"Haii Nya.." Boy mendekati meja disusul oleh Yoga dan Eka.
Anya terbelalak melihat Yoga dengan tatapan tajam hendak menerkamnya.
"Ha halooo kak.. duduk kak Boy" Anya tetap berusaha tersenyum.
Boy menyuruh Eka duduk di depan Anya persis, saat Boy hendak duduk di kursi sebelah Anya, Yoga dengan sigap mendahuluinya dan memasang wajah tidak merasa bersalah. Anya menjadi risih dengan tingkah Yoga, namun Ia berusaha tenang dihadapan Boy dan Eka. Ia tidak ingin pertemuan pertamanya dengan Eka berakhir buruk. Setelah memesan makanan Boy mengenalkan Eka dan Anya. Yoga geram melihat tatapan Eka yang terlihat tertarik pada Anya.
"Aku pamit ke kamar mandi dulu yah" Anya merasa perlu menenangkan diri karena jantungnya sudah berdetak tak karuan setelah bertemu Yoga dalam situasi canggung seperti itu. Setelah Anya cukup jauh meninggalkan meja mereka, Yoga berdiri dan hendak ke kamar mandi juga.
Anya membenahi penampilannya di depan cermin, Ia merapikan lipstiknya yang mulai memudar karena minum sambil menunggu tadi. Setelah berbolak-balik berkaca, Ia merasa yakin dengan penampilannya dan memutuskan keluar kamar mandi. Betapa kagetnya Anya, Yoga menunggu di depan kamar mandi dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu gak angkat telponku?" Yoga menatap Anya membuat Anya deg-degan tak karuan.
"Sibuk" Anya melenggang hendak melewati Yoga. Yoga meraih tangan Anya.
"Lepasiiin"
"Kenapa mesti pakai minta dikenalin cowok sama Boy sih?" Yoga tetap memegang tangan Anya.
"Emang kenapa? Itu bukan urusan kamu" sembari berusaha melepaskan tangan Yoga.
"Aku sudah bilang aku bakal bantuin kamu"
"Aku gak butuh bantuan kamu"
"Butuh gak butuh aku akan tetep bantuin kamu" Yoga memberi penekanan pada ucapannya.
"Gak perlu, urus aja cewek kamu sendiri"
"Cewek?"
"Udah aah lepasin, sakit"
"Cewek siapa?" Yoga melepaskan tangan Anya setelah melihat Anya mulai kesakitan.
"Ya mana aku tau, yang punya cewek kan situ. Aku gak mau jadi pelakor" Anya meninggalkan Yoga sendiri yang masih berpikir siapa yang dimaksud Anya.
Setelah Yoga kembali ke meja, makanan datang. Anya dan Eka cepat akrab karena mereka seumuran, bahkan tak jarang mereka tertawa terbahak-bahak karena saling menimpali omongan yang lucu. Yoga makin geram dan tak fokus dengan makanannya. Duduk disamping Anya membuatnya makin terbakar emosi karena hanya bagaikan kambing c*ngek.
***
Di kantin kampus, Oki, Mela dan Ika menikmati makan siang tanpa Anya. Oki sibuk menatap ponselnya, setelah kemarin berhasil mendapat maaf dari ceweknya, Oki merasa tenang. Sekarang Ia bisa berkomunikasi secara lancar dengan Lusi tanpa drama nomornya di blokir. Wajah Oki juga sudah tidak kusut seperti kemarin-kemarin.
"Hape muluuuu" Ika melihat Mela dan Oki yang sama-sama menunduk menatap ponsel. Namun tidak ada yang menjawab omongan Ika.
"Woooiiii, ini nih kalau generasi jaman sekarang yah. Generasi menunduk. Hape mulu yang dilihatin" Ika melambaikan tangan ke arah wajah Oki dan bergantian ke wajah Mela.
"Apaan sih Ka, gue lagi sibuk nanya-nanya soal magang nih"
"Iya nih tau sih Ika, gue lagi chat an sama cewek gue nih. Kayak gak pernah pacaran aja" Mela dan Oki kembali sibuk dengan handphone mereka masing-masing.
"Ya ampuuun yasudahlah" Ika melanjutkan makannya. Sesaat kemudian handphone Ika di dalam tasnya berdering.
"Haloo.."
"Haloo, lagi dimana Ka?"
"Lagi di kantin kampus. Kenapa emang?"
"Ada jadwal kuliah lagi gak nanti?"
"Ada, emang kenapa?"
"Sampe jam berapa selesainya?"
"Sore mungkin. Kenapa sih nanya-nanya mulu dari tadi"
"Gak papa, cuma pengen absen kamu aja. Ntar balik sama siapa?" Ika berpikir sejenak.
"Balik sendiri kayaknya, kenapa?"
"Ntar sore tungguin, gue jemput"
"Haaah ngapain, gak usah"
tuutt.. tutt.. panggilan terputus.
"Iiisssh kebiasaan gak sopan banget" Gumam Ika.
"Siapa Ka?" Mela melihat curiga.
"Bukan siapa-siapa , cuma orang gak jelas"
"Ooohhh" Mela kembali menatap layar handphone setelah mendapat balasan dari pamannya perihal magang di kantornya.
***
Di resto..
"Anya, aku boleh minta nomor kamu?" Eka memberanikan diri meminta nomor ponsel Anya.
"Boleh 086xxxxxxxx"
"Itu nomor aku" Eka memanggil nomor yang tadi Ia catat.
"Ntar malem aku chat boleh?"
"Boleh aja" Mereka berdua saling tersenyum semakin membuat Yoga mendidih.
"Aku ke kamar mandi dulu yah" Eka pamit kepada Anya.
"Gimana Nya? Cocok?" Boy dengan polosnya bertanya tanpa tau sahabat di depannya sudah mendidih karena melihat Eka dan Anya.
"Ya baik sih orangnya kak. Tapi kan butuh waktu lagi buat saling kenal" Anya mecoba bicara dengan pelan dan sungkan sesekali melirik Yoga. Yoga berusaha sok cool dengan mencoba melanjutkan makan dan mendengarkan obrolan Boy dan Anya. Boy menyadari Anya sedikit sungkan dengan Yoga.
"Lu gak usah sungkan Nya, Yoga tadi ngikut supaya gue gak jadi obat nyamuk. Ya kan Yog?"
"Hmmm" Yoga berdehem tanpa menoleh dan tetap melanjutkan makannya. "Gue mesti keliatan cool dan tenang, gak boleh terbawa emosi" batin Yoga.
"I iya kak gak papa" Anya memaksakan diri tersenyum.
Waktu makan siang pun berakhir. Anya berpamitan mau langsung menuju kampus karena ada jam kuliah. Sedangkan trio polisi juga akan kembali ke kantor. Tempat parkir mobil Anya cukup jauh dari tempat parkir mobil yang di tumpangi trio polisi, membuat mereka berpisah di depan pintu masuk resto.
"Balik dulu yah Nya"
"Iya Eka, hati-hati yah"
"Balik yah Nya byeee" Pamit Boy dan melambaikan tangan. Yoga tak berpamitan dan nyelonong pergi hendak ke mobil. Tapi disaat semua sudah berpisah, Yoga bukannya masuk mobil malah berjalan berlawanan arah dengan Boy dan Eka yang hendak menuju mobil.
"Woooiiii mau kemana Yog? Gak balik kantor?"
"Kalian balik duluan aja, gue ijin yah. Bilangin komandan ada urusan keluarga. Tar gue bisa balik naik taksi"
Boy dan Eka memasuki mobil dan kembali ke kantor.
Yoga melangkah dan berlari kecil menuju mobil putih yang pintu kemudinya terbuka dan hendak ditutup. Ia menahan pintu kemudi tertutup.
"Sini aku yang setirin"
"Gak usah kak, aku bisa sendiri"
"Udah nurut, pindah sana"
Anya terpaksa menuruti perintah Yoga karena wajah Yoga yang nampak emosi. Ia turun dan pindah ke kursi penumpang. Yoga mengemudikan mobil tanpa berkata-kata. Saat memasuki jalanan Anya tersadar kalau mobilnya bukan menuju ke kampus melainkan ke arah berlawanan. Anya hanya bisa meremas seatbelt tanpa berani bertanya maksud Yoga karena Ia tidak ingin beradu argumen dengannya.
***
Sore hari Ezza dan Sonya berjanji temu di cafetaria. Sonya sengaja mempercepat jadwal prakteknya lebih awal agar bisa datang lebih dahulu ke cafetaria. Sonya tidak sabar menunggu, Ia membenahi dandanannya terlebih dahulu di kamar mandi, Ia memoleskan lipstik dan memakai bedak diwajahnya, tak lupa Ia menyemprotkan setting spray agar make up di wajahnya tahan lama dan terakhir Ia memakai parfum. Setelah di rasa dandanannya sempurna Sonya melangkah menuju cafetaria.
Kemarin malam Ezza menghubunginya dan mengajaknya bertemu sore ini, Ia bilang ingin berbicara sesuatu serius dan jujur. Sonya senyum-senyum sendiri membayangkannya. Ia yakin kalau Ezza akan mengakui dirinya sudah jatuh cinta, dan berharap Sonya menerimanya. "Duuuhhh aku jawab gimana yah nanti enaknya" batin Sonya sambil tetap senyum-senyum sendiri membayangkan jawaban apa yang akan Ia berikan pada Ezza. "Kalau langsung mau, ntar dikiranya gue gampangan. Kalau dilama-lamain ntar keburu dianya yang kabur" Gumam Sonya. "Emmhhh, mending langsung gue iyain aja kali, daripada gue yang nyesel" Batin Sonya mantap.
Ezza masih di proyek pembangunan paviliun untuk mengecek proses apakah sudah sesuai dengan yang direncanakan. Ditengah-tengah pekerjaannya Ezza melihat ada pekerja yang tidak menggunakan pengaman proyek, Ezza menghampiri mandor untuk memberitau agar tidak terjadi hal seperti itu dan memperingatkan semua pekerja harus menggunakan alat pengaman dengan benar demi keselamatan kerja.
Bruuuaaakkkk...
Ezza dan mandor proyek menoleh ke arah suara keras tersebut. Betapa kagetnya mereka ada plat beton yang terjatuh dari lantai dua dan menimpa pekerja yang tidak menggunakan pengaman dengan benar. Kondisi proyek menjadi heboh, banyak yang kesakitan dan berdarah-darah. Petugas medis langsung datang membantu menangani pekerja yang terluka setelah Ezza memberitau pihak rumah sakit.
Saat sedang menunggu, Sonya melihat dari kejauhan Ezza berlari masuk ke pintu masuk rumah sakit. Namun, bukannya menuju ke cafetaria Ia malah berlari menuju UGD. Sonya berdiri dan menyusul Ezza.
"Za, kok disini?"
"Sonya.. Iya, ini sedang ada masalah di proyek"
"Masalah apa?"
"Ada kecelakaan kerja dan beberapa orang terluka. Aku harus ngecek kondisi pekerja terlebih dahulu"
"Ya ampun Ezza, kok bisa sampai begitu"
"Iya nih aku juga bingung. Aku minta maaf banget, sepertinya kita belum bisa ngobrol dulu saat ini. Gak papa kah?"
"Iya gak papa Ezza, kamu selesaiin masalah kamu dulu ya. Everything will be okay. Kita berdoa yang terbaik untuk para pekerja yah" Sonya menepuk lengan Ezza.
"Thankyou" Ezza memegang tangan Sonya lembut.
"Ezza"
"Haloo pak jadi begini pak tadi saat saya mengecek kondisi lapangan ....." Ezza berbicara panjang lebar menjelaskan kondisi yang terjadi tadi pada pria paruh baya yang nampaknya memiliki kuasa lebih tinggi daripada Ezza.
Setelah dirasa obrolan mereka terhenti, Sonya berbisik pamit pada Ezza.
"Aku balik ke ruangan dulu yah" bisik Sonya.
"Iya, so sorry yah soal hari ini"
"It's okay Ezza, bye"
"Bye"
***
Mela, Ika dan Oki dibuat kaget karena sepanjang perkuliahan Anya tidak menunjukkan batang hidungnya. Anya termasuk mahasiswa yang rajin, jarang sekali Ia bolos kuliah kalau bukan karena hal yang mendesak. Bolosnya pun bisa dihitung jari sejak Ia menjadi mahasiswa hingga sekarang semester 6 perkuliahan. Akhirnya terpaksa Oki melancarkan aksi memberikan absen palsu untuk Anya.
Mereka berempat memang memilih tanda tangan yang mudah untuk mengisi absensi, fungsinya untuk mempermudah teman yang mau mengabsenkan teman yang tidak masuk. Namun, sering kali Anya yang menjadi peniru tanda tangan teman-temannya.
"Gila, gak nyangka gue ngabsenin mahasiswa rajin satu ini" Bisik Oki pada kedua temannya.
"Mahasiswa rajin butuh healing mungkin"
"Daritadi chat gue sama telpon gue gak ada yang digubris" Mela terus menatap handphonenya menunggu balasan kabar dari Anya.
"Apa Anya nungguin mamanya yah? gue baru dapet kabar kalau mama meli abis opname loh"
"Haaah seriusan lu? Kok gue gak tau" Bisik Oki. Mereka bergosip tetap dengan mode berbisik.
"Gue juga tau karena kemarin Anya keceplosan kok"
"Yaudah besok kita jengukin dirumahnya aja gimana?" Usul Mela yang langsung mendapat anggukan setuju dari kedua temannya.
Saat pulang kuliah, Ika dikagetkan dengan Eric yang menunggunya di depan gedung teknik sipil. Ika pamit kepada Mela dan Oki akan ke kamar mandi. Ika sedikit tidak enak kalau teman-temannya tau dia dekat dengan Eric, terlebih Mela sudah memberi taunya kalau si playboy Eric pernah menanyakan tentanya. Mela dan Oki terpaksa pergi ke kantin dahulu dan meninggalkan Ika.
"Ngapain kesini?" Ika menghampiri Eric.
"Kan udah bilang mau jemput lu, aku udah nunggu 30 menit nih"
"Yee, siapa yang suruh nunggu"
"Yuk pulang, gue anterin"
"Lu tuh gak ada kerjaan apa gimana sih. kerjain dulu deh tuh skripsi. Pikiran lu main-main terus pasti"
Ika hendak meninggalkan Eric tapi terlebih dulu Eric menarik lengannya.
"Iya skripsinya udah dikit lagi selesai, sekarang gue anterin pulang dulu." Eric memperhalus ucapannya, membuat Ika menoleh menatapnya.
"Gue takutnya lu masih trauma sama kejadian tempo hari" Ika mengingat kejadian Ia dicopet di depan kosannya. Memang benar setelah kejadian itu Ia belum pernah pulang sendiri. Baru hari ini Ika berencana pulang sendiri mengingat teman-temannya tidak bisa memberinya tumpangan. Ika sedikit terharu Eric sampai mengingatnya seperti itu, tapi justru Ia bersikap kasar padanya tanpa tau maksud Eric terlebih dahulu.
"Nyokap gue kan psikolog. Makanya gue tau setiap kejadian seperti itu pasti bikin post traumatic stress disorder. Apalagi lu belum pernah ngalamin sebelumnya kan? Jadi mending selama gue bisa, gue temenin lu balik sampai lu merasa siap balik sendirian" Ika menunduk sejenak dan menatap Eric.
"Makasih ya kak, gue yang jadi salah paham tadi. Gue kirain lu cuma mau nyari temen buat main-main. Maaf banget" Ucap Ika tulus.
"Iya gak papa kok. Gue udah biasa dikirain orang cuma main-main doang" Eric nyengir dan mengacak-acak rambut Ika.
"Beneran kak, maaf banget" Ika memberikan tatapan bersalah dan menyatukan tangannya di depan dadanya.
Eric terbahak melihat Ika yang seperti anak kucing. "Iya iya, udah gue maafin. Gue gak sakit hati jadi lu gak usah minta maaf lagi dan pikirin lagi. Okay? Sekarang mendingan lu cepetan naik"
Eric menyodorkan helm. Tapi saat Ika akan mengambil helm tersebut Eric justru memakaikannya langsung di kepala Ika dan memasangkan kaitnya hingga berbunyi klik.
"Biar safety, yuukkk" Eric tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang bersih. Hati Ika berdegup dan pipinya bersemu merah.
"Sabar Ika sabar.. Pesona playboy emang kuat Ika" Batin Ika mencoba menenangkan hati. Ika naik sepeda motor Eric dan Eric menarik tangan Ika untuk memeluknya.
"Pegangan, biar safety juga" Eric mengulas senyum kembali. Jantung Ika sudah jedag jedug sedari tadi karena sikap Eric.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Bocah Gaming
👍👍👍
2022-10-23
0
keyla safira
Up lagi thor.klo bisa doubel up tiap hari
2022-08-21
1