Mencoba kabur, Madu dan Sita pun akhirnya tertangkap oleh para kacung dari Dukun itu.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" seru Madu yang terus meronta, berusaha lepas dari cengkeraman para kacung.
Bhugg....
Seketika itu juga Madu dan Sita langsung pingsan di tempat, saat para kacung itu dengan sengaja memukul leher bagian belakang mereka.
"Jang... ternyata wanita ini cantik dan juga mulus loh." terang udin langsung membopong tubuh Madu yang sedang pingsan.
"Iya, Din, disamping cantik aroma tubuhnya pun sangat harum sekali. Aku jadi ingin sekali mencicipi tubuh molek wanita kota ini. Boleh dong, sedikit aku mainin bongkahannya, kokek... kokek..." Ujang dengan nakal memainkan bongkahan kembar milik Sita yang masih sekal sebelum membopongnya.
"Dasar otak cabul lo Jang! Udah yuk, kita bawa wanita-wanita ini kepada si Mbah sekarang," pinta Udin yang langsung memutar tubuhnya melangkah, seraya terus membopong tubuh Madu yang pingsan menuju si mbah.
Di ikuti dari belakang, Ujang pun berjalan mengekor udin membopong tubuh Sita dengan kedua tangannya.
"Mbah, kami berhasil menangkap wanita-wanita ini. Sekarang mau di apakan wanita-wanita ini, Mbah?" tanya Udin menunggu perintah.
"Bagus... bagus sekali! Saya suka dengan kerja kalian. Sekarang, bawa masuk ke kamar saya wanita-wanita itu. Ikat kaki serta tangannya, di atas tempat tidur dengan keadaan terlentang," titah Mbah Dukun dengan otak cabul yang sudah ada di kepalanya.
Sontak saja membuat kedua kacung itu langsung tersenyum, paham dengan apa yang akan di lakukan sih mbah di dalam kamarnya bersama wanita tawaannya.
"Baik, Mbah!"
Kedua kacung itupun langsung pergi menuju ke kamar Mbah Dukun, dengan membopong tubuh Madu serta Sita yang masih dalam keadaan pingsan.
Sesampainya di kamar, Udin serta Ujang langsung menaruh tubuh Madu serta Sita di atas tempat tidur milik si Mbah.
Huuuuuft....
Para kacung itupun langsung membuang nafas lelahnya, dengan tangan berdecak pinggang.
"Jang... sekarang kamu pergi mencari tali gih, di gudang," titah Udin seraya matanya melihat penuh mupeng, tubuh molek wanita yang masih tergeletak pingsan itu.
"Oke Din!" Seru Ujang yang langsung berlalu pergi melangkah menuju gudang.
Udin yang tak henti-hentinya memandangi tubuh molek Madu langsung horny, begitu Mata nakalnya melihat lutut sampai kaki Madu yang tak tertutup itu.
Dalam hati kecilnya ingin sekali bisa mencicipi tubuh itu. Namun, mustahil baginya karena si Mbah sudah pasti sangat marah, jika wanita yang akan di tindihnya itu terlebih dulu di icip-icipnya. Bisa langsung di gorok leher Udin saat itu juga oleh si Mbah.
"Mbah... mbah... enak bener sih hidup loh, dua wanita molek ini mau kamu pake semua. Bagi satu kek buat saya, saya juga 'kan kepingin. Lagian Mbah kan sudah tua apa masih kuat tuh sih otong, jika dua-duanya mau di embat semua,"gumam Udin seraya kepala ia geleng-gelengkan. Tidak menyangka Mbah nya begitu sangat rakus.
"Heeeheemm... Bagaimana Din, apakah sudah kamu ikat dua wanita itu?" Tanya sih Mbah yang tiba-tiba saja masuk tanpa Udin ketahui, sehingga membuat si Udin sedikit kaget oleh kehadiran si Mbah.
"Be--belum, Mbah!" Karena sedikit kaget Udin pun menjawab dengan gagap.
"Loh, kenapa belum Din? Cepat ikat dua wanita itu! Takutnya mereka keburu tersadar dari pingsannya." Titah si Mbah sedikit menaikan oktafnya.
"Iya Mbah tunggu sebentar, karena si Ujang lagi mengambil talinya di gudang." Terang Udin dengan sedikit rasa takut yang ada dalam dirinya, karena melihat si Mbah sedikit marah.
Tak lama Ujang pun datang dengan membawa beberapa tali yang diambilnya dari gudang.
"Eh si Mbah...? Saya habis ngambil tali di gudang mbah, untuk mengikat kedua wanita itu seperti yang tadi Mbah perintahkan ke kita." Jawab Ujang terlihat gugup. Padahal sih si Mbah tidak bertanya kepadanya habis dari mana-mananya.
"Saya tahu itu! Ayo langsung ikat wanita-wanita itu, sebelum nantinya mereka sadar terus melarikan diri, yang berakibat saya gagal merasakan tubuh molek mereka." si Mbah yang terlihat emosi, saat kedua wanita itu belum sama sekali di ikat kaki serta tangannya oleh para kacungnya.
"Baik, Mbah!"
Para kacung itupun dengan cepat langsung mengikatkan tali itu, ke tangan dan juga kaki kedua wanita yang masih dalam keadaan pingsan itu.
"Sudah, Mbah."
"Kalian keluarlah. Dan ingat baik-baik! Jangan sekali-kali kalian mengganggu kesenangan saya di dalam kamar. Kalian mengerti?" Ucap Mbah Dukun dengan tegas.
"Mengerti, Mbah." Jawab kompak para kacung, setelahnya mereka berdua pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar si Mbah.
Brrak...
Mbah Dukun itupun langsung menutup serta mengunci pintu kamarnya, setelah para kacung-kacungnya pergi.
Setelahnya si Dukun cabul itupun langsung berjalan menghampir, lalu mengitari ranjang tempat Madu dan Sita di ikat kaki serta tangannya.
"Hmmm, memang kalian berdua sangat cantik-cantik sekali. Tenang yah sayang, tak lama lagi kamu akan saya bawa ke surga dunia yang sangat nikmat sekali." Gumam Dukun cabul itu seraya tangannya membelai lembut wajah Madu yang masih terpejam karena pingsan.
Setelah dari posisi berbaring Madu, Dukun cabul itupun langsung berpindah ke tempat Sita berbaring.
"Hmmm haruuuum! Aroma tubuh mu sangat wangi, wajahmu pun sama cantiknya dengan wanita itu. Namun, sayang. Tubuh mu tak semolek tubuh temanmu yang disana." Racau Dukun cabul itu, setelah mengendus aroma tubuh Sita yang sedang pingsan.
"Baiklah, tak berlama-lama lagi aku akan langsung merudal paksa wanita yang mempunyai tubuh molek itu. Kamu tunggu giliran yah sayang, karena tubuh mu kalah molek dengan wanita itu, jadi Giliran kamu sehabis dia. Dan kita lihat nanti, anu mu atau anu dia yang lebih legit." Racau Dukun cabul itu yang berlalu pergi dari Sita, berjalan untuk menghampiri Madu yang sedang berbaring terlentang dengan kaki dan tangan yang terikat.
Sejenak Dukun cabul itu menatap dalam-dalam wajah Madu, tak lama mulut busuknya ia dekatkan hingga menempel ke bibir Madu.
Sontak Madu pun langsung tersadar dari pingsannya, karena aroma bau busuk yang keluar dari mulut Dukun cabul itu, begitu sangat menyengat tercium oleh hidung Madu.
"Kau apakan bibir ku? Dasar Dukun cabul!" Madu yang langsung mengumpat marah saat mulutnya berhasil lepas dari pagutan Dukun itu.
Dukun cabul itu hanya tersenyum ejek kepada Madu, karena meskipun Madu mencoba mengelaknya, tetap saja dirinya berhasil mencium serta memasukan lidahnya ke dalam mulutnya Madu.
"Howekkk, menjijikan! Lepaskan aku Dukun cabul!" Madu yang ingin muntah terus saja meronta dan memaki Dukun itu.
"Isss... isss.... enggak sayang. Aku nggak akan melepaskanmu, kan kita baru saja akan memulainya. Kalau aku melepaskanmu, aku nanti gagal dong merasakan tubuh molek mu." Ucapan Dukun itu seakan mengejek ketidakberdayaan Madu.
Madu jelas saja bergetar ketakutan. Lebih lebih ia tak berdaya oleh belenggu tali sialan itu. Dalam hatinya, ia merutuki kedatangannya kemari. Niat hati ingin menggunai gunai Royco dengan jalan pintas, eh...tersialnya ia terancam dinodai laki laki bau busuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments