"Apa di sini ada yang bernama Aisha Rumaisha?"
Itu adalah namaku. Batin Aish kaget.
Dia lantas berdiri dari duduknya dan mengangkat tangan untuk menarik perhatian ustadzah di pintu.
"Itu namaku." Katanya kepada ustadzah.
Setelah melihat Aish, ustadzah langsung tersenyum manis. Dia masuk ke dalam kamar dengan tas kain hitam di tangan kanannya dan berjalan menghampiri Aish. Tidak ada yang tahu apa isi tas kain itu tapi barang yang ada di dalam tas kain itu mungkin untuk Aish.
"Seseorang menitipkan makanan ini kepadamu. Dia bilang kamu harus makan ini sebelum pergi ke perpustakaan." Kata ustazah sembari memberikan tas kain itu kepada Aish.
Aish tidak tahu siapa orang itu tapi dia tidak suka diatur olehnya. Dan dia memiliki kecurigaan bila orang itu mungkin suruhan dari Ayah.
"Aku tidak akan ke perpustakaan jadi aku tidak akan memakannya." Paling-paling isinya tempe dan tahu tentang diolah jadi makanan berbeda pikir Aish meremehkannya.
Apapun bentuknya makanan ini pasti dibuat dari dua bahan ini saja. Entahlah, menurutnya pondok pesantren memang pandai berhemat karena memiliki banyak kebutuhan untuk berbagai macam urusan, tapi terlalu pandai berhemat juga tidak terlalu bagus karena imbasnya santri yang menderita. Sebab setiap kali makan mereka harus makan tempe dan tahu.
Ustazah memiliki senyum yang baik dan tidak terganggu dengan penolakan Aish. Senyumnya yang kalem membuat Aish merasa jauh lebih nyaman dan berpikir bila senyum ustadzah lebih tulus daripada Aira yang kemana-mana selalu menggunakan cadar. En, harusnya Aira yang dikirim ke sini dan bukan Aish. Sebab dia jauh lebih membutuhkan ilmu agama daripada dirinya.
"Maaf, Aish. Seseorang itu berpesan jika kamu tidak memakannya dan tidak segera pergi ke perpustakaan, maka kamu akan diminta untuk turun ke area kangkung di sawah sebagai hukuman."
Begitu orang-orang di dalam kamar mendengar ustadzah menyebut kata sawah, mereka langsung berseru kaget sekaligus takut seolah-olah yang akan masuk ke dalam sawah adalah mereka. Ekspresi Aish juga cemberut dan merasa kesal untuk sesaat. Bila dia menolak maka besar kemungkinan bila pondok pesantren akan mendorongnya masuk ke dalam sawah yang berlumpur, ugh...itu pasti sangat menjijikkan dan kotor.
"Dia enggak mau makan ustadzah. Dia lebih suka mandi di dalam lumpur daripada pergi ke perpustakaan." Kata Dira tiba-tiba menarik perhatian semua orang.
Rata-rata orang di kamar ini tahu bila hubungan Aish dengan dua anak kota lainnya agak terlalu dingin. Mereka jarang berbicara tapi sekalinya berbicara, kamar Aisyah Ra tempat mereka tinggal akan sangat ribut.
Aish memutar bola matanya tidak perduli dengan provokasi norak Dira. Dia juga tidak senang dengan biawak jejadian ini tapi saat ini keadaannya tidak mendukung karena dia membutuhkan bantuan Dira dan Gisel.
"Anak-anak kota ini sangat sulit diatur. Mereka suka berdebat dan membuat masalah di sini. Jika begini terus poin kamar kita akan dikurangi banyak." Bisik Siti kepada teman di sampingnya.
Pondok pesantren punya peraturan bahwa setiap setahun sekali akan ada penghargaan untuk 3 kamar yang memiliki poin paling banyak dan memiliki disiplin yang tinggi. Hadiahnya sangat menguntungkan dan menjadi incaran banyak santri karena itulah setiap ketua kamar menertibkan kamar yang mereka masing-masing pimpin.
Aish mendelik jengkel kepada Siti. Anak kolot ini telah merusak moodnya dua kali.
"Jangan dengarkan biawak itu ustadzah. Aku mau kok makan dan pergi ke perpustakaan." Katanya dengan lantang seolah mengumumkan bila dia adalah anak yang tidak sulit diatur.
Selain itu Aish juga kasihan kepada Gadis karena belum makan, oleh karena itu dia tidak menolak makanan itu.
"Baiklah, ini makanannya. Bila kamu sudah menyelesaikannya bawa saja kotak bekal ini ke kantor staf asrama putri. Lokasinya tidak jauh dari masjid Abu Hurairah."
Setelah ustadzah memberikan tas kain itu kepada Aish, dia segera pergi dan kembali ke kantornya untuk bekerja.
Begitu ustazah pergi, orang-orang di dalam kamar menatap tas kain yang ada di tangan Aish dengan penasaran. Mereka ingin tahu tapi tak berani bertanya.
Terutama Siti. Orang yang tidak bisa menahan mulutnya ini tidak bisa mengalihkan matanya dari tas kain Aish.
Aish tersenyum dingin, dia tahu betul bila Siti menginginkan makanannya.
"Gadis, kemari lah. Ayo makan bersama." Panggil Aish.
Gadis terkejut Aish mengajaknya makan. Dia memang lapar sebelumnya tapi Aish memberikannya uang satu juta, Dira juga memberikannya dua bungkus roti, dan Gisel bahkan memberikannya sebotol susu coklat. Karena menerima banyak hadiah rasa laparnya perlahan terlupakan karena kegembiraan di dalam hatinya.
"Aku...aku sudah punya roti." Kata Gadis.
Tapi Aish tidak mendengarkan dan menarik Gadis duduk di ranjangnya. Dia lalu membuka tas kain itu, mengeluarkan satu kotak bekal makanan ukuran besar dan sebotol air putih. Melihat ukuran kotak bekal ini mulut Aish berkedut tanpa sadar karena menurutnya dia tidak terlalu rakus kalau soal makanan. Jadi ukuran ini terlalu besar untuknya.
Aish meremehkan isinya, namun saat dia membuka tutup bekal, wangi lezat langsung menguar ke udara. Ada 4 macam lauk di dalamnya dengan nasi kuning yang masih hangat. Ada sambal telur puyuh, suwir ayam dengan bumbu merah, tiga perkedel pipih, dan tumis sayuran yang memiliki wangi menggoda. Ini adalah masakan rumahan yang telah lama dirindukan para santriwati di kamar ini.
"Wah, kayaknya enak, nih. Aku boleh gabung, enggak?" Dira dengan tanpa malu berjalan mendekati Aish.
Matanya tampak serakah saat melihat makanan di dalam kotak bekal Aish.
"Enggak boleh, makanan ini enggak cocok buat biawak." Kata Aish ketus.
Wajah Dira langsung sembelit,"Kalau biawak aja enggak cocok, apalagi kadal yang badannya kecil. Kamu enggak usah gitu, dong. Sesama anak rantau harus saling membantu."
Aish mendengus jutek. Dia menggeser tempat duduknya tanpa bicara agar Dira bisa duduk. Setelah itu tanpa mengatakan apapun dia mulai mengambil sesuap nasi. Begitu makanan itu masuk ke dalam mulutnya, Aish tertegun. Bulu matanya bergetar ringan terjebak dalam nostalgia.
Kenapa makanan ini mengingatkan ku pada makanan yang Nabila berikan kepada ku beberapa waktu lalu? Batin Aish bingung.
"Kenapa? Enggak suka, yah? Makanannya buat aku aja kalau enggak suka." Dira langsung jatuh cinta dengan makanan ini begitu masuk ke dalam mulutnya.
Aish memutar bola matanya jengkel. Dia menendang kaki Dira agar menutup mulutnya dan fokus makan.
Dira mendelik kesal tapi tidak berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia seperti orang yang belum makan berhari-hari. Sedangkan Gadis makan dengan kalem dan pelan di samping Dira. Dia tidak terburu-buru dan terkesan lambat saat makan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Pipit Sopiah
lanjut lagi, makin menarik aja
2023-02-25
0
fraa
makin kuulg baca dri awal, ko aku mikirnya malah sia aish ini mmg bukn org biasa kyk sarifah jugaaa😆😆😆 di book 1 pun kan, aish awam agama gtu misalnya, tpi kok dia bisa merasakan ada yg melihatnya scra diam². hayolo
2023-01-16
0
Baihaqi Sabani
baca ini ap hrus bca crta bidadari surga dunia dlu y thor biar nymbung🤦🤦🤦
2023-01-05
0