Ketika mereka memasuki asrama santriwati, semua mata hampir tertuju kepada mereka bertiga. Ada yang menahan tawa, heran, bahkan tidak keberatan dengan lumpur lembek yang mengotori sekujur tubuh mereka. Terutama bagi orang yang telah bosan dengan masalah yang disebabkan oleh Dira sendiri, mereka malah merasa senang dengan kemalangan yang terjadi kepadanya dan diam-diam berharap bila setelah ini dia tidak akan membuat masalah lagi untuk pondok pesantren.
Saat mereka bertiga akan masuk ke dalam gedung, langkah mereka bertiga tiba-tiba dihalangi oleh beberapa gadis dengan penampilan lembut namun tegas.
"Kalian tidak boleh masuk." Kata salah satu gadis menghentikan langkah mereka.
Aish melirik gadis itu tidak senang. Wajah berlumpur nya berkerut tidak senang dan tampak tidak terima dihentikan.
"Heh, jangan macam-macam. Mereka adalah staf kedisiplinan asrama putri. Kerja mereka semua mirip kayak OSIS di sekolah." Dira menarik lengan Aish dan membisikkannya sepenggal informasi- sampah ditelinga Aish.
Aish mendengus tidak sabar. Dia semakin tidak senang saat mengetahui bila orang-orang ini adalah petugas kedisiplinan yang sering ditakut-takuti oleh Gadis. Dia pikir mereka adalah sekawanan orang hebat tapi tahu-tahunya mereka hanyalah sekumpulan orang sok benar dan sok mendisiplinkan kehidupan orang. Kesan mereka di dalam hati Aish langsung jatuh. Dia mungkin tidak menghargai keberadaan orang-orang ini.
"Minggir. Kami mau masuk." Kata Aish arogan.
Tampang arogannya sungguh menyebalkan bagi mereka yang melihatnya.
"Maaf, tapi kalian tidak boleh masuk dengan keadaan seperti ini." Kata gadis yang menghentikan mereka dengan senyum sopan.
Nada dan gaya bicaranya sungguh berbanding terbalik dengan Aish. Gadis itu rupanya memiliki kesabaran yang bagus saat berhadapan dengan sikap arogan Aish.
"Kalau kami enggak bisa masuk, terus gimana cara kami ganti baju? Kamu kan lihat sendiri kalau pakaian kami semua kotor?!" Ucap Aish jutek.
Teman-teman gadis itu kompak menghela nafas ketika mendengar nada bicara Aish yang tidak menghormati gadis itu sama sekali. Padahal gadis itu adalah senior di pondok pesantren ini dan sangat dihormati dikalangan santri. Sesungguhnya senior sangat dihormati di pondok pesantren karena para senior lebih tua dalam usia atau lebih dulu mendapatkan ilmu dibandingkan mereka. Namun dihadapan Aish, senior atau staf kedisiplinan tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Mereka sama dan sederajat, jadi dia ogah berpura-pura sopan kepada mereka.
"Kamu bisa meminta teman kamarmu untuk mengambil baju ganti jadi tidak perlu masuk ke dalam. Seperti yang kamu bilang tadi, pakaian kalian kotor maka alangkah baiknya kalian bertiga jangan masuk dulu. Bukan berniat apa-apa tapi pakaian kotor kalian pasti akan mengotori lantai asrama kita." Gadis itu mengabaikan sikap arogan Aish dan menjelaskannya dengan nada sabar nan lembut bila mereka akan mengotori lantai asrama.
Tapi Aish dan Dira menerimanya dengan salah. Mereka berpikir bila orang-orang ini sengaja menyulitkan mereka bertiga di sini. Lihat saja sekarang. Gerbang asrama yang tadinya hanya beberapa orang kini dipenuhi oleh banyak orang. Mereka semua menatap Aish, Dira, dan Gisel dengan pandangan ingin tahu. Dan sekali lagi disalah artikan oleh Aish dan Dira, mereka pikir orang-orang ini sedang menatap mereka seperti badut jalanan.
"Wah, mereka ngehina kita bertiga. Mentang-mentang kita kotor jadi mereka menuduh kita akan mengotori asrama udik ini." Bisik Dira memprovokasi Aish.
Aish juga berpikiran sama. Dia merasa terhina.
"Heh jangan mikir yang aneh-aneh! Mereka enggak maksud gitu sama kita!" Bisik Gisel tidak ingin membuat masalah.
Dibandingkan dengan Dira, Gisel termasuk orang yang tidak suka membuat masalah. Sejak datang ke pondok pesantren dia lebih memilih diam dan menilai apakah ada peluang untuk melarikan diri. Sedangkan Dira sejak awal masuk sudah koar-koar ingin melarikan diri dari pondok pesantren. Masalah yang dia buat di pondok pesantren bagaikan atraksi monyet jalanan yang rusuh. Gisel waktu itu mengganggap Dira idiot karena tidak sabaran.
"Apa-apaan, mereka jelas provokasi kita kok." Kata Dira keras kepala.
Tangan Gisel hampir terangkat ingin mencubit pipi Dira gemas.
"Bahkan kalaupun iya, kita enggak boleh kepancing. Ingat, hukuman pondok pesantren ini enggak main-main. Bersihin kamar mandi aja kita belum kelar masa udah dikasih hukuman lagi?!" Gisel emosi.
Dia enggak mau dihukum lagi gara-gara masalah sepele. Satu hukuman saja belum selesai dan masih harus nambah lagi?
Aish juga berpikiran begitu. Dia enggak bisa membayangkan hukuman apa yang akan mereka dapatkan nanti bila membuat masalah di sini.
"Ish, ini sama aja kita pengecut namanya. Hayolah, kalau mereka mau tawuran, aku siap kok tawuran sama mereka." Kata Dira masih keras kepala.
Kali ini Aish yang tergoda ingin mencubit lambung Dira. Di saat begini, bisa-bisanya dia bercanda pakai bawa-bawa tawuran segala.
"Pantes di kelas kamu selalu rangking 29." Kata Aish asal ngomong.
"Heh, aku pinter-"
"Ini hampir masuk waktu magrib, tapi mengapa kalian semua masih berdiri di luar?" Suara lembut habib Khalid langsung menarik perhatian mereka semua.
Entah sejak kapan habib Khalid ada di sini. Namun melihat kedatangannya yang tiba-tiba dan langka, gelombang santriwati yang ada di sini sontak menundukkan kepala mereka untuk menjaga pandangan. Mereka tertunduk dalam diam, tampak pemalu dan gugup. Beberapa orang yang menunduk diam-diam menahan senyum di wajah merah. Habib Khalid jelas memiliki pesona yang luar biasa untuk santriwati.
"Kak Khalid?" Kaget Aish bereaksi lambat saat melihat habib Khalid ada di sini bersama beberapa laki-laki asing dan gadis tidak dikenal.
Kak Khalid? Batin gadis yang ikut bersama rombongan habib Khalid bingung.
Dia bertanya-tanya mengapa Aish bisa memanggil habib Khalid dengan sebutan intim seperti itu?
"Nunduk meong, kamu mau dapat masalah lagi, yah?!" Dira langsung menekan paksa kepala Aish agar segera menunduk.
Awalnya Dira bingung kenapa mereka harus menundukkan kepala setiap kali bertemu dengan habib Khalid atau laki-laki lainnya. Akan tetapi saat melihat semua santriwati di sini kebingungannya langsung terjawab. Dia mengerti dan langsung menekan kepala Aish agar berperilaku baik.
Pengalaman mengajarkannya bila habib Khalid memang murah senyum dan terlihat sangat baik tapi sebenarnya dia adakah manusia yang kejam. Lihat saja hukuman yang mereka dapatkan. Dia bahkan tidak tanggung-tanggung sangat memberikannya.
"Assalamualaikum, habib dan ustad." Salam semua santriwati dengan kompak.
Habib Khalid dan beberapa ustad yang mengikutinya langsung menjawab salam dengan baik.
Setelah menjawab salam, Nasha, gadis yang ikut bersama rombongan habib Khalid dan para ustad segera bertanya kepada anggota kedisiplinan asrama putri untuk mengkonfirmasi apa yang sedang terjadi di sini.
"Khalisa, apa yang terjadi di sini. Mengapa kalian masih berkumpul di sini dan belum pergi ke masjid untuk bersiap-siap sholat magrib?" Tanya Nasha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 352 Episodes
Comments
Pipit Sopiah
aduh ayo aish cepetan bersihin badanmu
2023-02-25
0
Ummi Alfa
Ayolah.....kalian jangan buat masalah lagi, yang ada hukumannya di tambah.
2022-12-27
1