Mereka bertiga makan makanan lezat dengan santai. Wangi makanan itu bagaikan sebuah penyiksaan untuk orang-orang di dalam kamar. Mereka ingin makan juga tapi tahu bila mereka tidak akrab dan makanannya juga tidak terlalu banyak. Jadi mereka memakluminya.
"Anak-anak kota itu sangat pelit. Dia makan tanpa mengajak kita sebagai basa basi." Kata Siti segan.
"Jangan ngomong gitu. Mereka belum terbiasa dengan kita jadi mereka mungkin malu bertanya basa basi." Kata teman yang tidur di ranjang yang sama dengannya, dia bernama Uswatun.
Siti tidak percaya dengan apa yang temannya katakan karena menurutnya Aish, Dira, dan Gisel adalah anak kota yang manja.
"Enggak juga. Mungkin karena mereka memang pelit." Kata Siti tidak percaya.
"Kamu sangat rakus." Suara dingin Gisel mengagetkan Siti dan Uswatun.
Gisel menatap Siti dengan dingin, tempat tidurnya bersebelahan dengan Siti dan Uswatun, jadi dia mendengar apapun yang mereka bicarakan tadi.
Tidak menunggu Siti berbicara, Gisel langsung berbicara lagi,"Aish dan Gadis belum makan siang tapi kamu masih ingin mereka berbagi makanan denganmu? Apa otakmu mengalami masalah? Mungkinkah terlalu lama tinggal di tempat ini membuat kepalamu berjamur sehingga tidak bisa beroperasi dengan baik?" Ucap Gisel pedas.
Siti dan Uswatun tidak suka dengan perkataan Gisel yang terkesan kasar. Mereka telah tinggal lama di pondok pesantren dan jarang mendengarkan perkataan sekasar ini jadi begitu mereka mendengarnya, reaksi mereka agak shock.
"Astaghfirullah. Bahasa mu terlalu kasar. Kami tidak berniat merebut makanan mereka namun mengapa respon mu sangat kejam?" Siti merasa heran dan sebenarnya agak gentar dengan momentum dingin Gisel.
Wajah pucat Gisel tersenyum tipis,"Kenapa menyoroti bahasa ku? Kenapa tidak perbaiki cara berpikir mu yang selalu merasa benar? Hah, aku pikir orang-orang yang tinggal di pondok pesantren berbeda dengan orang-orang yang ada di luar sana. Tapi nyatanya semua saja karena hati tidak bisa menyembunyikan tabiatnya."
Wajah Siti langsung memerah karena malu. Dia belum pernah mendapatkan teguran sekeras ini dari siapapun karena dia selalu mendapatkan juara 1 di kelas dan berpotensi mendapatkan beasiswa ke Mesir tahun depan. Dan baru kali ini ada yang berani mengajarinya untuk memperbaiki cara berpikirnya, itupun orang kota yang tidak tahu apa-apa dan suka membuat masalah.
"Kamu.."
"Diam, Siti. Nasifa sudah berpesan agar kita memaklumi mereka untuk sementara waktu sampai mereka akhirnya bisa beradaptasi dengan lingkungan pondok." Tegur Yuli, ketua kamar Aisyah Ra yang sebenarnya.
Nasifa adalah senior mereka dan tidak tinggal di kamar ini. Nasifa tinggal di lantai dua bersama senior seangkatannya dan akan sesekali turun ke sini untuk menanyakan kabar Aish, Dita, serta Gisel. Sebab mereka adalah murid pindahan yang belum mengerti apa-apa dan harus dibimbing dengan hati-hati.
"Baiklah. Aku mengerti." Kata Siti enggan.
Dia menarik tangan Uswatun menjauh dari Gisel seakan-akan sedang menghindari wabah penyakit. Gisel mendengus dingin dan duduk di ranjangnya seolah tidak perduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Padahal sejujurnya dia sangat kesepian. Dia tidak punya siapapun di sini selain Aish dan Dira, tapi sayangnya mereka bukan teman dan bagi mereka pun dia adalah gadis yang jahat. Gisel sedih. Setelah kejadian hari itu dia dilemparkan ke sini oleh orang tuanya tanpa uang belanja sedikitpun. Jika dia tidak memiliki tabungan, maka hidupnya di sini akan sangat tragis.
Dia juga menyadarinya bila orang tuanya mungkin malu memiliki anak seperti dirinya yang terlibat pergaulan bebas dan kotor. Dan yang lebih memalukan adalah Iyon menolak menikahinya dan lebih memilih pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah. Sedangkan dia di sini dilempar ke pondok pesantren dan diabaikan oleh keluarganya.
Dia merasakan sakit dan sedih.
"Kenapa, kamu kasihan?" Tanya Dira santai saat melihat Aish beberapa kali melihat ke arah Gisel.
Aish tersenyum kecut,"Bukan urusanmu."
Dira memutar bola matanya malas.
Setelah makanan di kotak habis, Gadis menawarkan dirinya untuk mencuci kotak bekal itu.
Setelah dia pergi, Aish langsung melancarkan aksinya. Dia membisikkan sesuatu kepada Dira.
"Aku sebenarnya ogah bicara sama kalian berdua, tapi ini darurat jadi aku terpaksa melakukannya. Apa kamu ingin keluar dari sini?"
Mata Dira langsung menyala terang,"Jangan salah paham, aku juga terpaksa ngomong sama kamu. Kalau bukan karena ingin keluar dari pondok ini, mungkin aku enggak akan ngomong sama kamu." Kata Dira sama jual mahalnya.
Aish mengabaikan sikap dan nada suaranya yang arogan. Untuk saat ini saja dia melapangkan hatinya berurusan dengan Dira demi kebebasannya sebagai manusia.
"Terserah. Nah, sekarang kamu ngomong sama Gisel apa dia mau ikut kerja kelompok sama kita?"
Karena di sini banyak orang, Aish takut bila rencana mereka diketahui oleh banyak orang.
"Dih, dia kan nenek moyang kamu, jadi kenapa enggak kamu aja yang ngomong sama dia?" Dira ogah ngomong sama Gisel.
Soalnya dia masih ingat apa yang Gisel pernah lakukan. Dan ngomong-ngomong dia sudah tidak perawan lagi jadi ada semacam halangan saat dekat dengannya.
"Neneng moyang dari mana? Jelas-jelas kamu yang lebih dekat biawak!" Kesel Aish lama-lama. Dira ingin berkilah tapi dipotong terlebih dahulu oleh Aish,"Kamu harus ngomong cepat biar rencana kita terealisasikan. Kalau enggak, kita enggak akan pernah bisa keluar dari tempat ini." Ucap Aish serius.
Dira juga ingin segera keluar tapi pertanyaannya akan kemana dia setelah keluar dari sini? Kedua orang tuanya sangat sibuk mengurus bisnis dan jarang pulang ke rumah, mereka enggak akan peduli jika dia melarikan diri.
"Enggak usah bengong, pergi sana ngomong sama Gisel. Oh ya, kita nanti kumpul di perpustakaan. Cari tempat yang aman biar enak diskusinya."
Dira mendelik tak senang, terpaksa, dia pergi menghampiri Gisel ke ranjangnya. Sementara Aish mengawasi dari tempat tidurnya.
Aish menghela nafas panjang melihat kondisi Gisel sekarang. Bagaimana mengatakannya yah... Gisel saat ini terlihat jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Mukanya juga pucat, tampak kurang sehat.
"Bukan urusanku. Aku tidak akan bersimpati kepadanya lagi." Bisik Aish segera menepis pikirannya.
Dia... dengan bodohnya merasa kasihan kepada orang yang telah mengkhianatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
nayna87
seandainya dulu bisa mondok alangkah bahagia nya ya hidup damai dengan ilmu agama
2024-04-19
1
Pipit Sopiah
jadi ingat anak yg lagi mondok nih
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Aish....masih aja rencana mau kabur dari pondok, dah Ndak sabar liat Aish bertemu lagi sama Habib.
Pasti kalau dia tau ada Habib di pondok ini dia tidak akan berusaha kabur lagi.
2022-12-26
0