"Kak Khalid?" Bisiknya terkejut.
"Siapa kak Khalid?" Tanya Dira ketika melihat reaksi aneh Aish.
Suara Dira tidak kecil saat bertanya dan bisa dipastikan bila orang-orang selain mereka juga mendengar pertanyaannya. Aish terlambat mengingatkan Dira jika ada orang lain di sini bersama mereka.
"Dira, jangan-" Aish tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Dira sudah terlanjur berbicara.
Dira merasa ada sesuatu yang salah. Dia menutup mulutnya bingung dan tidak berani berbicara lagi. Namun sudah terlambat untuknya karena orang-orang di luar sana telah mendengar pertanyaannya.
"Siapa? Keluar!" Ada suara lain lagi.
Suara itu terdengar dingin dan tegas, berbanding terbalik dengan suara lembut nan berat yang Aish dengar pertama kali. Aish menundukkan kepalanya berpikir. Dia menebak bila habib Khalid tidak sendirian di sini. Tentu saja, jika tidak dengan siapa habib Khalid berbicara sebelumnya?
"Ada orang di sini!" Bisik Dira panik.
Aish dan Gisel saling menatap, mereka berdua menghela nafas lembut di hati masing-masing. Jika bisa mereka ingin sekali menarik rambut Dira dan mencelupkannya ke dalam lumpur untuk memuaskan kemarahan mereka berdua. Di dalam hati mereka kompak berpikir bila Dira adalah anak yang paling rendah penjagaannya.
Tua putri benar-benar layak dengan julukannya. Batin Gisel mendesah tak berdaya.
Sedangkan Aish sendiri meratapi ketidaksiapan hatinya bertemu dengan habib Khalid. Bila orang itu memang benar habib Khalid, maka pertemuan pertama mereka setelah sekian lama berpisah benar-benar sial karena mengapa harus bertemu lewat skenario ini?
Aku tidak mau terlihat buruk di depan kak Khalid! Batin Aish merana di dalam hatinya.
"Tidak mendengar juga? Keluar atau aku akan akan siram dengan genangan lumpur di sini biar kalian keluar?!" Ancam pihak lain masih gencar menekan mereka berdua untuk segera keluar.
Aish, Dira, dan Gisel langsung panik mendengar kata lumpur disebutkan. Mereka adalah orang-orang kota yang paling anti pada hal-hal yang berbau kotor apalagi menjijikkan. Terutama lumpur. Membayangkan genangan lembek lumpur hitam menyentuh kulit mereka yang telah dirawat baik dan mahal, mereka bertiga spontan histeris keluar melarikan diri dari persembunyian.
Mereka secara membabi-buta keluar dari semak-semak pohon cabe dan pohon jagung. Namun begitu keluar, merdeka secara intuitif saling dorong siapa yang berdiri paling depan dan berebutan siapa yang berdiri paling belakang.
"Ternyata beberapa santriwati." Kata pemilik suara dingin itu.
Aish, Dira, dan Gisel sama sekali tidak malu berhadapan dengan lawan jenis karena mereka pada dasarnya telah biasa dibesarkan dengan cara kota di kota.
Jadi, saat Aish mengangkat kepalanya dan tidak sengaja bertemu pandang dengan laki-laki tinggi nan tampan dengan senyuman merekah di bibirnya, perlawanan Aish untuk berdiri di barisan belakang langsung menghilang. Dia berdiri mematung di tempat, menatap linglung sosok laki-laki yang telah membuatnya kesepian beberapa waktu ini.
"Kak Khalid....ini ternyata kak Khalid." Bisik Aish shock.
Habib Khalid segera mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk mengindari fitnah, tak pelak, sikap ini membuat Aish langsung kecewa. Dia pikir habib Khalid enggan melihatnya. Sikap ini sama dengan sikap terakhir kali habib Khalid tujukan kepadanya sebelum dia menghilang dari pandangan Aish.
"Buat satu saf, jangan saling mendorong." Kata laki-laki dingin itu memerintahkan.
Dira dan Gisel tidak bisa membuat ulah lagi. Mereka dengan patuhnya berdiri sejajar dengan Aish.
Dira diam-diam melihat kedua laki-laki di depannya ini. Menurut penilaiannya mereka berdua laki-laki yang tampan. Sejauh ini dia belum pernah melihat laki-laki yang jauh lebih tampan dari mereka berdua. Terutama laki-laki dengan senyum merekah di bibirnya itu. Pesonanya sangat meneduhkan dan Dira tanpa sadar merasa nyaman melihatnya.
Jika dia memiliki seorang saudara di dunia ini, maka terlintas di pikirannya bila laki-laki ini adalah kandidat terbaik sebab keluarganya tidak mampu memberikannya kasih sayang maka laki-laki yang murah senyum ini pasti bisa memenuhinya.
"Tidak pantas. Tundukkan pandangan kalian untuk menghindari fitnah!" Tegur laki-laki itu dingin.
Aish enggan. Dia hanya ingin melihat habib Khalid saja. Tapi melihat orang yang disukai ternyata enggan menatapnya, maka Aish secara alami menundukkan kepalanya sedih. Dia tiba-tiba merasa teraniaya.
Dira tidak suka diperintah tapi laki-laki memiliki ekspresi yang sangat dingin dan tidak bersahabat jadi dia tidak berani berbicara, menundukkan kepalanya dengan perasaan jengkel.
Sedangkan Gisel sendiri sudah lama menundukkan kepalanya tanpa disuruh. Dia tahu siapa pemilik suara ini dan karena itulah dia tidak berani menatapnya. Takutnya Danis mengenalinya sebagai penguntit di perpustakaan tadi siang.
"Apa yang sedang kalian bertiga lakukan di sini?" Tanya habib Khalid dengan intonasinya yang lembut dan ramah.
Aish mengintipnya sekali lagi, namun dia kembali kecewa karena habib Khalid sama sekali tidak memperhatikan keberadaannya. Dia mendengus sedih dan memilih untuk bungkam.
Tidak ada yang berani berbicara, atau tepatnya mereka bertiga punya keluhan masing-masing di dalam hati sehingga tidak ada yang mau berbicara.
Karena tidak ada yang mau berbicara, Danis meminta izin kepada habib Khalid untuk bertanya kepada salah satu santriwati nakal ini.
"Kamu yang ditengah, jawab pertanyaan habib Thalib. Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Tanya Danis langsung kepada Dira.
Dira merutuki kesialannya. Di antara semua posisi kenapa dia harus berada di tengah?!
"Kami..." Dira memejamkan matanya berpikir.
Di saat-saat kritis begini kepalanya sangat lambat mencari solusi.
"... datang untuk jalan-jalan sore." Kata Dira asal-asalan.
Aish dan Gisel kompak meliriknya dari sudut mata. En, mereka lagi-lagi sepakat bila Dira sungguh tidak bisa diandalkan dalam persentase diskusi kelompok.
Ekspresi habib Khalid dan Danis sama sekali tidak berubah saat mendengar jawaban asal-asalan Dira.
"Apakah pondok pesantren mengizinkan kalian pergi jalan-jalan jam segini? Bukankah waktu ini digunakan untuk pulang ke asrama dan membersihkan diri sebelum kembali ke Masjid untuk sholat magrib?" Tanya Danis masih dengan nada yang dingin.
Aish, Dira, dan Gisel juga tahu ini jadi mereka tidak membantahnya. Mereka secara kompak terdiam dalam keheningan yang menegangkan. Aish dan Gisel dilema dalam sebuah perasaan, namun Dira sendiri sibuk membayangkan lelehan lumpur gelap mengotori tubuhnya.
"Apakah kalian bertiga santriwati yang baru masuk beberapa hari ini?" Akhirnya habib Khalid bertanya dan secara tidak langsung mengungkapkan identitas mereka.
Danis diam-diam menganggukkan kepalanya mengerti. Pasalnya wajah mereka bertiga sangat asing. Bahkan sekalipun dia tidak bisa mengenali wajah semua santriwati di pondok pesantren ini tapi dia masih bisa mengenalinya dari cara berpakaian dan tingkah laku mereka sebagai santriwati.
Bersambung...
Maaf, ada kesalahan. 1 jam lagi update chapter selanjutnya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Astri
jangan smpai dira ntar saimgan sm aish
2024-08-11
0
Pipit Sopiah
aish sabar habib khalid lagi ngintrogasi
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Pertemuan pertama yang tidak menyenangkan dan di waktu yang tidak tepat.
2022-12-27
2