Andre

Sesampainya di apartemen, Eka merebahkan tubuhnya di kasur. Ia masih bingung dengan yang baru saja Ia lihat. Seniornya, Yoga, mengaku sebagai pacar Anya. "Masa iya mereka pacaran." Gumam Eka. Eka mengambil ponselnya di nakas dan menelpon Anya. Beberapa kali nada sambung berdering namun tak kunjung ada jawaban dari seberang telpon.

Eka semakin dibuat gusar. Jujur dia tidak akan berusaha mendekati Anya jika memang Anya dan Yoga memiliki hubungan. Namun jika Anya belum menentukan pilihannya, dia akan berusaha untuk mendapatkan hati Anya.

***

Hari sabtu ini rencana teman Mama Meli akan berkunjung ke rumah dengan anaknya. Sekalian untuk membicarakan rencana perjodohannya dengan Sonya. Sonya hanya bisa pasrah karena memang dia yang awalnya menyetujui perjodohan ini.

"Kak, kakak yakin?" Anya bertanya pada kakaknya yang sedang bersiap-siap dirumah.

"Yakin dek."

"Terus Pak Ezza gimana?"

"Gak gimana-gimana."

"Apa kakak gak mau sama Pak Ezza karena dia duda?"

Sonya menghentikan kegiatannya dan menghadap ke arah Anya.

"Kakak gak permasalahkan kalau dari awal kakak tau Ezza itu duda dek. Tapi disini kakak sudah terlanjur bilang ke mama kalau kakak menerima perjodohan sebelum kakak tau kondisi Ezza. Kakak harus tanggung jawab sama omongan dan pilihan kakak."

"Tapi ini kan soal perasaan kak, kakak jangan bohongin perasaan kakak sendiri."

"Ish pinter kali sekarang adek aku kalau ngomong." Sonya tersenyum. Tak menampik bahwa masih tersisa perih di hatinya. Tak sedikitpun Ia melupakan Ezza. Namun dia tidak ingin bersikap egois.

Beberapa saat kemudian teman Mama Meli, tante Yuni datang ke rumah. Tante Yuni datang bersama suaminya Om Faisal dan anaknya Andre. Andre bekerja sebagai pengacara di sebuah firma hukum. Sepak terjangnya sebagai pengacara tidak diragukan lagi, dia selalu bisa memenangkan kasus yang dipegangnya.

"Ini anak saya yang pertama. Sonya namanya." Mama Meli memperkenalkan Sonya yang sekarang duduk di sebelahnya.

"Halo om, tante." Sonya menyapa dan mencium punggung tangan satu persatu.

"Ini anak om, namanya Andre." Om Faisal memperkenalkan.

Sonya dan Andre saling bersalaman. Andre memang mempunyai perawakan yang tampan, penampilannya pun terkesan necis yang membuat banyak perempuan menggilainya. Namun anehnya Sonya tidak merasakan getaran seperti pertama kalinya Ia bertemu Ezza. Sonya memaksakan tersenyum kepada Andre. Berbeda dengan Andre yang sedari awal melihat Sonya menebarkan senyum kepadanya terus. Sonya merasa sedikit risih dengan tatapan Andre padanya. Namun Ia berusaha tenang.

Mama Meli sudah menyiapkan jamuan untuk keluarga temannya. Mereka makan bersama di meja makan, begitupun juga Anya. Anya berkenalan sebelum mereka makan bersama. Saat makan bersama mata Andre terus melirik Sonya dengan lirikan yang membuat Sonya risih. Makan malam dilalui dengan obrolan Mama Meli dan temannya yang ternyata mereka adalah teman semasa SMA. Mereka bernostalgia masa-masa SMA sambil sesekali tertawa bersama.

"Sonya, kamu temenin Andre ngobrol di taman sana." Titah Mama Meli.

"Iya ma." Sonya mengangguk.

Sonya berlalu ke taman diikuti Andre di belakangnya.

Di taman..

"Jadi kamu kerjanya apa?" Tanya Andre.

"Dokter. Kalau kamu?"

"Wah, pinter dong berarti. Aku pengacara."

"Enggak juga kok."

"Kamu cantik banget." Ucap Andre sambil senyum-senyum. Sonya merasa canggung dipuji oleh Andre, Ia membayangkan coba saja yang ada di depannya adalah Ezza, memujinya seperti itu pasti Ia menjadi wanita yang sangat bahagia.

"Terima kasih." Balas Sonya dengan senyum dipaksakan.

"Sepertinya orangtua kita ada rencana menjodohkan kita." Ucap Andre.

"Iya sepertinya. Kenapa memang? Apa kamu sudah punya pacar?" Andre tertawa mendengar pertanyaan Sonya.

"Kalau sudah keinginan orangtua mau kita sudah punya pacar pasti kita disuruh putus kan." Ucap Andre. Jujur hati Sonya berharap Andre memiliki pacar atau orang yang dia sayang sehingga berkeinginan membatalkan perjodohan. Namun ternyata semua terbalik, Andre nampak tidak keberatan dengan perjodohan ini.

Hari semakin malam, keluarga Andre berpamitan untuk pulang. Tapi sebelum pulang orangtua Andre dan Mama Meli sudah menyuruh Sonya dan Andre untuk menghabiskan waktu bersama di hari minggu besok.

***

"Hai." Sapa Andre yang keesokan harinya menjemput Sonya.

"Hai." Sonya mencoba tersenyum.

"Mau langsung pergi?"

"Boleh. Memang mau kemana rencananya?"

"Mau nonton?"

"Boleh." Sonya mengangguk.

Mobil Andre menuju ke mall. Sesampainya disana mereka membeli tiket untuk menonton film. Sonya hanya bisa mengingat momen dia menonton bersama Ezza. Semakin Ia berusaha melupakan semakin kenangan dengan Ezza kembali terukir.

2 jam film yang ditonton Sonya dan Andre berakhir. Sonya meminta langsung pulang dan menolak ajakan makan dari Andre walaupun sebenarnya Ia merasa lapar tapi lebih baik makan dirumah saja. Ia sudah cukup menutupi perasaan tidak nyamannya saat bersama Andre. Sonya merasa kurang nyaman dengan sikap Andre yang sudah berani memegang tangannya di dalam bioskop tadi.

***

Hari senin siang Ezza ada janji bertemu dengan pengacara yang menangani kasus kecelakaan kerja di proyek tempo hari. Ada beberapa dokumen yang diperlukan untuk persidangan sehingga Ezza memutuskan untuk bertemu langsung.

"Selamat siang."

"Selamat siang juga pak."

"Perkenalkan saya Ezza, saya pengawas proyeknya."

"Saya pengacara yang ditunjuk, Andre." Ezza tersenyum dan mempersilakan Andre duduk.

Kedua pemuda itu nampak serius membicarakan masalah yang sedang ditangani. Tak berselang lama kesepakatan antar keduanya sudah tercapai. Keduanya berharap kasusnya akan terselesaikan dengan baik dan tidak ada pihak yang dirugikan.

"Terima kasih banyak Pak Andre. Anda benar-benar pengacara yang hebat."

"Sama-sama Pak. Semoga kasus ini berakhir dengan baik." Keduanya bersalaman lalu bergegas pergi melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

***

Anya masuk ke kampus dengan lesu, bagaimana tidak selama weekend ini dia merasa seperti terus diawasi oleh Yoga. Yoga terus menelponnya agar Anya tidak menerima telpon Eka bahkan keluar bersama Eka. Yoga yang akan menjelaskan semuanya ke Eka. Herannya Anya menuruti saja keinginan Yoga entah agar tidak terus berdebat atau hal tersebut tidak membuatnya terganggu. Sebenarnya setelah kejadian di kampus saat Yoga bilang bahwa dia adalah pacar Anya di depan Eka, Eka selalu berusaha menghubunginya. Awalnya ada rasa kasian dari Anya dan ingin berusaha menjelaskan semuanya. Tapi jika Ia menjelaskan semuanya dan seolah memberi harapan akan semakin runyam juga.

Sejujurnya Anya masih merasa abu-abu terhadap kedua pemuda tersebut. Entah Eka atau Yoga mereka sama-sama pemuda yang baik dan memiliki pendekatan yang berbeda. Yoga mendekatinya dengan gaya yang mengganggunya terus, namun Eka mendekatinya dengan gaya yang lembut dan mementingkan kenyamanannya. Anya hanya bisa pasrah saja tergantung kemana nanti hatinya akan bertaut.

Anya berusaha fokus untuk kuliah, Ia mengusir pikiran terkait Yoga ataupun Eka. Ia tidak ingin laki-laki mempengaruhi prioritasnya. "Fokus Anya." Batin Anya. Anya kembali mendapatkan fokusnya dan melalui perkuliahan dengan baik.

Setelah hari mulai siang, keempat sahabat itu berkumpul di kantin.

"Ki, gimana sama cewek lu? Udah lu putusin?" Mela bertanya. Oki menggeleng.

"Lah kenapa?"

"Minggu lalu gue udah nyoba minta putus, tiba-tiba dia nyalahin Anya dikira gue ada main sama Anya makanya minta putus."

"Lah kenapa gak lu ceritain alasan sebenarnya minta putus kalau dia yang selingkuh sama cowok sampe ke hotel." Jawab Ika.

"Gue gak ada bukti, yang ada nanti dia malah bikin alasan lain dan jadiin pertemanan gue sama Anya yang jadi penyebabnya."

Anya mengangguk setuju dengan pendapat Oki.

"Makanya gue gak jadi minta putus. Mungkin gue harus cari bukti dulu dia sebenarnya bagaimana dibelakang gue. Sorry yah Nya, cewek gue lebay banget ngeliat pertemanan kita."

"It's okay Ki. Mungkin dia cemburu karena gue cantik." Jawab Anya sambil mengibaskan rambutnya dan terkekeh.

"Percaya deh yang cuuuuantiik buuaaanget." Oki menimpali dengan nada yang lebay. Semuanya jadi ikut tertawa.

***

Sore menjelang malam Anya sampai dirumah. Awalnya Yoga menelponnya hendak menjemputnya, namun Ia menjelaskan bahwa Ia membawa mobil sendiri. Parahnya Yoga meminta videocall untuk membuktikan bahwa Anya benar-benar membawa mobil ke kampus. "Gila parah banget posesifnya tuh pacar pura-pura." Batin Anya.

Saat hendak memasuki rumah Ia melihat kakaknya, Sonya sedang duduk sendiri di taman.

"Udah pulang dari tadi kak?" Anya membuyarkan lamunan Sonya.

"Iya, dari sore tadi. Pasiennya tadi dibagi sama dokter Nyoman jadi bisa selesai cepet." Anya manggut-manggut dan duduk disebelah Sonya.

"Kakak gak suka yah sama kak Andre?"

Sonya menunduk mendengar pertanyaan adek semata wayangnya.

"Kakak lagi berusaha dek."

"Tapi sulit pasti kak, karena dihati kakak udah diisi Pak Ezza. Lagian Anya juga gak sreg sama kak Andre itu. Keliatan kayak playboy banget gitu loh kak. Apalagi dari cara dia ngeliatin kakak, rasanya pengen Anya colok tuh matanya keliatan genit banget." Cerocos Anya.

"Hush, gak boleh gitu dong Anya."

"Hehe iya kak, maaf maaf. Anya kelewatan. Anya cuma gak cocok aja kak. Apalagi ngeliat kakak kayak tersiksa gitu."

"Kakak gak tersiksa Anya, kakak memang sedang berusaha ngelupain Ezza dan menerima Andre di hati kakak. Jadi wajar kalau terasa berat. Semua cuma butuh waktu, kakak yakin nanti pasti akan membaik."

Anya manggut-manggut menahan ucapannya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran kakaknya lagi. Sebenarnya dia ingin menceritakan bahwa setiap harinya di kampus Pak Ezza selalu menanyakan kabar kakaknya. Anya pun dengan terus terang selalu bilang bahwa kakaknya belum bisa melupakan Pak Ezza sedikitpun. Ezza pun tau Sonya telah menjalani perjodohannya dari Anya akan tetapi Ezza tidak ingin tau siapa calon jodoh Sonya.

Anya pamit pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian handphone Sonya berdering, ada chat masuk. Sonya melihatnya siapa yang mengiriminya chat.

Ezza.

'Sonya, semoga kamu selalu bahagia dengan semua pilihan kamu. Aku berharap yang terbaik untukmu.'

Airmata Sonya menetes. Sangat sulit baginya melupakan sosok Ezza. Entah kenapa pertemuan yang singkat dengan Ezza membawanya pada perasaan yang dalam. Ingin rasanya dia melupakan semua perasaan orang lain dan berlari menuju Ezza, namun dia tidak ingin seegois itu. Sonya merasa hanya perlu waktu untuk menghapus semua perasaannya pada Ezza, walaupun Ia tau perasaan itu tertanam begitu dalam, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghapusnya, seumur hidup, mungkin saja.

***

Di kantor polisi Yoga dan Boy sedang mengobrol di dalam ruangan Yoga. Yoga merasa sedang diintrogerasi oleh sahabatnya tersebut karena Eka sempat bertanya pada Boy tentang hubungan Yoga dan Anya. Setelah berkali-kali telpon Eka tidak digubris oleh Anya, Eka memutuskan bertanya pada Boy agar memperjelas semuanya.

"Bro, lu beneran pacaran sama Anya? Eka nanya ke gue karena lu bilang kalau pacaran sama Anya."

"Gue terpaksa bro ngomong begitu."

"Jadi hubungan lu sama Anya itu apa? lu suka apa cuma main-main?"

"Emangnya gue kayak lu, suka main-main sama cewek."

"Iya itukan dulu, sekarang gue udah tobat apalagi sejak ketemu sama Gina."

"Eeh gue belum ngerestuin ya, awas aja lu deket-deket adik gue."

"Nah lu sendiri ngapain deket-deketin Anya. Gue kan udah ngenalin dia sama Eka, Eka jadi salah paham kan. Dia juga gak enak deketin Anya."

"Ya bagus dong, berarti gak usah deketin Anya lagi."

"Bro.. plis nih. Lu mesti jujur, gak mungkin lu mau pacaran pura-pura gak jelas kalau lu gak ada rasa sama Anya. Jujur sama gue, kita udah temenan bertahun-tahun."

"Iya iya, gue suka sama Anya."

"Sejak kapan?"

Yoga nampak berpikir keras.

"Sejak gue liat dia di gasebo kampusnya." Yoga tersenyum sendiri.

"Parah nih orang emang."

"Terus Anya gimana sama lu?"

"Cepat atau lambat gue akan bikin dia jatuh cinta juga sama gue."

"Kalau emang Anya belum ada rasa sama lu, berarti gak masalah dong Eka deketin Anya." Yoga mengernyitkan dahi menatap Boy tak terima dengan ucapannya.

"Lah kenapa emang? Lu takut kalah saing sama junior yah? Kalah di umur sih. Lu emang ganteng bro, tapi ya masa Anya mau sama om-om." Boy memanasi Yoga.

"Siapa yang takut kalah saing coba. Justru yang udah dewasa gini bikin cewek tuh nyaman." Yoga menyombongkan dirinya.

"Yaudah buktiin aja kalau gitu."

Sejujurnya sebagai sahabat Boy senang Yoga bisa jatuh cinta kembali setelah selama ini menutup hatinya. Yoga pernah jatuh cinta dulu saat masa pendidikan kepolisian. Namun hubungannya dengan wanita itu berakhir karena perbedaan keyakinan dan orangtua pacarnya tidak merestui dan akhirnya berujung pacar Yoga menikah dengan orang lain.

Rasa sakit hati itu yang membuat Yoga betah menyendiri hingga sekarang. Boy dan sahabat yang lain sudah berusaha mengenalkan Yoga dengan beberapa wanita namun di tolak. Namun saat melihat Anya di gasebo kampus, bagaimana Ia dengan sabar mengajari adik tingkatnya, dengan senyumnya yang tulus saat adik tingkat bertanya padanya membuat hati Yoga bergetar. Saat Ia memohon maaf pada Anya, bibir Anya seolah berkata tidak ingin memaafkannya namun mata Anya yang teduh mengungkapkan bahwa Ia sudah memaafkannya. Anya sosok yang kuat di luar, namun hatinya sangat lembut. Apalagi ketika melihat sketchbook Anya, Yoga dibuat semakin jatuh hati pada Anya. Yoga menyadari Anya bukan wanita yang mudah ditaklukan sehingga Ia sangat butuh usaha yang keras agar bisa membuktikan pada Anya bahwa Ia tidak main-main.

Terpopuler

Comments

HARTIN MARLIN

HARTIN MARLIN

lanjut lagi thor

2022-09-13

0

keyla safira

keyla safira

up lagi thoor

2022-08-28

0

lihat semua
Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!