Aish merasa masam di hatinya karena diabaikan oleh habib Khalid. Dia marah dan mengamuk dengan menghempaskan tangan Gisel ataupun Dira yang sedang memegangi lengannya. Tenaganya tidak main-main, imbasnya Gisel dan Dira langsung terpeleset ke sisi masing-masing. Dira jatuh ke sawah jagung sedangkan Gisel bagian cabe, untungnya tanah di sawah itu tidak becek ataupun basah sehingga pakaian mereka tidak basah. Meskipun ujung-ujungnya agak kotor karena nyungsep ke tanah, tapi setidaknya ini lebih baik daripada terjerembab ke lumpur.
"Argh!" Teriak Aish marah.
Brak
Gisel terpeleset menimpa pohon cabe subur yang akan akan segera dipanen. Karena beban tubuhnya, pohon cabe langsung patah dan tidak bisa di tolong lagi.
Berbeda dengan Gisel, Dira langsung jatuh ke tanah dan tidak menabrak pohon jagung. Telapak tangan dan lututnya kotor karena tanah. Gamis yang telah meresahkannya seharian ini juga ikut kena imbasnya. Tanah-tanah itu menempel di kain gamisnya. Gamis dan tangannya kotor. Dadanya langsung berfluktuasi ingin berteriak marah melihat betapa sialnya dia hari.
"Oi, kadal! Kamu kalau teriak, teriak aja! Enggak usah ngamuk juga, kadal! Tanganku dan bajuku sekarang jadi kotor, kan!" Keluh Dira sembari bangun dari posisi jatuhnya.
Keadaan Gisel juga tidak jauh lebih buruk dari Dira, tapi dia tidak berani melayangkan protes karena takut membuat Aish semakin marah kepadanya. Syukur-syukur dia punya teman bicara di tempat ini.
Aish melihat kaget keadaan Gisel dan Dira yang baru saja tertimpa musibah. Hatinya langsung tidak nyaman melihat wajah misuh misuh Dira dan Gisel, dia merasa bersalah tapi gengsinya menghentikannya untuk segera meminta maaf.
"Um, siapa suruh kalian berdua narik narik aku pergi. Kalau enggak, kalian kan enggak akan jatuh." Kata Aish sambil berjalan melewati mereka berdua.
Dira langsung shock mendengar jawaban Aish.
"Ya, sial banget nolongin orang enggak tahu terima kasih kayak kamu." Teriak Dira merasakan sebuah ketidakadilan.
Dia mengambil segenggam tanah yang agak lembab dan melemparkannya ke punggung Aish yang sudah berjalan menjauh dari mereka.
Plop
Tanah itu tepat mengenai punggung Aish dan mengotori gamisnya.
"Untung banget kamu tadi kita tarik, kalau enggak dan kamu diam aja di sana, percaya atau enggak habib Thalib pasti udah lempar kamu ke tanah berlumpur sekarang." Lanjut Dira melampiaskan amarahnya.
Melihat drama selanjutnya yang akan terjadi, Gisel langsung tepok jidat. Dia benar-benar tidak ingin melihat keributan apapun lagi karena badannya sudah gerah dan ingin segera mandi.
"Siapa yang ngelempar aku tadi?!" Teriak Aish seraya berbalik menatap mereka berdua.
Mata laser Aish segera menyapu Gisel. Gisel panik, dia melambaikan tangannya membantah.
Aish mendengus dingin sambil mengambil langkah panjang mendekati Dira yang masih belum naik ke atas.
"Mau apa lo, hah?" Dira tidak kenal takut.
"Mau apa? Mau ngasih lo pelajaran karena udah ganggu gue." Kata Aish sembari bergerak menerjang Dira.
Dia langsung loncat ke tempat Dira, meraih kepala Dira dan menggoyangkannya beberapa kali. Dira merasa pusing karena kepalanya digoyangkan, kesal, dia langsung melepaskan tangan Aish sekuat tenaga dan mendorongnya ke tanah.
"Lo duluan, sialan! Lo yang duluan dorong gue sama Gisel ke bawah padahal kita enggak pernah apa-apain lo!" Teriak Dira kesal.
Dia mengambil segenggam tanah lagi dan melemparkannya ke Aish. Baju Aish kotor lagi. Aish juga tidak mau kalah, dia mengambil dua genggam tanah dan melemparkannya ke Dira. Mereka lalu saling lempar lemparan tanah sambil mengoceh tidak jelas. Membuat Gisel pusing dan frustasi melihat pertengkaran mereka berdua.
"Kalian berdua hentikan! Please, deh jangan kayak anak kecil!" Gisel terpaksa turun untuk menengahi mereka.
Namun suara Gisel hanya dianggap angin lalu oleh mereka berdua. Mereka mengabaikannya tanpa mengurangi intensitas lemparan mereka. Karena terlalu bersemangat, Gisel juga terkena lemparan. Bajunya langsung menjadi kotor.
"Kalian kok lemparin aku tanah sih?!" Gisel mulai kehilangan sabarnya.
Aish dan Dira kompak memutar bola mata mereka.
"Bukan gue yang ngelempar, tapi si kadal." Tuduh Dira menyalahkan Aish.
"Enak aja, jelas-jelas lo yang ngelempar biawak!" Tuduh Aish balik.
Meskipun begitu lemparan mereka sama sekali tidak berkurang dan beberapa kali mengenai Gisel. Gisel sudah lelah bersabar dengan mereka berdua. Dia lalu ikut mengambil dua gemgang tanah dan melemparkannya satu gemgang ke sisi masing-masing.
Dia berkata,"Oh, gue tahu Aish kalau lo emang sengaja lemparin gue tanah karena gara-gara Iyon, kan?! Lo masih belum rela kalau Iyon selingkuh sama gue!" Teriak Gisel melampiaskan unek-unek di hatinya.
Aish sama sekali enggak pernah berniat melemparkan Gisel tanah apalagi sampai membawa masa lalu. Tapi karena Gisel sudah mengungkitnya, maka dia tidak keberatan untuk 'membahasnya' secara jantan.
"Makan tuh Iyon. Gue mana peduli sama cowok jejadian macam dia!" Kini arah lemparan Aish jadi dua arah.
Satu ke Dira dan satunya lagi ke Gisel.
"Hah, lo berdua yang punya masalah sama tu cowok jejadian tapi kenapa gue yang harus kena imbasnya?! Gara-gara kalian orang tua gue malah buang gue ke sini!" Dira juga ikut melampiaskan kemarahannya kepada Aish dan Gisel.
Gara-gara dia menyebarkan foto perselingkuhan Gisel dan Iyon di hotel, sekolah menskorsnya beberapa hari yang membuat kedua orang tuanya sangat malu. Mereka tidak bisa menerima penghinaan ini di depan rekan-rekan mereka dan memutuskan untuk mengirim Dira ke sini agar perilakunya dapat diperbaiki.
"Ini juga salah lo berdua. Kalau kalian berdua enggak sebarin foto-foto gue sama Iyon, maka gue enggak akan malu dan di usir dari rumah! Gue gak akan berakhir di tempat ini!" Teriak Gisel mengeluh.
Dia salah, tapi bukan berarti mereka bisa menyebarkan kesalahannya. Dan karena kesalahan ini pula dia harus di usir dari rumah. Kedua orang tuanya- oh, tidak. Lebih tepatnya Paman dan Bibinya sudah tidak ingin bertanggungjawab lagi kepadanya. Mereka mengirimnya ke sini tanpa uang ataupun perbekalan apapun yang bisa menjamin hidupnya. Dia dibuang ke sini tanpa sempat menyiapkan apapun kecuali satu kartu tabungannya. Tanggungan yang telah dia kumpulkan dan tidak seberapa banyak nya. Bayangkan akan jadi apa hidupnya bila tabungannya yang tidak seberapa itu habis di sini?!
Gisel hampir gila!
"Oh ya, kalian berdua emang pantas mendapatkannya. Yang satu selingkuh sama sampah gue dan yang lainnya jadi sok pahlawan di sekolah. Hah, setelah semua kalian di lempar ke sini dan nyalahin gue? Hello, otak kalian, okay?!"
Mereka saling tuduh menuduh, saling menyalahkan, dan sibuk melemparkan tanah kemana-mana. Mereka tidak sadar bila semua dialog drama mereka telah di dengar oleh beberapa orang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Mira Andani
seru ...👌
2023-06-06
0
Pipit Sopiah
seru juga mereka,, masa masa paling indah di masa mereka
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Hadeuh....ada2 aja nih kelakuan trio reftil bikin malu aja deh!
Mungkinkah yang melihat mereka itu Habib Khalid?
2022-12-27
1