Khalisa, adalah gadis yang menghentikan dan sempat berbicara dengan Aish tadi. Seperti namanya yang indah, khalisa adalah gadis yang lemah lembut juga cantik. Senyuman yang tersungging di bibirnya begitu ayu dan menenangkan hati.
"Maaf, Kak Nasha. Bukan maksudku untuk menghentikan para santriwati pergi ke masjid. Aku hanya menghentikan mereka bertiga masuk ke dalam asrama dan tidak sengaja menarik perhatian para santriwati." Kata Nasha meminta maaf.
Dia benar-benar tidak bermaksud menghambat langkah para santriwati pergi ke masjid dan dia hanya menghentikan Aish, Dira, serta Gisel untuk masuk ke dalam asrama saja karena lumpur di kaki mereka akan mengotori lantai asrama.
"Ah, bohong. Bilang aja kamu enggak suka kami di sini kan? Orang-orang udik kayak kalian kan suka ngomong gitu sama kami bertiga. Mentang-mentang kami bertiga anak kota, semua yang kami lakukan dipandang salah oleh kalian." Kata Aish nyolot.
Berani-beraninya dia mencari muka di depan habib Khalid, dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
Lagipula mata-mata penghinaan mereka semua begitu jelas. Mereka pasti memandang rendahnya dan yang lain karena berasal dari kota.
Khalisa agak sulit berkata-kata karena dia juga berasal dari kota besar. Dia juga tidak pernah memiliki pemikiran stereotip dimana pendatang baru adalah hama yang merusak pemandangan. Malah dia senang karena Aish, Dira, dan Gisel bisa masuk ke pondok pesantren. Karena dengan begitu orang-orang yang lebih dekat dengan Allah semakin bertambah lagi. Ketahuilah, memikirkannya membuat hati lega dan damai. Sebab jalan menuju surga yang tidak mudah ini dilalui bersama-sama.
"Maaf sebelumnya jika caraku menyinggung kalian. Tapi jauh dari dalam lubuk hatiku, tidak ada satupun pemikiran ini yang terbersit. Aku hanya bermaksud baik kepada kalian." Kedua mata Khalisa merah.
Dia ingin menangis tapi berusaha sekuat mungkin agar tidak menjatuhkan air mata. Apalagi di sini ada habib Khalid dan beberapa ustad. Dia akan sangat malu bila dilihat sedang menangis.
"Alah bohong, jelas nada bicaramu terdengar meremehkan kami bertiga." Kata Dira ikut berdebat.
Khalisa menggigit bibirnya gugup.
"Aku tidak." Katanya keras kepala.
Orang-orang di samping Khalisa mulai mengatakan pembelaan. Mereka melihat dengan mata kepala dan mendengar dengan telinga sendiri bagaimana Khalisa memperlakukan mereka bertiga dengan lembut juga sopan. Tidak ada nada intimidasi sedikitpun apalagi sampai merendahkan mereka.
"Jangan su'udzon, dek. Jelas-jelas kami melihat sendiri kak Khalisa berbicara dengan nada sopan kepada kalian tapi malah dibalas dengan nada tidak sopan dan jutek oleh kalian berdua." Santriwati yang berdiri paling dekat dengan Khalisa mulai berbicara.
Lalu santriwati di sampingnya juga ikut berbicara.
"Benar, dilihat dari tindakan kalian, jelas kalian lah yang tidak menghormati kak Khalisa."
"Nah, jadi di sini yang tidak sopan itu kalian dan bukan kak Khalisa." Kata santriwati pertama berbicara lagi.
Aish meremat tangannya marah. Dia ingin menarik jilbab mereka tapi masih menahan diri karena ada sang pujaan hatinya di sini.
"Enak, aja. Jelas-jelas kalian lah yang tidak sopan duluan. Kalau kalian tidak menghina kami lebih dulu maka kami tidak akan bersikap tidak sopan kepada kalian." Gisel akhirnya berbicara.
Dia tidak mungkin diam saja karena Aish dan Dira dipojokkan oleh mereka semua di sini. Jelas mereka tidak bisa menang melawan orang sebanyak mereka.
"Berhenti menuduh kak Khalisa. Kami adalah saksinya-"
"Cukup." Tegur habib Khalid sudah kehilangan senyum di wajahnya.
Semua orang yang berbicara kompak menutup mulut mereka dan tidak berani lagi mengeluarkan suara. Namun Aish adalah orang yang keras kepala. Di tempat ini habib Khalid adalah satu-satunya penolongnya jadi tanpa malu dia langsung mengadu kepada habib Khalid.
"Kak Khalid, tolong kami, kak. Kami tidak bersalah dan ingin masuk tapi gadis ini malah menghentikan kami. Tolong beri kami keadilan, kak." Kata Aish kepada habib Khalid.
Dia juga sengaja membesar-besarkan suaranya untuk menunjukkan bahwa dia dan habib Khalid saling mengenal. Tidak hanya saling mengenal, habib Khalid bahkan pernah membelikannya nasi goreng sewaktu masih di kotanya.
Huh, mungkin dia adalah satu-satunya gadis yang mendapatkan perlakuan istimewa ini dari habib Khalid.
"Eh, kamu kok berani manggil habib begitu?" Bisik Dira heran.
Gisel juga sama herannya. Dia langsung menajamkan telinganya untuk mendengar jawaban Aish.
"Lho, emang salah, yah? Nama kak Khalid kan emang Khalid. Jadi enggak masalah dong aku manggil dia kak Khalid?" Tanya Aish heran.
Dira dan Gisel tidak tahu nama lengkap habib Khalid jadi mereka tidak percaya dengan apa yang Aish katakan.
Gisel lalu berbisik,"Tentu saja kamu salah karena kita semua-"
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya habib Khalid dingin tanpa melirik Aish ataupun yang lainnya.
Dia terlihat tidak mudah didekati. Untuk sesaat para santriwati tercengang dengan perubahan emosi habib Khalid. Mereka kira habib Khalid adalah orang yang suka tersenyum dan tidak bisa membuat wajah datar apalagi nada dingin. Namun setelah melihatnya saat ini, mereka segera mengubah penilaian mereka terhadap habib Khalid.
"Lalu panggil teman kamar kalian untuk mengambil baju ganti dan peralatan mandi di dalam sana." Perintah habib khalid masih tanpa ekspresi.
"Kak Khalid.." Aish tidak bisa mempercayai keputusan habib Khalid.
Dia kira habib Khalid akan membelanya karena mereka adalah kenalan.
"Keputusannya benar untuk menghentikan kalian masuk ke asrama. Karena jika kalian masuk ke dalam, lantai asrama akan dikotori oleh kalian bertiga. Dan jika lantai kotor, banyak orang yang akan kesusahan berjalan di atas lantai apalagi jika mereka sedang mempertahankan air wudhu. Oleh sebab itu ada baiknya kalian bertiga menunggu diluar daripada masuk fan mempersulit orang." Ucap habib Khalid final tanpa berniat mendengarkan penjelasan mereka bertiga lagi.
Aish tiba-tiba merasa paling kecewa di sini. Dia merasa keberadaannya sungguh tidak berarti apa-apa untukku habib Khalid. Dia menundukkan kepalanya malu,...malu, dirinya sungguh sangat malu karena begitu percaya diri habib Khalid masih mengenalnya apalagi sampai membela dirinya.
Dibandingkan dengan dirinya yang hanya sebatas orang asing di tempat ini, para santriwati ini jelas lebih baik dan lebih dipercaya oleh habib Khalid. Um, dia harusnya mengerti ini.
"Baiklah, silakan pergi ke masjid karena waktu magrib akan datang sebentar lagi. Dan untuk kalian bertiga, poin kalian akan dikurangi. Jika kalian mengulanginya lagi maka pondok pesantren akan menindaknya secara tegas. Nasha," Habib Khalid memanggil Nasha.
Nasha dengan sigap menggeser tubuhnya miring masih dengan kepala tertunduk.
"Ya, habib?"
Habib Khalid melirik mereka bertiga dingin.
"Awasi mereka bertiga sampai masuk ke dalam masjid."
Nasha langsung menganggukkan kepalanya, memegang erat amanah habib Khalid dengan serius dan hati berbunga-bunga.
"Baik, habib. Aku akan mengawasi mereka hingga masuk ke dalam masjid."
Habib Khalid mengangguk ringan, mengucapkan salam, lalu dia dan para ustad yang lain segera pergi dari gerbang asrama putri tanpa menunggu waktu lama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Darmilah Darmilah
lanjut
2023-06-02
0
Pipit Sopiah
diemin dulu habib khalidnya Aish,jangan tanya atau bicara
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Aish jangan salah paham dulu sama Habib, dia harus menjaga wibawanya di depan santriwati lainnya dan bertindak tegas.
2022-12-27
1