Yoga tersenyum bahagia, strateginya berhasil. Ia membenarkan kata Anya, mungkin bisa jadi nanti Ia yang akan benar-benar jatuh cinta pada Anya.
Yoga pulang terlebih dahulu sebelum Boy melihat keberadaannya. Yoga berniat mengantarkan Anya pulang, tapi ternyata Ia akan menginap untuk menemani mama meli. Anya kembali ke kamar mamanya dan melihat mamanya masih dalam kondisi terlelap.
Pintu kamar terbuka, Sonya memanggil Anya dan Anya kembali keluar kamar. Sonya berpamitan pulang dan bersih-bersih serta istirahat. Hari ini giliran Anya yang menemani mamanya karena besok weekend dan libur.
***
"Dimana ini kak?" Eric dan Ika sampai di bukit dekat puncak dengan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Ika terpana melihat sekelilingnya.
"Ini tempat gue healiiing"
"Waaahhh, kalau healingnya kesini bisa langsung goodmood" Jawab Ika sambil tersenyum kegirangan. Ia berjalan menjauhi Eric dan duduk di kursi yang tersedia disana. Eric berjalan menyusulnya dan duduk di sampingnya.
"Kakak sering kesini?"
"Sering banget. Sejak SMA gue suka kesini kalau lagi lelah sama masalah hidup"
"Masalah hidup? Hhmmmm" Ika manggut-manggut.
"Bokap nyokap gue cerai waktu gue SMA dulu, dan gue tinggal sama bokap yang super otoriter gitu deh. Apalagi bokap selalu sibuk dengan bisnisnya, cuma bisanya ngasih aturan ke gue tanpa ngerti perasaan gue" Ika memandang Eric memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari bibirnya.
"Sewaktu masuk kuliah, gue beraniin diri nentang bokap buat milih jurusan mesin, padahal bokap pengen gue jurusan bisnis buat nerusin usahanya"
"Terus kok bisa dibolehin kak?"
"Gue ngancem bakal ikut nyokap sih waktu itu ya entah gimana bokap jadi ngebolehin aja gitu"
"Terus mamanya kak Eric kemana?"
"Mama waktu itu pindah ke luar kota setelah perceraian, bangun klinik disana. Dia psikolog. Aku jarang ketemu karena dia juga sibuk dengan kliniknya. Beberapa bulan yang lalu nyokap pindah ke Jakarta lagi gue udah seneng banget. Tapi gak lama ngasih kabar kalau mau married"
"Nyokap gue nikah lagi, hari ini hari pernikahannya dan gue mutusin buat gak dateng. Childish banget kan" Eric menunduk sambil tersenyum kecut.
"Gue tau kalau gue pengecut banget, tapi gue gak sanggup liat nyokap gue bahagia tanpa ngajak gue. Gue bingung mesti nyari kebahagiaan gue dimana" Eric menatap lurus dengan tatapan sayu dan senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Sabar yah kak, semua masalah pasti ada solusinya. Hadapi kak, jangan sembunyi"
Eric mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Ika.
"Lu bener, gue harus hadapin. Tapi seenggaknya gue butuh ngumpulin keberanian gue dulu ka"
"Sesiapnya kakak buat ngehadapinnya." Ika tersenyum.
"Thanks"
"Buat?"
"Buat nemenin gue disini"
"Iya dipaksa, mau gimana lagi" Ika memanyunkan bibir membuat Eric terbahak.
"Tapi suka kan tempatnya?"
"Sukaaa, bagus banget" Mereka bertatapan dan saling memberi senyum.
***
Yoga melangkah menuju rumah mewah sambil membawa ranselnya. Ia terpaksa pulang ke rumah utamanya karena adiknya, Gina pulang ke Jakarta. Biasanya Gina sibuk di Bali untuk mengurus bisnis ayahnya. Gina memang lebih suka menjalankan bisnis ayahnya setelah lulus dari kuliah. Dia lebih tertarik untuk membenahi masalah finansial di perusahaan karena Gina memang seorang akuntan.
Yoga masuk ke rumah yang terlihat sepi, karena memang kedua orang tuanya jarang pulang. Karena kesepian itulah Yoga lebih memilih tinggal sendiri di apartemen. Ia menuju kamar Gina dan tanpa mengetuk Ia langsung nyelonong masuk.
"Heeehhh, dari kapan pulang? Gak ngabar-ngabarin. Untung mama telpon kalau lu balik"
"Iiih ketok dulu napa. Nyelonong aja hobinya. Gue udah ngabarin kak Boy, suruh nyampein ke elu kok. Mungkin kak Boynya lupa kali"
"Yeee, modus amat tuh anak. Lu kok mau aja sama tuh cowok. Kayak gak ada stok yang lain"
"Iiih apaan sih kak, orang cuma temenan kok" Gina menimpuk kakaknya yang sekarang sudah duduk di tepi kasur.
"Temen tapi demen. Pokoknya awas aja kalian berdua, bakal kakak awasin terus" Yoga melangkah mundur sambil memicingkan matanya.
"Dasar gak jelaaasss." Gina menjulurkan lidahnya. Yoga berlalu menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran kingbed.
***
Tiga hari sudah mama meli keluar dari rumah sakit. Kondisi yang mulai segar dan sehat membuat Anya dan Sonya bahagia. Mereka bisa beraktivitas dengan tenang, setelah menikmati weekend kemarin dengan merawat mama meli di rumah. Anya berangkat kuliah pagi hari karena ada kelas. Sesampainya di kampus Ia melihat Oki dengan wajah kusutnya.
"Kenapa Ki? Kusut amat"
"Bingung gue, Nya. cewek gue bawaannya ngambek terus."
"Ngambek kan ada alasannya Ki, namanya juga cewek"
"Kapan hari dia ngirim foto kita duduk bareng, dia bilangnya jealous dan berakhir nomor gue di block. Sekarang udah gak di block tapi dia ngambek lagi karena gue gak ada duit buat beliin dia sepatu baru yang dia pengen. Lu tau sendiri gaji asisten belum turun, ya gue masih mode hemat sekarang"
"Ribet emang yah orang pacaran tuh. Lu yang sabar yah Ki."
"Iya Nya, lama-lama gak kuat gue sama sikapnya. pas awal jadian kayak manis dan pengertian banget padahal" Oki mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut.
"Ya terus lu pengennya gimana? selesaiin baik-baik Ki, jangan pake emosi. Pokoknya gue selalu dukung keputusan lu. Gue tau lu cowok baik, gak mungkin tega nyakitin cewek"
"Iya Nya, thanks yaaa"
"Sama-samaa, udah jangan galau-galau lagi"
"Iya iyaaa"
"Yuuuk masuk ke kelas. semangat kuliah fokus dulu kuliahnya"
"Siap bu dosen"
"Hahaha gue aminin aja deh"
Keduanya berlalu menuju ruang kuliah.
***
Sonya merapikan meja kerjanya dan hendak keluar ruangan prakteknya. Ia merasa butuh mengisi perutnya yang sedari tadi sudah meronta-ronta. Jam makan siang memang sudah lewat, Sonya melewatkan makan siang karena banyaknya pasien yang kontrol hari ini. Hari senin memang biasanya sangat ramai pasien karena banyak pasien dengan jaminan kesehatan dari pemerintah. Sonya melepas jas dokternya dan menggantungnya lalu membuka pintu. Ia terkaget ada Ezza yang menunggu di depan ruangan.
"Pasti laper yah" Ezza mengangkat bungkusan makanan di tangan kanannya sambil tersenyum.
"Iya" Sonya membalas tersenyum.
"Udah lama nunggu disini?"
"Hmmmm, benernya tadi pengen ngajak kamu makan siang. Pas liat pasien kamu banyak banget, aku ikutan antri jadi pasien terakhir"
"Moduuus nih. Yaudah yuk makan diruangan kerja aku aja"
Mereka berjalan menuju ruang kerja Sonya dan makan siang yang terlambat bersama.
"makasih buat makanannya"
"Sama-sama"
"Kamu mau langsung ke kampus?" Ezza melihat jam tangannya.
"Sepertinya iya. Aku ada kelas nanti sore. Aku hubungi nanti yaa. Byeee" Ezza mengelus rambut Sonya dan melambaikan tangan. Hati Sonya berbunga-bunga. Hari ini dia melanjutkan pekerjaan dengan sumringah. Sampai-sampai perawat yang biasa bekerja dengannya kaget dengan tingkahnya. Tidak biasanya dokter Sonya sebahagia ini.
***
Malam ini Anya sibuk mengerjakan tugasnya di kamar yang tertunda karena jadwal asistensi, tapi pikirannya melayang kemana-mana. Pikirannya terngiang pada percakapannya dengan Yoga di rumah sakit minggu lalu. Ia ingat bagaimana Yoga akan membantunya untuk terbebas dari perjodohan mama meli. Sudah hampir seminggu tidak ada kelanjutan dari obrolan tersebut. Beberapa hari yang lalu Anya sempat mengabarkan tentang email draft desainnya, tapi hanya jawaban singkat yang Anya dapatkan. "Huuffftt dasar lelaki emang" Batin Anya. Anya semakin tidak konsen mengerjakan tugas di kamarnya, Ia memutuskan mengambil air minum di dapur dan mencari udara di taman rumahnya. Ia melihat Sonya sedang asik menelpon, Anya mendekatinya.
"Iyaaa, sampai ketemu besok. Byeee" Sonya memutus sambungan telponnya.
"Lu telponan sama siapa Kak? Sampe ketemu besok segala" Anya menirukan ucapan Sonya sambil memonyongkan bibirnya.
"Sama gebetan guee laaahhh. gue mau nonton besok"
"Gebetan gebetan. Palingan juga nonton sama Kak Iqbal"
"Yeeeeyyy, enak aja. Kakak beneran udah punya gebetan tauuuu. Jadi kakak sudah pasti bebas dari perjodohan mama.. weeekkk"
"Iiih lu halu kaliii. Emang siapa gebetan lu? Anak mana? jangan-jangan cowok bayaran yaaa"
"Eeehhh enak aja lu. Okeee besok gue kenalin kalau lu gak percaya"
"Okeee boleh. Gue mau liat beneran gebetan lu, paling Iqbal lagi Iqbal lagi"
"Iiih rese banget yaaah. dibilang beneran kok. Oke besok gue mau nonton sama dia. Lu gue kenalin doang, abis itu lu jauh-jauh. Gak usah ikutan nonton. Kalau emang mau nonton cari kursi ujuuunggg, jangan deket orang lagi kencaaan"
"Noraaakkk luuu, ngehalu bangeeet deh"
"Yeee biariiinnnn, byeee" Sonya meninggalkan Anya dengan mengibaskan rambut panjangnya dan kembali ke kamarnya.
Anya kembali dengan kegalauannya dan kekesalannya pada Yoga. Ia duduk di kursi taman dengan piyama dan cardigan tipis. Ia melihat rembulan yang berbentuk setengah lingkaran, sedikit menenangkan kegalauannya malam ini. Anya tidak menyadari handphonenya berdering, Ia meninggalkannya di kamar. Panggilan seseorang itu terputus.. "Kak Yoga".
***
Pagi hari..
"Mau kemana nih anak mama kok pada cantik-cantik?"
"Mau ke mall dulu ma. Kak Sonya mau ken........" Dengan sigap Sonya membekap mulut Anya dengan tangannya.
"Mau nonton maaa, Pamit maaahh, love youuu.. byeee"
"Hati-hati yaaa"
Anya meronta agar bekapan tangan Sonya dilepaskan.
"Iissshhhh, apaan sih lu kaaak"
"Lu sih ember banget. Gue tuh masih pdkt. Jadi gak usah cerita dulu ke mama. ngerti?"
"Hahahaha lu takut ketauan halunya yah? pasti kan kalau mama tau, tuh cowok bakal disuruh langsung ke rumah. Tapi karena situ halu jadi deh gak berani cerita"
"Iiih awas lu ya"
Sonya dan Anya berkendara menuju Mall. Anya masih tidak percaya dengan gebetan kakaknya.
"Kakak mah juaranya kalau soal halu menghalu"
"Liat aja ntar. Melongo lu kalau udah gue kenalin"
"Iyaaaa iyaaa" Anya terkekeh.
Di Mall..
"Mana dia kak?"
"Sabar dong, tungguin aja masih kena macet mungkin" kedua kakak beradik ini duduk di foodcourt sembari menunggu kedatangan Ezza.
"Okeee, gue mau liat seberapa tinggi selera kakak gue tersayaaang ini" Anya mencolek dagu Sonya.
"Iiissshhh paan lu. Liat aja ntar"
15 menit berselang mereka menunggu.. Ezza datang dan menuju ketempat Sonya dan Anya menunggu.
"Haloo, maaf ya saya terlambat" Ezza mendatangi meja Sonya dan Anya tepat dibelakang Anya.
"Haaai. Iya gak papa kok. Filmnya 10 menit lagi main."
Anya menoleh ke arah suara lelaki itu dan tercengang.
"Pak Ezza?"
"Eehhh, Anya.."
"Ha halooo Pak.." Anya memberi salam kikuk.
"Loh udah pada kenal?"
"I-iya Anya ini mahasiswa di kampusku"
"Oooh gitu. Ini Anya adikku. Tadi dia ikut kesini soalnya bosen dirumah. Tapi gak mau ikutan nonton. Ya kan , Nya?" Sonya memberi isyarat ke Anya dengan menaikturunkan alisnya.
"Eehhh iyaaa, aku cuma mau ke eehmmm.. toko bukuu.. iya ke toko buku"
"Yaudah mau langsung? Apa mau beli popcorn dulu?"
"Emmhhh boleh beli popcorn dulu yuuukkk."
"Duluan yah Anyaaa." Ezza berpamitan pada Anya dan tersenyum.
"Dek, ini kontak mobil kakak. Ntar lu balik pake mobil kakak biar kakak dianter Ezza." Sonya tersenyum usil dan berbisik pada Anya.
"Kak, lu yakin sama pak Ezza?" Anya bertanya pada Sonya sambil memegang lengannya yang hendak melangkah tetap sambil berbisik.
"Emang kenapa? karena dia dosen lu? udah aahhh gue duluan byeee" Sonya melepas tangan Anya dan berlari kecil menyusul Ezza yang membeli minuman dan popcorn.
"Tapi Pak Ezza itu kak....." Anya hanya bisa memandang kakaknya yang berlalu pergi.
Anya duduk kembali sambil menghabiskan boba miliknya sambil melihat sekelilingnya. Pikirannya masih tak lepas dari gebetan kakaknya. Ia tak habis pikir apa yang terjadi sampai dosennya itu mendekati sang kakak.
Setelah menyeruput bobanya hingga habis Anya memutuskan untuk bergegas ke toko buku di lantai bawahnya. Ia menuruni eskalator. Saat menuruni eskalator, Ia melihat sosok yang dikenalnya di seberang eskalator. Ia mengenal sosok bertopi hitam itu. Seseorang disebelahnya bergelayut manja di lengannya. Dada Anya terasa sesak, emang laki-laki. "Harusnya dari awal gue gak perlu percaya omongan laki-laki. Bego banget gue" Batin Anya.
***
Hari ini Mela dan Vico berkencan setelah hampir seminggu absen bertemu karena kesibukan Vico mengurus tugas akhirnya. Sampailah mereka disebuah cafe dengan nuansa putih dan kursi kayu kekinian.
"Yang, aku mau kasih kamu kabar baik"
"Apaan sayang?" Mela antusias.
"Hari rabu depan, aku sidang"
"Haaaahhhh?beneran beeebb. Aahhh selamat yaaah. abis ini ada yang lulus dan resmi jadi sarjana. i'm really happy to hear that, beb" Mela tersenyum dan memegang tangan Vico.
"Aku ada kabar lain lagi yang" Vico mencoba berfikir untuk mengatakannya.
"Apaan lagi sayang? Kok aku jadi deg-degan" Mela mengernyitkan dahi.
"Emmhhhh, aku lolos untuk kerja di perusahaan swasta yang."
"Waaahhh, bagus dong sayaaanggg. sekali lagi selamaaat sayangkuuu"
"Tapiii, yang.."
"Tapi apa?"
"Kemarin diinfokan kalau penempatannya di kalimantan sayang" Vico tertunduk lesu.
"Gak papa sayaaang. It's Okay" Mela mencoba memberi senyuman. "Kamu mesti semangat dong, ini kan pengalaman buat kamu, udah jangan sedih-sedih gitu dong wajahnya"
"Makasiiih yah sayang"
"Iya sama-sama sayangku" Mela mencoba tersenyum walaupun dihatinya tersirat sedikit perasaan sedih. Mela yang terkenal gonta-ganti pacar tidak pernah membayangkan hubungan LDR sebelumnya. Dulunya Ia berpikir lebih baik putus dan mencari pacar baru daripada harus LDR. Namun, perlahan karena kesabaran Vico membuat Mela tidak rela bila harus putus dan kehilangan Vico hanya karena hubungan LDR.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Bocah Gaming
keren ku suka
2022-10-23
0
keyla safira
up lagi jgn lama2
2022-08-18
1