“Jangan asal menuduh seseorang begitu saja tanpa bukti kuat. Saya tidak memberikan kalian berupa minuman, lalu tiba-tiba ada yang mengatakan bahwa kalian menerima minuman pemberian saya. Dan apalagi minuman itu mahal, apakah kalian pikir saya memiliki begitu banyak uang untuk membeli minuman tersebut untuk kalian semua?“ kata mahasiswa itu hingga membuat para mahasiswa terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan mahasiswa tersebut.
Mahasiswa tersebut ialah Zilya. Iya, dia adalah Zilya.
Bu Riska merasa malu, karena rencananya membuat nama baik Zilya tercoreng tidak berhasil. Dosen wanita itu pun langsung berlari keluar meninggalkan kelas Zilya tanpa berpikir panjang.
Semua mahasiswa di kelas Zilya terkecuali Zilya, sontak tertawa mengingat betapa konyolnya tingkah Bu Riska tadi. Ingin mencoreng nama baik mahasiswanya, justru malah nama baik dosen tersebut yang tercoreng. Inilah yang dinamakan pepatah “Senjata makan Tuan“.
Selain mengingat betapa konyolnya tingkah Bu Riska, mereka menertawakan seorang dosen wanita itu karena mereka baru pertama kalinya melihat Bu Riska merasa malu karena rencananya gagal. Perlu diketahui, apabila sebelum-sebelumnya, Bu Riska memang sering melakukan hal seperti tadi, namun hasilnya selalu berhasil. Akan tetapi kini, rencananya gagal.
“Ha … Ha … Ha …“ tawa seluruh mahasiswa kecuali Zilya di kelas tersebut.
***
Waktu pun berlalu.
“TOK! TOK! TOK!“ suara ketukan pintu terdengar. Suasana kelas yang awalnya dipenuhi dengan tawa canda mereka, tiba-tiba menjadi hening.
“Selamat siang semuanya,“ sapa seorang dosen yang masuk ke kelas Zilya.
“Selamat siang, Pak!“ jawab seluruh mahasiswa yang ada di kelas Zilya dengan kompak.
“Pelajaran Bu Riska akan digantikan oleh saya. Silakan dikeluarkan buku kalian. Waktu pelajaran akan selesai dalam waktu … ya setengah jam,“ ucap dosen tersebut sembari melihat layar ponselnya.
“Waktu kita tidak banyak. Ayo segera keluarkan buku kalian,“ perintah dosen itu. Dosen itu melihat di meja para mahasiswa, hanya beberapa yang sudah meletakkan buku pelajaran Bu Riska diatas meja, sedangkan sebagian besar lainnya, hanya buku lain yang terdapat diatas meja.
Para mahasiswa pun segera mengeluarkan buku mereka masing-masing.
“Sebelumnya, pelajaran kalian sudah sampai mana?“ tanya dosen itu.
“Sampai halaman … em, 84 Pak!“ jawab salah satu mahasiswa sembari membuka bukunya dan mengingat sampai mana pelajaran mereka.
“Baiklah. Bu Riska mengirimkan kalian berupa tugas. Kerjakan latihan yang terdapat di halaman 85 hingga 87,“ perintah dosen itu.
“Baik, Pak,” jawab seluruh mahasiswa yang ada di kelas Zilya.
Waktu pelajaran Bu Riska akhirnya digantikan oleh dosen lainnya.
Meskipun mahasiswa menginginkan jam kosong untuk pelajaran Bu Riska pada hari ini, mau tidak mau mereka harus tetap mengikuti pelajaran Bu Riska meskipun dari dosen lain. Sebab, tugas yang mereka dapatkan hari ini, belum ada satupun yang sudah diselesaikan.
***
Di sisi lain, terlihat seorang dosen wanita yang sedang membereskan barang-barangnya untuk dibawa pulang.
Setelah selesai dan memastikan tidak ada satupun barang miliknya tertinggal, dosen wanita itu pun bergegas pulang dengan menggunakan kendaraan beroda empat.
Dosen wanita itu bergegas pulang setelah meminta izin kepada atasannya bahwa dirinya sedang sakit. Atasannya pun mengizinkan dosen wanita itu pulang, padahal dosen wanita itu sama sekali tidak sakit, jangankan sakit, enak badan saja tidak dirasakan oleh dosen wanita itu.
Sesampainya di tempat tinggalnya selama ini yaitu rumah miliknya, dosen wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya.
Dosen wanita itu meletakkan tas miliknya dengan asal, lalu berjalan menuju meja yang selama ini ia gunakan untuk pekerjaan.
Bukannya seharusnya dosen wanita itu beristirahat setelah bekerja ataupun membersihkan badannya terlebih dahulu, dosen wanita itu justru duduk di kursi lalu membuat suatu rencana selanjutnya.
“Aku tidak mau tahu! Rencana ini harus berhasil bagaimanapun caranya! Aku ingin melihat Zilya yang menderita, bukan diriku yang menderita!“ geram dosen wanita itu mengingat kejadian tadi di Kampus.
Iya, dosen wanita itu ialah Bu Riska. Mengingat kejadian tadi saat ia berada di Kampus, benar-benar memalukan, dan membuat nama baiknya tercoreng. Sungguh hal yang tidak pernah disangka akan terjadi. Dimana biasanya jika nama baik orang lain yang akan tercoreng, justru kali ini yang terjadi ialah nama baiknya.
“Aku harus mengatasi hal ini! Nama baik-ku harus bersih!“ kata dosen wanita tersebut yang kerap di panggil Bu Riska, lalu mengambil ponsel miliknya dan mulai menghubungi seseorang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
Riska si ini
2022-11-05
1
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
hahhah kasian dh karma ny lngsng instan 🤣
2022-11-05
1
❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸
wah bu Riska mau bikin rencana lagi, masih belum kapok ya ternyata
2022-10-28
1