“Maksud kamu apa, Dik? Jangan coba-coba memfitnah sembarangan orang ya, Dik. Tidak baik!“ tutur karyawan tersebut.
“Udahlah, Kak! Baca berita ini dengan teliti, Kak!“ pinta Naomi sembari memberikan ponselnya kepada karyawan tersebut.
Agar tidak diganggu lagi oleh Naomi yang dianggap sebagai pengacau, karyawan tersebut mengambil ponsel Naomi san membaca isi berita yang ditunjukkan. Namun, saat membacanya, karyawan tersebut justru malah mengernyitkan alisnya.
“Maksud kamu apa ya, Dik? Katanya ada berita yang tidak-tidak, apanya yang tidak-tidak? Ini hanyalah berita klasifikasi!“ Karyawan tersebut memberanikan diri untuk menoleh kearah Naomi. Melihat Naomi yang menggunakan pakaian mahasiswa, membuat karyawan tersebut merasa heran sekaligus bingung.
“Sebenarnya siapa orang ini? Mengapa dia juga menggunakan pakaian mahasiswa seperti Nona Zilya? Dan anehnya … Dia seperti orang yang memiliki gangguan jiwa saja!“ Karyawan tersebut mengira Naomi memiliki gangguan jiwa.
“Ini lho, Kak! Coba baca baik-baik dan teliti deh, Kak! Ada berita penting disini mengenai Zilya. Kakak pasti tidak akan percaya.“ pinta Naomi yang membuat karyawan tersebut semakin memperkuat dugaan apabila Naomi memiliki gangguan jiwa.
“Oh ya, Dik?“ Karyawan tersebut berpura-pura memanggut-manggut kepalanya. Seolah mengerti apa yang dikatakan oleh Naomi.
“Aaah! Kakak tidak asyik!“ Naomi menghentakkan kakinya karena kesal, lalu pergi ke ruangan karyawan yang lain.
“Aneh sekali Adik itu!“ gumam Karyawan tersebut sembari melihat tingkah Naomi yang menurutnya sangat aneh.
“Aah! Sebaiknya, aku hubungi saja pihak rumah sakit jiwa! Takutnya Adik itu sebenarnya memiliki gangguan jiwa, tetus malah kabur!“ Karyawan tersebut memutuskan untuk menghubungi pihak rumah sakit jiwa dengan ponselnya.
“Tut … Tutt … Tuttt!“
***
Naomi pun kembali ke posisi Nancy. Nancy tampak menunggu hasil dari Naomi.
Melihat Naomi melangkah kearahnya, Nancy bangkit dari tempat duduknya san menghampiri sahabatnya itu.
“Bagaimana, Nao? Berhasil nggak?“ tanya Nancy dengan antusias.
“Karyawan itu aneh banget, Cy. Kayak lihat aku, aku orang aneh. Terus, dia malah memuji-muji Zilya di depanku lagi! Kesal!“ jawab Naomi sembari membuang wajahnya mengingat kejadian tadi.
“Karyawan itu?“ tanya Nancy sembari menunjuk salah satu karyawan yang bertugas di luar.
“Iya, Cy.“ jawab Naomi dengan singkat.
“Eeh! Dia lagi hubungi seseorang tuh! Jangan-jangan, dia kira kamu orang gangguan jiwa lagi!“ Nancy hanya menduga-duga.
“Apa!? Kamu serius, Cy? Jangan bercanda deh!“ Naomi tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nancy.
“Iya, Nao. Aku tidak sedang bercanda! Coba lihat dia dan dengerin!“ Nancy menunjuk karyawan tersebut.
“Eh, tapi bentar, Nao. Ternyata, berita yang tadi kamu sebar itu, sudah dihapus dan tiba-tiba muncul berita klasifikasi!“ ucap Nancy yang membuat langkah Naomi terhenti.
“Apa!? Kamu nggak bercanda lagu nih kan, Cy? Yang benar saja!“ Naomi sungguh tidak percaya.
“Nanti aku akan tunjukkan kalau kamu tidak percaya! Kamu coba dengar dulu apa yang dibilang karyawan tersebut kepada si penelepon!“ jawab Nancy.
Naomi pun diam-diam menguping pembicaraan karyawan tersebut yang sedang menelepon.
“Iya, Pak. Baik, saya tunggu ya, Pak. Takutnya adik ini malah hilang. Soalnya lagi bersama teman sebaya-nya.“ jawab karyawan tersebut.
“Siap, Pak. Terima kasih ya, Pak.“ ucap karyawan tersebut lagi, lalu sambungan telepon telah dimatikan.
“Tut!“
Mendengar suara tersebut, Naomi langsung pergi dari tempat persembunyiannya. Hingga secara tidak sengaja, ponsel mahal nan mewah itu jatuh ke tanah.
“Naomi!! Naomi! Ponsel kamu jatuh tuh!“ seru Nancy sembari menunjuk ponsel Naomi yang ternyata jatuh ke lumpur. Nancy melihat ponsel Naomi yang jatuh itu dengan tatapan jijik.
“Jatuh kemana? Tempatnya jijik nggak?“ Naomi melihat-lihat sekelilingnya.
“Jijik banget malahan, Naomi! Itu di lumpur sana!“ jawab Nancy sembari menunjuk lumpur yang tidak jauh dari mereka.
“Apa? Di sana!? Aku tidak mau, ah! Biarkan saja!“ sahut Naomi sembari menarik tangan Nancy dan berlari.
Karyawan yang tadinya menelepon pihak rumah sakit jiwa, melihat Naomi bersama teman sebaya-nya, langsung mengejar, sebab karyawan tersebut mengira apabila Naomi sedang melarikan diri.
“Tidak boleh! Adik itu tidak boleh melarikan diri! Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit jiwa! Akan sangat memalukan jika ternyata adik itu malah kabur! Aku harus mengejarnya!“ Karyawan tersebut pun mengejar Naomi dan Nancy.
Naomi dan Nancy yang menyadari apabila keduanya dikejar pun memutuskan berlari sekencang mungkin tanpa memedulikan apapun yang akan mereka injak nantinya.
Terjadilah kejar-kejaran diantara mereka. Karyawan lainnya yang melihat hal tersebut, hanya cuek dengan keadaan. Tanpa mengetahui bahwa yang sedang mengejar adalah salah satu karyawan yang bekerja di tempat kerja tersebut.
***
Tidak lama kemudian, pihak rumah sakit jiwa datang ke lokasi yang telah diberikan oleh karyawan si penelepon. Namun, setelah datang, pihak rumah sakit jiwa itu justru malah disuguhkan dengan pertunjukan kejar-kejaran.
“Yang benar saja! Apa yang menelepon kita tadi sedang bercanda?“ Pihak rumah sakit jiwa itu tidak percaya.
“Sepertinya ya, Pak. Mungkin dia sedang bercanda dengan kita saja! Alangkah baiknya, kita tinggalkan saja tempat ini, Pak. Sebab, masih banyak pekerjaan yang kita tinggalkan dan belum kita urus karena telepon dadakan ini!“ jawab bawahannya yang memberikan saran untuk meninggalkan tempat tersebut.
“Iya, kamu benar. Mungkin lebih baik, kira tinggalkan saja tempat ini. Kamu lihat bukan? Sepertinya mereka sedang kejar-kejaran seperti anak kecil. Mungkin karena masa kecilnya kurang bahagia.“ sahut atasannya lalu pergi meninggalkan tempat tersebut berserta bawahannya daripada membuang waktu yang begitu berharga di tempat tersebut.
***
Tiga orang yang sedang kejar-kejaran itu tampak sudah mulai kelelahan. Dengan keringat serta panasnya matahari pada sore hari ini, membuat ketiga orang tersebut semakin lelah.
Naomi dan Nancy pun memutuskan berlari lebih cepat lagi hingga sampai di tengah jalan raya. Sedangkan karyawan tadi yang mengejar Naomi dan Nancy, memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan kembali dengan pekerjaannya daripada kembali mengejar Naomi dan Nancy yang sejak tadi pengejaran tidak mendapatkan hasil sedikitpun, bahkan berhasil saja tidak.
“Akhirnya! Lelah sekali!“ seru Naomi sembari mengelap peluh keringatnya itu.
“Iya, Naomi. Make-up di wajahku jadi berantakan nih! Kacau sudah!“ jawab Nancy.
“Ada air nggak?“ tanya Naomi dengan penuh harapan.
“Tidak ada, Naomi. Habis airku. Apalagi tadi jatuh pas lagi kejar-kejaran. Jadinya ya begitu.“ jawab Nancy yang membuat Naomi kecewa.
“Emm … Oke deh kalau gitu. Ponselmu masih ada baterai kan?“ tanya Naomi lagi.
“Ada kok. Emang mau buat apa?“
“Buat nelpon sopir-ku, Cy.“ jawab Naomi.
“Oke deh, sekalian kita pulang bareng ya.“
“Sipp kalau gitu!“
Naomi pun mulai menghubungi sopirnya melalui ponsel Nancy. Namun, sayangnya sopirnya justru tidak memberikan tanggapan terima ataupun menolak.
“Yahh …“ Naomi sungguh merasa kecewa.
“Lebih baik, panggil sopir-ku saja, Naomi!“
“Siap!“
Dua gadis yang sama-sama berinisial N itu pun pulang dengan menggunakan mobil yang disetir oleh sopir Nancy. Mereka memutuskan untuk singgah di sebuah Restoran.
Sungguh lelah hari ini bagi dua gadis itu. Setelah berperang dengan pelajaran yang cukup sulit di Kampus, lalu saat jam pulang, justru keduanya malah harus kejar-kejaran.
Namun, tampaknya dua gadis itu tidak menyerah setelah apa yang terjadi pada hari ini. Apa kedua gadis itu akan membuat rencana ketiga? Mungkin saja. Kita tunggu lanjutannya di esok hari.
Mereka singgah di Restoran untuk makan dan minum. Sebab mereka sangat merasa lelah setelah kejar-kejaran. Selain merasa kehausan, mereka juga merasa kelaparan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
gw mh hp jth d mna ja ttp d ambl :)
2022-10-24
1
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
awokwok GG geming Cok 🤣🤣
2022-10-24
1
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
ohok pen ktwa 🤣🤣
2022-10-24
1