Namun, Zilya malah ketiduran karena berpikir terlalu keras. Ditambah dengan Zilya yang sebelumnya di dunia lain begadang di malam hari karena membaca novel hingga selesai.
Setelah Zilya tidur selama kurang lebih dua jam, terdengar suara ketukan pintu yang keras, seolah disengajai membuat tidur Zilya terusik.
“TOK! TOK! TOK!“
Semakin lama, suara ketukan pintu itu semakin membesar membuat Zilya terpaksa membuka matanya.
“Haduh! Siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi buta seperti ini? Menganggu tidur orang saja!“ Zilya terlihat begitu kesal. Pasalnya, Zilya baru tidur beberapa jam saja, membuat Zilya masih saja mengantuk dan ingin tidur kembali.
Zilya lalu beranjak dari ranjang tidurnya dan membukakan pintu dengan perasaan kesal.
“CEKLEK!“ Zilya membuka pintu dengan kasar.
“Siapa!?“ Zilya seolah lupa apabila dirinya saat ini sudah berada di dunia lain.
“Zilya! Apa sepertinya kau sudah melupakan tugasmu di pagi hari yang cerah ini?“ Ternyata yang mengetuk pintu dengan suara keras ialah sang ibu, Veni.
“Hah!?“ Zilya tiba-tiba teringat jika dirinya memikirkan sesuatu hingga tertidur pulas.
“Sepertinya kau sudah ingin mendapatkan hukuman-mu, hem?“ Veni melemparkan senyum mengejek kepada Zilya.
Naomi, sang adik yang tidak ingin ketinggalan pun langsung menghampiri sang ibu dan mulai memanaskan suasana.
“Bu! Sepertinya Zilya sengaja! Bukankah biasanya Zilya memasang alarm setiap hari?“ Naomi melemparkan senyuman sinis kepada Zilya. Hilang sudah rasa hormat kepada sang kakak.
“Panggil aku ‘Kakak’, Naomi!“ tegas Zilya. Zilya akhirnya baru mengingat apabila dirinya sudah berada di dunia lain, bukan di dunia sebelumnya.
“Untuk apa!? Tiada gunanya juga, bukan? Lagipula, usia kita hanya berbeda beberapa bulan saja! Tidak usah kamu pura-pura menjadi seorang kakak yang baik!“ Naomi seolah menasehati kakaknya.
Zilya hanya diam sembari mengepalkan tangannya.
“Bu! Sebaiknya, kita periksa ruangan Zilya!“ ucap Naomi.
“Ya, kau benar!“ jawab sang ibu lalu langsung menerobos ruangan tidur Zilya begitu saja. Membuat Zilya murka, bagaimana bisa dirinya seolah tidak dihargai oleh keluarganya sendiri?
Zilya menghentikan sang ibu dan sang adik yang berniat menerobos ruangan tidurnya.
“Hei! Mengapa kau menghentikan kami? Tidak usah berpura-pura lagi! Apa jangan-jangan, kau yang mencuri uang milik Ibu!“ tuduh Naomi sembari tersenyum mengejek. Sepertinya Naomi sudah membuat sebuah rencana sebelumnya.
Zilya lalu tiba-tiba teringat dengan jalan cerita novel ini. Naomi dan Veni sudah merencanakan sebuah rencana sebelumnya. Sebenarnya, tidak ada yang mencuri uang milik Veni, hanya saja Veni dan Naomi yang membuat suasana seperti demikian.
“Oh ya?“ Zilya memasang wajah datar, seolah tidak terpengaruh dengan ucapan Naomi barusan.
“Ya, Naomi, sepertinya yang tadi kau katakan adalah benar! Lihat, Zilya saja tidak mengizinkan kita untuk masuk ke dalam ruangan tidurnya!“ Veni membuat seolah dirinya murka dengan Zilya.
“Apa menuduh seseorang tanpa bukti sama sekali sudah menjadi kebiasaan kalian?“ Zilya tetap memasang wajah datarnya.
Veni, sang ibu, merasa dirinya ditantang pun tanpa aba-aba berniat mencekik leher sang putri. Naomi yang melihat aksi sang ibu yang berniat mencekik leher Zilya hanya tersenyum sinis.
Zilya yang sudah hafal dengan strategi sang ibu langsung menepis tangan Veni dengan lembut.
Tiba-tiba saja di saat kejadian Zilya menepis tangan Veni dengan lembut, sang ayah, Gavin dari kejauhan langsung menghampiri mereka.
“Apa yang kau lakukan, Zilya!?“ Gavin murka, terlebih lagi melihat dari kejauhan apabila Zilya putrinya memukul tangan sang ibu, padahal jika Zilya tidak menepisnya, maka nyawa Zilya bisa saja terancam saat itu juga.
Zilya hanya tetap memasang wajah datarnya. Dirinya sudah memperkirakan bahwa dengan membela jika dirinya sama sekali tidak bersalah akan sangat percuma.
“Oh ya?“ Zilya tetap dengan wajah datarnya.
Tiba-tiba saja, Veni terisak.
“Suamiku, apa kau tahu? Aku hanya ingin memeluk Zilya, namun Zilya malah menepis tangan ku! Aku sedih sekali!“ Veni begitu lihai dalam mempermainkan drama.
Gavin yang melihat sang istri menangis menjadi iba, lalu memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang, sepertinya Gavin tidak tahu rencana sebenarnya yang dibuat sang istri.
“Baiklah, karena Zilya membuatmu menangis, maka kamu boleh menghukum Zilya sepuasmu!“ Gavin melerai pelukannya lalu berniat menampar Zilya karena sudah berani membuat istrinya menangis.
“Zilya! Karena kau sudah berani membuat Ibu kamu sendiri menangis, maka aku akan menghukum mu terlebih dahulu!“ Gavin langsung mengangkat tangannya.
“PLAK!“
Zilya sudah lebih dulu menepis tangan sang ayah ketika tangan Gavin sudah berjarak dengan pipinya sekitar 5 centimeter. Sehingga tamparan yang ingin diberikan Gavin kepada Zilya justru terkena kepada Veni yang kebetulan saat itu berada di sebelah Gavin.
Gavin tercengang. Tidak menyangka aksi putrinya yang satu ini tiba-tiba menjadi begitu hebat. Bahkan dirinya yang biasanya leluasa menampar Zilya berulang kali, kini Zilya sudah lihai menepis tangannya.
Gavin langsung menoleh ke arah sang istri. Tangannya yang menampar sang istri tadi, sekarang mengelus pipi sang istri yang tertampar karena dirinya.
“Maafkan aku, Sayang.“ Gavin mengelus pipi istrinya dengan lembut.
“Zilya! Aku awalnya tidak percaya, kamu yang seorang wanita tega membuatku terluka, aku ini Ibumu, Zil!“ Veni membuat seolah dirinya adalah ibu yang tersakiti. Benar-benar seorang ratu drama.
“Tapi karena tindakan kamu hingga saat ini sangatlah keterlaluan, maka aku akan mengusirmu dari sini tanpa membawa barang apapun kecuali pakaian yang kau kenakan saat ini!“ Veni langsung mengusir Zilya dari rumah. Berharap Zilya akan bersujud di kakinya sembari memohon ampun dengannya.
“Aku diusir? Baiklah! Karena aku juga tidak nyaman dengan kalian!“ ucap Zilya lalu pergi dari rumah itu tanpa membawa barang satupun termasuk uang yang membuat keluarganya langsung tercengang dengan aksi Zilya.
“Hah! Kita lihat saja, bagaimana caramu bertahan di luar sana!“ batin Veni tertawa.
“Haha! Aku tidak menyangka, apabila dia akan memilih keluar tanpa memohon kepada Ibu dan Ayah!“ batin Naomi juga ikut turut tertawa.
“Semoga kehidupanmu di sana bahagia, Zil! Haha! Walaupun aku tidak tahu apakah dirimu bisa bertahan!“ Naomi lagi-lagi menertawakan penderitaan Zilya dalam hati.
“Zilya! Aku harap, keputusanmu kali ini adalah tepat! Pergi dari rumah dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!“ teriak Gavin hingga terdengar luar rumah, bahkan hingga terdengar tetangga yang tinggal disebelah.
“Sayang! Ayo masuk! Biarkan saja dia pergi!“ ajak Gavin.
“Tapi ...?“ Veni berusaha membuat dirinya seolah sudah menjadi seorang ibu yang baik.
“Sayang! Ayo! Naomi, ayo masuk!“ ucap Gavin yang tak terbantahkan.
“Baik, Ayah.“ jawab Naomi. “Baik, Sayang.“ jawab Veni.
Mereka bertiga akhirnya masuk kembali ke dalam rumah.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ara Julyana
ohhh hanya ngarang aja,tdk ada yg mencuri uangnya
2023-07-24
1
.
iya penasaran si veni ini ibu tiri kah
2022-10-28
1
.
aamiin,, semoga doanya terjadi
2022-10-23
1