Aish, Dira, dan Gisel lambat memproses kata-kata habib Khalid. Mereka malah berpikir bila telinga mereka memiliki masalah daripada mempercayai apa yang baru saja mereka dengar.
"Apa yang kalian tunggu lagi?" Habib Khalid lantas berbalik melihat mereka.
Entah disengaja atau tidak, mata hitamnya bergerak menyapu Aish dengan ekspresi datar di wajahnya. Senyuman yang selama ini merekah di bibirnya kini telah menguap entah kemana. Aish tidak pernah melihat habib Khalid kehilangan senyum karena dia selalu tersenyum kemana-mana dan kepada siapapun. Dia pikir habib Khalid adalah orang yang selalu akan tersenyum terlepas apapun keadaannya. Bukan karena habib Khalid mengalami masalah kejiwaan tapi karena habib Khalid memiliki hati yang lembut dan ramah. Dia sama sekali tidak sungkan kepada orang luar ataupun asing.
Maka dari itu melihat habib Khalid tanpa senyum kali ini tanpa sadar membuat Aish panik dan merasa takut. Dia tidak berani melihat langsung ke mata hitam habib Khalid. Entahlah, dia selalu merasa bila habib Khalid... adalah orang yang tidak mudah.
"Habib...ini hampir pukul 5 sore. Kami harus segera kembali ke asrama dan membersihkan diri." Kata Aish dengan kepala tertunduk.
Habib Khalid tersenyum, "Jika kalian tidak membuang waktu maka kalian harusnya bisa kembali ke asrama setengah jam kemudian. Sekarang turunlah. Petik beberapa sayur kangkung untuk dijadikan lauk malam ini." Kata habib Khalid masih dengan senyum yang sama.
Dira dan Gisel bingung dengan perubahan situasi yang begitu tiba-tiba. Mereka takut dan tidak senang tapi memilih bungkam. Menyerahkan tugas ini sepenuhnya kepada Aish untuk bernegosiasi.
Aish merasa bila nada suara habib Khalid tidak benar. Suaranya tidak sehangat sebelumnya meskipun dia masih memiliki senyum di bibirnya.
"Kenapa kami harus melakukan ini?" Tanya Aish tidak mengerti.
"Ini adalah hukuman kecil untuk perdebatan kecil kalian tadi." Jawab habib mengingatkan dengan murah hati.
Aish, Dira, dan Gisel yang melakukan perdebatan kecil,"...." Ini jelas ejekan untuk mereka bertiga.
Aish dan Gisel secara kompak melirik Dira, sang pelaku yang mengaku hanya melakukan perdebatan kecil saja. Mulut Dira berkedut malu. Dia menggaruk hidungnya yang tidak gatal untuk menutupi rasa malu.
"Aku hanya dipaksa untuk menjadi juru bicara saja..." Bisik Dira membela diri.
"Kami hanya berdebat kecil, habib. Lagipula kami tidak melakukan sesuatu yang merugikan pondok pesantren." Kata Aish berdalih.
Habib Khalid masih berdiri dengan tenang dan menjawab dengan intonasi suara yang tenang pula,"Perlu diketahui bila perdebatan kecil kalian bertiga sungguh tidak biasa. TKP perdebatan kecil kalian terlihat agak kacau. Kalian merusak tanaman cabe yang siap panen, meninggalkan galian tanah di beberapa tempat, dan berteriak-teriak dengan volume suara tinggi. Jika ku simpulkan dengan baik, daripada mempercayai kalian sedang berdebat kecil, aku malah lebih percaya bila kalian sedang tawuran di sana. Maka dari itu kalian bertiga harus diberikan hukuman ini, karena diantara hukuman pondok, hukuman ini lah yang lebih kayak untuk kalian bertiga." Ulas habib Khalid masih dengan senyuman yang sama. Berbanding terbalik dengan ulasan kejam yang dia sampaikan baru saja.
Aish dan yang lainnya tidak bisa menampik semua yang habib Khalid katakan. Namun bagi Aish sendiri itu bukan salahnya karena menurutnya ini salah dua lainnya. Em, walaupun jauh dari dalam hatinya dia mengakui bila ini memang salahnya juga tapi dia enggan untuk mengakuinya. Dira dan Gisel juga berada begitu. Mereka tahu bahwa mereka juga bersalah. Tapi menurut Dira, Aish lah yang paling bersalah sedangkan menurut Gisel, Dira lah yang bersalah. Jika Dira tidak mengganggu Aish duluan maka kekacauan ini tidak akan pernah terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Pipit Sopiah
suka suka suka suka
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Daripada saling berdebat siaa yang salah baiknya kalian kerjakan aja apa yang di suruh Habib.
2022-12-27
1
Dunia_Hiburan
Istri Kedua Dari Suami Sahabatku...hadir
2022-08-12
0