Bab 15

Kini sang keris seakan sudah menemukan tuan yang cocok, yaitu Madu, karena wanita itu memeliki semua sifat buruk yang sangat disukai oleh sang keris.

"Heeemmm... " Sita pun berdehem, sengaja menyadarkan Madu yang sedang terhipnotis oleh sang keris.

"Maaf Bu, apa yang sedang Ibu lihat? Sehingga Ibu sampai dibuat terpukau dengan keris yang terlihat biasa-biasa saja itu." Saking penasarannya Sita pun bertanya meskipun dengan hati yang bingung.

"Keris itu... Keris itu sungguh sangat luar biasa, Sit. Sinarnya saja sudah membuatku yakin, kalau keris itu mempunyai kesaktian yang maha dahsyat," terang Madu seraya tangannya menunjuk ke arah kotak tempat keris sakti itu berada.

"Hehehe... Memang keris ini mempunyai kesaktian yang sangat luar biasa. Keris ini juga bisa disebut dengan keris pemikat, yang mampu membolak balikan hati seseorang sesuai apa yang diinginkan oleh tuannya," terang sang Nenek yang kemudian meraih keris itu dari dalam kotak, tak lama keris itupun di bolak balik dan dilihatnya terus menerus.

Sita hanya terbengong, dalam hati kecilnya bertanya-tanya tentang sinar yang keluar dari keris itu. Mana sinar itu? Apakah Madu hanya berimajinasi saja, atau mungkin mata nya yang lagi sedang bermasalah.

Hoooamm... karena dirinya tak melihat sinar apapun seperti apa yang telah dikatakan oleh Madu, ia berakhir menguap kebosanan serta di terpa rasa kantuk hebat.

"Baiknya aku pergi tidur sajalah, mata ku sungguh sangat berat sekali," Gumam Sita yang tak lama ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya tidur di atas lantai yang terbuat dari kayu tanpa permisi.

"Nek, aku sangat menginginkan keris itu. Bisakah Nenek memberikannya untuk saya?" Pinta Madu to the point. Karena ia ingin sekali bisa mempergunakan keris itu untuk mendapatkan kembali Royco.

"Itu soal gampang. Tapi... " sang Nenek langsung menjedah.

"Tapi apa, Nek?" tanya Madu penasaran.

"Apakah kamu siap untuk menanggung resikonya, jika nanti keris ini saya berikan?" Tanya sang Nenek yang sebenarnya, dia pun sudah tidak sabar lagi dalam memberikan keris itu kepada Madu, agar dirinya bisa cepat terbebas dari beban memberikan tumbal itu.

"Resiko apapun saya siap, Nek, asalkan keris itu bisa membuat menantu ku kembali lagi kedalam pelukankku." Tanpa pikir panjang lagi tentang resiko yang akan dia dapat, Madu pun langsung siap bersedia menanggung dan menerima resikonya.

Mendengar Madu telah menyanggupi resikonya, membuat hati sang Nenek menjadi sangat senang sekali. Dan sang Nenek pun tanpa pikir lama lagi akan memberikan keris itu kepada Madu.

"Sebelum Nenek memberikan keris ini kepadamu, terlebih dahulu Nenek akan memandikanmu, menggunakan air kembang di campur dengan beberapa bacaan mantra-mantra. Bagaimana? apakah kamu bersedia untuk melakukannya?" Tanya sang Nenek bersyarat.

"Aku bersedia, Nek." Sanggup Madu.

"Baiklah, ayo ikut Nenek ke belakang sekarang!" Seru sang Nenek yang kemudian bangun dari duduknya dan melangkah pergi menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.

"Iya, Nek." Jawab Madu penuh yakin. Dia pun turut berjalan mengekor di belakang sang Nenek.

"Ganti baju mu, dan pakailah kain ini," Pinta sang Nenek dengan tangan itu menyodorkan kain bercorak batik yang menjuntai panjang.

"Baik, Nek."

Madu pun pergi masuk kedalam kamar, dengan tangan itu membawa kain yang diberikan oleh sang Nenek untuk dia pakai saat mandi nanti.

Sementara sang Nenek, ia terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Madu dalam acara mandi bunga nanti.

"Nek, aku sudah siap."

Madu yang terlihat seksi, dengan kain batik yang melilit tubuh indahnya sedang berdiri tepat di ambang pintu masuk kamar mandi sang Nenek.

"Masuk dan duduklah," titah sang Nenek, seraya mempersiapkan kursi untuk Madu bisa duduki selama ritual mandi kembangnya.

Tanpa merasa ragu, Madu pun langsung duduk di atas kursi dengan segentong air yang berisikan bermacam-macam bunga didalamnya tepat berada disamping kursi tersebut.

"Bersiaplah, Nak."

Nenek misterius itupun langsung, mendongakan kepalanya ke atas dengan mata terpejam. Tak lama bibirnya terlihat berkomat-kamit, membaca beberapa mantra.

Byurrr...

Setelah selesai membaca beberapa mantra, Sang Nenek itupun langsung mengguyur kepala Madu, dengan air yang bercampur macam-macam bunga.

Sehingga membuat Madu langsung menggigil kedinginan, dengan bibir itu terlihat bergetar saat sang Nenek beberapa kali mengguyur seluruh tubuh Madu dengan air itu.

"Sudah Nak... sudah selesai ritual mandi kembangnya. Sekarang agar keris itu aman, Nenek akan memasukan keris ini ke dalam tubuhmu. Keris ini akan Nenek jadikan susuk yang akan Nenek tanamkan pada wajahmu," Terang sang Nenek yang kemudian mulutnya kembali berkomat kamit.

Sementara Madu, hanya mengangguk setuju, menurut saja apa yang Nenek itu katakan padanya.

Tetiba keris yang tadinya terlihat besar itu, kini mendadak berubah menjadi sangat kecil sekali. Bahkan bentuknya menyerupai seperti sebuah jarum jahit, saat sang Nenek itu selesai membaca mantra.

"Nak, Nenek akan memasukan keris ini pada keningmu. Bersiaplah!" Seru sang Nenek yang kemudian langsung menanamkan keris yang sudah mengecil itu, masuk ke dalam kening Madu.

Huuufff... sang Nenek langsung membuang nafas lelahnya, saat berhasil memasukan keris itu pada anggota tubuh Madu.

"Sudah, Nak. Nenek sudah memasukan keris itu tepat di tengah-tengah keningmu. Sekarang kamu pergi dan ganti kain yang basah itu, dengan bajumu yang tadi. Setelah itu, kamu langsung pergilah tidur, beristirahatlah bersama dengan teman mu itu."

Setelah selesai memasukan keris kecil pada kening Madu, Sang Nenek pun langsung pergi menuju ke kamarnya. Tubuh sang Nenek terlihat lemah, dengan wajah yang terlihat sangat pucat sekali. Bahkan jalannya pun sampai terlihat sempoyongan, seperti orang yang sedang mabuk.

Madu yang melihat itu, menjadi sangat khawatir akan sang Nenek.

"Nek, Nenek kenapa? Aku bantu masuk kamar yah," Madu yang langsung memapah sang Nenek, saat wanita tua itu seakan tidak kuat lagi berjalan masuk dalam kamarnya.

"Iya, Nak. Tolong bantu Nenek untuk masuk kamar. Tubuh Nenek terasa lemah sekali, seakan tak kuat lagi menopang berat tubuh sendiri."

Tanpa pikir panjang, Madu pun langsung menuntun masuk sang Nenek ke dalam kamarnya. Sebelum Nenek itu terjatuh, karena tak kuat berjalan kehabisan tenaganya.

Sesampainya di kamar, Madu pun langsung merebahkan tubuh Nenek yang lemah itu di atas tempat tidurnya.

"Nenek beristirahatlah," ucap Madu seraya tangannya menarik selimut untuk menghangatkan tubuh sang Nenek.

Setelah itu Madu pun langsung pergi meninggalkan sang Nenek untuk pergi mengganti kain yang basah dengan bajunya yang tadi.

Selesai memakai kembali bajunya, Madu langsung menjatuhkan tubuhnya berbaring tidur disamping tubuh Sita. Dengan mata yang terlihat menatap langit-langit atap gubuk sang Nenek, Madu seakan tak sabar dalam menanti pagi datang.

Ia ingin cepat cepat mengetes kemampuan susuk keris itu pada Royco langsung, apakah tepat sasaran dengan mulus seperti pahanya itu? atau kembali zonk nan kecewa oleh penolakan Royco?

Terpopuler

Comments

permana2579

permana2579

lanjut thor 👍🏻 mantap

2022-08-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!