Aish dan yang lainnya tidak bisa menampik semua yang habib Khalid katakan. Namun bagi Aish sendiri itu bukan salahnya karena menurutnya ini salah dua lainnya. Em, walaupun jauh dari dalam hatinya dia mengakui bila ini memang salahnya juga tapi dia enggan untuk mengakuinya. Dira dan Gisel juga berada begitu. Mereka tahu bahwa mereka juga bersalah. Tapi menurut Dira, Aish lah yang paling bersalah sedangkan menurut Gisel, Dira lah yang bersalah. Jika Dira tidak mengganggu Aish duluan maka kekacauan ini tidak akan pernah terjadi.
"Habib, ini-" Aish ingin memohon keringanan hukuman tapi habib Khalid sudah tidak mau mendengar apapun.
"Turunlah." Potong habib Khalid tidak mau mendengar apapun lagi.
Aish menggigit bibirnya gelisah. Dia mengintip habib Khalid diam-diam untuk melihat bagaimana reaksi habib Khalid sekarang, tapi tidak ada kegelisahan yang dia rasakan karena habib Khalid nyatanya memiliki senyuman ramah di wajah tampannya.
"Jangan menunda lagi. Setengah jam bukanlah waktu yang lama. Jika kalian terus menunda di sini maka kalian akan melanjutkannya lagi pekerjaan ini besok." Ancam Danis kepada mereka bertiga.
Besok?
Mereka mana mau mengulangi pekerjaan yang sama apalagi ini berkaitan dengan lumpur yang sangat ingin mereka hindari. Tapi mereka juga tidak ingin melakukannya sekarang karena mereka tidak pernah menyukai tanah lembek dan bau ini.
"Aku enggak mau turun..." Bisik Dira masih kukuh tidak ingin turun.
Gisel juga sama. Dia tidak mau turun.
Aish pun memiliki keluhan yang sama dengan mereka berdua. Namun jika dia menunda sekarang maka dia harus melakukan pekerjaan ini lagi besok. Aish enggan dan lebih enggan lagi ketika merasakan jarak yang habib Khalid bentangkan kepadanya.
Rasanya sungguh tidak menyenangkan dan dia merasa sedih.
Apa sih yang membuat kamu sedih, Aish?! Kak Khalid enggak punya hubungan apa-apa sama kamu jadi kenapa dia harus mengenali kamu di sini? Hey, bangunlah! Jangan sok baperan jadi manusia! Batin Aish sedih.
Mengepalkan kedua tangannya kesal dengan diri sendiri yang tidak bisa mengendalikan hati dan sok baper, Aish kemudian melepaskan sendalnya di tanah dan turun ke sawah sambil mengangkat kain gamisnya tinggi agar kainnya tidak kotor walaupun sudah kotor karena tanah.
Habib Khalid mengalihkan pandangannya ke samping, menatap Danis yang kini sedang fokus menatap ke arah lain.
"Jangan naikkan kain gamis mu. Turunkan." Perintah habib Khalid kepada Aish.
Aish merasa dianiaya. Tanpa protes dia pun menurunkan pakaiannya ke bawah. Pakaiannya langsung terkena lumpur, kotor dan basah sehingga membatasi pergerakan Aish di sawah.
"Kenapa diam saja?" Kini perhatian Danis beralih kepada mereka berdua.
Dira dan Gisel tidak punya cara lain. Mereka lalu turun ke sawah mengikuti langkah Aish. Berjalan dengan hati-hati di kedalaman lumpur yang sangat aneh dan menjijikkan.
"Ih...ih..apa yang aku injak tadi?! Rasanya kok licin banget!" Di tengah sawah, Dira berteriak nyaring sambil meraih bahu Aish untuk mencari keamanan.
Melihat Dira berteriak ngeri, Gisel spontan berteriak ketakutan. Dia meraih bahu Dira dengan tangan kiri dan meraih bahu Aish dengan tangan kanan. Dalam pikirannya ada mahluk panjang dan licin yang bergerak leluasa di dalam lumpur, dan sewaktu-waktu bisa menggigit kaki mereka.
"Argh...jangan jauh-jauh!" Teriak Gisel.
"Eh, jangan dekat-dekat! Kita bisa jatuh nanti!" Kata Aish panik.
Aish, orang yang menjadi tempat teraman untuk mereka berdua tertangkap tidak siap menahan beban lebih yang bersandar di tubuhnya. Tubuhnya limbung ke depan dan satu detik kemudian...
Burgh ..
Mereka bertiga jatuh ke dalam lumpur.
Bersambung...
Maaf semuanya. sebelumnya ada kesalahan, saya udah coba ganti tapi WiFi saya gangguan dan baru bisa diperbaiki sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
nayna87
membayangkan indah suasana itu,,,
2024-04-21
0
siti zulifat
wkwkkkk....seruuuu
2023-05-25
0
Pipit Sopiah
aduh bacanya juga ga kuat sampai senyum sendiri
2023-02-25
0