Sonya sudah selesai praktek. Namun Ia masih enggan meninggalkan rumah sakit dan pulang. Pikirannya tertuju pada Ezza yang tadi siang dilihatnya di cafetaria. Sonya merasa tidak tega Ezza harus bersedih karena anaknya sekarang terbaring lemah di rumah sakit karena kecelakaan. Sonya memutuskan menghubungi Ezza.
"Halo."
"Halo Sonya."
"Ezza, aku turun prihatin untuk kondisi putri kamu. Aku tau dari Iqbal."
"Airelle? Iya Sonya. Terima kasih. Semoga dokter Iqbal bisa menyelamatkan Airelle. Dia gadis kecil yang ceria dan tidak berdosa."
"Semoga yah Ezza. Aku juga berharap yang terbaik untuk Airelle. Kamu dan Selly diberi kesabaran dan kekuatan selalu."
"Selly? Ka kamu kenal?"
"Emm, aku gak kenal. Iqbal yang sangat mengenal."
"Ooh.." Ezza enggan bertanya lebih jauh perihal mantan istrinya. Dia tidak ingin tau dan juga untuk menjaga perasaan Sonya tentunya.
"Yaudah kalau aku cuma mau ngomong itu aja."
"Sonya.."
"Iya Ezza."
"Aku masih selalu nungguin kamu."
Deg.
"Bye Ezza." Sonya memutuskan sambungan telponnya. Ia tenang mendengar suara Ezza yang terdengar baik.
***
Persidangan untuk kasus kecelakaan proyek yang diawasi Ezza berlangsung lancar. Semua karena bantuan Andre. Ezza, Andre, tim pengacara Andre dan tim kontraktor dari Ezza melakukan makan malam bersama.
"Terima kasih banyak Pak Andre."
"Sama-sama Pak Ezza. Sudah kewajiban kami membantu klien. Hal ini juga tidak lepas dari kerja sama tim tentunya."
"Iya, terima kasih juga untuk timnya Pak Andre." Ezza berbicara agak keras agar semua anggota tim mendengar yang disambut dengan senyuman dan anggukan serta ucapan "Sama-sama." Dari tim pengacara Andre.
"Pak Andre tidak bawa calonnya Pak?" Celetuk salah satu timnya yang terdengar oleh Ezza.
"Calon yang mana dulu?" Andre menimpali sambil terkekeh.
"Biasa Pak Ezza, calonnya banyak." Pria yang tadi menggoda Andre menjelaskan ke Ezza sambil melirik ke arah Andre.
"Saya pernah ketemu satu berarti Pak." Balas Ezza.
Andre tertawa.
"Kok jadi saya yang digodain nih. Emang Pak Ezza tidak punya calon? Atau sudah menikah mungkin?"
"Belum Pak Andre. Calonnya juga belum ada."
"Waaah sayang sekali, padahal Pak Ezza dosen ganteng."
"Belum ada yang cocok Pak, sekalinya nemu yang cocok orangnya gak mau sama saya."
"Sabar yah Pak Ezza. Semoga segera bertemu jodohnya. Gak kayak saya yang dijodohkan begini."
"Pak Andre dijodohkan?" Ezza memastikan tidak salah dengar.
"Iya Pak." Andre mengangguk dan menenggak minumannya. Andre dan timnya terbiasa merayakan pasca sidang dengan meminum alkohol, Ezza yang tidak terbiasa hanya memesan minuman lain yang tidak mengandung alkohol.
"Padahal Pak Ezza tau sendiri saya sudah punya pacar yang kemarin, pacar saya yang sexy dan cantik. Ya calon jodoh saya memang cantik dan sexy juga, tapi saya lebih sudah tipe yang seperti kemarin Pak Ezza, lebih menantang. Sedangkan yang dijodohkan ini wanita pintar yang kutu buku."
Ezza hanya bisa mendengarkan curhatan Andre yang sudah mulai mabuk.
"Kenapa tidak menolak perjodohannya saja pak?"
"Menolak? hahahaha. Pak Ezza tau berapa yang sudah dikeluarkan kedua orang tua saya untuk perjodohan ini?" Ezza mengernyitkan dahi.
"Mereka akan buatkan saya firma hukum sendiri Pak jika saya menerima perjodohan ini. Bahkan ketika saya berprestasi dalam pekerjaan mereka tidak ada fikiran membuatkan saya firma hukum, tapi hanya untuk mau dijodohkan mereka rela begitu. Ya saya ikuti saja cara main orangtua saya." Curhat Andre yang sudah mulai tidak bisa menahan kepalanya sendiri. Ia menopang kepalanya dengan tangannya karena efek alkohol.
"Tapi kan kasian dia pak, apalagi bapak masih ada pacar." Ezza mencoba mengubah sudut pandang Andre.
"Ooh tidak. Saya bisa menjalani dengan keduanya, asal.. asal tidak ketauan." Andre tertawa.
"Saya akan buat jodoh saya hanya terdiam dirumah nantinya tanpa tau diluar sana saya sedang sama pacar saya." Andre makin tidak karuan.
"Pak Andre, sadar pak." Ezza mulai khawatir dengan kondisi Andre yang makin meracau.
"Nantinya dia akan tau kalau dia cuma alat bagi saya. Kalau dia mau pisah, itu urusan nanti. Saya juga tidak rugi menikah dengan wanita seperti dia, tampaknya juga tidak pernah dijamah laki-laki. hahaha" Andre makin menjadi membuat rekan satu timnya membopongnya ke mobil dan mengantarkannya pulang.
***
Sudah hampir sebulan Andre dan Sonya saling mengenal. Andre juga sering mengajak makan siang saat Sonya tidak sibuk. Hari ini untuk pertama kalinya Andre mendatangi Sonya di rumah sakit. Andre mencari ruangan Sonya hendak mengajaknya ke cafetaria.
tok tok tok..
"Masuk." Suara dari dalam.
"Hai, surprise." Andre mengangkat kedua tangannya.
"Loh Andre, ada perlu apa kesini?" Sonya cukup kaget dengan kejutan dari Andre.
"Mau ngajak calon istri aku makan siang. Kalau kamu sibuk kita bisa makan di cafetaria, tadi aku liat ada cafetaria di bawah. Yang penting calon istriku gak boleh telat makan." Sonya memaksakan senyum.
"Yaudah kalau gitu, ayok ke bawah." Sonya melepas jas dokternya dan keluar ruangan.
Saat melewati poli anak Andre melihat seseorang yang pernah di kenalnya. "Selly." Gumam Andre. Sekilas Andre melihat Selly berlalu, Ia merasa yakin itu Selly yang dulu pernah Ia kenal. Tapi setau dia Selly pergi keluar negeri. "Apa dia kembali?" Batin Andre. "Apa dia kerja disini?" Andre berpikir sejenak tanpa sadar langkahnya tertinggal dari Sonya.
Sonya menyadari Andre tidak lagi berjalan beriringan Ia menengok dan benar saja Andre terdiam sambil melamun.
"Ndre. Kenapa?" Andre masih terdiam tak menjawab ucapan Sonya.
"Ndre, Andre." Sonya memberanikan diri menepuk lengan Andre.
"Eeh iya Sonya, kenapa? Sorry sorry."
"Kenapa emang? Abis liat apa?" Sonya mencoba mencari ke arah pandangan Andre.
"Enggak gak kenapa-kenapa. Tadi kayak liat temen lama. Tapi kayaknya bukan deh. Mirip aja." Andre beralasan.
"Oooh. Kirain liat yang mistis-mistis. Kan dirumah sakit nih."
"Yee mana ada siang bolong begini."
"Hahaha siapa tau. Yaudah jadi ke cafetaria atau enggak?"
"Jadi dong. Yuk."
Andre dan Sonya menuju cafetaria untuk menikmati waktu makan siang mereka dan mencoba mengenal satu sama lain. Andre memang tipikal laki-laki yang cepat dan mudah akrab dengan lawan jenisnya. Sangat mudah baginya untuk bergaul, wajar saja dengan pekerjaannya yang seorang pengacara pasti menuntutnya untuk pandai berbicara. Namun seiring kedekatan mereka, Andre tidak jujur dengan kondisinya yang masih memiliki pacar dan menerima perjodohan dengan Sonya karena lain hal. Andre melihat Sonya memang sempurna dari segi fisik dan pintar juga, sehingga Ia merasa tidak ada ruginya menerima perjodohan dengan Sonya, satu dayung dua tiga pulau terlampaui.
***
Hari ini Anya dan Ika duduk berdua di kantin untuk makan siang bersama. Mela memilih makan siang bersama Vico sebelum menjadi pejuang LDR sedangkan Oki sedang nongkrong dengan teman laki-laki yang lain. Anya dan Ika memilih tidak ikut dengan Oki dan yang lain karena pasti asap rokok akan ada dimana-mana.
Saat sedang bersenda gurau handphone Ika berdering. "Eric".
"Halo. Kenapa Kak?"
"Halo, lagi dimana?"
"Di kantin. Kenapa emang?"
"Oke gue kesana." Klik.
"Lah dimatiin, gak sopan banget nih orang." Anya cengengesan melihat tingkah sahabatnya.
"Kak Eric?" Selidik Anya. Ika mengangguk
"Fix deh Kak Eric tuh suka sama lu."
"Anya, dia tuh playboy. Kalau udah bosen sama gue nantinya juga cari mangsa yang lain."
"Tapi jarang sih ada playboy yang niat sampai ngenalin cewek ke mamanya segala."
"Itu kan cuma gak sengaja ketemu Anyaaa." Ia beralasan walaupun fikirannya membenarkan ucapan Anya. Eric sempat bercerita kalau dia sakit hati karena mamanya menikah lagi, tapi waktu mereka bertemu hubungan Eric dan mamanya sudah terlihat baik. Eric juga menceritakan tentangnya ke mamanya padahal untuk terlalu terbuka dengan mama yang sudah lama terpisah pasti agak sulit. "Apa mungkin yah Kak Eric." Batin Ika. "Eeh apaan sih, gila gila. Mikir apaan nih gue." Batin Ika kembali.
"Hai girl." Eric datang dengan gaya sumringahnya.
"Halo kak Eric." Sapa Anya.
"Ngapain kesini?" Ika memasang wajah juteknya.
"Jutek amat non. Nanti cepet tua loh."
"Iya udah ngapain kesini kak Eric?"
"Iya gak ngapa-ngapain. Pengen liat lu aja."
"Ciiieeeee.." Goda Anya.
"Iiih apaan sih, gak jelas nih orang Nya. Jangan di dengerin."
"Hahaha iya deh gak gue dengerin."
"Kakak gak ada kuliah apa?" Protes Ika.
"Udah gak ada, kan cuma ambil skripsi aja. Ini tadi abis bimbingan. Kan situ nyuruh cepat lulus, jadi ya mesti rajin bimbingan."
"Tumben."
"Karena gue nurutin apapun kata lu."
"Uhuuk so sweet banget." Anya menggoda keduanya kembali.
"So sweet kan yah Nya? Ini malah ngomel-ngomel." Eric menimpali candaan Anya.
"Iya so sweet kok, buktinya disuruh cepet lulus langsung di gas skripsinya sekarang."
"Nah tuh Anya aja paham loh."
"Serah kalian berdua deh. Puyeng gue."
"Eehhh kalian berdua lanjut deh so sweet so sweetannya. Gue mau ke perpus dulu, ada buku yang perlu buat ngerjain proposal skripsi. Byee."
"Nyaaa, masa lu tega ninggal kita." Cegah Ika.
"Udah, enjoy your time. Bye kak Eric." Anya melambaikan tangan pada Eric dan dibalas senyuman.
Setelah Anya berlalu, Ika kembali memasang wajah cemberut.
"Kok cemberut amat sih. Lagi pusing sama kuliah kah?"
"Pusing sama tingkah kakak, seenaknya nyelonong saat orang lagi asik makan sama temen."
"Ya maaf Ika, temen-temen gue udah banyak yang lulus. Adik tingkat yang biasanya nongkrong bareng lagi kuliah. Jadi kepikirannya ya kamu."
"Waah pemain cadangan banget gue nih." Protes Ika.
"Emang mau jadi pemain utama?" Eric menatap Ika lekat.
"Iiih apaan sih kak. Gak jelas."
"Gue tuh rajin bimbingan udah karena nurut banget loh sama kamu, biar cepet lulus. Gue berdamai sama masa lalu juga dan bisa dekat sama nyokap. Semua karena gue nurut sama lu, jadi lu bukan pemain cadangan atau pemain utama, pelatih malah yang ada."
Ika tergelak.
"Apaan sih kak, gak jelas nih mesti. Emangnya lagi main bola pake acara pemain cadangan, pemain utama sama pelatih segala. Kalau gue pelatih, kakak gue suruh lari keliling lapangan 100 kali, mau?"
"Waaah ya jangan gitu dong. Bisa pingsan gue nanti. Nanti kalau gue pingsan, lu bingung loh."
"Iih mesti deh. Kepedean. Kalau kakak pingsan ya ditinggal aja, nanti juga sadar-sadar sendiri." Ika menjulurkan lidahnya.
"Wuiiih, tega banget. Gak nyangka banget." Eric memasang wajah melas. "Eh nanti pulang sama siapa?"
Ika mengangkat bahu karena tidak tau nanti pulang dengan siapa.
"Pulang bareng gue. Nanti gue tungguin."
"Gue selesai kuliah sore kak, emang kakak mau tungguin sampe sore."
"Buat Ika apa sih yang enggak." Goda Eric.
"Ckckck buaya buaya. Bahaya emang bergaul sama buaya."
"Loh bahaya kenapa? Takut tergoda yah? Apa jangan-jangan sudah tergoda."
"Kak Eric apaan sih. Mesti deh gak jelas nih." Wajah Ika bersemu merah bak kepiting rebus. Kalau Eric terus berbuat seperti itu tidak menutup kemungkinan Ika akan tergoda nantinya.
"Yaudah kalau gitu gue balik ke gedung. Siap-siap kelas." Ika beranjak dari kursinya.
"Ntar gue tunggu depan gedung lu ya. Bye." Eric juga ikut berdiri dan berlalu menuju jurusannya.
"Bye." Ika berjalan menuju gedung jurusannya sambil mengatur jantungnya yang sedari tadi sudah dag dig dug seperti genderang mau perang.
***
Setelah selesai asistensi, Sisil mendekati Oki yang sedang membereskan barang-barangnya.
"Kak Oki."
"Eeh Sisil. Kenapa? Ada yang perlu ditanya?"
Sisil menggeleng.
"Enggak kak, semua yang diterangin kakak sudah jelas kok tadi."
"Terus ada apa?"
"Emm Sisil mau ngasih ini buat Kak Oki." Sisil mengeluarkan bingkisan berisi cheese cake.
"Dalam rangka apa Sisil?" Oki kaget dengan pemberian Sisil.
"Emm, dalam rangka Sisil mau berterima kasih sama Kak Oki. Kak Oki udah dua kali anterin Sisil. Selalu bantu Sisil juga kalau ada yang gak aku pahami. Tapi Sisil sendiri gak bisa bantuin kakak apa-apa."
"Ya ampun Sisil. Ngapain mikir begitu. Kakak kan emang asisten yang digaji untuk bantuin kamu kalau ada yang gak dipahami. Kalau masalah anterin kamu pun, masa iya sebagai laki-laki kakak gak bantuin kamu malem-malem sendirian begitu. Jadi lain kali gak usah ngerasa sungkan atau gak enak gitu."
"Iya tapi tetep aja aku mau berterima kasih sama Kak Oki. Jadi terima ini yah kak, plis." Sisil memasang wajah imutnya kembali membuat Oki berdegup.
"Iya iya aku terima, tapi lain kali gak usah repot-repot gini lagi yah."
"Hmm gak janji kak." Sisil memasang muka jahil.
"Loh kok gak janji sih, kan kakak jadi gak enak nanti dek."
"Ya dienakin kak, orang tuh kuenya enak kok."
"Iih kamu nih yah, iseng ngerjain senior."
"Hihi siapa yang iseng kak. Abis kak Oki serius banget. Bercanda dikit kan gak papa."
"Emang aku serius banget?" Sisil mengangguk.
"Apalagi kalau udah nawarin bantuin. Sisil jadi takut mau nolak, takut kakak marah karena tatapannya serius banget."
"Kalau gitu besok-besok kakak usaha lebih kalem deh. Biar gak nakut-nakutin anak kecil." Oki tersenyum.
"Janji yah?" Sisil menyodorkan jari kelingkingnya.
"Gak janji." Oki tertawa.
"Iiih kakak, ayok janji dulu sini. Gak boleh serius-seriusan lagi, apalagi kalau lagi sama Sisil."
"Iya iya. Janji." Oki mengaitkan kelingkingnya ke kelingkingnya Sisil. Sisil tersenyum hangat, Oki merasakan degupan kencang di dadanya. "Sisil." Batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments