Hari pertama bekerja Royco di perusahaan sang Ibu Mertua, sudah merasa tidak nyaman. Bukan karena pekerjaannya yang berat, akan tetapi kelakuan Madu lah yang meresahkan menggoda iman tipisnya terus-menerus.
Lihatlah saat ini, Ia sengaja di suruh menghadap ke ruangan Madu dengan alasan minta laporan file file penting.
Namun apa yang terlihat, Madu saat ini duduk di atas meja kerjanya dengan dua kancing dada itu, sengaja dia buka agar Royco melihat gundukan kembarnya secara gratis.
"Tutup pintu, Roy! Nanti ada yang melihat dada ku. Eh...maaf ya, aku kegerahan jadi ku buka sedikit deh," ujar Madu seraya tangannya semakin memperlebar belahan kancing bajunya. Dan telunjuk manis itu sedikit ia mainkan dengan meraba lembut belahan dadanya sendiri.
Madu dengan sangat sengaja melakukan hal itu, tujuannya agar memancing kelaki-lakian Royco untuk bangun, karena Madu sejatinya ingin sekali bisa mandi keringat bersama Royco yang sudah sangat lama didamba-dambanya itu.
Glukkk... Royco langsung menelan salivanya. Jakunnya pun terlihat naik turun, saat Madu menghidangkan bongkahan kembarnya secara gratis dihadapannya.
Sejenak Royco terpaku, libidonya pun tiba-tiba naik yang membuat adek kecil dibawah sana meronta-ronta ingin keluar dari sarang secepat mungkin menusuk-nusuk inti kewanitaan dari Madu yang sudah gatel itu.
Namun, Royco sadar. Itu dosa besar yang tidak mungkin dia lakukan bersama Madu, Sebab kalau sampai dia lakukan, itu sama saja dia menghianati Markisa, istri yang paling dicintainya.
Shiit... Roy mengumpat dalam hati yang langsung membalikkan tubuhnya untuk menghindari aksi gila mertuanya, meskipun sambil menahan libidonya sedang naik dan adek kecil yang sedang meronta-ronta.
"Tunggu Roy! Kamu mau kemana? Bawa file penting itu kesini," pinta Madu yang langsung turun dan sedikit mengikis jarak ke Royco.
"Ambillah!" seru Royco berdiri membelakangi Madu dengan tangan itu menyodorkan berkas tanpa menoleh ke arah Madu.
Melihat itu, Madu langsung menarik pergelangan tangan Royco, karena kaget Royco pun terjatuh.
Ceklek... ceklek...
Madu dengan sangat cepat langsung mengunci rapat-rapat pintu ruangannya, tak ingin membiarkan Royco keluar begitu saja setelah berhasil masuk dalam jeratannya.
"Dasar sedeng! Mau ngapain coba, Pake mengunci pintu segala?" Ketus Royco kesal dengan ulah Madu yang mengunci pintu.
"Mau aku... Hem...Kita bersenang-senang sekarang." santai Madu dengan tangan itu memutar-mutarkan kunci pintu ruangannya.
Royco pun langsung menyeret tubuhnya untuk bangun, dan dengan cepat tangannya mencoba merebut kunci itu dari Madu.
"Eiths... tak semudah itu kau merebut kunci ini dari tanganku, Sayang." Madu memasukkan kunci itu dari belahan dadanya. "Ambillah kalau berani!" tantangnya, seraya membusungkan kedua bongkahan dadanya.
Tak lama, Madu pun berjalan santai mengelilingi Royco yang sedang berdiri bingung.
Grebb... Madu yang tiba-tiba tanpa punya rasa malu, dan dengan frontal langsung memeluk tubuh Royco dari belakang. Sontak membuat Royco langsung meronta mencoba melepaskan diri dari pelukan Madu.
"Lepaskan, Madu. Apa yang kamu lakukan? Ini tidak pantas, kamu itu mertua ku. Haram melakukan hal ini pada menantumu." Ujar Royco seraya tangannya terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Madu.
"Ayolah Roy, kamu jangan munafik. Aku tahu kamu itu horny saat melihat bongkahan dada ku, jadi ayo kita bersenang-senang menuju surga dunia yang begitu nikmat dengan desahanku." Nakal Madu dengan bujuk rayunya.
"Jangan Madu. Kasihan Markisa, dia bisa terluka jika mengetahui hal ini. Jadi ku mohon dengan baik-baik, berikan kunci itu kepada ku sekarang juga, dan biarkan aku keluar dari sini." Pinta Royco dengan wajah memelas.
"Enggak, Sayang, aku nggak akan memberikan kunci ini sebelum kamu mau melepaskan hasrat terlarang ini. Apa susahnya jika kamu menuruti keinginan ku sih Roy? Lagian kan kita sama-sama enak. Kamu enak, saya juga enak," bujuk Madu kekeuh memprovokasi Royco agar luluh padanya.
"Dasar mertua sedeng!" Royco mengumpat kesal ke Madu.
"Iya Roy, aku memang sedeng. Tapi itu karena ulah mu, yang hingga saat ini tidak mau menyentuh ku." Madu tak mau kalah.
"Baiklah, Madu. Jika tangan mu tak mau lepas dari tubuhku sekarang, jangan salahkan aku jika sampai ada anggota tubuh mu yang terluka, karena aku akan berbuat kasar untuk melepaskan pelukanmu dan mengambil paksa kunci yang kamu taruh di dadamu itu." Ancam Royco kesal.
"Aku nggak takut! Lakukan saja jika kamu berani." Tantang Madu tegas.
Kyiaaaaak.... Royco pun langsung mengeluarkan segala tenaganya, mencoba melepaskan tangan Madu yang membelenggu tubuhnya.
Sementara Madu, tak mau kalah juga. Dia terlihat ngotot terus mempertahankan tangannya memeluk tubuh bagian belakang Royco.
Gubrakk...
Alih-alih saling mempertahankan tubuhnya masing-masing, Royco serta Madu pun terjatuh, dengan tubuh Royco yang sedang menindihi tubuh Madu.
Madu justru riang bukan kepalang, dengan mata itu menatap takjub wajah Royco.
Sementara Royco, ini lah waktu yang pas untuk tangannya mengambil kunci yang ada di dalam bagian dada Madu.
Mereka tidak tahu saja, di luar pintu sana ada seorang OB, yang semenjak tadi samar samar mendengar aksi Madu yang terkesan memaksa kehendaknya pada seorang laki laki yang ia tidak ketahui wajah siapa pria itu?
"Arrrghhh..." Tetiba Madu menjerit kesakitan, saat tangan Royco tidak sengaja mencakar kulit bongkahan kembar milik Madu, ketika dirinya mau mengambil kunci yang Madu simpan di dadanya.
"Astaga! Apa yang telah aku perbuat?" Gumam Royco yang sangat panik saat matanya melihat di ujung kuku-kukunya ada bercak darah.
"Roy, kamu telah menyakiti ku. Aku berjanji, kau akan membayar perbuatan mu ini." Ancam Madu dengan meringis kesakitan, menahan perih luka di atas bongkahan kembarnya.
"Ma--maafkan saya Madu. Saya tidak sengaja melakukannya," ujar Royco dengan tergagap.
Dengan keadaan panik, Royco pun langsung berlalu pergi mencoba membuka pintu ruangan itu, dengan kunci yang telah berhasil di ambil nya dari Madu.
Ceklek... ceklek....
Royco terlihat berhasil membuka pintu yang terkunci itu, dia pun sesaat berdiri di ambang pintu, sejenak matanya menoleh ke arah Madu seraya berkata; "Maafkan saya Madu, saya terpaksa membuatmu terluka. Saya harus pergi."
"Roy, jangan tinggalkan aku," desis Madu dengan tubuh yang masih terbaring di lantai.
Brakk...
Dengan tangannya, pintu ruangan Madu pun Royco buka lebar-lebar. Ternyata OB itu pun terkejut saat daun pintu ruangan terbuka.
Whussss... dengan berlari kencang Royco pun pergi dari ruangan Madu.
"Astaga! Kenapa pria itu meninggalkan ruangan Ibu Madu dengan tergesah-gesah. Apa yang membuatnya sampai berlari kencang keluar dari ruangan Ibu Madu?" Sang OB langsung bertanya-tanya, tak lama Ia pun menoleh ke dalam ruangan Madu.
Alangkah terkejutnya OB itu, saat melihat Madu tengah duduk di lantai seraya menangis.
"Astaga! Ibu Madu," gumamnya berlari menghampiri Madu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Teguh Apriady
ya elah nanggunh maseeh
2022-08-11
2