Di rumah, pada jam dua belas malam, Markisa mondar mandir cemas seraya menggigit gigit ujung kuku jempol kanan nya, tak sadar. Ia menunggu Madu yang tak pulang pulang, berikut handphone Mamanya pun tidak bisa dihubungi.
Royco yang melihat kecemasan istrinya menjadi terganggu juga karena ia pun susah tidur tanpa ada Markisa di sampingnya.
"Mama itu sudah besar, Sayang, jadi tidak usah ya kamu terlalu cemas begitu," bujuk Royco lembut. "Ayo kita tidur!" sambung nya seraya menarik tangan istrinya yang digigit gigit sedari tadi.
"Tapi, Kak, ini sudah malam banget loh. Takutnya ada apa apa sama Mama. Atau waktu di kantor, Kakak tak dapat izin mau kemana gitu?" tanya Markisa. Membuat Royco mengingat kejadian siang waktu Madu nekat memancingnya dengan cara buka bukaan di depan mata normal nya.
"Tidak ada pesan apa pun. Paling Mama kamu sedang hang out atau me time. Sudah ah, ayo kita tidur!" paksa Royco yang menuntun tangan Markisa masuk ke dalam kamar pribadi mereka.
Sedang wanita yang di cemaskan oleh Markisa, saat ini telah berada di rumah kumuh nenek misterius yang menyelamatkannya dari aksi liar dukun cabul itu.
Kruyuuuk...
Usus-usus pun sudah saling beradu, karena belum ada sesuap nasi yang masuk ke dalam perut Madu. Hingga suaranya terdengar keras dalam gubuk itu.
"Maaf Nek," Madu yang tersipu malu dengan rasa lapar yang dirasa.
"Hehehe... Ngaak usah meminta maaf. Nenek mengerti kok. Sebentar yah, Nenek akan mengambil makanan di dapur." Nenek itu terkekeh kecil mendengar perut Madu yang keroncongan dan langsung melangkah pergi ke dapurnya.
"Makan seadanya Nak, karena itu saja yang ada di dapur Nenek," ucap sang Nenek seraya tangannya menyodorkan sepiring singkong rebus itu di dihadapan Madu dan Sita.
"Nggak apa-apa, Nek." Tanpa permisi Madu pun dengan cepat meraih sepotong singkong itu dan langsung memakannya.
Sita pun demikian.
Sedang sang Nenek itu hanya menyeringai seraya menatap dalam dalam wajah Madu yang dapat melihat aura hitam wanita kota itu.
'Aku melihat aura hitam yang sangat kuat dari wanita kota ini, kira-kira hal apa yang membuatnya memiliki aura hitam itu yah? Aku harus menanyakannya langsung pada wanita kota ini. Siapa tahu dialah orang yang aku cari-cari untuk mewarisi keris pemikat yang selalu meminta tumbal itu.' batin sang Nenek jahat.
"Heeemmm... "
Nenek itu berdehem dengan sengaja, saat melihat dua wanita kota itu selesai makan. Sengaja meminta perhatian dari dua wanita itu untuk memulai obrolan.
"Nak, sebenarnya hal apa yang membuat kalian bisa sampai ke tempat Dukun cabul itu?" Tanya sang Nenek seraya menatap bergantian wajah Madu dan Sita.
"Tujuan kami ke tempat Dukun itu ingin meminta bantuan darinya, Nek. Teman saya Madu ingin sekali mengguna-gunai menantunya sendiri, agar nanti menantunya jatuh hati sehingga bisa memberikan apa saja yang dikehendaki oleh teman saya. Namun ternyata, hal lain yang kami dapatkan dari Dukun itu, karena kami hendak mau diruda secara paksa oleh Dukun itu. Syukurnya ada Nenek yang datang menyelamatkan kami. Kalau tidak, mungkin saya dan juga Madu sudah secara bergantian di tindih oleh Dukun cabul itu." Terang Sita menjelaskan panjang lebar.
"Betul Nek!" seru Madu yang membenarkan ucapan Sita.
'Hmmmm, ternyata hal itu yang membuat wanita kota ini memiliki aura hitam yang sangat kuat. Dia ingin merebut menantunya sendiri dari tangan anaknya. Baiklah... dengan keris pemikat yang akan aku berikan, bisa mempermudah jalannya untuk mendapatkan hati menantunya itu.' batin sang Nenek mendukung niat salah Madu.
"Hehehe... "
Nenek itupun kembali terkekeh.
"Kalian tunggu sebentar," pinta sang Nenek yang kemudian bangun dari duduknya dan melangkah pergi untuk masuk kedalam kamarnya.
Madu dan Sita hanya melihat heran punggung sang Nenek, yang tiba-tiba pergi masuk kedalam kamarnya. Dalam hati mereka bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh sang Nenek di dalam kamarnya.
Tak lama sang Nenek itupun keluar dari kamarnya, seraya membawa sebuah kotak dalam pelukannya.
"Benda apa yang Nenek bawah itu?" Tanya Madu penasaran. Mata nya terlihat memandang ke wajah Sita, seolah-olah Madu bertanya kepadanya.
Namun, Sita hanya menaikkan kedua bahunya, yang bertanda dia pun tidak tahu benda apa yang telah dibawah oleh sang Nenek setelah keluar dari kamar.
Dengan terlihat susah payah dalam membawah sebuah kotak itu, Sang Nenek pun langsung kembali duduk di hadapan Madu dan Sita seraya menaruh kotak itu di atas meja.
"Maaf Nek, kalau boleh saya tahu. Benda apa kira nya yang Nenek bawa itu?" Karena sangat penasaran Madu pun langsung memberanikan diri untuk bertanya langsung ke Nenek.
"Iya Nek, akupun sangat penasaran dengan isi yang ada dalam kotak itu." Sita pun memberitahukan rasa penasarannya terhadap kotak itu kepada sang Nenek.
"Didalam kotak ini ada sebuah keris yang sangat sakti sekali. Keris ini bisa membantu mu mendapatkan apa yang kamu idam-idamkan itu." Terang sang Nenek.
Sontak membuat bola mata Madu langsung membulat. Merasa sangat senang sekali ketika mendengar sang Nenek berucap.
"Yang benar, Nek?" Tanya Madu memastikan seraya tangannya mencoba menyentuh kotak yang ada di depannya.
Namun, belum sempat ia menyentuh kotak itu, tangannya dengan tiba-tiba langsung di getok oleh tangan sang Nenek.
"Auww!" Pekik Madu terkejut dan langsung mengusap-ngusap tangannya sendiri.
"Dasar tidak sabaran!" Seru sang Nenek yang sebenarnya terlihat senang dengan sikap tidak sabar Madu. Dalam hati kecil sang Nenek, rasanya ingin sekali cepat lepas dari keris yang menurut nya sangat terkutuk itu.
"Maaf Nek," ucap Madu yang merasa bersalah.
Dengan perlahan sang Nenek pun langsung membuka kotak itu, terpancar sinar berwarna merah ke hitaman-hitaman berasal dari keris yang ada di dalamnya.
Baru melihat sinarnya saja mata Madu langsung dibuat melotot. Tak mau sedikitpun berkedip melewati pemandangan yang belum pernah sekali pun mereka lihat.
'Menakjubkan sekali... " gumam Madu yang terhanyut menyaksikan sinar yang keluar dari keris itu.
Namun tidak bagi Sita, karena ia tidak melihat sinar apapun keluar dari dalam kotak itu. Sita hanya terheran saat melihat Madu menatap tak berkedip ke arah kotak yang telah di buka oleh sang Nenek.
'Apa yang sudah di lihat oleh Bu Madu, yah? Kok dia sampai dibuat melongo yah oleh kotak itu." Gumam Sita seraya menatap bergantian wajah Madu serta kotak itu.
"Hehehe... " sang Nenek yang langsung terkekeh kecil, melihat bukti kalau Madu adalah pemilik selanjutnya dari keris yang dipunyainya.
Keris yang sejatinya selalu meminta tumbal. Keris yang sudah sangat lama sang Nenek mencoba untuk membuangnya. Namun, kembali dan kembali lagi, karena belum menemukan tuan yang cocok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments