. Bukan gak peka sama orang lain. Sama diri sendiri aja juga gak peka ternyata. Masa lagi kangen aja gak sadar."
"Gak kangen Ikaaa."
"Tuh kan gak sadar lagi."
"Iih terserah deh." Ika memanyunkan bibirnya sambil menatap kedepan melihat jalanan dan menyetir. "Masa bener gue kangen?" Gumam Anya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments