Dua gadis yang sama-sama berinisial N itu pun pulang dengan menggunakan mobil yang disetir oleh sopir Nancy. Mereka memutuskan untuk singgah di sebuah Restoran.
Sungguh lelah hari ini bagi dua gadis itu. Setelah berperang dengan pelajaran yang cukup sulit di Kampus, lalu saat jam pulang, justru keduanya malah harus kejar-kejaran.
Namun, tampaknya dua gadis itu tidak menyerah setelah apa yang terjadi pada hari ini. Apa kedua gadis itu akan membuat rencana ketiga? Mungkin saja. Kita tunggu lanjutannya di esok hari.
Mereka singgah di Restoran untuk makan dan minum. Sebab mereka sangat merasa lelah setelah kejar-kejaran. Selain merasa kehausan, mereka juga merasa kelaparan.
“Cy, Cy.“ panggil Naomi saat keduanya telah duduk ditempat duduk yang sudah disediakan oleh Pihak Restoran ini.
Nancy menoleh wajahnya kearah Naomi. “Iya?“
“Kamu sudah pesan belum, Cy?“ tanya Naomi. Ternyata hal tersebutlah yang membuat Naomi membuka suaranya.
“Pesan makanan? Belum kalau itu, biasanya ya pelayan datang ke meja kita terus baru tanya apa yang ingin kita pesan sambil ngasih buku menunya di Restoran ini.“ jelas Nancy.
“Ohh begitu ya …“ Naomi mengangguk kecil pertanda dirinya sudah mengerti akan penjelasan Nancy.
Naomi pun menelusuri beberapa ruangan yang terlihat tertutup di Restoran ini. Tidak sengaja, pandangannya mengarah ke arah tulisan ruangan tersebut. Iya, kertas tersebut bertuliskan “Ruangan VVIP. Dilarang masuk apabila tidak menyewa ruangan VVIP. Terimakasih atas perhatiannya.“
“Cy! Kita sewa ruangan VVIP aja, yuk!“ ajak Naomi tiba-tiba.
“Hah? Ruangan VVIP? Ada ya, Naomi? Perasaan tidak ada deh. Selama ini, aku tidak pernah melihat orang-orang menyewa ruangan VVIP.“ jawab Nancy sembari menelusuri Restoran ini. Iya, Restoran ini sudah menjadi tempat langganannya. Namun tidak dengan Naomi, Naomi lebih sering ke Restoran yang lebih mewah dibandingkan ini. Hanya saja, mereka yang sudah merasa sangat lapar, memilih untuk singgah ke Restoran ini saja.
“Ada lho, Cy. Yuk, aku bantu cariin!“ ajak Naomi yang secara tiba-tiba langsung menarik tangan Nancy. Keduanya melangkah hingga sampai di ruangan yang menjadi tujuan Naomi pada awalnya.
“Ini, Naomi? Serius? Bukannya ini tempat …“ Ucapan Nancy dipotong begitu saja.
“Permisi, Nona-Nona. Apa Nona-Nona ingin masuk ke dalam ruangan VVIP? Boleh tunjukkan bukti pembayarannya?“ potong salah satu pelayan yang bertugas memeriksa orang-orang yang ingin masuk ke ruangan VVIP, memastikan tidak ada satupun orang yang mencurigakan masuk kedalam.
“Heh, Mbak! Tolong nih ya, saya lagi bicara, jangan dipotong dulu dong! Lagian jadi pelayan, kayak nggak punya etika banget! Memangnya kamu siapa disini? Hanya pelayan saja bukan? Pelayan jangan sok belagu dong!“ protes Nancy dengan panjang lebar.
“Maaf, Nona-Nona. Saya minta maaf karena sudah memotong pembicaraan kalian. Namun, ini sebagai tugas saya sebagai seorang pelayan yang mengecek satu persatu orang-orang yang ingin masuk ke ruangan VVIP. Tidak bisa kami biarkan masuk begitu saja.“ jelas pelayan tersebut sembari memohon maaf kepada Naomi dan Nancy.
“Minta maaf? Minta maaf emang cukup, hah?“ Nancy begitu kesal.
“Maaf, Nona. Saya kan tidak sengaja. Ini juga demi keamanan bersama, Nona. “ jawab pelayan tersebut yang masih sabar atas tingkah Nancy.
“Sudahlah, Cy. Tidak ada gunanya berdebat dengannya. Lebih baik, kita segera bayar dan membuat rencana ketiga! Aku tidak ingin Zilya lolos untuk ke-dua kalinya dari rencana yang kita buat!“ Naomi tampaknya sudah mulai memikirkan untuk membuat rencana ke-tiga.
“Iya deh. Kamu ya, Mbak.“ Nancy menatap tajam kearah pelayan tersebut lalu berjalan bersama Naomi meninggalkan pelayan tersebut.
“Mentang-mentang jadi keluarga kalangan atas, malah sombong banget.“ gerutu pelayan tersebut dalam hati.
Setelah Naomi dan Nancy pergi membayar sewaan ruangan VVIP khusus dua orang, keduanya mulai membahas mengenai rencana selanjutnya.
Ternyata kejadian yang membuat keduanya harus kejar-kejaran seperti orang yang memiliki penyakit gangguan jiwa dan bahkan seolah dipermalukan, tidak membuat dua gadis yang sama-sama berinisiak N itu menyerah begitu saja.
Entah apa yang kali ini, yang mereka buat untuk rencana ke-tiga.
***
Zilya kembali membuat berbagai jenis genre buku-buku novel. Sesudah mengetiknya dan bahkan sudah mencetak buku-buku tersebut, Zilya pun menjual ke toko-toko buku.
Ada sekitar ratusan buku yang sudah dicetak oleh Zilya. Tentu menguras begitu banyak tenaga, terlebih lagi Zilya melakukannya setelah pulang kuliah.
Setelah selesai mengerjakannya, Zilya memutuskan untuk pulang ke kontrakan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Zilya sendiri sengaja untuk tetap tinggal di kontrakan tersebut agar pekerjaannya menjadi seorang penulis yang masih baru, kini sudah beranjak ke jenjang penulis terkenal, tidak diketahui oleh orang-orang bahkan hingga viral di media sosial, sebab Zilya hanya ingin yang mengetahuinya hanya orang-orang terdekat dirinya yang baik termasuk karyawan-karyawan dan atasan tempat Zilya bekerja.
Karena jarak yang begitu dekat antara tempat bekerjanya dengan kontrakan, Zilya memutuskan pulang dengan berjalan kaki.
Hari yang sudah sore, membuat jalanan macet. Puluhan kendaraan beroda dua dan beroda empat mengantri untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Waktu terus berjalan tanpa henti, hingga akhirnya Zilya sampai di kontrakannya.
Zilya memutuskan untuk membersihkan badannya terlebih dahulu karena merasa gerah akibat aktivitas yang telah ia jalani pada hari ini.
Setelah membersihkan badannya di kamar mandi, Zilya memutuskan mengerjakan pekerjaan rumahnya yang diberikan oleh Dosen saat di Kampus.
Melelahkan? Tentu saja, namun ini adalah tugasnya sebagai seorang mahasiswa sekaligus seorang karyawan. Tidak mudah menjalani keduanya sekaligus. Namun demi kebutuhan hidupnya, Zilya rela berprofesi dalam dua bidang sekaligus.
Sembari mengerjakan pekerjaan rumahnya, Zilya mempersiapkan dirinya mengenai rencana yang akan dibuat oleh Naomi dan Nancy untuk selanjutnya.
Karena dua gadis yang sama-sama berinisial N dan bersahabat itu tidak akan menyerah begitu saja. Dua gadis itu pasti akan melakukan apapun agar rencananya berhasil.
“Aku harus mengerjakan pekerjaan rumahku terlebih dahulu, baru aku akan memikirkan mengenai rencana selanjutnya yang akan dibuat oleh Naomi dan Nancy nantinya.“ gumam Zilya dengan nada pelan.
“Ayo semangat, Zilya! Kamu pasti dapat bertahan hidup di dunia novel ini! Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, apabila aku dapat bertransmigrasi dalam dunia ini!“ Zilya menyemangati dirinya sendiri.
***
Maaf kakak-kakak readers semua, sebelumnya cerita Zilya sempat terhenti dan tidak upload bab-bab baru atau disebut dengan hiatus sementara. Author memiliki kesibukan, sehingga tidak sempat meng-upload nya. Terimakasih yang sudah mendukung karya ini, dan senantiasa menunggu lanjutan dari cerita ini. Semoga sehat selalu untuk kakak readers sekalian! 🥰🙏🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
A_wulandary⚞ል☈⚟
masih belum kapok juga ternyata...🤦♀️🤦♀️
2022-10-26
1
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
ih udh d sangka gla pun kgk nyerah jga hrn
2022-10-24
1
❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸
lah dia kan karyawan emang tugas dia begitu kan
2022-10-20
1