Waktu terus berlalu, hingga tidak terasa, sudah berjalannya satu jam mulainya pelajaran pada hari ini. Waktu satu jam terasa begitu singkat.
Saat dosen sedang menjelaskan di depan, Zilya berbuat mengangkat tangannya, namun hal tersebut segera diurungkan oleh Zilya ketika Zilya mulai mengingat sesuatu.
Iya, Zilya mulai mengingat alur cerita ini. Di mana pada saat dirinya mengangkat tangan, maka saat Zilya keluar dari kelas menuju kamar mandi, maka akan diikuti oleh Naomi dan Nancy.
“Apa yang harus aku lakukan agar Naomi dan Nancy tidak mengikuti-ku nantinya? Sungguh membuatku kesulitan apabila rencana Naomi dan Nancy berhasil nantinya karena satu kesalahan kecil. Aku tidak boleh sampai mengambil salah langkah.“ Zilya berpikir keras.
“Kamar mandi ada di lantai satu dan lantai dua. Biasanya Zilya akan menggunakan lantai dua, agar menghemat waktu, selain itu saat itu Zilya memiliki tubuh gendut yang menyebabkan mudahnya kelelahan setelah turun dengan menggunakan tangga. Bukan berarti tidak ada yang namanya lift di Kampus ini, hanya saja, lift dikhususkan untuk anak yang berasal dari keluarga kalangan atas saja. Tidak adil sekali!“ Zilya berucap dalam hati.
“Apa sebaiknya, aku menggunakan kamar mandi yang di lantai satu saja untuk menghindari Naomi dan Nancy?“
Akhirnya, Zilya telah memutuskan untuk memilih apa.
Zilya pun mengangkat tangannya. Dosen yang sedang mengajar di kelas Zilya, melihat Zilya mengangkat tangan.
“Ada apa, Zilya? Apa ada yang ingin kamu tanyakan?“ tanya Dosen yang sedang mengajar mata kuliah di kelas Zilya saat itu.
“Saya ingin permisi untuk pergi ke kamar mandi sebentar, Bu.“ jawab Zilya.
“Baiklah. Silakan.“ sahut Dosen yang mempersilakan Zilya untuk pergi ke kamar mandi.
“Terima kasih, Bu.“ Zilya berdiri dari tempat duduknya dan melangkah kakinya hingga sampai di depan pintu kelasnya.
***
Setelah beberapa menit Zilya pergi ke kamar mandi, Naomi dan Nancy mulai melakukan aksi mereka.
“Bu! Bu!“ sela Naomi uang memotong penjelasan dari Dosen.
“Ada apa, Naomi?“ tanya Dosen tersebut. Dosen tersebut tentu merasa sedikit kesal, sebab Naomi menyela penjelasannya tadi begitu saja. Naomi benar-benar tidak memiliki etika yang baik, menurut Dosen tersebut.
“Saya ingin ke kamar mandi, Bu. Saya sakit perut.“ jawab Naomi sembari memegang perutnya. Wajah Naomi berubah menjadi seolah sedang menahan kesakitan.
“Sakit perut?“ Dosen tersebut merasa sedikit curiga. Sebab, saat Naomi memanggil dirinya, tidak terlihat apabila Naomi sakit perut.
“Iya, Bu. Naomi sedang sakit perut akibat tamu bulanannya.“ sambung Nancy.
“Baiklah, silakan, Naomi.“ Dosen tersebut akhirnya mengiyakan permintaan Naomi yang ingin pergi ke kamar mandi.
“Saya temani Naomi ya, Bu. Takutnya Naomi kenapa-kenapa nanti.“ Nancy begitu lihai dalam membuat berbagai alasan.
“Baiklah, Nancy. Kamu pergi temani Naomi. Jangan sampai malah bolos kamu.“ Dosen memberi Nancy berupa peringatan.
“Baik, Bu.“ Naomi dan Nancy keluar dari kelas dan menuju ke kamar mandi.
Saat sampai di luar kelas, Naomi mengangkat tangannya yang tadinya memegang perutnya.
“Untung saja Bu Dosen tidak curiga.“ ucap Nancy.
“Iya, padahal aku sudah takut banget. Takutnya tadi saat kamu meminta izin untuk menemaniku, Bu Dosen justru tidak mengizinkan. Jika tidak diizinkan, mana bisa kita melakukan aksi kita.“ sambung Naomi yang setuju akan ucapan Nancy.
“Zilya biasanya akan pergi ke kamar mandi yang di lantai dua, bukan?“ Nancy hanya mengangguk.
“Kita saat ini sudah di lantai dua. Tinggal menuju kamar mandi saja! Ayo!“ Naomi dan Nancy segera menuju kamar mandi yang terletak di lantai dua di Kampus ini.
Setelah berlari yang cukup menguras tenaga, akhirnya Naomi dan Nancy sampai. Keduanya sama-sama berkeringat.
“Jika bukan demi rencana kita, aku mana rela menghabiskan bedak-bedak make-up di wajahku ini.“ ucap Naomi sembari memakai bedak make-up kembali di wajahnya.
“Iya lho, Naomi. Aku juga tidak mau.“ timpal Nancy sembari ikut memakai bedak di wajahnya juga.
Usai memakai bedak di wajahnya mereka, keduanya masuk ke kamar mandi. Terlihat salah satu ruangan di dalam kamar mandi, pintunya tertutup. Naomi dan Nancy mulai menduga apabila orang yang didalamnya adalah Zilya.
“Pasti ini adalah Zilya. Ayolah kita kerjain dia!“ ucap Naomi sembari menunjuk pintu ruangan yang tertutup. Terdengar suara germicik air di dalamnya.
“Iya, Naomi. Ayo kita ambil alat-alat yang kita perlukan!“ jawab Nancy sembari mengambil ember yang berisi air pel. Nancy mengambilnya dengan menggunakan sarung tangan.
Naomi juga ikut mengambil ember satunya lagi, dengan isi yang sama, yaitu air pel.
“Ayo kita berhitung dari satu hingga tiga.“ ucap Naomi dengan suara setengah berbisik agar tidak terdengar oleh siapapun kecuali mereka.
Nancy hanya mengangguk.
“Satu … Duaa … Tigaaa!“ Mereka langsung menyiram dengan air pel ke ruangan tersebut.
Tentu dengan bantuan kursi. Lalu, terdengar suara teriakan wanita.
“AAA!“ teriak wanita di dalamnya.
Namun, bukannya mereka senang karena sudah berhasil mengerjai Zilya, justru mereka berdua malah berkeringat dingin sembari melempar embel yang mereka gunakan untuk menyiram, saat mendengar suara wanita tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ara Julyana
kalau sudah tahu rencananya ya tinggal gagalin aja Zilya
2023-08-01
0
.
hayok shokor salah sasaran 😁😁😁
2022-10-31
1
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
sya Dugong itu dosen ny 🤣🤣
2022-10-10
1