Keesokan harinya...
Suara suara burung terdengar berkicauan di pagi hari dekat pinggir hutan itu. Madu dan Sita yang sudah bangun sedari subuh karena banyaknya nyamuk di rumah Nenek tua itu, akhirnya bernafas lega karena sinar pagi yang mereka nantikan sudah terbentang sejuk di depan mata.
"Nenek, kalau begitu, kami pamit ya!" seru Madu mewakili Sita pun.
"Eum, pergilah!" Jawab sang Nenek itu dengan senyum misteriusnya mendominasi senang karena Madu sudah berhasil memiliki keris itu.
Tidak banyak bicara lagi, Sita masuk ke dalam mobil Madu. Begitu pun sang empu mobil yang sudah duduk di bagian kemudi.
Sita yang melihat Madu bersenandung kecil di dalam perjalanan itu, sesekali mencuri pandang. "Ibu Madu kok rasanya happy begitu air mukanya. Apa yang ia dapatkan dari Nenek itu waktu aku ketiduran ya?" batin nya ingin tahu. Tapi, ia tidak mau juga bertanya cerewet. Terpenting, Madu membayarnya atas jasanya yang sudah mengantarkan ke tempat yang hampir membuatnya celaka.
" Eheeem...."Sita dengan sengaja berdehem. Berharap Madu mengerti maksudnya atas pembayaran yang sudah dijanjikan Madu padanya sebelum mereka ada di tempat menyeramkan baginya itu.
"Apa, Sit?" tanya Madu tanpa menoleh dan lebih asyik mengemudi di jalanan yang sedikit berlubang aspalnya karena memang belum masuk ke perkotaan.
"Itu, Bu. Mm...." Rasanya, Sita juga merasa canggung ingin meminta uangnya.
Madu yang mendengar suara canggung itu, segera menoleh dan ia mendapati lirikan mata Sita tertuju pada tasnya yang berisi uang beberapa gepok yang tadinya gagal menjadi pembayaran pada dukun cabul itu.
"Tenang saja, aku paham kok. Nih, ambil untuk mu!" kata Madu yang sudah menarik satu gepok dari tasnya itu buat Sita.
"Waah... Banyak sekali, Bu. Terimakasih ya!" Sita tersenyum gembira mendapat uang banyak dari Madu.
Dan Madu yang mendapat terimakasih dari Sita, hanya datar dan lebih memilih mengemudi lebih cepat lagi.
Beberapa jam berkemudi, Madu pun sudah sampai di depan rumahnya. Sita pun sudah ia antar ke kediamannya itu.
"Mari buktikan di hari minggu ini, apakah weekend aku akan berlangsung indah bersama Royco? Atau susuk keris itu tidak berfungsi bin abal abal saja."
Setelah selesai bergumam, Madu pun turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Tap... tap... tap...
Suara langkah kaki Madu terdengar nyaring. Membuat Markisa yang sedang menunggu harap-harap cemas kedatangan sang Mama sontak di buat terkejut.
Begitupun Royco yang selalu setia, dalam menenangkan hati gelisah Markisa dari rasa kekhawatirannya terhadap sang Mama. Tak kalah terkejutnya saat mendengar derap langkah yang sekiranya milik Madu itu.
"Mama... ?" Lirih Markisa saat melihat Madu yang mengikis jarak padanya. Setelah saling berhadap hadapan, sang Mama pun segera memeluknya.
"Mama dari mana saja? Aku sampai cemas loh mencari kabar keberadaan Mama."
Setelah berpelukan Markisa langsung mencecar banyak pertanyaan terhadap sang Mamah, agar rasa kecemasannya terhadap Madu bisa terobati.
"Hmmm, sayang. Begitu sangat khawatirkah kamu terhadap Mama?" Tanya Madu seraya tangannya mengusap penuh manja kepala Markisa. Namun sudut matanya mencuri pandang ke Royco yang sok sibuk membaca koran di sofa itu.
"Jelas dong Ma! Aku sangat menghawatirkan keadaan Mama, karena aku begitu sangat menyayangi mu."
Markisa dengan senyum manisnya, menunjukan ketulusan hatinya dalam menyayangi sang Mama. ia pun kemudian langsung kembali mendekap tubuh Madu penuh riang.
Madu pun kembali membalas pelukan Markisa, tapi hanya kepalsuan. Otak Madu itu hanya sibuk memikirkan cara menebarkan jala susuk keris yang telah tertanam di dahinya.
"Oke... sekarang waktunya untuk membuktikan kesaktian dari susuk keris, yang sudah tertanam dalam tubuhku. Apakah Royco akan tertarik lagi kepada ku? Atau mungkin sebaliknya? Tapi kenapa Royco bersikap bisa-bisa saja ya saat ini?" batin Madu.
"Uhuukk... sayang bisa kau ambilkan segelas air untuk Mama! Mama haus sayang."
Madu hanya modus belaka, ia sengaja menyuruh Markisa pergi. Agar dirinya bisa leluasa dalam membuktikan kesaktian susuk keris yang ia dapat dari sang Nenek terhadap Royco.
"Baik Ma... tunggu yah! Iss akan ambilkan air untuk Mama. Mama duduklah dan bersantai sejenak," ucap Markisa yang kemudian berlalu pergi ke dapur.
Melihat Royco yang sedikit pun tidak melirik ke arahnya, sontak membuat Madu langsung duduk di dekat pria yang sok buta itu.
"Roy...!" Seru Madu dengan lancang mengelus pah* Royco untuk meminta perhatian.
Tentu saja Royco terkesiap. Ia ingin marah. Tapi setelah menatap wajah Madu, tatapan sinis nya itu langsung kosong. Lidah yang tadinya ingin mengeluarkan cacian, sekarang mendadak keluh, tak mampu berucap meski satu kata pun.
Sekarang Royco terlihat diam seperti patung, seakan-akan sukmanya telah pergi dari dalam raganya. Mungkin, efek susuk keris yang di pakai oleh Madu itu sudah bekerja pada diri Royco.
Melihat Royco yang sudah terkena tuah dari susuk keris yang dipakainya, Membuat hati Madu senang bukan kepalang. Dan ia pun ingin sesegera mungkin bisa dengan cepat untuk membuktikannya.
"Roy... boleh aku mencium bibir mu sekarang?" Tanya Madu yang ingin tahu. Apakah tuah susuk keris itu telah bekerja dalam diri Royco.
Dengan tatapan kosong, Royco pun langsung menganggukkan kepalanya pertanda iya, mengijinkan Madu untuk mencium bibir nya.
Serius? Madu terpekik jumawa dalam hati. Antara percaya dan tidak melihat anggukan pasrah Royco.
"Ah...nggak sabar," batin Madu ingin segara menyosor bibir Royco.
Sebelum Markisa datang dengan cepat Ibu mertua sedeng itu, langsung menyosor bibir Royco dengan sangat lahapnya. Sesekali Madu pun menjulurkan lidah nya masuk, membelit lidah Royco.
Chups... chups... chups.
Mereka masih terus bertukar saliva, dengan Madu yang terlihat sangat agresif dalam menuntun tangan menantunya, untuk terus meraba dan me*ems bongkahan bukit kembar miliknya.
"Ahhhhh... terus Roy! Aku merindukan saat saat ini." Bisik Madu mesra ke telinga Royco.
Tak mau perbuatan terlarangnya diketahui oleh Markisa, yang mungkin saja akan datang. Membuat Madu dengan sangat terpaksa harus mengakhiri permainan panasnya. Meskipun dengan menahan nafs yang sudah di ubun-ubun.
bersabar itulah kata yang pantas untuk Madu, karena derap langkah Markisa sudah terdengar semakin mendekat ke arahnya.
"Roy, tengah malam nanti, kamu masuk ke kamar ku yah. Nanti kita lanjutkan lagi permainan ini," Pinta Madu seraya merapikan kembali rambut serta pakaian yang acak-acakan.
Lagi lagi Royco hanya menganggukan kepalanya iya, yang pertanda setuju karena Royco sedang dalam ketidak sadaran akibat pengaruh susuk keris yang Madu pakai.
"Mama, sayang. Aku datang dengan membawakan segelas air yang Mama minta," ucap Markisa yang sedang mengikis jaraknya mengantarkan air yang diminta Madu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Yuliana Purnomo
mertuanya Royco emang sableng,,,gak kepikiran apa cari mangsa laen
2023-10-30
0
❥➻📴
hari gni msh ada aja pake dukun 🤣🤣dasar mertua lucknut 🙈
2022-09-03
3