Bab 10

"Itu soal gampang. Yang terpenting, Neng harus membayar maharnya dulu," ucap Dukun dengan nada meremehkan.

"Oh... soal duit? Itu hal yang sangat mudah bagi saya, Mbah. Berapa, Mbah? Berapa yang Mbah minta dari saya?" Ucap Madu seraya mengacak-ngacak isi dalam tasnya, berusaha meraih satu amplop tebal berisikan lembaran uang kertas yang bergepok-gepok. Sengaja ia sudah siapkan untuk hal itu.

"Ini cukup nggak, Mbah?" tanya Madu seraya menyodorkan amplop tebal di hadapan dukun itu.

Sang Dukun pun meraih amplop yang Madu sodorkan, kemudian Dukun itu langsung membuka amplop untuk melihat isi dalamnya.

Namun, sang Dukun hanya terkekeh kecil saat melihat uang dalam amplop itu. Sang Dukun justru menyodorkan kembali amplop itu kepada Madu Sehingga membuat Madu dan Sita langsung terheran, merasa bingung dengan Dukun itu.

"Kenapa, Mbah? Apakah uang sebanyak itu masih kurang untuk bisa menebus maharnya?" tanya Madu yang penasaran dengan tingkah Dukun itu yang menyodorkan kembali amplop itu kepadanya.

"Iya, Mbah. Kenapa apakah uang itu tidak cukup?" Sambung Sita yang tak kalah penasaran dengan Madu.

"Ambilah uang itu kembali, karena bukan itu alat untuk menebus maharnya," terang Dukun itu dengan nada berat. Bau mulutnya pun berhasil menerpa hidung Madu membuat mertua Royco yang cantik segar itu menjadi mual.

"Howeeek," Madu pun ingin sekali memuntahkan isi dalam perutnya, karena aroma busuk mulut si Dukun. Namun, dengan sesegera Madu langsung menahan menutupi mulutnya dengan tangan. Ia tidak mau terkesan kurang ajar.

"Ibu kenapa?" tanya Sita terheran saat melihat Madu yang terlihat pucat, karena menahan rasa muntahnya.

"Aku nggak apa-apa, Sit. Aku rasanya ingin cepat keluar dari ruangan ini." Madu berbisik pelan ke telinga Sita, sehingga membuat Sita mengangguk paham.

"Baiklah, Mbah, kalau uang itu tidak bisa menebus mahar yang Mbah minta. Jadi apa yang Mbah minta untuk bisa menebus mahar itu?" Tak mau berlalama-lama Sita pun bertanya ke Dukun itu, mengenai cara untuk menebus maharnya.

"Tubuh dari wanita ini. Tubuh dia yang menjadi alat untuk menebus maharnya." Terang Dukun itu seraya tangannya menunjuk ke arah Madu.

Sontak saja membuat Madu dan Sita terkesiap kaget.

"Apa... ? Tu--tu--tubuh saya?" Madu yang kaget, terlihat langsung tergagap.

"Iya tubuh Neng. Neng yang mempunyai hajat' kan? jadi Neng pula yang harus rela mengorbankan tubuhnya demi bisa menebus mahar itu." Modus Dukun itu berbohong, karena dari awal pikiran cabul itu sudah ada di dalam otak mesumnya, saat melihat wajah cantik dan kulit tubuh bening milik Madu.

Owh ****! Dasar Dukun cabul, jangan-jangan... ini cuma akal-akalan mu saja, yang ingin bisa menyentuh tubuhku. Tak sudih yah jika tubuh indah ku kau sentuh, bau mulut mu saja aku sudah merasa mual. Apalagi bau keringat tubuh mu, ihhhh amit-amit! Jangan sampai deh tubuh indah ku ditindih oleh Dukun cabul itu, batin Madu jijik.

"Bagaimana ini Bu? Apa yang harus kita lakukan. Dukun itu meminta tubuh Ibu untuk menebus maharnya, apakah Ibu bersedia memberikannya?" Tanya Sita berbisik pelan di telinga Madu.

"Ogah! Aku nggak rela jika tubuh saya ditindih oleh Dukun cabul itu. Menjijikan sekali! Ayo Sit, sebaiknya kita cepat-cepat pergi dari tempat ini. Pirasatku sudah nggak enak, tak baik jika berlama-lama di tempat ini." Terang Madu balas berbisik ke telinga Sita.

"Baik, Bu." Sita yang langsung beranjak berdiri. Sementara Madu langsung mengambil amplop yang ada di meja, dimasukan amplop itu dengan cepat.

Melihat gelagat aneh dari dua wanita itu, Dukun itupun tak tinggal diam. ia langsung mencoba menghentikan Madu dan Sita yang ingin pergi dari rumahnya.

"Eits... mau kemana kalian berdua? Perlu saya ingatkan! Tak ada satupun orang yang bisa keluar dari rumah saya, setelah orang itu berhasil masuk. Jadi saya harap kalian berdua jangan pergi dari tempat ini, karena hal itu akan sangat sia-sia jika kalian mencoba pergi dari rumah ini." Terang Dukun itu dengan aura menyeramkan.

"Bagaimana Ini, Bu? Dukun itu sepertinya tidak akan membiarkan kita pergi dari tempat ini." Sita yang terlihat begitu takut dengan Dukun itu, langsung menggapitkan tangannya ke lengan Madu.

"Halaaaa... persetan dengan itu semua! Saya sudah sangat muak dengan ulah Dukun cabul itu! Jadi jangan hiraukan gertakan dia, Sit. Ayo Sit, tinggalkan Dukun itu. Kita cepat pergi dari sini." Ucap Madu dengan Nada kesal, yang kemudian memutar badannya pergi menuju pintu keluar.

"Dasar keras kepala! Tak semudah itu kalian pergi dari rumahku. Ujang... Udin..." Dukun itu pun berteriak memanggil dua orang ajudannya.

Sambil tergopoh gopoh, dua orang ajudan yang Dukun itu sebutkan namanya telah hadir di hadapan mbah Dukun itu.

"Iya mbah," jawab sang ajudannya dengan takzim.

"Tahan kedua orang wanita itu. Dan jangan biarkan dia pergi dengan sangat mudah meninggalkan rumah saya. Cepat..." titah Dukun itu yang tidak merelakan Madu dan Sita pergi.

"Baik, mbah." Kedua ajudan itu pun langsung berlari menghampiri Madu dan Sita yang akan pergi keluar dari rumah Dukun itu.

Madu dan Sita yang mengetahui, kalau Dukun cabul itu menyuruh kedua ajudannya untuk menahan perginya langsung merasa panik. Pintu reot yang sejatinya tidak terkunci itu, begitu sangat kesulitan untuk dibuka oleh Madu, karena rasa panik yang sedang menyerang.

"Ihhh, kenapa sangat sulit sekali membuka pintu jelek ini?" Keluh Madu dengan tangan itu terus berusaha membukanya.

Brakk... brakk... brakk.

Madu yang kesal akhirnya mengebrak dan menendang-nendang pintu itu terus-menerus.

Alhasil membuat tangan serta kakinya langsung pada memerah, berdenyut-denyut menahan sakit akibat menendang pintu.

"Ahhh sakit!" pekik Madu seraya mengusap tangan bergantian dengan kakinya yang sakit.

"Ibu nggak apa-apa? Ayo bangun Bu, para ajudan itu terlihat sudah mendekat kearah kita. Sebisa mungkin kita harus cepat keluar dari sini, Bu." Sita yang panik terlihat bersusah payah membangun kan Madu dari jongkoknya. Kemudian giliran Sita yang berusaha membuka pintu reot itu.

"Ahhh, terbuka juga pintunya Bu. Ayo Bu, kita cepat pergi keluar dari sini." Ucap Sita yang langsung menarik tangan Madu.

Namun, Sita langsung terdiam karena merasakan ada sebuah keanehan sedang melandanya. Tangan yang ia tarik-tarik itu begitu terasa berat, bahkan terasa sangat kasar ketika menyentuh kulitnya.

Pergelangan tangannya pun terasa lebar, sepertinya tangan yang Sita pegang itu bukanlah tangan dari seorang wanita.

Merasa penasaran Sita pun langsung menoleh kebelakang, ia langsung tercengir bodoh ketika melihat sosok yang ia tarik-tarik tangan itu, yang sejatinya milik dari dua kacung si Dukun.

"Hehehe...salah tarik."

Terpopuler

Comments

Virushe Aira

Virushe Aira

😂😂😂

2022-09-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!