***
Zilya pun menyadari apabila seluruh mahasiswa yang berada di kelasnya saat ini mulai melemparkan tatapan sinis kearah dirinya. Mahasiswa itu pun mulai membuka suaranya. “Oh ya? Bukankah Bu Riska mengatakannya sendiri bahwa Bu Riska masuk keluar toilet akibat minuman pemberian saya. Apa kalian semua tidak menyadari apabila ada sesuatu yang terlewat?”
Seluruh mahasiswa di kelas Zilya itu mulai memikirkan apa yang dikatakan Zilya. Mereka merasa ada yang tertinggal, namun tidak tahu apa yang tertinggal itu.
“Huft. Sejak Bu Riska masuk ke kelas kita, apa kalian melihat beliau keluar masuk ruangan karena perutnya?“ Semua mahasiswa sontak menjawab “Tidak” dan beberapa menjawab dengan dengan gelengan kepala.
“Lalu, apa kalian tidak merasa heran? Bukankah Bu Riska tadi mengatakan karena minuman pemberian saya, beliau harus masuk keluar ruangan karena perutnya? Namun, sejak beliau masuk, apa beliau ada masuk keluar ruangan?” tanya Zilya sekali lagi. Jawaban yang diberikan oleh mahasiswa juga sama seperti tadi, ada yang menjawab “Tidak“, ada yang hanya memberikan tanggapan berupa gelengan kepala.
Sedangkan Bu Riska sudah berkeringat dingin. Dugaannya mengenai rencana yang didiskusikan ini bersama dua mahasiswa di Kampus ini akan gagal semakin menjadi-jadi, bahkan dengan mudahnya Zilya membalikkan rencananya. Dan Bu Riska justru malah membuat celah kecil untuk Zilya seolah membantu Zilya.
“Sial!” decak Bu Riska dalam hati.
Rasa gelisah mulai menyelimuti hati dosen itu. Namun, Bu Riska berusaha menyembunyikannya agar rencananya yang hampir terbongkar seluruhnya, tidak jadi, selain itu, ia ingin rencananya berhasil kali ini. Jika rencananya gagal untuk kali ini, maka tenaga dan waktu yang ia gunakan untuk rencana ini akan terbuang sia-sia.
Tiba-tiba saja, Bu Riska teringat ucapan salah satu mahasiswa yang membantu dirinya untuk rencana ini, “Tidak! Rencana ini harus berhasil! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, rencana ini harus berhasil!“
Rasa gelisah yang dirasakan oleh Bu Riska semakin terlihat. Meskipun telah disembunyikan dengan baik oleh Bu Riska, namun rasa gelisah itu terlihat dengan jelas oleh para mahasiswa.
“Eh, kamu lihat nggak, Bu Riska lagi gelisah,“ ujar salah satu mahasiswa yang sejak tadi memperhatikan apa yang dilakukan oleh Bu Riska, sembari berbisik kepada mahasiswa yang duduk disebelahnya.
“Iya, jangan-jangan Bu Riska yang mengatur seluruhnya dan menjadikan Zilya di posisi tersangka?“ balas mahasiswa itu.
“Wah, bisa jadi tuh,“ jawab mahasiswa tersebut lalu kembali memperhatikan apa yang dilakukan Bu Riska. Tampaknya dosen tersebut sedang ingin membuka suara.
“Sebaiknya kita diam saja dulu, apa kalian lihat? Bu Riska sepertinya sedang ingin membuka suara. Agar suaranya terdengar jelas, lebih baik kita diam sejenak,“ ucap mahasiswa tersebut kepada mahasiswa lainnya.
Seketika suasana kelas sepi. Padahal sebelumnya, suasana kelasnya terasa panas.
Bu Riska yang menyadari bahwa suasana kelas saat ini sepi, langsung membuka suara. Namun belum lagi dosen itu membuka suara, terdengar suara seorang mahasiswa yang berbicara.
“Jangan asal menuduh seseorang begitu saja tanpa bukti kuat. Saya tidak memberikan kalian berupa minuman, lalu tiba-tiba ada yang mengatakan bahwa kalian menerima minuman pemberian saya. Dan apalagi minuman itu mahal, apakah kalian pikir saya memiliki begitu banyak uang untuk membeli minuman tersebut untuk kalian semua?“ kata mahasiswa itu hingga membuat para mahasiswa terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan mahasiswa tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
nh Lo kepojok kn lu
2022-11-05
1
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
ckckck kasian ya 😏
2022-11-05
1
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
yahahaha karma lu
2022-11-05
1