Egois

"Aku balik ke ruangan dulu yah" bisik Sonya.

"Iya, so sorry yah soal hari ini"

"It's okay Ezza, bye"

"Bye"

Sonya berjalan menuju ruangannya. Ditengah jalan Ia melewati ruangan Iqbal, Sonya berhenti dan mengintip dari jendela nampak Iqbal sedang duduk sambil bermain handphone.

Sonya nyelonong masuk ke ruangan Iqbal.

"Woi, liatin apaan lu?"

"Lagi liat toktok, lucu-lucu banget video-videonya"

"Baaaal" Sonya memanggilnya dengan bibir manyun.

"Paan?"

"Lu mah handphone mulu, dengerin dulu gue mau curhat nih" Iqbal memasukkan handphonenya ke saku celana dan menopang kepalanya dengan tangan.

"Dah cerita, gue dengerin"

"Hmm, mama ada niatan jodohin gue"

"Tante Meli mau jodohin lu?" Sonya mengangguk.

"Sama siapa di jodohinnya?"

"Sama anak temennya mama lah pastinya"

"Iya siapa tau dia ganteng Nya, coba aja dulu" Jawab Iqbal santai sambil bersandar di sofa.

"Gue udah deket sama seseorang, Bal"

"Hah siapa? Gila lu gak pernah cerita ke gue"

"Gue deketnya juga baru kok. Hem, jadi gini Bal. Beberapa minggu lalu gue gak sengaja nyerempet mobil orang. Ternyata pas ketemu orangnya tipe gue banget. Kita jadi deket"

"Kemarin dia sempet bilang kalau hari ini dia bakal ngomong sesuatu sama gue, gue yakin dia pasti mau nembak gue. Tapi karena ada masalah sama kerjaannya kita gak jadi ngobrol deh"

"Emang kerjanya apaan?

"Dia dosen, dosen ditempat Anya. Waktu gue kenalin ke Anya ternyata mereka sudah saling tau"

"Apa gue kepedean yah Bal bakal ngira dia nembak gue?"

"Kalau kepedean atau enggak itu kan tergantung hubungan kalian berdua sebenernya. Kalian yang ngerasain ada perasaan gak yang timbul dari kebersamaan kalian." Jawab Iqbal bijak.

"Terus sekarang masalahnya dimana?"

"Masalahnya kok gue tiba-tiba jadi gak yakin dia mau nembak gue, padahal nyokap mau jodohin gue kalau belum punya pacar. Gue udah terlanjur bilang kalau punya calon dan nyokap juga ngasih tenggat waktu buat gue ngenalinnya Bal." Sonya tertunduk lesu.

"Gue takut cuma kegeeran aja dia bakal nembak, taunya gak nembak"

"Lu suka sama dia?" Sonya malu mengakuinya, dia mengangguk pelan.

"Kalaupun dia nembak gue, gue juga gak yakin dia langsung mau dikenalin ke nyokap. Apalagi dengan umur gue pasti nyokap nyuruh kita buru-buru nikah. Dia bisa kabur lah kalau baru jadian terus udah disuruh serius sama nyokap"

"Itu kan masih pemikiran lu sendiri Sonya, sekarang gini deh. Kalau dia dosennya Anya, dia kan berarti minimal seusia kita juga kan. Udah diusia yang siap menikah. Bisalah diomongin baik-baik nantinya. Apalagi kalau dia beneran suka sama lu dia pasti mau karena kalau gak segera nikahin lu bisa-bisa lu dijodohin sama orang lain."

"Kalau gak mau Bal? Gue bakal patah hati sekaligus pasrah dijodohin gitu"

"Itu tandanya belum jodoh ,Nya. Kayak gue sama Selly, mau sesayang apapun gue, mau berkorban apapun endingnya dia selingkuh juga dan nikah sama yang lain. Artinya kita emang gak jodoh." Iqbal meratapi nasibnya sendiri.

"Tapi secara logika aja nih Bal, lu baru kenal cewek terus cocok lah atau minimal lu suka deh. Yakin lu mau langsung serius, jujur gue juga pasti bakal mikir beberapa kali sih."

"Gini nih ribetnya sama orang yang pubernya telat. Sonya, yang namanya udah jatuh cinta itu semuanya pakai perasaan. Logika mah lewat. Kalau tuh cowok itu emang suka sama lu, cocok banget sampe gak rela kehilangan lu, percaya deh dia akan ngelakuin apapun supaya lu gak dijodohin."

Sonya senyum-senyum mendengar jawaban Iqbal.

"Gitu yah Bal, dia bakal lakuin apapun?" Sonya makin cengengesan.

"Yaelah, ngapain lu cengar cengir. Bayangin apaan coba"

"Iiih gak bayangin apa-apa kok. Thanks ya Bal. Gue balik, gue udah goodmood nih"

"Yaelah, main nyelonong-nyelonong aja"

Sonya senyum-senyum sendiri dan kembali ke ruangannya.

***

Pagi ini Anya ada janji untuk membahas proposal tugas akhirnya lagi dengan dosen. Ia sengaja bangun pagi agar bisa bersiap-siap dan memeriksa barang bawaannya. Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal Ia segera turun dari kamarnya menuju mobil.

Saat memasukkan barang, Ia melihat mobil Sonya memasuki halaman rumah dan di parkir sekenanya. Sonya keluar mobil dengan wajah kusut.

"Kenapa kak? Kok kusut amat?"

"Abis jaga malam, ngantuk banget gue"

"Yaudah tidur sana"

Anya sudah selesai memasukkan barang bawaannya dan memanasi mesin mobilnya. Ia hendak berangkat.

"Nyaaa" Anya menoleh sambil masuk ke kursi kemudi.

"Kenapa kak?"

"Gue mau nanya tentang Ezza dong, dosen lu"

"Gue buru-buru kak. Ntar malem yah, bye" Anya menjalankan mobilnya menjauhi Sonya yang masih berdiri ditempat semula.

"Ya hati-hati" Jawab Sonya lesu.

"Yah ntar malem gue ada jadwal praktek" Gumam Sonya sambil melangkah memasuki rumah.

***

Anya bersorai karena pertemuannya dengan dosen berjalan lancar. Saat hendak keluar kampus Ia melihat Mela dan Vico berjalan bergandengan sambil tersenyum satu sama lain.

"Uhuuuk" Anya menggoda Mela.

"Eeh Anya"

"Hai Nya" sapa Vico.

"Halo Kak. Pada mau kemana nih? Mesra amat."

"Mau ke kantin, yuk ikutan. Vico abis sidang, dan udah jadi sarjana kita mau ngerayain di kantin."

"Waaah, selamat yah Kak. Ikut seneng dengernya."

"Makasih" Vico tersenyum.

"Kalian duluan ke kantin dulu deh, gue mau ke perpus bentar balikin buku. Ntar gue nyusul ke kantin"

"Siap, bye"

Anya sampai di perpustakaan, Ia mengembalikan buku mekanika tanah yang sempat Ia pinjam untuk mengerjakan proposal tugas akhirnya. Saat hendak ke kantin menyusul teman-temannya handphone Anya berdering.

"Halo.. Ada apa?"

"Kamu dimana?"

"Mau apa lagi emang?"

"Aku mau bicara sama kamu"

"Tentang apa lagi sih kak? Penjelasan apapun aku rasa aku gak perlu denger dan kalau kakak bahas bantuan, aku juga gak perlu bantuan kakak. Stop ganggu aku kalau cuma mau bahas hal itu lagi"

Anya menutup ponselnya. Beberapa saat kemudian handphonenya kembali berdering, dengan emosi tanpa melihat nomor yang menelponnya Ia langsung mengangkat.

"Apa lagi?" Teriak Anya.

"Halo, sory Nya. Aku ganggu yah"

"Eeh enggak enggak. Sory sory, aku kira telpon spam lagi. Soalnya dari tadi aku dapet telpon spam" Kilah Anya.

"Ada apa Eka?"

"Anya, kamu nanti malam sibuk gak?" Anya berpikir dan merasa tidak ada kegiatan apapun nanti malam.

"Enggak kayaknya, kenapa?"

"Kalau aku ajakin kamu makan malem gak papa?"

"Gak papa"

"Kalau gitu aku jemput jam 6 malem yah"

"Oke"

"Bye Anya"

"Bye"

Emosi Anya mereda setelah berakhirnya panggilan dari Eka. Anya menjadi uring-uringan karena kejadian 2 hari lalu.

#Flashback on..

Mobil Anya dikemudikan Yoga dengan kecepatan yang tinggi. Ia membawa Anya ke pinggir kota menuju daerah pantai. Yoga berniat ingin menjelaskan ke Anya bahwa dia belum memiliki pacar.

Mobil Anya sampai di pantai setelah hampir satu setengah jam mereka di jalan, Yoga turun Ia mengatur nafas dan menghirup dalam-dalam udara pantai yang sejuk agar bisa tenang dan mengendalikan emosinya. Setelah beberapa saat Yoga menuju pintu penumpang mobil dan membuka pintu.

"Aku mau balik" Anya bergegas turun dari kursi penumpang menuju tempat kemudi.

"Anya tunggu dulu" Yoga mengejar Anya. Menarik tangan Anya yang sedang memegang handle pintu.

"Aku mau jelasin ke kamu kalau aku benar-benar gak ada pacar Nya"

"Penting banget kak penjelasan itu?" Tatapan Anya berubah menjadi sinis. Ia berusaha menahan emosinya.

"Nya, aku cuma gak pengen ada salah paham. Aku pengen bantuin kamu"

"Stop kak. Aku bukan anak kecil yang butuh bantuan kamu"

"Tapi Nya"

"Kakak tau, karena yang kakak lakuin sekarang ini aku terpaksa ngelewatin kuliahku. Apa kakak tau kalau aku ada kelas? Enggak kan. Kenapa? karena kakak gak nanya dan gak pernah mau dengar"

"Maafin aku Nya" Yoga merasa bersalah membuat Anya membolos kelas.

"Asal kakak tau, kuliah aku jauh lebih penting daripada penjelasan kakak" Anya semakin emosi.

"Dari awal kita ketemu, kakak selalu sama. Gak pernah mau dengar kondisi orang lain. Egois sekali kak." Yoga terdiam mendengarkan omelan Anya.

"Sekarang biarin aku pergi"

"Tapi Nyaa.."

"Lepasin kak, atau kita gak akan ketemu lagi selamanya"

Yoga terpaksa melepaskan genggaman tangannya.

"Satu lagi kak, bantuan yang kakak tawarkan aku tolak. lupain tentang bantuan itu, aku bisa atasin semua masalahku sendiri. Permisi" Anya masuk ke tempat kemudi dan menjalankan mobilnya menjauh dari tempat Yoga berdiri. Yoga berdiri mematung menyesali apa yang Ia lakukan. Sesaat kemudian Yoga melangkah gontai menyusuri pantai, Ia duduk dan tertunduk sambil mengacak kasar rambutnya. "Aaarrghhh, kenapa sih nih cewek bikin gue gak karuan begini" gumam Yoga. Deburan ombak menemani kegalauan Yoga sore itu.

#Flashback Off..

***

Anya menuju mobilnya dan mengambil beberapa bungkusan lalu menuju kantin untuk mencari teman-temannya.

"Apaan tuh Nya?" Tanya Oki.

"Nih buat kalian gaes. Mama yang bikin. Mama seneng banget kalian kemarin sore ke rumah. Terus tadi pagi buat kue buat kalian deh." Jawab Anya sambil membagikan kue yang dititipkan Mama Meli untuk teman-temannya.

"Makasih Anya makasih tante Meli." Ucap Ika dan Mela bersamaan.

"Cobain deh yang, ini kue buatan mamanya Anya. Enak banget" Mela menyodorkan kue pada Vico.

"Hmm iya enak yang" jawab Vico setelah menggigit kue dari Mama Meli.

"Coba lu bisa bikin kue begini Nya, wuih jadi calon istri idaman lu." Celoteh Oki.

"Gue gak bisa bikin adonan kue, bisanya bikin adonan semen biar sekalian gue semen tuh mulut." Semua tertawa berjamaah mendengarnya. Oki dan Anya sudah biasa saling meledek begitu. Seperti love hate friendship mungkin namanya. Karena kadang saling meledek, kadang saling membantu tak jarang juga kadang saling bekerja sama meledek teman yang lain.

"Kak Vico rencananya kapan mulai kerjanya?" Oki bertanya pada Vico membuat Mela antusias menyimak.

"Mulainya sebulan lagi, tapi disini kan gue masih perlu urus revisi dan pendaftaran wisudanya. Jadi gue minta waktu sekitar 2 bulan. Disana kan juga perlu cari tempat tinggal, pindah-pindah barang yang diperlukan" Oki manggut-manggut mendengarkan.

"Abis itu langsung stay disana kak?"

"Kayaknya sih iya, kalau bolak balik nanti jadi bengkak di biayanya. Mungkin baru balik kesini pas wisuda"

"Yah LDR dong kak" Goda Ika.

"Iya nih, sory yah sayang" Vico memandang Mela yang duduk di sebelahnya sambil mengelus rambutnya.

"Iya gak papa sayang" Mela berusaha menyembunyikan kegalauannya agar tidak membuat Vico berat hati.

Anya tersenyum memandang Mela. Mela banyak berubah sejak berpacaran dengan Vico. Mela yang dahulunya akrab dengan dunia malam perlahan mulai berubah, Ia juga mulai membatasi pergaulan dengan lawan jenis agar tidak membuat Vico salah paham. Hanya rokok yang masih sulit Mela tinggalkan, namun sekarang pun sudah berkurang drastis. Entah pelet apa yang dipakai Vico hingga bisa menjinakkan seorang Mela, bahkan bisa membuat Mela yang selalu main-main dengan hubungan bisa mengakui kalau jatuh cinta pada Vico.

***

Malam hari Yoga berencana ke rumah Anya untuk menemuinya. Namun, Ia disuguhi pemandangan yang kembali membuatnya mendidih. Eka datang ke rumah Anya dan mereka pergi bersama. Tak berselang lama, Yoga mengikuti mobil mereka.

Mobil Eka masuk ke sebuah cafe di tengah kota. Anya dan Eka turun dan saling melempar senyum satu sama lain. Yoga menggenggam kemudi menahan emosi melihat kejadian di depan matanya. Yoga berencana turun dan bergabung dengan makan malam pemuda pemudi yang dalam masa pendekatan itu.

"Dimana mereka" Gumam Yoga sambil celingukan di dalam cafe. "Nah itu dia"

Yoga pura-pura berjalan dan tidak sengaja mata Anya bertemu dengan mata Yoga.

"Eeh Anya" Sapa Yoga pura-pura kaget saat melihat Anya. Ia mendekat ke arah meja Eka dan Anya. Anya menekuk wajahnya melihat Yoga.

"Halo kak" Eka memberi salam sambil menundukkan kepala mengingat Yoga adalah seniornya.

"Boleh gabung disini? Sepertinya temenku gak jadi datang"

"Boleh"

"Enggak" Jawab Eka dan Anya bersamaan. Eka melihat Anya dan menaikkan satu alisnya mencoba mencari kejelasan jawaban Anya.

"Mm maksudku enggak papa, iya gitu" Anya tersenyum kaku. "Sial*n banget nih orang" Batinnya melihat Yoga tersenyum lebar.

Anya yakin ini cuma akal-akalan Yoga yang ingin merusak makan malamnya dengan Eka. Anya melirik Yoga sinis, saat Yoga hendak duduk Anya sengaja menendang kursi milik Yoga.

"Ups sorry, gak sengaja. Sama kayak pertemuan ini, GAK SENGAJA" Anya memberi penekanan dan memasang wajah tak bersalah.

"Iya gak papa kok." Yoga duduk manis di kursinya dan tersenyum manis membuat Anya semakin jengkel.

Mereka memesan makanan, Anya makan dengan kikuk karena ada Yoga yang hadir diantara mereka membuatnya tidak bisa leluasa mengobrol dengan Eka.

"Eeh gimana jadinya rencana perjodohan kamu Nya?" Yoga memecah keheningan diantara mereka bertiga.

"Udah ketemu sama orangnya?" Yoga melanjutkan pertanyaannya dan tetap santai melahap makanannya.

***

Hai haii.. Terima kasih banyak buat readers yang sudah membaca novel Dikejar Cinta Pak Polisi. Mohon masukan untuk author yang masih baru banget. Bisa jugs loh komen, vote dan like juga. Author akan selalu usahakan selalu update tiap 2 hari sekali, tapi tetap diusahakan untuk lebih cepat. 😊😊 Terima kasih banyak untuk supportnya.

Love, AQS.❤

Terpopuler

Comments

keyla safira

keyla safira

up

2022-08-21

1

lihat semua
Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!