Oh astaga, aku benar-benar melupakan gadis itu. Jika dia tidak berbicara mungkin aku tidak akan pernah menyadari keberadaannya.
"Bukan urusanmu." Kataku acuh. Lagian kok kepo banget sama urusan orang.
Tapi dia adalah satu-satunya narasumber ku saat ini. Aku mungkin bisa bertanya-tanya kepadanya karena dia kan sok polos. Jadi harusnya dia jujur dong. Nah, benar juga. Daripada nanya sama Nasifa yang licik lebih baik aku nanya aja sama dia yang lebih gampang di kibulin.
"Eh, ngomong-ngomong nama kamu siapa?" Tanyaku tanpa menoleh.
"Namaku Gadis, Aish. Aku adalah teman sekamar mu di kamar Aisyah Ra. Ranjang ku tepat ada di sebelah mu-"
"Tau...tau, kok. Enggak usah disebutin semuanya. Kan aku cuma nanya nama kamu." Potong cepat sebelum dia mulai merakit kata-katanya menjadi kereta api cepat.
"Maaf, aku sangat senang karena Aish mau berbicara denganku." Katanya polos dan sejujurnya agak menyedihkan.
Aku meliriknya dari sudut mataku. Gadis kini sedang tersenyum polos di sampingku. Penampilannya yang sederhana dan biasa-biasa saja tampak agak norak buatku. Dia pasti dari keluarga miskin karena gamis yang dia gunakan agak ketinggalan jaman dengan santriwati yang aku lihat di sini.
"Yah, aku punya pertanyaan kepadamu Gadis. Jika kamu bisa menjawabnya, maka aku akan memberikan kamu uang." Kataku murah hati.
"Eh, tidak perlu Aish. Aish bilang saja apa yang ingin ditanyakan dan aku akan langsung menjawabnya jika aku tahu. Aish tidak perlu mengeluarkan uang untuk itu." Katanya menolak.
"Ini uangku jadi aku bisa menggunakannya sesuka hatiku."
"Tapi Aish-"
"Sudahlah, dengarkan pertanyaan ku. Lihat tembok di sana," Kataku sambil menunjuk tembok di seberang sana.
Dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tentu saja dia melihatnya, kalau tidak, aku curiga bila hidungnya bermasalah!
"Kenapa pondok pesantren mendirikan tembok di sana?" Tanyaku santai berpura-pura tidak terlalu tertarik dengan tembok itu.
"Oh, di luar tembok adalah sawah milik warga jadi pondok pesantren memberikannya batasan. Tembok itu juga dibuat agar kita semua tidak kabur dari sana sebab dulu banyak kasus santri yang kabur dari sana sebelum tembok didirikan setinggi itu." Katanya menjelaskan tanpa ragu.
Aku sangat puas dengan jawabannya.
"Oh jadi begitu, yah.." Kataku berpura-pura santai..
"Baiklah, kita kembali ke asrama sekarang. Aku sudah mengantuk dan ingin segera tidur tidur siang." Lebih tepatnya aku ingin membaut strategi.
Aku meminta Gadis untuk memimpin jalan kembali ke asrama. Di jalan kami mulai berpapasan dengan para santriwati yang baru pulang dari stan makanan. Mereka berbicara dengan suara rendah dan mudah sekali tersenyum, tidak seperti orang-orang di kota tempat ku tinggal.
Ajaibnya mereka tidak suka memperhatikan orang lain apalagi memperhatikan keberadaan ku. Daripada memperhatikan ku, mereka malah asik membicarakan seseorang. Memang benar apa yang orang-orang katakan tentang pondok pesantren jika para penghuninya pasti orang-orang yang terdidik dan berakhlak baik. Um, tapi ini tidak sepenuhnya benar karena hati manusia tidak mudah ditebak. Dan aku pernah mengalami dua pengkhianatan yang tidak aka pernah ku lupakan dalam hidup ini.
Aku sebenarnya tidak perduli tapi saat mendengar mereka menyebut nama seseorang, telingaku langsung berdiri tegak siap menguping pembicaraan mereka.
"Aku tadi melihatnya! Habib Thalib tadi lewat di depan stan santriwati dan kebetulan tempat dudukku berada tepat di samping gorden luar jadi aku bisa melihatnya secara langsung."
Habib Thalib?
Habib Thalib...nama ini terdengar familiar. Tidak, aku pikir orang-orang dulu suka memanggil kak Khalid dengan sebutan habib Thalib.
"Masya Allah, kamu serius?"
"Iya, aku serius. Demi Allah aku melihat habib Thalib lewat dari sana." Gadis itu bersumpah.
"Bagaimana rupa habib Thalib dari dekat? Aku ingin sekali melihatnya karena setiap kali melihatnya aku hanya bisa melihat dari jauh."
Lalu gadis yang bersumpah tadi menjawab dengan suara yang memabukkan.
"Dia sangat tinggi, kulitnya putih bersih-"
"Aish mau kemana?" Tiba-tiba lenganku di tarik oleh Gadis.
"Eh? Ke asrama." Kemana lagi coba.
"Iya, Aish. Kita sudah sampai di asrama tapi kamu jalan ke arah yang salah. Kamar kita ada di koridor kanan tapi kamu jalannya ke koridor kiri."
Eh, barulah aku sadar bila kami sudah sampai di asrama dan sekarang sedang berdiri di koridor. Karena terlalu asik menguping aku sampai-sampai ingin mengikuti kemana arah orang-orang itu pergi.
Aku terbengong, mataku melihat ke arah orang-orang itu yang sudah pergi jauh. Topik yang mereka bicarakan telah menarik rasa penasaran ku tentang habib Thalib. Aku ingin bertanya tapi mereka telah pergi.
"Aish liat siapa?"
Aku menarik perhatian ku dari mereka. Menggelengkan kepalaku lalu melanjutkan lagi langkah ku ke kamar asrama tempat ku tidur. Sudah dua hari ini tapi aku masih belum terbiasa tinggal di sini karena ranjangnya sangat pas untuk dua orang dan agak sempit. Aku sulit bergerak saat tidur.
"Assalamualaikum." Gadis memberikan salam saat kami membuka pintu.
Di dalam sudah ada beberapa santri dan dua parasit yang ingin ku hindari. Aku, Dira, dan Gisel tidur di ranjang yang berjauhan. Kami tidak pernah berbicara. Baguslah, setidaknya aku tidak terlalu stres sendirian di sana.
"Waalaikumussalam. Gadis, apa kamu sudah makan?" Tanya salah satu gadis di kamar ini.
Nada suaranya sih baik-baik saja tapi ekspresi mukanya enggak enak banget diliat. Mungkin dia enggak suka sama aku.
"Aku makannya nanti saja sama Aish setelah pulang dari perpustakaan." Jawab Gadis.
Aku berjalan ke ranjang ku, berpura-pura tidak memperhatikan percakapan mereka.
"Kamu enggak boleh gitu, Gadis. Makanan di dapur umum belum tentu bersisa." Katanya tidak setuju.
"Iya, Gadis. Kalau kamu enggak bisa makan sekarang otomatis kamu harus menunggu sampai makan malam karena ini sudah peraturan pondok." Yang lain menimpali.
Ugh, mereka mungkin ingin memojokkan aku di sini. Tapi apa aku perduli? Tentu saja tidak. Hanya saja Gadis belum makan apa-apa karena dia menghabiskan banyak waktu untuk membujukku. Sejujurnya aku merasa tidak enak kepadanya. Bukan karena simpati tapi lebih tepatnya kasihan karena badannya sangat kurus. Dia butuh asupan makanan yang bergizi untuk membuat badannya sehat.
"Orang kota biasanya agak sulit diatur. Jadi begini deh, kamu harus kena imbasnya." Dia berbisik tapi bodohnya aku masih bisa mendengarnya.
Apa-apaan, kami orang kota sudah terbiasa hidup baik tapi harus dijebloskan di sini yang sok ketat dan sok ngatur, siapapun pasti akan kesal.
"Hush, Siti. Kamu enggak boleh ngomong gitu. Dia belum terbiasa aja."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Pipit Sopiah
lanjut
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Hm....kapan ya, Aish bisa bertemu lagi dengan Habib?
2022-12-26
0
Nur Nadiah Solman
😍
2022-12-05
0