Bab 4

Embun datang menyapa daun daunan dengan sinar matahari yang baru terbit dari arah timur, tanda pagi sudah menyambut hangat.

Markisa pun terlihat ceria mengawali pagi pertamanya sebagai seorang istri yang baik, dengan bangun lebih awal. Ia berniat membuat sarapan untuk suaminya.

"Pagi, Bi!" sapanya pada ART rumah Madu, Mamanya.

"Pagi juga, Nona!" sang ART menyapa canggung Markisa. Bukan karena ia tidak biasa berinteraksi dengan majikan mudanya itu, akan tetapi ia merasa iba pada Markisa karena kelakuan Mamanya sendiri yang rasa rasanya tertarik pada Royco. Mau memberi tahukan, apalah daya. Ia hanya seorang pembantu yang masih sayang pada pekerjaannya.

"Biarkan aku yang nyiapin sarapan untuk Kak Roy, sama Mama."

"Tapi, Non, ini sudah tugas saya!"

"Tidak apa, Bi. Kalau saya membantu, maka akan cepat selesai kerjaan Bibi yang lainnya." Markisa merebut paksa spatula masak yang ada di tangan ART nya. Lalu melanjutkan mengaduk aduk nasi goreng yang baru dimasukkan ke wajan nasi putih itu.

Beberapa menit, nasi goreng udang sudah siap tersaji. Roti dan minuman sehatpun sudah tertata rapih di meja makan.

"Saatnya nyusul Mama dan Kak Roy," gumamnya seraya menatap penuh selera makanan hasil buatannya.

Namun, belum sempat Markisa melangkah pergi dari meja makan. Ternyata Royco sudah datang.

"Kak," sapa Markisa tersenyum manis menyambut suaminya dengan penuh cinta.

"Pagi, Sayang," balas Royco menyapa lembut istrinya. Lalu mencium pipi Markisa.

Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata kesal menatap keromantisan itu.

"Ehem..." Madu berdehem seraya mengikis jarak pada anak mantunya. Lalu sedikit menyenggol sisi kanan tubuh Royco yang seakan ia tidak sengaja, padalah mah itu modus doang yang ingin bersentuhan dengan pria yang membuatnya setengah gila.

"Upss, maaf Roy. Saya tidak sengaja." Modusnya, Madu kemudian menyapa Markisa. "Pagi, sayang."

"Pagi juga, Mah." Markisa menyambut senang sapaan sang Mama dengan memberikan ciuman serta pelukan hangat kepada Madu.

"Ayo kita sarapan bersama! Aku yang masak lho," ujar Markisa seraya menyediakan piring untuk Royco yang baru duduk di kursi makan dengan wajah sumringah menatap istrinya.

Royco yang tahu kalau Madu mencuri pandang kepadanya malah sengaja menggoda mesra Markisa. Niatnya baik, ingin memberitahukan secara tindakan kalau ia dan Markisa saling mencintai agar mertuanya itu sadar.

"Sayang, pagi ini kamu kelihatan lebih cantik deh," Puji Royco seraya menatap dalam-dalam wajah Markisa yang ingin memasukan sesendok nasi goreng ke mulutnya.

Markisa pun menoleh seraya tersenyum malu ke arah suaminya, karena pujian itu mampu membuat dirinya bak ingin terbang. Betapa senangnya hati Markisa karena pagi hari itu suami tercintanya sudah memberikan pujian setinggi langit kepadanya.

Sedang Madu, kupingnya langsung sakit mendengar pujian Royco pada anaknya. Saking cemburunya, Ia sampai mengunyah kesal nasi gorengnya dengan menatap tidak suka pada Royco yang mungkin sengaja bermesraan di depan matanya. Hu... jangan pikir ia akan menyerah begitu mudahnya ya. Madu justru akan semakin gencar meraih apa yang sudah di listnya.

"Ya iya dong cantik! Ibunya aja cantik begini kok!" Celetuk Madu membanggakan dirinya sendiri.

"Cantik ataupun jelek, bagi saya sama saja! Yang terpenting itu adalah hatinya. Percuma jika mempunyai wajah cantik, tapi kecantikannya itu di gunakan untuk menggaet suami orang. Betul nggak, Ma?" Sindir Royco telak seraya melayangkan pertanyaan membuat Madu mendengus kesal.

Markisa yang tak mengerti arah pembicaraan itu, hanya mengkirutkan dahinya bingung. Lalu berkata, "Apa yang sedang kalian omongin sih? Terus... siapa yang suka sama suami orang itu?"

Melihat ekspresi Royco yang gelagapan akan pertanyaan istrinya, Madu malah terlihat santai menikmati gelagat Royco yang kehabisan kata-kata karena terjebak oleh topik pembahasannya sendiri.

Namun sejurus kemudian, Royco mendapat ide untuk menjawab rasa penasaran sang istri. "Kakak sama Mama sedang membahas topik yang ada di surat kabar tadi, mengenai wanita cantik yang mau merebut suami dari anaknya sendiri. Bukankah itu sudah sangat keterlaluan, Dek?" Terang Royco seraya mencuri pandang ke wajah Madu yang terlihat memerah menahan kesal.

"Astaga, Ibu macam apa itu? Kok ada seorang Ibu yang sifatnya melebihi seekor hewan? Sangat tega sekali mau merebut suami anaknya sendir. Duh... duh... duh... " Markisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Speechless akan pemikiran seorang Ibu yang dimaksud oleh suami serta Mamanya.

Madu yang merasa tersindir diam-diam mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, dalam hatinya ingin sekali memuntahkan kemarahan yang sudah ditahan-tahannya itu.

Namun, sabar! Banyak jalan menuju roma. Ia akan jumawa diakhir cerita, yakinnya dalam hati.

Madu pun menghela nafas, mencoba menenangkan diri dari kemarahan yang sedang menggerogotinya. Setelah merasa tenang, Ia pun mencoba mengalihkan topik pembicaraan lain.

"Oh iya Roy, sementara kamu belum bekerja. Bagaimana jika kamu membantu saya di kantor?" Tawar Madu yang sontak membuat Royco langsung terkejut.

Dalam hatinya, mungkin itu adalah rencana licik dari Ibu mertuanya, yang ingin bisa leluasa dalam menggoda dirinya. Secara kalau di rumah dia tidak bisa leluasa karena ada Markisa.

Sementara Markisa justru terlihat sangat senang dengan tawaran sang Mama, dan Ia pun langsung mengiyakan saja tanpa ada persetujuan dari Royco.

"Iya Ma, kak Roy pasti mau membantu pekerjaan Mama di kantor. Benar'kan kak?" Ujar Markisa melirik senang kearah Royco.

Sementara Royco hanya terdiam, dalam hatinya merasa sangat khawatir jika sampai dirinya masuk ke dalam jerat sang mertua. Kantor baginya hanyalah tempat yang akan digunakan oleh Madu, agar bisa secara leluasa menggoda dirinya.

"Kak, kenapa diam?" Tanya lembut Markisa seraya menggenggam tangan suaminya.

"I--iya dek, Kakak mau membantu Mama di kantor." Ujar Royco dengan tergagap.

Dalam hatinya ingin sekali bisa menolak tawaran itu, tapi apalah daya Royco tak bisa menolaknya karena istri tercintanya sudah main mengiyakan saja.

Mendengar itu Madu langsung tersenyum licik, seraya mendelik sangat tajam kewajah Royco yang terlihat sangat khawatir itu. Entah apa yang sedang di khawatirkan menantunya? Yang jelas, Madu tidak mau ambil pusing.

"Baiklah Roy, mulai besok saya akan menunggu kedatanganmu di kantor. Sayang, Mama mau berangkat ke kantor dulu yah." Pamit Madu pada Markisa seraya bangun dari tempat duduknya.

"Baik Ma, Mama hati-hati di jalan ya." Ujar Markisa seraya meraih tangan Madu untuk dicium, sebagai rasa hormat dirinya pada sang Ibu.

Royco sendiri tidak bergeming, masih membatu dengan pikiran kalut yang menghantuinya. Sumpah demi apapun, Ia sangat mencintai Markisa dan kelakuan Ibu mertuanya itu adalah ancaman bagi pernikahannya yang baru berumur dua hari.

"Markisa mau tidak ya, aku ajak tinggal mandiri saja?" Batin Royco seraya melirik istrinya yang sedang mencuci piring bekas mereka sarapan.

Terpopuler

Comments

Mas Gigo

Mas Gigo

Josssss,,, sikat ajalah,,,

2022-10-03

1

Virushe Aira

Virushe Aira

madu
royco
markisa
klo di gabungin jadi satu rasanaya gmn ya.. manis kah apa asin 😂 keren ceritanya . lanjut

2022-09-29

0

Nova

Nova

bener itu royco.. ........ lebih baik loe jauh jauh dari pelacur itu tinggal... jgn sampai datu rmg... nanti loe di goda lg..... mana bisa nahan loe.... kalo nanti di suguhi tubuh yg telanjang tampa satu helai benangpun... masakahnya.... ksmu itu laki laki nornal.... jd sulit utk terlepas dari godaan pelacur murahan itu..... apalagi sebelumnya.... loe adalah partner ranjangnya si janda gatel

2022-09-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!