Setelah diskusi singkat itu, Dira segera mendatangi Gisel dengan ogah-ogahan. Mereka berbicara sebentar saja karena Dira tidak betah dekat dengan Gisel sedangkan Gisel sendiri kaget karena Dira dan Aish mau melibatkannya dalam rencana pelarian. Jujur dia shock tapi selebihnya dia sangat senang karena mereka tidak melupakannya.
Sama seperti mereka, dia juga ingin melarikan diri dari tempat ketat ini.
30 menit setelah waktu istirahat, beberapa kamar satu demi satu meninggalkan asrama. Mereka berjalan ke arah perpustakaan, yaitu gedung tinggi nan luas yang paling dekat dengan rumah Abah.
Selama di jalan Aish pura-pura berbaur dengan teman-teman Gadis tapi setelah sampai di perpustakaan dia segera menyelinap pergi. Mencolek punggung Dira dan Gisel saat melewati mereka. Dira dan Gisel melihat Aish pergi ke arah barat, jadi mereka juga diam-diam mengikutinya ke barat.
Gisel dan Dira sama sekali tidak berbicara tapi pemahaman diam-diam telah terbentuk di dalam diamnya mereka. Sebab tujuan mereka sama, yaitu melarikan diri dari tempat ini.
"Jauh banget anjir." Keluh Dira saat mereka berhasil menemukan Aish di antara rak-rak kitab atau buku yang berisi tulisan huruf Arab tanpa baris.
Aish berdecak tidak setuju,"Ini demi keamanan. Kamu tahu sendiri kan kalau kamu tuh jadi pengawasan utama orang pondok karena ulah kamu beberapa waktu terakhir." Kata Aish mengingatkannya dengan murah hati.
Gisel juga setuju dengan Aish karena dia memperhatikan bila staf kedisiplinan asrama putri beberapa waktu ini telah mengawasi Dira dengan serius. Namun meskipun dia setuju, dia tidak mengatakannya karena dia tahu suaranya tidak terlalu penting.
Gisel hanya diam diantara mereka sambil memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Mencari apakah ada orang yang menguping pembicaraan mereka berdua.
"Mereka sangat menyebalkan. Ya udah sekarang kamu langsung ngomong aja. Bukannya kamu sudah bilang sudah punya rencana sebelumnya?" Desak Dira sambil bersedekap dada, menunggu Aish mengungkapnya.
Aish mengangguk mengerti. Dia tahu mereka sekarang terdesak waktu jadi dia tidak main-main lagi.
"Kalian berdua pernah melihat tembok di sawah pondok ini, kan?" Tanya Aish kepada mereka.
Gisel mengangguk malu-malu tidak terlalu berani menatap Aish.
Dira juga mengangguk. Tidak hanya melihatnya tapi dia juga telah lama memperhatikannya.
"Lihat kok, tapi tembok itu tinggi banget. Kita enggak bisa manjat ke atas walaupun kita bertiga saling bantu." Kata Dira tertekan.
Dia pernah ingin melarikan diri lewat sana, tapi saat melihat ketinggian tembok yang menjulang tinggi dua atau tiga meter jauhnya, Dira langsung menyerah dan memutuskan untuk mencari cara lain.
"Yang nyuruh kamu manjat, siapa biawak?" Kata Aish pedas, Dira langsung mendelik kesal tapi tidak membalas.
"Terus...kalau kita enggak manjat, apa yang akan kita lakukan dengan tembok itu?" Tanya Gisel ragu-ragu kepada Aish.
Aish melirik wajah pucat nya sesaat dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia masih memiliki perasaan hangat dihatinya tentang persahabatan mereka dulu tapi tidak bisa melupakan kepahitan yang ditinggalkan oleh Gisel. Oleh karena itu dia tidak tahu bagaimana mengambil sikap saat berdekatan dengan Gisel.
"Kita akan membuat lubang anjing." Kata Aish mengemukakan rencanannya.
"Lubang anjing?" Dira enggak pernah kepikiran rencana ini.
"Iyah, kita bertiga bekerja sama melubangi tembok itu untuk membuat jalan pelarian. Kalau kita berhasil melubangi tembok itu, kita bisa melarikan diri dari tempat ini dan bebas. Kita tidak akan terkekang lagi dengan tempat ini." Kata Aish dengan bola mata membara.
Dia sangat bersemangat ingin segera melarikan diri dari tempat ini.
Dira dan Gisel tidak pernah memikirkan jalan ini, mereka harus mengakui bila rencana ini sangat cemerlang. Mereka akhirnya melihat harapan di mata mereka. Sungguh tidak pernah terlintas sebelumnya dipikiran bahwa mereka bisa melarikan diri dari tempat udik dan ketat ini.
"Okay, rencana kamu bisa digunakan. Terus kapan kita bisa melakukannya?" Tanya Dira tidak sabar.
Aish merenung sesaat. Alangkah baiknya bila rencana mereka segera dilakukan karena dia juga sudah tidak betah tinggal di sini.
"Nanti sore?" Kata Aish ragu.
"Sore?" Dira juga berpikir bila waktu di sini sangat-sangat sulit.
Setiap waktu mereka memiliki kegiatan dan tidak mudah menyelinap pergi.
"Yah, pikirkan cara untuk menyelinap pergi. Kalian tahu kan kalau gali lubang di tembok itu enggak mudah. Kita butuh waktu yang lama tapi karena kita melakukannya bertiga, aku yakin bisa menyelesaikannya dengan cepat." Kata Aish percaya diri.
Dira juga berpikir begitu. Paling-paling tembok itu mudah dilubangi karena teksturnya yang kasar dan berpasir.
"Okay, nanti sore setelah sholat ashar kita bisa berpura-pura pergi ke kamar mandi saat turun dari masjid."
Mereka bertiga dalam waktu yang sangat singkat akhirnya membuat rencana. Mereka sepakat akan beraksi setelah sholat ashar. Setelah rencana rampung, mereka kemudian kembali ke tempat masing-masing.
Aish adalah yang terakhir bergerak. Dia tidak ingin menarik perhatian teman kamarnya karena dilihat berjalan bersama dengan Dira dan Gisel. Tapi ada satu hal yang membuat Aish merasa gelisah.
Dia mengangkat kepalanya melihat ke lantai dua dan tiga gedung perpustakaan ini, bingung, dia tidak menemukan siapapun di atas. Padahal sejak tadi dia merasa diperhatikan oleh seseorang.
"Apa ini cuma perasaan ku aja, yah?" Gumam Aish pada dirinya sendiri.
Mengangkat bahunya tidak perduli, dia lalu meletakkan kitab tebal di tangannya dan pergi menghampiri teman-teman kamarnya yang lain. Dia tidak tahu bila seseorang yang dia cari tiba-tiba muncul dari lantai dua. Orang itu melihat Aish dengan tatapan aneh, sebelum beralih melihat Dira dan Gisel yang sudah berbaur dengan santriwati lain.
"Habib Thalib, siapa akhwat ini?" Tiba-tiba seorang laki-laki tinggi mendatanginya.
Habib Khalid meliriknya ringan, tersenyum lembut sembari menarik pandangannya dari Aish dan kembali menatap kitab hijau yang ada di hadapannya.
"Sebelumnya, dimana tugas yang ku minta?" Tanya habib Khalid masih dengan senyuman yang sama.
Laki-laki itu menggaruk kepalanya malu. Dia buru-buru pamit kepada habib Khalid dan kembali ke rak sebelumnya untuk mencari sesuatu.
Sunyi, tidak ada siapapun di lantai dua selain dia dan laki-laki itu.
Sret
Suara lembar halaman yang digulirkan tangannya bagaikan musik latar belakang yang enak di dengar. Dia menikmati setiap baris dari kitab di tangannya. Sesekali wajah seriusnya yang tampan akan menarik senyuman lembut, hingga beberapa waktu kemudian dia akhirnya mengangkat kepalanya dari kitab tersebut dan beralih menatap ke arah seorang santriwati yang mencoba berbaur dengan yang lain, tapi mungkin sulit karena dia adalah gadis yang berbeda dari lainnya. Wajahnya yang cantik cemberut tanpa senyum, matanya melihat orang-orang disekitarnya jutek dengan rasa jarak yang kentara. Gadis ini... kemanapun dia pergi sangat suka menggunakan tampilan ini.
Habib Khalid tersenyum lembut, menundukkan kepalanya lalu kembali menatap kitab yang semoga diabaikan beberapa meniti lamanya.
"Berat badannya turun lagi." Gumamnya entah pada siapa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Dheana Rabbani Alghozy
aish dan gisel udah saling kenal?
cerita awal nya dmn emang author? soalnya aku baru baca yg ini
2023-04-17
0
Pipit Sopiah
habib khalid karakternya berwibawa, karismatik
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Habib bekum menampakkan wajahnya depan Aish, tapi dia selalu memperhatikan Aish dari kejauhan dan Aish sendiri bisa merasakan itu.
2022-12-26
1