Habib Khalid dan Danis awalnya sibuk berdiskusi kebun mana yang akan mereka garap terlebih dahulu. Di tengah-tengah diskusi mereka terganggu dengan suara teriakan yang berasal dari jalan yang dilewati oleh beberapa santriwati nakal tadi. Mereka penasaran dan langsung mendatangi sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka begitu melihat pemandangan menakjubkan ini. Selama mereka hidup, mereka tidak pernah melihat pertengkaran seheboh yang dilakukan oleh Aish, Dira, dan Gisel. Berteriak-teriak sambil melemparkan tanah, tidak terbayangkan betapa hancur penampilan mereka bertiga saat ini.
Mulut habib Khalid dan Danis berkedut saat melihat lubang di gali oleh tangan-tangan itu, mereka juga tidak tahu apakah harus merasa ironis dengan penampilan mereka yang kacau atau justru tertawa karena penampilan mereka juga memiliki sisi lucu.
"Ekhem." Tegur habib Khalid dengan suara rendahnya yang dalam.
Namun mereka bertiga tidak mendengarnya dan terus saling melempar.
"Mau sampai kapan kalian bertiga begini terus?" Tegur habib Khalid serius.
Suara habib tidak keras tapi sangat berpengaruh untuk mereka bertiga. Gerakan tangan mereka membeku, lalu kepala mereka berputar dengan kaku menatap ke arah sumber suara. Di atas telah berdiri habib Khalid dengan senyumnya yang ramah dan Danis yang selalu memasang wajah datar.
"Ha...ha..." Dira dan Gisel sontak mundur membentuk garis saf sejajar dengan Aish.
Aish tercengang di tempat. Kedua tangannya yang menggenggam tanah perlahan menjadi lemas, tanah jatuh ke bawah tanpa dia sadari.
"Kak...kak Khalid?" Panggil Aish kaget.
Mendengar panggilan Aish, kening Danis segera mengerut tidak senang. Tidak ada siapapun di pondok pesantren yang berani memanggil habib Khalid dengan panggilan 'kak' apalagi sampai menyebut nama lain habib Khalid seperti panggilan intim untuk orang yang telah lama berhubungan.
"Tidak sopan. Panggil habib Thalib dengan sebutan habib atau habib Thalib dan jangan gunakan sebutan 'kak Khalid'." Tegur Danis kepada Aish.
Aish bingung kenapa dia harus mengubah nama panggilannya. Tapi dia tidak mendebat Danis karena habib Khalid sendiri tidak mengatakan apa-apa untuk membantahnya.
Kak Khalid sendiri bilang aku boleh memanggilnya 'kak Khalid', tapi kenapa orang ini sok ngatur-ngatur aku? Batin Aish tidak mau.
Habib Khalid tidak memberikan komentar apa-apa mengenai permasalahan panggilan. Sikapnya sangat tenang seolah dia tidak mendengar teguran Danis.
Habib Khalid memandangi mereka bertiga dengan rumit. Tangan dan pakaian mereka kotor, jilbab mereka yang sudah miring sekarang jadi compang-camping terlihat berantakan. Selain itu mereka bertiga juga menggali tanah dan mematahkan salah satu pohon cabe di samping, menghela nafas panjang, habib Khalid diam-diam mengagumi daya serang mereka sebagai seorang santriwati.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" Tanya habib Khalid kepada mereka bertiga.
Aish tidak mau menjawab karena dia sangat malu kepada habib Khalid. Ada juga kekecewaan di dalam hatinya karena habib Khalid berpura-pura tidak mengenalnya. Dia sedih dan merajuk tidak ingin berbicara dengan habib Khalid.
Situasi Gisel juga tidak berbeda dengan Aish. Dia masih malu kepada Danis gara-gara kejadian tadi siang. Meskipun dia tidak tahu apakah Danis benar-benar melihatnya atau tidak di perpustakaan tadi, Gisel tetap merasa malu dan tidak berani menatap Danis.
Dia tidak ingin dikenali oleh Danis.
"Tidak ada yang mau menjawab?" Tanya Danis dingin.
Dira gatal ingin mengambil dua genggam tanah dan melemparkannya kepada Aish dan Gisel. Hatinya kesal karena lagi-lagi yang menjadi juru bicara di sini adalah dia. Namun Dira berpura-pura tuli seperti mereka berdua. Mungkin saja juri bicara selanjutnya bukan dia, hatinya berharap.
"Kamu yang di tengah, jawab pertanyaan habib Khalid." Tunjuk Danis kepada Dira.
Dira,"...." Dia benar-benar membenci posisi tengah.
Mulai dari sekarang dia tidak akan pernah mengambil posisi tengah lagi bila bertemu dengan kedua orang ini. Hatinya berjanji.
"Ini... hanya kesalahpahaman habib. Kami hanya berdebat kecil saja." Kata Dira kalem.
Danis skeptis,"..." Tanah yang digali asal-asalan, pohon cabe yang patah tanpa bisa ditolong, jilbab miring ke sana kemari, dan keadaan mereka yang kacau balau adalah bukti valid bahwa ini bukan sekedar perdebatan kecil saja.
Danis ingin mengatakan sesuatu tapi habib Khalid lebih dulu berbicara.
"Perdebatan kecil, baik. Kalau begitu kalian bertiga ikuti aku." Kata habib Khalid masih dengan senyuman yang sama.
Danis tidak tahu apa rencana habib Khalid dan dia juga ingin tahu tapi tidak bertanya karena ujung-ujungnya dia pasti akan tahu.
Aish, Dira, dan Gisel langsung cemas. Mereka bertiga kompak mengangkat kepala mereka panik.
"Tundukkan pandangan kalian." Tegur Danis.
Aish, Dira, Gisel yang dilanda cemas,"..." Sedetik kemudian mereka langsung menundukkan kepala menatap permukaan tanah dengan ogah-ogahan.
"Habib akan membawa kami kemana?" Tanya Dira panik.
Pertanyaan Dira juga mewakili kecemasan Aish dan Danis.
Habib Khalid tidak langsung menjawab. Dia berbalik membelakangi mereka bertiga dengan postur tubuh yang tenang dan santai.
"Aku ingin kalian melakukan sesuatu." Jawab habib Khalid sambil melangkah ke depan dan diikuti dengan patuh oleh Danis.
Melihat mereka berdua pergi, Aish, Dira, dan Gisel saling memandang. Ragu-ragu, mereka akhirnya mengikuti habib Khalid dan Danis dari belakang. Langkah mereka sempat tersandung beberapa kali karena kain gamis mereka. Terganggu dengan kain gamisnya, Aish langsung mengangkat kain gamisnya agar langkahnya tidak tersandung lagi. Dira dan Gisel secara alami mengikuti langkah Aish. Mereka mengangkat kain gamis dengan satu tangan agar Aish tidak berpikir bila mereka mengikuti gerakannya.
"Habib...jangan bawa kami ke penyi- em, maksudku jangan bawa kami ke kantor. Kami tidak mau dihukum." Kata Dira buru-buru memohon.
Dia sudah sering dibawa ke kantor jadi dia hapal betul hukuman apa yang akan para petugas kedisiplinan asrama putri berikan kepada mereka. Karena dia sudah mengalaminya beberapa kali.
"Tenang saja, ini bukan ke kantor." Kata habib Khalid singkat.
Mendengar jawaban habib Khalid, mereka bertiga kompak menghela nafas lega. Apresiasi mereka kepada habib Khalid di dalam hati naik beberapa tingkat lagi. Seperti yang diduga, orang yang mudah tersenyum adalah orang yang paling masuk akal dan memiliki hati nurani yang lembut.
Hingga sampailah mereka di depan sawah berlumpur. Di dalam sawah itu tumbuhlah kangkung dengan sehat dan subur. Kangkung kangkung itu memiliki warna hijau muda menyala yang menggugah selera makan dan memanjakan mata. Dilihat dari banyaknya daun dan warna daunnya, sayur kangkung ini sudah saatnya dipetik.
"Kita sudah sampai." Kata habib Khalid tanpa berbalik kepada mereka.
Perlahan senyuman di bibirnya berkurang hingga membentuk garis lurus tanpa emosi,"Kalian bertiga turun ke bawah."
Bersambung...
Awalnya ini mau update tadi malam, tapi karena udah kemalaman jadi saya atur aja update pukul 3.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Pipit Sopiah
makin menarik aja nih
2023-02-25
0
Nur Bayani
aduhhhh ngakak aku baca thoorr, udah kayak orang gila aku ketawa sendiri🤣🤣🤣🤣🤣
2023-01-31
0
Ummi Alfa
Masih mending di hukumnya suruh petik kangkung darioada di bawa ke kantor dan yang menghukumnya Ustadzah..
2022-12-27
1