Keesokan harinya pun tiba. Tidak terasa yang awalnya hari senin, hari ini sudah hari Rabu.
Zilya mengenakan blouse berlengan panjang yang berwarna putih pucat yang dipadukan dengan rok plisket yang berwarna dongker.
***
Sesampainya Zilya di Kampus, Zilya mendengar samar-samar suara berbisik diarea Kampus. Zilya turun dari mobilnya dan bergegas mencari sumber suara tersebut.
Melangkah dengan lambat sambil mendengarkan apa yang sedang dibicarakan. Ternyata ada seorang mahasiswa yang sedang berbisik dengan temannya.
Secara tidak sengaja, Zilya mendengar, para mahasiswa mahasiswi itu membisikkan mengenai seorang penulis yang bernama Zilya Daisha sudah menerbitkan berbagai macam buku baru. Judulnya yang menarik, membuat para mahasiswa mahasiswi berlomba-lomba membeli buku tersebut sebelum habis stoknya.
Para mahasiswa yang berkuliah di Kampus ini, hampir semua telah membeli buku tersebut. Sayangnya, tidak semua telah membelinya, mengingat stok yang dijual tidaklah banyak.
Zilya pun semakin mendekati kerumuman para mahasiswa tersebut.
“Sayang banget, saya telat membelinya. Karena telat mendapatkan kabar bahwa penulis Zilya Daisha telah menerbitkan berbagai macam buku baru lainnya,“ ucap mahasiswa tersebut sambil membuang napasnya dengan kasar mengingat hal tersebut.
“Apa kamu mau meminjam buku dariku? Hampir saja, saya telat membelinya, dan pada saat itu, stok bukunya tersisa satu,“ tawar teman mahasiswa itu.
“Apakah boleh? Saya begitu penasaran dengan isi ceritanya. Pasti seru,“ jawab mahasiswa 1 tersebut.
“Tentu saja boleh, ini,“ sahut mahasiswa 2 sambil mengeluarkan buku dari tasnya.
“Kalau sudah selesai baca, jangan lupa dikembalikan lagi ya,“ ucap mahasiswa 2 itu sambil tersenyum tipis.
“Siap Kapten,“ jawab mahasiswa 1, lalu keduanya saling tertawa.
Lalu di sisi lain, para mahasiswa lainnya juga membicarakan seorang penulis yang bernama Zilya Daisha.
“Saya begitu penasaran, siapa ya identitas sebenarnya penulis itu?“ seru mahasiswa 3 itu.
“Iya, pasti penulis itu ahli dalam bidang penulisan. Jika saja aku dapat bertemu dengannya, maka aku akan mengambil foto bersama dengannya sebanyak mungkin dan meminta tanda tangannya juga, lalu dan juga memintanya untuk mengajari aku bagaimana caranya menulis,“ jawab mahasiswa 4 dengan panjang lebar.
“Aku tidak peduli, seberapa banyak uang yang aku keluarkan. Bertemu dengannya saja, aku sudah bersyukur sekali,“ lanjut mahasiswa 4 itu sambil membayangkan apabila dirinya bertemu penulis yang bernama Zilya Daisha itu.
“Hah!“ Mahasiswa 3 itu membuang napasnya dengan berat. “Semoga beruntung,“ ujarnya sambil tersenyum tipis. Berharap dirinya juga dapat bertemu dengan penulis itu.
“Terima kasih. Jika aku dapat bertemu dengannya, aku akan mengajakmu juga,“ jawab mahasiswa 3 itu.
“Eh, kalian tahu nggak?“ Seorang mmahasiswa tiba-tiba datang menghampiri mereka. Mahasiswa 3 dan Mahasiswa 4 pun menggelengkan kepalanya. Bagaimana cara mereka mengetahui apa yang ingin dibicarakan oleh mahasiswa tersebut jika saja mahasiswa itu belum lagi mengatakannya.
“Huft!“ Mahasiswa itu membuang napasnya dengan kasar. Ia baru menyadari apabila dirinya belum mengatakan apapun kepada kedua mahasiswa tersebut. “Ternyata inilah penyebab mengapa kedua mahasiswa itu menggelengkan kepalanya,“ pikir mahasiswa itu.
“Kalian kenal dengan seorang penulis terkenal itu?“ tanya mahasiswa itu. “Yang namanya Zilya Daisha?“ tanya balik mahasiswa 3 dan mahasiswa 4 itu. Mahasiswa yang datang tiba-tiba itu pun menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Kami mengenalinya,“ jawab mahasiswa 3 dan mahasiswa 4 secara serempak.
“Ahh, syukurlah apabila kalian mengenalinya! Jika demikian, maka aku tidak perlu lagi menjelaskan siapa dia!“ ujar mahasiswa tersebut sambil melemparkan senyuman tipis khasnya.
“Penulis tersebut ialah penulis baru. Sebelumnya, dia tidak pernah menulis cerita apapun,“ jelas mahasiswa tersebut yang membuat mahasiswa 3 dan mahasiswa 4 itu sontak terkejut, “Apa!?“
“Ya, tentu saja. Aku awalnya juga terkejut ketika mengetahui yang sesungguhnya,“ ujar mahasiswa itu lagi.
“Aku tidak menyangka, apabila penulis yang terkenal itu adalah penulis baru!“ ucap seorang mahasiswa 5 yang tiba-tiba saja datang. Ternyata mahasiswa 5 itu tidak sengaja mendengar pembicaraan ketiga mahasiswa ini.
“Tapi, apakah kalian tidak berpikir, apabila penulis ini sebenarnya adalah penulis lama, namun kembali membuat nama pena yang baru agar tidak ada yang mengenalinya,“ seru mahasiswa 6 yang juga ikut turut menimpali ucapan mereka.
“Itu tidak mungkin!“ jawab mahasiswa 4 lalu terdiam.
“Bisa juga, penulis terkenal itu ialah seorang dosen bahaaa Indonesia!“ seru mahasiswa itu tiba-tiba saja.
“Bisa jadi sih. Kita tidak tahu apakah tebakan kita ini benar ataukah salah,“ jawab mahasiswa 3 itu.
Para mahasiswa yang sedang berkerumun itu pun berpikir keras. Mereka tentu tidak mengetahui yang manakah benar dan yang manakah salah. Semuanya seolah begitu tersembunyi, penulis tersebut sangatlah membuat orang penasaran akan identitasnya.
Tapi, ada juga mahasiswa yang ingin bertemu dengan penulis terkenal itu. Dan bahkan sangat mengharapkan hal tersebut terjadi. Tidak peduli apa yang akan dikeluarkan olehnya, baik jumlah uang ataupun sebagainya, asalkan bisa bertemu dengan penulis terkenal itu.
Semua mahasiswa begitu penasaran. Tapi, apakah mereka tidak sadar, apabila penulis terkenal yang mereka idolakan itu adalah salah satu seorang mahasiswa di Kampus itu?
Apakah yang akan terjadi, apabila para mahasiswa mengetahui jika sesungguhnya identitas penulis terkenal itu ialah seorang mahasiswa di Kampus tersebut?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
pasti bkl geger stu kampus si ini 🤣
2022-11-05
1
manusia( ̄ヘ ̄;)ᴍ֟፝ᴀ💙♡⃝ 𝕬♡
ya zilya gmna sih
2022-11-05
1
❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸
mereka pasti sangat syok kalau tau Zilya lah sang penulis yang terkenal itu
2022-10-28
1