Mereka bertiga panik.
"Tapi...tapi hukuman ini terlalu-"
"Maaf, ini sudah keputusan akhir. Kalian pulanglah ke asrama untuk membersihkan diri karena dua jam lagi akan masuk waktu magrib." Kata habib Khalid memotong.
Mereka bertiga tidak bisa menerimanya dan ingin bernegosiasi dengan habib Khalid. Tapi habib Khalid tidak mau mendengar apapun lagi. Dia dan Danis lantas mengucapkan salam perpisahan kepada mereka berdua, kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih mematung di tempat.
"Ya Tuhan... yang benar saja?!" Ucap Dira putus asa.
Dia duduk dengan lemas di atas tanah berumput.
Aish dan Gisel juga ikut duduk di tanah tampak frustasi.
"Aku lebih suka main lumpur daripada bersihin tempat kotor." Gumam Gisel sedih.
Apa itu membersihkan kamar mandi, membersihkan kamar tidur saja mereka jarang melakukannya apalagi membersihkan kamar mandi sendiri. Biasanya tugas ini diserahkan kepada pembantu rumah tangga. Tapi di sini, di tempat yang mereka benci, mereka dipaksa untuk membersihkan kamar mandi. Kamar mandi pribadi mungkin masih bisa ditoleransi tapi ini kamar mandi yang dipakai oleh ribuan santri. Bisa dibayangkan betapa kotornya tempat itu.
"Aku ingin pulang." Kata Dira dengan kepala tertunduk.
Dia merasa sedih dan kesepian di sini. Dia tidak punya teman, tidak ada teman bicara, dan selain itu banyak hal yang tidak dia mengerti di sini.
"Aku juga ingin pulang...tapi aku tidak tahu mau pulang kemana karena sekarang aku sudah tidak punya rumah.." Perlahan suara isak tangis Gisel mulai terdengar.
Dia menyembunyikan kepalanya di dalam lutut sambil menahan suara tangisnya agar Aish dan Dira tidak mengetahui bila saat ini sedang menangis.
Aish dan Dira mendengarnya. Suara isak tangis tertahannya yang menyedihkan membuat mata Dira berkaca-kaca, tak lama kemudian dia juga mulai menangis mengingat semua yang terjadi baru-baru ini.
"Aku juga enggak punya rumah...orang tuaku sangat sibuk mengurus karir mereka dan meninggalkan ku di tempat ini...aku sedih dan aku merasa kesepian..." Kata Dira sambil menangis.
Dia dan Gisel menangis bersama, satu demi satu mencurahkan beban dihati mereka. Sementara Aish sendiri menatap hamparan langit yang terbentang luas di depannya. Mendengar mereka berdua menangis memang membuatnya sedih tapi dia berusaha untuk tidak menangis. Mereka bertiga punya kesedihan masing-masing. Bila Gisel diusir oleh keluarganya karena aib, dan jika Dira di lempar ke tempat ini karena kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurus karir, maka Aish berbeda.
Semenjak kecil kehadirannya tidak pernah diinginkan oleh Ayah dan keluarga Ayahnya. Mamanya tidak dicintai, lalu dikhianati oleh orang-orang yang dia perlakukan sebagai keluarga. Lalu Aish sendirian menghadapi tatapan miring mereka semua. Dibanding-bandingkan dengan Aira, dianggap manusia tidak benar, dan ditatap sebagai aib keluarga. Aish sudah terbiasa merasakannya tapi masih belum terbiasa merasakan sakitnya. Sakit sampai dia tidak bisa menangis lagi saking sakitnya.
Aish berada dititik haus kasih sayang dan kehangatan keluarga, perasaan yang telah lama mengosongkan hatinya.
"Jangan menangis." Kata Aish menghibur mereka berdua.
Dia bukan orang yang pandai berbicara.
"Sejujurnya di sini lebih baik daripada tinggal di rumah yang tidak menginginkan keberadaan kita." Sambung Aish merasa miris.
"Kita bisa tinggal di sini sebentar saja sambil menunggu kesempatan untuk pergi dari tempat ini dan berpergian ke luar kota untuk mencari tempat untuk memulai lembaran hidup baru. Aku mungkin bukan saudara kalian dan kita juga tidak memiliki hubungan persahabatan apapun. Kita malah sering bertengkar dan saling menyalahkan, benar-benar tidak bisa bersahabat. Tapi di sini kita memiliki tujuan yang jelas. Kita ingin keluar dari tempat ini dan pergi ke tempat yang aman untuk memulai hidup baru jadi tidak ada salahnya untuk bekerja sama. Dira, Gisel, terlepas dari masa lalu di antara kita, dendam di antara kita, dan luka di antara kita, aku ingin kita bertiga berteman agar rencana pelarian kita berjalan dengan baik. Bagaimana?" Kata Aish seraya bangun dari duduknya. Dia berdiri dengan ekspresi malas di wajahnya, kedua tangannya terulur ke depan Dira dan Gisel tanpa senyuman manis di wajahnya.
Gisel dan Dira tercengang. Dengan mata dan wajah basah karena menangis, mereka menatap uluran tangan Aish dengan ekspresi tertegun di wajah mereka. Sebuah lintasan kejutan terbesit di dalam kepala mereka berdua. Siapa Aish, mereka tahu betul betapa penyendiri nya Aish karena sulit menjalin pertemanan. Melihatnya tiba-tiba mengulurkan tangan dengan ajakan berteman, mereka berdua jelas tidak menyangka bila Aish mengambil inisiatif lebih dulu untuk berteman terlepas tujuannya.
Karena hei, sejujurnya Dira sudah lama ingin berteman dengan Aish. Menurutnya Aish sangat keren di sekolah. Banyak orang yang ingin berteman tapi Aish selalu cuek dan acuh tak acuh di sekolah. Inilah yang membuat Dira kagum. Sebab teman-teman yang mengelilinginya selama ini hanya memanfaatkannya saja.
Sama seperti Dira yang penuh kejutan. Gisel pun sungguh tidak menyangka Aish masih mau berteman dengannya. Dia merasa sangat senang karena di sini hanya Aish dan Dira lah teman bicaranya. Sekarang Aish ingin berteman lagi dengannya, air mata Gisel kembali meluap karena haru.
"Terima kasih." Gisel mengambil uluran tangan Aish lebih dulu. Dia bangun dari tanah sambil mengusap wajah berlumpur nya.
Aish merasa canggung.
"Yah, ini bisnis." Katanya kaku.
Gisel tidak marah. Dia bersyukur karena Aish masih mau berbicara dengannya setelah apa yang dia lakukan.
"Baiklah ini bisnis." Kata Dira dengan senyum konyol di wajahnya.
Mereka bertiga berpegangan tangan, tampak aneh dan konyol karena suasana canggung di antara mereka bertiga. Malu dengan suasana aneh ini, akhirnya Aish lebih dulu melepaskan tangan mereka dan langsung berjalan melewati jalan yang pernah mereka lewati sebelumnya.
"Ayo kembali. Aku sudah tidak tahan dengan bau lumpur ini."
Gisel tersenyum,"Yah, aku juga ingin mandi." Katanya seraya menyusul Aish.
Dira juga menyusul Aish dan Gisel. Mereka berjalan bertiga tanpa bicara dalam suasana canggung yang aneh. Tapi anehnya suasana ini jauh lebih nyaman dibandingkan berada di rumah. Di sana dia akan ditatap dengan pandangan sebelah mata, tapi di sini tidak ada yang menatapnya seperti itu.
Dia sejujurnya sangat nyaman.
Di tambah lagi ada habib Khalid. Kelopak mata Aish berkibar ringan, menyapu pandangannya menatap langit yang terbentang luas di atas sana. Habib Khalid, nama ini membuat Aish merasakan sebuah getaran hangat di dalam hatinya. Betapa segar ingatannya saat suara berat dan lembut itu memanggil namanya, bahkan nama lengkapnya. Dia tahu bahwa ini mungkin fenomena jatuh cinta pada pandangan pertama namun Aish merasa ini lebih dari itu seolah-olah habib Khalid adalah rumah yang dia cari selama ini, tempat bersandar terkokoh yang pernah ada, dan satu-satunya laki-laki yang bisa menerima dirinya. Ini hanyalah sebuah perasaan semu belaka. Mungkin... mungkin karena efek debaran dihatinya.
Namun satu hal yang pasti. Setelah bertemu dengan habib Khalid lagi dia langsung bimbang tidak tahu harus memilih apa. Apakah dia sanggup bertahan di sini untuk mengejar habib Khalid?
Tapi dia merasa tempat ini bukanlah tempatnya jadi dia mungkin harus pergi. Namun jika dia pergi dari tempat ini lalu bagaimana dengan perasaannya kepada habib Khalid?
Dia mungkin tidak akan bisa melupakannya...
Jadi apa yang harus ia lakukan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Pipit Sopiah
gaspolkeun
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Kamu keluar dari pondok pun Ndak ada arah tujuannya, jadi menurutku kamu harus tetap bertahan di pondok dan mengejar cintanya Habib.
2022-12-27
0