Seorang santriwati harusnya bersikap ayu, lembut, sopan, dan selalu menjaga pandangannya. Tapi ketiga orang ini berbeda. Dalam kesannya mereka bertiga agak semarak dan cukup 'liar'. Lihat saja jilbab mereka bertiga yang agak compang-camping seperti orang yang tidak terbiasa menggunakan jilbab, bahkan salah satu orang begitu berani menyampirkan kain jilbabnya ke pundak yang sangat tidak sesuai dengan fungsi jilbab itu sendiri.
"Benar, kak. Kami baru saja masuk ke pondok pesantren." Kata Aish sekali lagi mengangkat kepalanya menatap habib Khalid.
Dia sangat berharap habib Khalid mengenalinya, tapi harapan hanyalah sebuah harapan. Tidak hanya habib Khalid mengenalinya, tapi dia juga tidak mau menatap Aish. Habib Khalid sepertinya lebih suka memandangi rumput liar di tanah daripada memandanginya.
"Apa kalian sudah membaca buku panduan pondok pesantren Abu Hurairah?" Habib Khalid masih bertanya tanpa merasakan perubahan suasana hati Aish,"Jika belum, maka mintalah buku panduan kepada ustazah Sulas di kantor staf asrama putri agar kalian mengetahui setiap larangan yang tidak boleh dilanggar dan setiap aturan yang harus dipatuhi selama menuntut ilmu. Jika tidak dan kalian menjadi lalai, kejadian ini akan terulang kembali. Maka jangan salahkan pondok bila kalian dihukum karena tidak sengaja melanggar peraturan pondok pesantren disaat kalian telah diingatkan sebelumnya. Selain itu hukuman pondok pesantren tidak pernah main-main bagi santri atau santriwati yang melanggarnya, jadi tolong perhatikan diri kalian di masa depan agar jangan memberikan mudarat untuk diri kalian sendiri." Suara habib Khalid tidak besar dan tajam tapi setiap kata yang dia ucapkan terdengar begitu jelas di dalam pendengaran mereka.
Mereka bertiga merasa bila habib Khalid memberikan sebuah saran atau nasihat yang halus, oleh karena itu kesan mereka kepada habib Khalid berkali-kali lipat bintangnya. Tapi Danis merasa sebaliknya. Habib Khalid jelas memberikan mereka teguran yang sangat keras dalam artian habib Khalid mengancam mereka agar jangan membuat masalah ini di sini. Kalau tidak mengapa habib Khalid begitu blak-blakan mengenai ancaman hukuman.
Habib Thalib biasanya tidak sekeras ini kepada santri atau santriwati terlepas seberapa besar kesalahan mereka. Tapi mengapa kali ini dia bertindak agak jauh padahal ketiga santriwati ini belum melakukan kesalahan. Batin Danis bingung dengan tindakan habib Khalid.
Setahunya habib Khalid adalah orang yang lembut hatinya dan mudah tersenyum, sebesar apapun selama dalam batas toleransi, habib Khalid tidak akan bertindak keras. Tapi kejadian kali ini membuat Danis merasa heran sekaligus penasaran mengapa habib Khalid tiba-tiba mengubah sikapnya saat berhadapan kepada ketiga santriwati pendatang baru ini.
Mungkinkah mereka bertiga telah menyinggung habib Khalid sebelumnya tanpa sepengetahuan orang lain atau Danis?
Tidak ada yang tahu bahkan Danis, ketua kedisiplinan asrama laki-laki yang digadang-gadang akan menjadi Ustad di sini pun juga tidak tahu menahu dalam hal ini.
"Baiklah, segera kembali ke asrama kalian sebelum ada yang menyadari hilangnya kalian." Kata habib Khalid kepada mereka.
Dira dan Gisel sangat senang mendengar perintah habib Khalid. Mereka sudah tidak sabar ingin segera kembali ke asrama tapi Aish bereaksi jauh lebih lamban dari mereka berdua. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada habib Khalid, bertanya mengapa habib Khalid tidak mengenalnya?
"Kak Khalid, aku ingin bertanya-"
"Udah, Aish. Ayo kita pulang mandi. Habib Thalib, Kak, kami kembali dulu, yah. Terima kasih atas nasihatnya hari ini." Dira buru-buru memotong ucapan Aish.
Dia menarik lengan kanan Aish dan mencubit Gisel agar datang membantu. Gisel dengan ragu memegang lengan kiri Aish sebelum menariknya pergi bersama Dira.
Aish tercengang. Dia ingin menolak tapi melihat reaksi tenang habib Khalid segera mematahkan semangatnya. Dia merasa sedih, dengan malu mengikuti langkah Gisel dan Dira menariknya pergi. Tubuh mereka berdua tidak gendut tapi untuk jalan sekecil ini dan dilewati bersama, mereka harus ekstra hati-hati agar tidak ada yang terpeleset.
Tidak jauh dari mereka, habib Khalid yang sebelumnya bersikap santai entah kenapa kehilangan senyum di wajahnya. Ini sungguh tidak biasa untuk Danis yang selalu mengikuti habib Khalid kemana-mana.
"Minta ketua kedisiplinan putri untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Jangan biarkan mereka kembali lagi ke tempat ini sampai..." Habib Khalid memandangi tembok tinggi di belakangnya,"Semuanya terkendali."
Danis segera menganggukkan kepalanya mengerti. Dia tahu bahwa keputusan ini pasti baik untuk semua orang di pondok, hanya saja dia merasa aneh karena keputusan ini keluar bertepatan dengan pertemuan tidak disengaja mereka dengan ketiga santriwati baru itu.
"Insya Allah, habib. Aku akan segera menghubungi Nasha dan menginstruksikan nya untuk mengawasi mereka bertiga." Kata Danis serius.
Habib Khalid kembali tersenyum. Dia lalu melanjutkan aktivitasnya bersama Danis, berkeliling sawah untuk menentukan panen mana yang lebih dulu di ambil minggu depan agar tidak mengganggu aktivitas normal pondok pesantren.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Widyawulandarii Widi
sepertinya habib merasa mreka bertiga berencn kabur🤔
2024-01-22
0
Pipit Sopiah
lanjut lagi bacanya
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Danis ndak tau aja Tiba2 Habib lebih tegas dari biasanya karena dia tidak ingin Aish kabur dari pondok.
Ini yang di maksud Umi waktu itu dia ingin mendidik Aish menjadi lebih baik lagi.
2022-12-27
1