"Dek, aku mau bicara padamu. Ikut aku sebentar ya."
Royco langsung menarik lembut tangan Markisa yang baru selesai cuci piring. Ia membawa istrinya itu ke ruang keluarga. Duduk di sofa saling berhadap hadapan, dengan tangan Royco masih menggenggam sayang tangan kanan Markisa.
"Mau bicara apa sih, Kak? Kok wajahmu terlihat serius sekali." Markisa penasaran.
Sebelum menjelaskan niatnya, Royco lebih dahulu membasahi bibirnya. Lalu menatap lekat wajah ayu sang istri. Ia ragu juga akan membawa Markisa pergi dari rumah bak istana milik Madu, karena sejatinya, Royco itu belum mampu membeli rumah untuk sang isteri. Ia hanya bisa menyewa kontrakan kecil. Akan tetapi, ia harus nekat dari pada nanti Madu semakin gila dalam menggodanya, yang mungkin saja bisa akan menjadi pemicu retaknya keluarga kecil mereka, kan bahaya!
"Dek, kalau Kakak ngajak kamu keluar dari rumah bak istana ini, kamu mau nggak?"
Markisa langsung mencerna ungkapan sang suami dengan dahi mengkirut.
"Maksud, Kakak?"
"Kakak ingin kita berumah tangga mandiri," kelit Royco yang tidak mungkin membeberkan kebusukan Madu tanpa adanya bukti. Nanti adanya, Markisa akan marah padanya karena sudah lancang menjelekkan nama Mama kandungnya yang ketemu gede itu.
"Sayang, bukannya aku nggak mau di ajak hidup mandiri bersama mu. Tapi... Kakak tahu sendiri'kan, jika kita pergi untuk hidup mandiri, nanti Mama sendirian, kan kasihan Mama nantinya." Markisa menolak halus ajakan Royco.
Sesaat Royco pun langsung terdiam, dalam hati kecilnya dia sudah menduga, pasti Markisa tidak akan bersedia.
"Maaf yah kak, tapi aku janji sama kak Roy. Jika suatu saat nanti, Adi sudah bebas dari penjara. Aku pasti bersedia kok diajak hidup mandiri bersama Kakak." Ujar Markisa.
"Iya Dek," ujar Royco dengan senyum sedikit dipaksakan, yang kemudian berlalu pergi, melangkah menuju ke kamarnya.
Sementara Markisa hanya diam, seraya menatap punggung suaminya yang berlalu pergi. Dalam hati kecilnya, merasa sedikit bersalah telah membuat hati Royco kecewa, karena penolakannya itu.
...****...
Hari selanjutnya...
Seperti biasa Markisa bangun lebih awal. Suami tercintanya yaitu Royco akan mengawali hari pertamanya pergi bekerja membantu Mamanya di kantor.
Kendati itu, Markisa begitu bersemangat dalam mempersiapkan segala kebutuhan suaminya untuk pergi ke kantor.
Mulai dari satu stel baju kantor, hingga sepatu pantofel yang menjadi alas kakinya untuk menunjang langkah sang suami pergi bekerja, semuanya Markisa sudah selesai mempersiapkannya.
"Akhirnya selesai juga. Rasanya diri ini sudah tak sabar deh, ingin segera melihat kak Roy mengenakan baju kerjanya. Bagaimana yah penampilannya nanti, Saat suami tercintaku memakainya? Yang jelas pasti dia tampan dan juga gagah." Gumamnya tersenyum senang membanggakan suaminya.
"Oh, iya. Kini giliran aku membangunkan kak Roy," sambung Markisa yang kemudian berjalan pergi menghampiri Royco yang masih tertidur.
"Sayang, ayo bangun hari sudah pagi." Pinta Markisa seraya membelai dengan lembut wajah Royco yang terlihat masih nyenyak dalam tidurnya.
Hmmm...
Royco yang malah memiringkan posisi tidurnya pindah ke sebelah kanan, membelakangi Markisa yang duduk di tepi bed.
"Sayang, ayo bangun. Kamu lupa yah Ini kan hari pertamamu pergi bekerja?" Ujar Markisa seraya sedikit menarik bahu suaminya hingga kembali menghadap kearahnya.
Royco memang membuka matanya, namun ia malah menarik tubuh wangi Markisa sampai berada di dalam pelukannya.
"Dari pada kerja di kantor, lebih baik aku mengerjaimu saja. Bagimana sayang, apakah kamu bersedia?" Ujar Royco dengan alis itu berkedut-kedut mesum.
"Hmmmm, bukankah semalem kak Roy sudah mengerjaiku hingga beronde-ronde? Memangnya enggak cukup puas gitu? Membolak balikan tubuh ku seperti kambing guling, tahu nggak kak? Kakiku sampai gemetaran loh hingga saat ini." Terang Markisa tersenyum dengan tangan itu melingkar manja di leher Royco, yang sedang berada di atas tubuhnya.
"Puas sih, aku sangat puas, Dek. Tapi... yang di bawah sana loh, dia langsung mengacung sombong saja, saat mengetahui lawan mainnya ada di dekatnya." Terang Royco dengan senyum menggoda.
Tanpa mereka sadari, di luar kamar sana. Ada sepasang kuping yang sedang kepanasan saat mendengar percakapan mesum suami istri itu.
"Sial! Tak henti-hentinya, mereka selalu membuat kewanitaanku berkedut-kedut, seakan ingin ditusuk-tusuk hingga becek. Roy, andai saja kamu bisa mengerti tentang keinginan hasrat ini, dan kamu bisa memberikannya meskipun cuma satu ronde saja. Aku pasti akan begitu sangat senang sekali Roy." Batin Madu dengan mulut itu menggigit nakal ujung bibirnya, terlihat mupeng melihat kemesraan kedua pasang suami istri itu.
"Ehemm," Madu pun langsung berdehem, dengan sedikit menyandarkan bahunya di kusen, karena tanpa sadar Markisa tak menutup pintu kamarnya, saat masuk untuk membangunkan sang suami.
Seakan tindakan Madu itu sengaja, ingin menggagalkan permaianan mesum yang akan dilakukan oleh pasangan suami istri itu di depan matanya.
"Astaga! Ternyata aku lupa menutup pintu kamar kita kak," gumam Markisa dengan menatap kaget ke arah Mamanya.
"Kalau mau melakukan hubungan suami istri, sebaiknya tutup dulu pintu kamarnya, Iss. Syukur Ibumu ini yang melihatnya, coba kalau orang lain? Kamu bisa malu nantinya." Terang Madu yang sebenarnya, dirinya merasa sangat kesal, cemburu selalu saja menghantuinya, saat melihat kemesraan yang ditunjukan oleh anak serta menantunya itu.
Namun, Madu mencoba menutup rapat-rapat rasa tidak sukanya itu, karena tak ingin diketahui oleh Markisa.
"Iya Ma, maaf." jawab Markisa dengan tertunduk malu.
Sementara Royco terlihat masih terbaring di atas bed, dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya hingga kepalanya saja yang nampak.
Dalam hatinya, Royco tersenyum jumawa karena sekali lagi kemesraan yang dibuatnya terlihat oleh Madu. Dan dengan itu, Royco berharap banyak pada Ibu mertuanya, agar dia bisa secepatnya sadar kalau keniatannya itu sangatlah salah besar.
"Ya sudah, Mama pergi dulu." Pamit Madu seraya mata itu melirik ke arah Royco.
"Iya, Mah." Jawab Markisa yang kemudian berjalan mengekor di belakang Mamanya, untuk mengantar keluarnya sang Ibu sekaligus menutup pintu kamarnya.
Ceklekk...
Markisa langsung menutup pintu kamarnya setelah sang Mama keluar.
"Kak, Roy mandi gih. Agar nanti kakak tidak terlambat pergi ke kantor. Bisa kena semprot loh sama Mama kalau terlambat nanti." Ujar Markisa memperingatkan.
"Oke deh, istriku tersayang." Jawab Royco yang kemudian meraih handuk, setelahnya berlalu pergi ke kamar mandi.
Sementara Royco Mandi, Markisa langsung merapikan tempat tidur itu. Setelahnya, Markisa pun pergi ke ruang makan menyiapkan sarapan pagi untuk suami serta Mamanya di bantu oleh Bibi yang menjadi ART di rumah itu.
Di dalam kamar mandi, Royco sengaja melama lamakan waktunya untuk mandi, Ia sangat malas persinggungan dengan Madu di meja makan.
"Hah...apakah aku kuat menahan kesal setiap Madu bertingkah?" Di bawah shower, Royco berpikir keras namun ia sama sekali tidak menemukan cara untuk menghentikan niat busuk Madu, kecuali Markisa mau di ajak pergi dari hidup Mama sedengnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Nia Elva Melinda
lebih baik jujur aca roy ke markisa,
2022-08-07
2