"Argh..." Aish langsung bangun dari genangan lumpur. Kedua tangannya dengan panik mulai meraba-raba wajahnya, menyingkirkan cairan lumpur dari wajahnya agar dia bisa melihat.
Ketika matanya bisa melihat dengan jernih, dia menatap shock seluruh badannya yang telah dibasahi oleh cairan berlumpur.
"Ini..." Bola matanya berputar-putar menatap kedua tangannya yang lebih mirip stik coklat daripada tangan manusia.
"Yah kotor, kan!" Rengek Dira terkejut melihat tangan dan gamisnya yang sudah kotor.
Seruan Dira langsung menarik perhatian Aish dan Gisel. Aish dan Gisel kompak melihat Dira, kemudian Aish dan Dira beralih melihat ke Gisel, setelah itu Gisel dan Dira beralih menatap Aish. Beberapa detik saling menatap, entah siapa yang memulai duluan, mereka bertiga sudah saling tarik menarik ingin menjatuhkan siapa lebih dulu ke dalam lumpur untuk melakukan ajang balas dendam.
"Pfthh...habib, mereka bertiga sangat lucu." Kata Danis sambil menahan tawa.
Habib Khalid melihat tindakan konyol mereka bertiga. Menghela nafas panjang, dia tidak bisa membiarkan mereka bertiga terus menerus seperti ini.
"Aisha Rumaisha, berhenti." Panggil habib Khalid tiba-tiba.
Mendengar panggilan habib Khalid, Aish sontak menghentikan aksinya. Dia menoleh ke atas dengan kedua bola mata bersinar terang antara kaget juga penasaran, bertanya-tanya kapan habib Khalid mengetahui nama panjangnya?
"Habib Thalib kok tahu nama Aish?" Dira berbisik aneh.
Gisel juga merasa merasa heran,"Iya yah. Bukan cuma nama panggilan aja, tapi habib Thalib juga hapal nama panjang Aish."
Mereka berdua sama-sama heran dan menatap habib Khalid dengan pandangan menyelidik.
"Kalian bertiga naik." Perintah habib Khalid.
Aish kali ini sangat bersemangat. Dia tidak perduli dengan Dira dan Gisel lagi karena perhatiannya telah diambil oleh habib Khalid. Dengan upaya gigih dia berhasil naik ke atas lagi setelah bersusah payah melewati lumpur.
Begitu Aish naik ke atas, dia sudah tidak sabar ingin menghampiri habib Khalid untuk bertanya apakah pendengarannya tadi tidak salah. Tapi ketika melihat ekspresi sembelit Danis yang sedang berusaha menahan tawa langsung mengingatkan Aish betapa memalukan penampilannya sekarang.
Aish malu, dia lantas menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah berlumpur nya dari pandangan habib Khalid.
Dira dan Gisel juga naik ke atas setelah berjalan di dalam lumpur dengan susah payah. Setelah naik ke atas, Dira mengambil pelajaran dari pengalaman pahit sebelumnya. Alarm perlindungan di kepalanya segera mengatur tubuhnya bergerak di samping kanan Aish, sedangkan Gisel tanpa tahu apa-apa baris di samping kiri Aish.
Dira dan Gisel juga malu dengan penampilan mereka saat ini jadi tanpa diperintah pun mereka segera menundukkan kepala mereka untuk bersembunyi.
"Kalian tidak menjalankan hukuman dengan benar." Tegur habib Khalid.
Teguran ini memang ditujukan untuk mereka bertiga namun kelopak matanya berkibar lembut menyapu tempat Aish.
"Kami minta maaf, habib. Kami bertiga tidak sengaja melakukannya." Kata Aish meminta maaf.
Kali ini dia bertindak sangat patuh dan tidak membuat dalih lagi karena hatinya sedang berbunga-bunga sekaligus gelisah. Berbunga-bunga karena habib Khalid mengetahui namanya dan gelisah karena takut ini hanya perasaannya saja.
Namun apapun jawabannya, Aish akan mencari cara untuk berbicara dengan habib Khalid dan menanyakannya.
"Iya, habib. Kami tidak sengaja melakukannya. Jujur saja, hukuman ini agak berat untuk kami karena kami mengalami kesulitan saat berjalan di dalam lumpur." Kata Gisel terus terang.
Mereka belum pernah menginjak lumpur sedalam ini dalam hidup mereka. Dan di dalam hati mereka lumpur memiliki kesan yang sangat buruk. Di dalamnya hidup berbagai macam hewan menjijikkan dan menakutkan. Contohnya tadi, entah apa yang diinjak oleh Dira. Rasanya licin dan menggeliat-liat di bawah telapak kakinya seperti ular.
"Tidak ada hukuman yang mudah dilewati karena itulah kalian diberikan hukuman agar merasakan efek jera. Hukuman adalah sanksi yang harus kalian jalankan setelah melanggar peraturan, begitu kalian merasakan efek jera, kalian pasti akan pikir-pikir lagi jika ingin membuat masalah." Kata Danis menimpali Gisel.
Mendengar suara berat Danis berbicara, Gisel langsung mengecilkan lehernya tidak berani berbicara lagi.
"Jika kalian tidak sanggup melakukannya, lalu hukuman apa yang ingin kalian lakukan sebagai penggantinya?" Tanya habib Khalid kepada mereka bertiga.
Di dalam hati Aish, Dira, dan Gisel, mereka secara kompak menyuarakan kalau bisa jangan ada hukuman. Namun mereka tidak berani mengatakannya secara langsung karena takut membuat habib Khalid dan Danis menjadi marah.
"Jawab habib, hukuman apa yang kalian inginkan sebagai penggantinya?" Danis menekan mereka bertiga.
Aish tidak berani menjawab karena dia tidak ingin menjalankan hukuman apapun, sementara Gisel memilih untuk diam karena takut Danis mengenalinya sebagai gadis penguntit. Sedangkan Dira sendiri...dia tidak perlu ditanya lagi. Karena pengalamannya menjadi juru bicara paksaan, dia secara alami akan tutup mulut. Diam-diam bersuka cita di dalam hatinya karena Aish lah yang berada di posisi tengah-
"Kamu yang di samping kanan. Jawab habib." Danis melemparkan pertanyaan kepada Dira.
Dira yang baru saja bersuka cita,"...." Apakah aku pernah menyingung orang ini sebelumnya?! kenapa orang ini selalu mengarahkan jari telunjuknya kepadaku?! Batin Dira nelangsa.
"Kami... bisa menerima hukuman apapun asalkan jangan berhubungan dengan lumpur." Kata Dira ragu-ragu.
Aish dan Gisel tidak bisa berkata-kata,"..." Dia adalah juru bicara yang buruk!
Aish tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk. Apa ini hanya perasaannya saja?
Dira benar-benar ingin mencari aman saja tapi selama mereka berada di dalam lingkup pondok pesantren, tidak akan ada yang benar-benar aman jika sudah berhubungan dengan hukuman.
"Baiklah, itu yang kalian mau. Hari Ahad setelah sarapan pagi, kalian bertiga harus mulai membersihkan kamar mandi asrama putri sebersih mungkin. Kalian tidak diizinkan beristirahat sebelum semua kamar mandi asrama putri bersih dan hukuman ini akan langsung diawasi oleh petugas kedisiplinan asrama putri agar kalian tidak bisa bermain-main lagi. Jika kalian bermain atau membuat masalah yang lain, maka jangan salahkan mereka bila hukuman kalian bertiga di tambah lagi." Kata habib Khalid dengan senyuman ramahnya yang lembut.
Kata-kata habib Khalid sangat sopan dan lembut tanpa ada nada intimidasi sedikitpun. Ditambah lagi dengan senyumnya yang merekah indah, setiap orang yang melihatnya akan berpikir bila dia adalah orang yang sangat baik dan ramah. Namun siapa sangka bila dibalik senyuman manis, sikap ramah dan sopan nya itu ternyata memiliki sisi yang kejam.
Dira langsung menyesal mengatakan itu. Berharap bila waktu bisa diputar kembali.
"Membersihkan kamar mandi?" Kaget Aish tanpa sadar mengangkat kepalanya menatap langsung ke habib Khalid.
Habib Khalid kali ini tidak mengalihkan pandangannya.
"Ya, membersihkan kamar mandi asrama putri." Kata habib Khalid menegaskan.
Mereka bertiga panik.
"Tapi...tapi hukuman ini terlalu-"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Bundy Icha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,lucu banget thor,,lanjuuuut
2023-04-11
0
Siti Nurhaliza Ija
hahaa sampe ketar ketir nih jantung Thor kasian si Dira sllu slh tmpt GK di tengah samping kiri kanan sama aja🤣🤣
2023-04-04
0
Nur Hayati
kasian banget Dira kmu lgi yg jawab 🤣🤣🤣🤣
2023-03-25
0