"Maaf Bu, sepertinya suami anda sedang mengalami mati suri."
Deg...
Penjelasan sang Dokter itu, membuat dunia Markisa berasa berhenti di tempat. Jantungnya seakan mau keluar dari tubuhnya. Semua saraf sarafnya pun melemah begitu saja. Sampai, kaki yang bertulang itu luruh lemas, bersimpuh di lantai.
"Ini tidak mungkin...!" katanya tak percaya dengan vonis sang dokter mengenai keadaan Royco, "Mama... hiks... hiks," sambung Markisa dengan tangisan yang kemudian pergi menghampiri lalu langsung mendekap tubuh Madu.
What! Royco mati suri... ? Tidak... ini semua tidak mungkin terjadi. Madu terus tertegun dengan mata itu menatap tidak percaya tubuh Royco yang terbujur lurus dengan mata itu, yang tak henti-hentinya melihat wajah rupawan sang menantu.
"Ma... bagaimana ini? hiks... hiks... "
Markisa yang tiba-tiba menyadarkan Madu dari lamunannya.
"Kamu tenanglah, Sayang! Mungkin dokter salah, coba biar Mama yang bicara sama dokter itu."
Madu langsung melepaskan pelukan Markisa dari tubuhnya, untuk berlalu pergi menghampiri sang Dokter.
"Dok, coba periksa sekali lagi keadaan menantu ku itu! Siapa tahu dokter salah."
Madu yang tidak percaya pun, meminta sang dokter untuk memeriksa kembali tubuh Royco.
"Maaf ya Bu, saya ini menjadi dokter sudah puluhan tahun loh, tidak mungkin saya salah! Jika Ibu tidak puas dengan cara kerja saya, silahkan Ibu mencari Dokter lain saja! Saya yakin, Dokter lain pun akan berkata hal yang sama mengenai menantu Ibu. Maaf, saya masih banyak pekerjaan! Saya harus pergi, Permisi!" Seru sang dokter dalam hatinya sangat kecewa merasa diragukan kemampuannya oleh Madu.
"Astaga! Bukan seperti itu maksud saya, Dok. Maaf jika ucapan ku sampai membuat Dokter tersinggung. Dok... tunggu Dok. Dokter jangan pergi dulu, saya masih membutuhkan bantuan Anda."
Madu yang berusaha menahan Dokter itu pergi, hanya Terlihat pasrah dengan tangannya yang masih melambai di udara.
Sang Dokter pun sengaja menulikan telinganya, mengabaikan seruan dari Madu yang mencoba menahan langkahnya.
"Huuuu Dokter sialan! Silahkan anda pergi jauh-jauh dari rumah saya. Aku nggak butuh bantuan dari Dokter yang sombong macam Anda!" Batin Madu mengumpat kesal.
"Kak Roy. Ayo, bangun! Hiks... hiks... "
Markisa terus mengguncang-guncang kan tubuh Royco. menangis sedih seraya mendekap tubuh sang suami yang mati suri.
"Sudah, Sayang. Mama yakin kok suatu saat nanti, suami mu itu pasti akan sadar percaya deh sama ucapan Mama."
Sebenarnya Madu pun merasakan hal yang sama seperti Markisa. Dalam hatinya itu ada rasa tidak rela, melihat orang yang didambanya itu sedang terbaring layaknya jasad yang mati sungguhan.
"Bagaimana jika Royco mati sungguhan? Hidup ku akan seperti apa nanti? Baru saja aku merasakan sentuhan tubuh lembutnya, masak sekarang aku harus puasa lagi sih? Enggak... aku nggak mau jika harus puasa lagi. Bagaimana pun caranya? Royco harus kembali melayani hasrat kewanitaanku. Roy cepat lah sadar buatlah diriku kembali merintih di bawah tindihan tubuh mu yang kekar." Batin Madu yang hanya memikirkan nafs*nya saja.
Tetiba Markisa langsung teringat akan mimpinya yang semalam. Mimpi buruk saat melihat sang suami sedang terikat tangan dan kakinya. Terkurung di suatu tempat dengan dinding tak kasat mata sebagai penjaranya.
"Apa jangan-jangan... mimpi itu memberitahukan tentang hal yang akan terjadi kepada Kak Roy? Kak Roy, tetiba mengalami mati suri. Dan makhluk itu? Makhluk yang ada dalam mimpi ku itu, hadir nyata terlihat oleh ku merasuki tubuh Kak Roy. Baiklah aku tahu cara untuk menyelamatkan Kak Roy, " Batin Markisa sudah sedikit paham akan mimpinya itu.
"Ma... aku titip Kak Roy, yah," ucap Markisa, sesaat langsung bisa melupakan kesedihannya saat terjawab sudah arti mimpi yang dialaminya.
"Loh... Memangnya kamu mau pergi kemana, sayang?" tanya Madu penasaran disertai rasa bingung, karena dengan tiba-tiba Markisa menitipkan Royco kepada nya.
"Aku akan pergi kesuatu tempat untuk menemui seseorang Ma, karena aku yakin sekali dengan bantuan orang itu aku bisa menolong kak Roy," terang Markisa dengan keteguhan hatinya.
"Tapi, Iss... ?"
"Sudah dong Ma! Iss nggak punya banyak waktu lagi nih. Iss harus cepat-cepat pergi menemui orang itu sebelum terlambat!" Seru Markisa cepat menserga ucapan Madu.
"Yaelah kamu Iss. Disaat Royco tidak berdaya saja kamu menitipkannya sama Mama. Coba saja kalau Royco keadaannya tidak seperti ini? Mungkin Mama mu akan sangat senang jika harus ditinggal berdua dengannya. Huuuuf... yasudahlah! Apa boleh buat," batin Madu.
"Ma Iss pergi yah," Markisa pun cepat cepat pamit dari sang Mama.
"Yaudah! Kamu hati-hati lah di jalan. Dan cepat kembali lagi," ucap Madu yang memberikan ijin nya.
"Iya Ma... !" Seru Markisa yang langsung berjalan dengan terburu buru pergi melangkah keluar meninggalkan rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
permana2579
ke ponpes tuh 👍🏻
2022-09-11
1