***
Dua hari berlalu.
Hari ini tepat dimana, hari pertama masuk setiap minggu. Iya, hari ini adalah hari senin. Di mana sebagian pelajar yang libur di hari sabtu dan minggu, akan masuk kembali pada hari senin.
Hari ini tepat dimana, hari pertama masuk setiap minggu. Iya, hari ini adalah hari senin. Di mana semua pelajar masuk setelah libur di hari sabtu dan minggu.
Zilya yang tidak membawa apapun dari rumahnya termasuk semua pakaian dan data-data penting miliknya, tetap masuk kuliah pada hari ini.
Hari ini, Zilya menggenakan blouse berlengan panjang yang berwarna biru langit, dengan rok panjang berwarna putih.
Dengan wajah yang dipoleskan tipis di wajahnya, Zilya benar-benar terlihat seorang bidadari yang turun dari langit.
Zilya segera berangkat ke Kampus.
Sesampainya Zilya di Kampus, semua mata tertuju dengannya, terlebih lagi Zilya menggunakan mobil sebagai kendaraan berangkat ke Kampus.
Para mahasiswa menatap Zilya dengan tatapan kagum, sebab kecantikan Zilya membuat para mahasiswa terpesona melihatnya. Namun ternyata, tidak hanya memberikan tatapan kagum, para mahasiswa lainnya menatap Zilya dengan tatapan iri dengki, iri dengan kecantikan Zilya.
“Cantik sekali dia! Benar-benar terlihat seperti seorang bidadari!“ puji mahasiswa 1 sembari menatap Zilya dengan tatapan kagum.
“Iya! Apakah dia adalah seorang mahasiswa baru? Sepertinya saya tidak pernah melihatnya!“ sahut mahasiswa 2, memberikan pendapatnya mengenai Zilya yang dikira olehnya, jika Zilya adalah mahasiswa baru di Kampus tersebut, sebab mereka sama sekali tidak pernah melihat mahasiswa secantik itu, bahkan kecantikannya mengalahkan kecantikan sang idola Kampus.
“Jika dilihat dari wajahnya yang sama sekali tidak pernah saya kenali, sepertinya iya! Cobalah kita bertanya padanya, mungkin saja dia adalah mahasiswa baru!“ jawab mahasiswa 1 sembari mengajak mahasiswa 2 untuk bertanya kepada Zilya mengenai hal tersebut.
“Saya sedikit merasakan gugup untuk bertanya, sebab wajahnya sangatlah cantik. Saya takut, apabila dia akan menjawab pertanyaan kita dengan angkuh seperti sang Idola Kampus, meski saya heran, mengapa Idola Kampus yang tidak memiliki etika yang baik.“ ucap mahasiswa 2 sembari menampilkan wajah takutnya kepada mahasiswa 1, seolah sedang menunjukkannya.
“Sebaiknya, kita tanyakan saja lebih lanjut kepadanya. Jangan takut untuk bertanya. Janganlah berprasangka buruk kepada orang, karena bisa saja orang yang kita nilai seperti ini itu, ternyata tidak seperti penilaian kita.“ nasehat mahasiswa 1 dengan bijak.
Mahasiswa 2 itu tampak sedang berpikir. Sembari melihat Zilya yang dikerumuni oleh para mahasiswa yang sepertinya kini menjadi penggemar berat Zilya. Lalu, tanpa secara sengaja, mahasiswa 2 itu melihat senyuman manis yang ditampilkan oleh Zilya. Apa yang dikatakan oleh mahasiswa 1 adalah benar, bahwa sebaiknya jangan menilai seseorang dari penampilannya? Jika dilihat, seiring waktu berjalan, mulai dari saat Zilya menginjakkan kakinya di Kampus ini, perlahan-lahan para mahasiswa mulai mendekatinya, bahkan hingga mengerumuninya.
“Sepertinya dia terlihat sangat baik hingga pada mahasiswa-mahasiswi di Kampus ini mengerumuninya.“ gumam mahasiswa 2 dengan nada pelan, namun dapat didengar jelas oleh mahasiswa 1.
“Baiklah. Kita akan mencobanya terlebih dahulu!“ Mahasiswa 2 itu pun akhirnya setuju. Meski rasa takut masih menderanya, Mahasiswa 2 itu tetap dengan pendiriannya.
Mahasiswa 1 dan mahasiswa 2 itu pun segera melangkah----mendekati kerumuman para mahasiswa tersebut.
“Hai.“ sapa mahasiswa 1 dan mahasiswa 2 sembari menampilkan senyuman manis di wajah keduanya.
Zilya menoleh kearah sumber suara. Lalu membalas sapaan kedua mahasiswa itu dengan lembut dan menampilkan senyuman manis di wajahnya, “Hai juga!“
Kedua mahasiswa yang menyapa Zilya, merasa terkejut dengan reaksi Zilya. Tidak seperti yang dibayangkan oleh mereka.
“Ternyata dia baik sekali, murah senyum.“ gumam kedua mahasiswa itu dalam hati sembari melemparkan balik senyuman manis mereka.
Karena merasa penasaran dengan nama mahasiswa tersebut yang mereka kira adalah mahasiswa baru, kedua mahasiswa itu pun memutuskan untuk bertanya.
“Kamu … Mahasiswa baru di sini kah??“ tanya salah satu diantara kedua mahasiswa tersebut.
“Bukan, saya sudah lama di sini.“ jawab Zilya seadanya saja.
“Lama?“ Kedua mahasiswa tersebut sembari menatap satu sama lain, merasa heran sekaligus bingung. Sejak kapan mahasiswa cantik itu sudah berkuliah di Kampus ini? Kenapa mereka tidak pernah melihatnya?
“Iya, saya sudah lama di sini. Mau kenalan?“ Zilya menduga, apabila alur cerita selanjutnya, kedua mahasiswa itu akan mengajak Zilya untuk berkenalan.
“Iya. Saya perkenalan diri dulu ya. Nama saya adalah Rendi.“ ucap mahasiswa 1 itu yang ternyata adalah Rendi.
Lalu, mahasiswa 2 itu pun mulai memperkenalkan diri setelah Rendi.
“Oke, Ren. Sekarang giliran saya ya. Nama saya adalah Zilya Daisha. Biasanya dipanggil Zilya, tapi kalau kalian mau manggil Daisha juga tidak apa-apa. Saya tidak mempermasalahkannya.“
Semua mahasiswa yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan ketiga orang yang sedang berkenalan itu, langsung terkejut. Nama yang disebutkan oleh Zilya, adalah nama yang tidak asing di indra pendengaran mereka. Apa hanya sebuah kebetulan saja?
“Zi-Zilya Da-Daisha?“ Rendi terlihat sangat terkejut. Bahkan hingga mengucapkan kedua kata tersebut, dengan terbata-bata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
2~
double paragraf nihh, author hrs revisi..
2023-07-27
0
Ara Julyana
Zilya menjadi primadona kampus 😊
2023-07-24
1
.
cie cie zilfa banyak yang suka 🥰🥰
2022-10-28
1