"Tidak, aku hanya melihat mereka lewat di luar." Kata Gisel membantah.
Dira ber'oh ria dan kembali sibuk.
Gisel mengeratkan genggaman tangannya untuk menghibur diri sendiri, mengalihkan pandangannya dengan kaku menjauh dari pemandangan itu.
Jangan pikirkan cinta lagi, Gisel. Dengan tubuh kotor dan telah terjamah ini, laki-laki sebaik Kak Danis yang bermandikan ilmu agama tidak akan mungkin mau melirik mu. Kamu tidak pantas untuk dia atau laki-laki baik manapun di tempat ini. Bukankah kamu harusnya mengerti ini? Batin Gisel miris, mencela betapa kotor dirinya yang berangan-angan jatuh cinta kepada laki-laki sebaik Danis.
"Allah mungkin tidak menginginkan ini..." Bisiknya malu juga sedih, sedih karena sayapnya telah patah bahkan sebelum dia bisa melebarkan sayapnya untuk terbang melambungkan sebuah harapan.
...***...
Beberapa menit sebelum waktu ashar tiba, ustadzah pengurus perpustakaan telah mengingatkan semua orang agar segera keluar karena perpustakaan akan segera ditutup.
Semua orang yang ada di dalam perpustakaan secara teratur keluar dan kembali ke asrama masing-masing. Sama seperti yang lain, Aish juga ikut keluar dan selalu ditemani oleh Gadis. Gadis sudah seperti ekornya kemanapun dia pergi.
Namun Aish sudah terbiasa karena menurutnya Gadis tidak terlalu buruk untuk mendapatkan sedikit saja kepercayaannya.
"Habis ini kita mau kemana?" Tanya Aish kepada Gadis.
"Kita mau ke asrama untuk mengambil mukena dan mushaf Al-Qur'an. Setelah itu kita akan pergi ke masjid untuk sholat." Jawab Gadis.
Gadis melihat Aish ragu, namun dia tetap bertanya,"Apa Aish mau ikut sholat ke masjid?"
Sudah dua hari Aish di sini dan sudah dua hari pula dia belum pergi ke masjid. Dia selalu menolak pergi ke masjid, sekolah, ataupun ke stan makanan sampai-sampai Gadis bingung menghadapinya.
"Iya dong, aku kan udah jadi santriwati di sini hehehe..." Katanya dalam suasana hati yang baik.
Hari ini aku akan menjadi santriwati di sini tapi besok aku akan menjadi manusia bebas. Hahaha...saat itu tiba, aku akan melarikan diri ke kota yang jauh agar tidak ada yang tahu kemana aku pergi. Batin Aish memikirkan sebuah rencana di dalam hatinya.
Tapi Gadis tidak tahu apa yang dia pikirkan. Gadis malah sangat senang dengan apa yang Aisha ucap barusan. Setelah sekian waktu bersabar menghadapi Aish, dia akhirnya mau mengakui dirinya sebagai santriwati di pondok pesantren ini.
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Kalau begitu kita harus segera kembali ke kamar untuk menyiapkan mukena dan mushaf Al-Qur'an, kemudian kita bisa pergi ke masjid dan mendapatkan saf paling depan." Kata Gadis bersemangat.
Aish sebenarnya ingin bermalas-malasan tapi karena dia sudah terlanjur mengatakannya jadi dia dengan enggan pergi mengikuti.
Di kamar sudah ada mukena yang Aish bawa dari rumah. Mukena itu adalah pembelian Ibu tirinya saat lebaran tahun kemarin, masih baru karena Aish jarang menggunakannya.
"Aku tidak punya Al-Qur'an." Kata Aish santai.
Dia tidak punya, memang ada satu di kamarnya tapi sudah lama ditinggalkan dan berdebu karena Aish tidak pernah membacanya.
"Aish tenang saja, aku punya dua mushaf Al-Qur'an yang masih baru dan belum pernah ku baca." Kata Gadis seraya mengambil mushaf Al-Qur'an kecil di dalam lemarinya.
Mushaf itu masih baru dan ditaruh dengan hati-hati di dalam lemari. Gadis selalu merawat mushaf Al-Qur'an ini agar tidak berdebu dan ingin memberikannya kepada sang adik bila libur nanti. Tapi karena Aish tidak punya maka berikan saja kepada Aish. Dia bisa membelikan adiknya di luar nanti.
Aish melihat mushaf Al-Qur'an itu ragu,"Tapi aku tidak bisa membaca Al-Qur'an." Sebenarnya dia bisa, tapi terbata-bata.
Gadis tidak menyangka bila Aish akan sebobrok ini. Tapi dia tidak menarik niat hatinya,"Aku akan mengajarkan Aish membaca Al-Qur'an di masjid nanti."
Aish tersenyum kaku. Dia sebenarnya tidak ingin membaca tapi Gadis tidak mengerti niatnya. Maka jadilah dia menerima mushaf Al-Qur'an itu dengan enggan.
Setelah mengambil mukena, sajadah, dan mushaf Al-Qur'an. Penghuni kamar satu demi satu pergi ke masjid secara berkelompok. Di luar, Aish langsung merasa takjub melihat lautan santriwati berbondong-bondong menuju masjid Abu Hurairah.
Aish memperhatikan bila beberapa santriwati agak sibuk menggerakkan mulutnya. Ada yang berzikir, bersholawat kepada nabi Muhammad Saw, dan ada pula yang berbicara dengan suara rendah.
Mereka semua memiliki sesuatu di mulut mereka termasuk Gadis, ekor jejadian nya ini entah sejak kapan mulai menyenandungkan sholawat kepada nabi Muhammad Saw.
"Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad..." Samar Aish mendengar kalimat ini terucap dari bibir Gadis.
Aish termenung. Tiba-tiba dia merasakan sentuhan hangat yang bergetar terus menerus di dalam kalbunya. Ada sakit, sesak, dan sebuah perasaan dimana dia tiba-tiba merindukan.... seseorang... apakah nabi Muhammad Saw?
"Ya Muhammad..." Bisik Aish linglung.
Nabi Muhammad Saw, bagaimana mungkin dia tidak tahu siapa laki-laki hebat nan luar ini. Sesungguhnya tidak ada yang sempurna di dunia ini, jikalau pun ada maka jawabannya pasti nabi Muhammad Saw, sang kekasih yang Allah cintai dan kasihi. Dia adalah laki-laki yang rendah hati, penyayang, penyabar, dan memiliki hati yang lembut. Lembut sangat lembut, sampai-sampai dia selalu mendoakan yang terbaik untuk umatnya, mendoakan umatnya agar dimudahkan oleh Allah dalam segala urusan. Aish mengetahuinya dan karena itulah dia semakin tidak menyukai sang Ayah.
Sebab Ayah tidak mengikuti jejak nabi Muhammad Saw, tidak mengikuti kesabarannya, kebaikannya, dan ketegasannya-
"Aish, kita sudah sampai. Ayo kita pergi wudhu- astagfirullah, mengapa Aish menangis?" Gadis berseru kaget melihat Aish menangis.
Aish tercengang, dia buru-buru menghapus air matanya dan langsung masuk ke dalam tempat berwudhu tanpa mengatakan apapun kepada Aish. Di dalam sudah banyak orang yang mengantri, Aish harus ikut mengantri selama beberapa menit.
15 menit kemudian dia keluar dari tempat berwudhu dan tidak sengaja berpapasan dengan Dira serta Gisel.
Tidak seperti dirinya yang selalu diikuti oleh Gadis, mereka berdua terbilang malang karena tidak memiliki teman untuk diajak bicara.
"Ikutlah denganku dan Gadis." Kata Aish sambil melewati mereka.
Mereka tidak mengatakan apa-apa. Walupun di dalam hati mereka sejujurnya kaget, tapi mereka tidak menunjukkannya di wajah masing-masing.
Mereka berempat lalu masuk ke dalam masjid Abu Hurairah. Masjid ini sangat besar dan luas karena menampung banyak jamaah. Kapasitas masjid ini mungkin menembus 20.000 orang melihat betapa luasnya. Aish sendiri belum pernah melihat masjid seluas dan sebesar ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Bundy Icha
subhanallah,,kuasa Allah
2023-04-11
1
Pipit Sopiah
MasyaAllah
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Smoga di masjid ini Aish bisa melihat Habib.
2022-12-27
1