***
Setelah keluar dari rumah, Zilya berusaha berpikir keras untuk mengubah takdir tubuh tokoh utama ini.
Zilya saat ini berada di tengah jalan. Orang-orang yang melihat Zilya pergi tanpa membawa apapun, ada yang merasa iba, ada yang merasa bahagia karena membenci Zilya.
Hingga salah satu orang menghampiri Zilya sembari melemparkan tatapan sinis.
“Hei, gendut! Tubuhmu itu sudah gendut! Wajahmu penuh dengan jerawat! Benar-benar julukan gendut pas denganmu!“ ejek orang tersebut sembari menatap Zilya dari atas hingga bawah.
Zilya yang diejek tentu merasa harga dirinya diinjak-injak. Siapa yang tidak akan marah jika harga dirinya merasa diinjak-injak?
Namun, Zilya berusaha menatap dirinya sendiri. Ucapan orang tersebut memang benar apa adanya, namun seharusnya orang tersebut tidak perlu mengejek fisik dirinya.
“Sebentar! Dirimu itu Zilya? Haha! Sungguh malang nasibmu, gendut!“ ejek orang tersebut lagi setelah menyadari apabila orang yang diejek nya tadi adalah Zilya. Ternyata orang tersebut ialah Nancy, sahabat Naomi.
Zilya pun langsung pergi meninggalkan Nancy tanpa mengucapkan sepatah katapun, yang membuat Nancy kesal.
“Gila si gendut sekarang!“ Nancy benar-benar kesal.
“Ehh ... Tumben tidak seperti biasanya. Biasanya jika diejek, si gendut itu akan menangis! Tapi aneh sekali, kok hari ini dia tidak menangis setelah aku ejek? Apa dia sengaja langsung pergi karena menangis? Haha, cengeng banget sih!“ gerutu Nancy lalu segera menyusul Zilya. Ingin melihat seperti apa reaksi Zilya.
Namun, langkah Zilya semakin lama semakin cepat, Nancy yang biasanya menaiki mobil untuk perjalanan dekat maupun jauh, tentu merasa lelah dan memilih berhenti mengejar Zilya.
“Lelah! Tidak disangka, di gendut jalannya cepat banget! Padahal dia gendut banget dibandingkan aku!“ kesal Nancy lalu menelepon sopirnya untuk menjemput dirinya.
***
Di perjalanan menuju Zilya, tiba-tiba saja, Zilya baru teringat apabila dirinya sama sekali tidak membawa uang.
“Ahh! Bagaimana caraku untuk pergi ke salon untuk perawatan sedangkan aku sendiri tidak membawa uang, bahkan satu rupiah pun aku tidak memilikinya!“
Zilya pun mengurungkan niatnya untuk pergi Salon. Dan memilih duduk di dekat halte sembari berpikir.
Namun, saat dirinya ingin duduk sebentar, angin mulai bersepoi mengenai Zilya sehingga Zilya ingin menikmati sepoian angin saat itu.
Lalu, tiba-tiba saja ada selembar kertas yang terbang kearah Zilya dan mendarat di kaki Zilya. Zilya yang begitu penasaran dengan isi kertas tersebut pun memilih mengambil dan mulai membacanya.
Kertas tersebut berisi lowongan kerja untuk menjadi seorang penulis dengan imbalan besar apabila buku novel yang dibuat sangatlah bagus dan memiliki banyak peminat!
“Menarik sekali!“ ucap Zilya.
Di dunia sebelumnya, Zilya adalah seorang dosen Bahasa Indonesia.
“Akan sangat mudah untuk membuatnya! Aku harus segera mendaftarkan diri! Semoga saja, aku tidak terlambat!“ Zilya menyemangati dirinya dan mulai mencari tempat tersebut berdasarkan alamat yang tertulis.
Setelah menemukan tempat berdasarkan alamat yang tertulis, akhirnya Zilya sampai.
Zilya langsung disambut dengan orang tersebut.
“Halo, selamat datang! Apa ada yang bisa saya bantu?“ tanya orang tersebut dengan sopan.
“Saya ingin mendaftarkan diri untuk menjadi seorang penulis!“ jawab Zilya tanpa basa-basi.
“Apa!? Penulis?“ ucap orang tersebut sembari menatap Zilya dari atas hingga bawah dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa wanita jelek ini mendaftarkan diri untuk menjadi seorang penulis di tempat ini? Benar-benar mengejutkan!
“Iya. Berdasarkan alamat yang tertulis di kertas ini, apa alamatnya benar?“ tanya Zilya sembari memberikan kertas yang didapatkannya tadi.
Orang tersebut hanya melihat sekilas kertas tersebut tanpa mengambilnya.
“Ya, benar. Apa benar, Nona ingin mendaftarkan diri untuk menjadi seorang penulis di sini? Apalagi sepertinya jika dilihat-lihat, Nona masih sangatlah muda!“ jawab orang tersebut.
“Ya. Saya memang ingin mendaftarkan diri untuk memenuhi kebutuhan hidup saya untuk kedepannya. Apa ada syarat ketentuan bahwa orang yang berusia muda tidak boleh mendaftar di sini?“
“Tentu saja ada syarat ketentuan mengenai usia, Nona. Syaratnya adalah sudah memiliki Kartu Tanda Pengenal, Nona sudah bisa mendaftarkan diri untuk menjadi seorang penulis di sini.“ jelas orang tersebut.
“Saya sebenarnya sudah memiliki Kartu Tanda Pengenal, hanya saja saya tidak membawanya.“ sahut Zilya.
“Kalau tidak ada, maka Nona tidak bisa mendaftarkan diri di sini.“ jawab orang tersebut sembari melemparkan tatapan remeh kepada Zilya.
“Udah jelek, gendut lagi! Kalau bukan karena pekerjaan, aku pun tidak mau menghargainya dengan seperti ini!“ gerutu orang tersebut dalam hati.
“Apa tidak bisa dengan menggunakan kartu pelajar?“ Tiba-tiba saja, saat Zilya sedang memasukkan tangannya ke dalam saku, ia menemukan sebuah kartu! Dan kartu tersebut ialah kartu pelajar! Entah bagaimana bisa kartu pelajar itu bisa di dalam sakunya, Zilya tidak peduli soal itu, yang terpenting saat ini ialah mendapatkan pekerjaan mudah ini.
“Kartu pelajar? Apa bisa tolong tunjukkan?“ ucap orang tersebut.
“Ini.“ Zilya pun menunjukkan kartu pelajar miliknya.
“Zilya Daisha. Nama yang cantik, tapi sayangnya, fisiknya tidak secantik namanya.“ batin orang tersebut yang tiba-tiba merasa iba dengan gadis di hadapannya saat ini.
“Mohon maaf. Kami tidak menerima kartu pelajar.“ ucap orang tersebut.
“Apa? Apa tidak bisa seorang mahasiswa bekerja di sini?“
“Jika ingin, maka Nona harus membawa terlebih dahulu Kartu Tanda Pengenal Nona kemari sebagai bukti bahwa Nona adalah seorang mahasiswa.“ ucap orang tersebut lagi.
“Yah ... Sayang sekali. Tapi bukankah dengan kartu ini, saya bisa membuktikan bahwa saya adalah seorang mahasiswa?“
“Meskipun sudah ada bukti dengan kartu pelajar yang dimiliki Nona, tetap saja harus membutuhkan yang namanya Kartu Tanda Pengenal.“ jawab orang tersebut.
Zilya pun terus mencoba membujuk agar dirinya diterima. Hingga pada akhirnya, orang tersebut menerima Zilya untuk bekerja di tempat tersebut dengan syarat.
“Baiklah, karena saya merasa kasihan denganmu, maka saya akan menerima Nona untuk bekerja di sini. Namun, dengan satu syarat. Apa Nona bersedia memenuhi syarat ini?“ tanya orang tersebut.
“Saya bersedia.“ jawab Zilya dengan penuh yakin.
“Baiklah, akan saya katakan apa syarat tersebut. Syaratnya adalah, Nona harus menyelesaikan satu buku novel. Novelnya ini harus bagus dan memiliki banyak peminat. Dan waktunya sekitar sebulan. Apa Nona masih bersedia dengan syarat ini?“
“Saya tetap bersedia.“ jawab Zilya tanpa ragu.
“Baiklah. Tolong isi data Nona sendiri di kertas ini dengan lengkap. Saya minta tolong, isi dengan jujur.“ perintah orang tersebut.
“Baik.“ jawab Zilya.
“Karena kamu sudah bekerja dengan saya, maka panggil saya dengan sebutan ‘Bu’ atau ’Nyonya’.“
“Baik, Nyonya.“ jawab Zilya.
“Itu sudah lumayan. Silakan di isi secepatnya ya, saya tunggu sembari menerima peserta lainnya.“ sahut orang tersebut.
“Siap, Nyonya.“ jawab Zilya dengan begitu semangat.
Zilya pun segera mengisi datanya sendiri dengan lengkap.
Pada hari itulah, Zilya mulai bekerja di tempat tersebut sebagai seorang penulis. Zilya memiliki tugas untuk menyelesaikan satu buku novel.
***
Satu minggu berlalu.
Untuk kebutuhan Zilya sendiri, Zilya meminjam uang dengan atasannya.
Dan tempat tinggal yang seminggu ini Zilya tempati adalah kontrakan.
Zilya sudah menerbitkan buku novel buatannya sendiri dan mulai menjualnya di toko-toko buku.
Namun, tidak disangka, belum sehari buku novel buatan Zilya dijual, stok bukunya yang dijual habis tak tersisa!
Zilya yang baru habis pulang setelah mengantarkan buku ke toko-toko, dan beristirahat sebentar, tentu merasa terkejut dengan kabar yang didapatkannya oleh sang atasan.
“Apa benar, Nyonya? Nyonya sedang tidak bercanda ataupun bermain-main, bukan?“ Zilya masih saja tidak percaya.
“Saya tidak berbohong, Nona Zilya. Nona Zilya bisa melihat kiriman pesan yang dikirimkan oleh pemilik tokoh buku itu. Kemampuan menulis Nona Zilya sangatlah hebat! Saya kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh Nona Zilya!“ Atasan Zilya benar-benar kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh Zilya.
Inilah yang dinamakan, janganlah menilai seseorang dari sampulnya.
“Terimakasih banyak atas pujiannya, Nyonya. Saya sangat bersyukur karena usaha saya membuahkan hasil.“ jawab Zilya.
“Saya akan memberikan imbalan yang besar sesuai yang dijanjikan dengan kertas yang minggu lalu kamu dapatkan.“ ucap Atasan Zilya sembari memberikan amplop yang tebal.
“Lalu, saya menambahkan dua puluh persen dari sesuai yang saya janjikan di kertas. Saya berharap, Nona Zilya tetap mau bekerja dengan saya.“ tambah Atasan Zilya sembari tersenyum penuh harap.
“Baiklah, Nyonya. Saya akan tetap bekerja dengan Nyonya. Terimakasih banyak, Nyonya.“ jawab Zilya sembari tersenyum.
***
Setelah selesai, Zilya pun segera pergi menuju Salon. Tujuan Zilya pergi ke Salon ialah mengubah dirinya hingga menjadi cantik.
Dengan berbekal uang, Zilya pun berhasil merubah dirinya hingga cantik.
Zilya berhasil mengubah takdirnya. Tubuhnya yang awalnya gendut, wajah yang kusam ditambah dengan jerawatan, kini menjadi sempurna. Zilya seperti seorang bidadari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
NOiR🥀
wow
2023-11-06
0
2~
amazing Zil..
2023-07-27
0
2~
gatau yaa kalau peran Zilya sudah diambil alih oleh Daisha🤭
2023-07-27
0