Gisel berdiri di sudut rak yang dekat dengan jendela. Di sampingnya Dira sedang duduk sambil memegang sebuah buku kuning dengan ogah-ogahan dan hanya melihat-lihatnya saja tanpa niat membaca. Ehem, bukannya dia tidak berniat membaca buku ini. Meskipun dia rada malas tapi kalau disuruh baca atau belajar, dia pasti tidak akan menolak. Tapi sayangnya dia tidak mengerti bahasa Arab sedikitpun dan tidak bisa membaca bahasa Arab gundul. Setiap kali matanya bertemu dengan huruf-huruf Hijaiyah tanpa baris ini, hatinya akan mendesah tak berdaya karena tidak bisa membacanya.
Mereka berdua sudah seperti ini sejak setengah jam yang lalu setelah berdiskusi dengan Aish. Mereka awalnya ingin berbaur dengan santriwati yang lain tapi mereka lupa satu hal jika mereka belum memiliki teman di tempat ini. Maka jadilah hanya berdua saja di pojokan.
Bosan dengan lingkungan di sekitarnya, Gisel lalu membawa pandangannya menatap ke arah luar. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat lingkungan pondok pesantren yang agak terisolasi dari santriwati. Benar, jauh di sana berdiri sebuah gerbang tinggi, pembatas asrama santri agar tidak dimasuki oleh lawan jenis.
Gisel menatapnya sebentar dan fokusnya sudah berpindah pada pejalan kaki di luar. Mereka kebanyakan adalah para santri yang pergi entah kemana. Berjalan dengan celana cingkrang warna hitam, peci putih dan pakaian lengan panjang bebas. Setiap dari mereka berjalan dengan beberapa kelompok orang. Ketika mereka berpapasan dengan santriwati, mereka langsung menutup mulut dan menundukkan pandangan, pihak santriwati pun sama. Mereka tidak berbicara dan langsung menjaga pandangan.
Pemandangan ini begitu menenangkan hati. Gisel tanpa sadar tersenyum dan mulai berandai-andai di dalam hatinya. Seandainya dia tidak bodoh melepaskan kehormatannya hanya demi cinta sesaat dan seandainya dia tidak bodoh mengkhianati sahabatnya, maka mungkin suatu hari nanti dia pasti akan merasakan ketenangan hati yang para santriwati itu rasakan.
Tapi sayangnya dia bodoh. Bodoh hingga membuat dirinya tidak berharga dan tidak berguna lagi. Inilah yang membuatnya enggan masuk ke tempat suci ini. Tempat dimana pendosa seperti dirinya tidak layak untuk masuk.
"Assalamualaikum... Kak Danis." Sapaan lembut para santriwati menarik Gisel dari lamunannya.
Dia tersadar. Di luar sana ada segerombolan santriwati yang menundukkan kepala dengan malu-malu. Beberapa santriwati memiliki reaksi yang sangat jelas. Pipi merona dan pupil mata mereka bergetar ringan mengintip beberapa santri di seberang jalan setapak. Di sana berdiri beberapa santri tapi yang paling mencolok adalah laki-laki tinggi dan tampan yang berdiri paling ujung.
Tidak seperti santri biasanya yang Gisel lihat selama beberapa waktu ini, santri tinggi dan tampan itu justru terkesan dingin dan jutek. Perhatian beberapa gadis jatuh kepadanya tapi dia seakan tak merasakannya apapun. Dia berdiri teguh di posisinya. Kelopak matanya merendah menatap tanah berdebu di bawah tanpa goyah.
"Kak Danis?" Gumam Gisel sambil memperhatikan laki-laki tinggi itu.
Seolah merasakan tatapan ingin tahu Gisel, Danis tiba-tiba mengangkat kepalanya dan melihat ke arah jendela tempat Gisel berdiri. Gisel terkejut, dia langsung mengalihkan pandangannya dari Danis.
Bug
Bug
Bug
Tangannya menyentuh dadanya, merasakan debaran jantung yang menggema kuat di dalam pendengarannya. Apa yang sedang terjadi?
Dia bingung dan tidak asing dengan reaksi ini. Hanya saja dia tidak mengerti mengapa reaksi ini lebih intens dan kuat daripada yang pernah dia rasakan dulu?
"Kamu kenapa? Wajah kamu kok merah banget?" Tanya Dira gugup.
Awalnya tadi Dira sibuk balik-balik halaman kitab, tiba-tiba pundaknya merasakan beban berat. Dira tidak suka dan ingin menepis tangan Gisel. Tapi saat dia menoleh ke arah Gisel, dia terkejut melihat wajah merah Gisel. Takutnya Gisel jatuh sakit dan tak kuat menyokong beban tubuhnya sendiri.
"Aku.." Gisel baru menyadari kalau dia sekarang bertumpu pada pundak Dira.
Lututnya lemas dan masih gemetar ringan. Sensasi luar biasa ini membuat Gisel ketakutan tapi disaat yang sama kecanduan.
"Kamu sakit?" Tanya Dira hati-hati.
Gisel menggelengkan kepalanya. Dia menjelaskan pundak Dira dan berdiri tegak kembali.
"Maaf, aku mengganggumu." Kata Gisel tidak berani menatap mata Dira.
Dira melihat sikap hati-hati Gisel, menilai bila Gisel baik-baik saja, dia lalu melanjutkan acara membalik-balik halaman kitab di tangannya.
"Tidak masalah. Carilah tempat duduk untuk beristirahat." Kata Dira sembari bangun dari duduknya.
"Aku akan mencari buku yang agak manusiawi. Kamu duduk dan tunggulah aku di sini." Kata Dira kepada Gisel.
Dira pergi ke arah rak dimana dia mendapatkan kitab ini. Menaruh kitab itu kembali ke tempatnya semula, dia berpura-pura sibuk mencari kitab yang lain sambil mengawasi Gisel dari sudut matanya.
Gisel masih berdiri canggung di tempat tanpa berniat menduduki kursi Dira. Dia tidak berani duduk di sana walaupun Dira sudah menyuruhnya duduk. Gisel merasakannya bagaimana tatapan Dira kepadanya dan dia tahu mungkin Dira tidak menyukainya. Karena Dira tidak menyukainya, dia tidak berani melakukan tindakan aneh di depan Dira. Takutnya Dira akan semakin menjauhinya disaat dia tidak memiliki siapapun di tempat ini.
"Dia tidak terlalu buruk..." Gumam Dira melunak.
Dia menghela nafas, mengambil buku secara acak dan kembali ke tempat semula.
Sedangkan Gisel sendiri masih di tempatnya berdiri. Dia meremat tangannya gugup karena dilema. Ingin sekali dia melihat Danis, seniornya di pondok pesantren tapi dia juga tidak berani. Takutnya Danis menyadarinya keberadaannya di sini dan menganggapnya sebagai penguntit.
Tapi dia sudah terlanjur penasaran, jadi dia mengintip Danis dengan hati-hati. Aneh, kelompok itu masih ada tapi Danis sudah tidak ada di sana lagi. Gisel mengigit bibirnya kecewa, dia melihat ke sana kemari dan tidak menemukannya, sampai dia melihat sosok tinggi itu berdiri di pinggir jalan dekat pohon rindang yang jaraknya agak jauh dari kelompok itu.
Danis sedang berdiri dengan dua orang santriwati. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu karena kedua santriwati itu memberikan sebuah catatan buku kepadanya.
"Kak Nasha dan Kak Fani?" Gumam Gisel mengenal kedua santriwati itu.
Nasha adalah ketua kedisplinan asrama putri di pondok pesantren ini sedangkan Fani adalah anggota kedisplinan asrama putri. Semua orang mengenal mereka karena kedisplinan asrama putri sangat bergengsi di asrama putri dan dibina langsung oleh staf pondok pesantren. Saat Dira sedang rusuhnya ingin melarikan diri dari sini, Nasha dan Fani lah yang paling banyak menangani Dira, jadi mau tidak mau Gisel juga akan mengenalinya.
"Ada apa? Dua nenek sihir itu ada di sini juga?" Dira sangat membenci dua orang ini karena sering menggagalkan pelariannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments