Bab 6

"Pagi semua."

Sesampainya di kantor, Madu dengan sangat ramahnya, langsung menyapa seluruh pegawainya yang didominasi oleh kaum hawa itu.

"Pagi, Bu!"

Para pegawai itupun langsung menyapa balik Madu, dengan mata mereka yang terlihat heran, saat melihat seorang pria yang mengenakan kemeja putih, di balut dengan stelan jas hitam, terlihat sangat gagah dan juga tampan sekali bak seorang pangeran dari negri seberang, sedang berdiri tepat di samping Madu.

"Hey, siapa pria itu? Apakah dia itu suami baru dari Ibu Madu? Kalau iya, kapan mereka menikah? Kok, kita-kita ini nggak diundang yah?"

Para karyawati itu, berbisik-bisik karena merasa kepo akan sosok pria tampan itu.

"Hey, pria itu bukan suaminya Ibu Madu, dia itu menantunya," terang dari salah satu pegawai wanita itu yang pernah melihat Royco di rumah Madu saat berkunjung membawa laporan kantor.

Prok... prok... prok...

"Kumpul semua!" Seru Madu seraya tangannya bertepuk-tepuk, kode agar semua para pegawai itu menghampirinya.

Dengan riang gembira, para pegawai itu terlihat berlari kecil menghampiri Madu. Mereka terkesan sangat tertarik, ingin bisa melihat wajah pria tampan itu dari dekat.

Ada dari sebagian mereka yang terlihat, tersenyum penuh arti, dalam menatap lekat wajah Royco dari dekat.

"Astaga, betapa senangnya wanita yang menjadi istrinya, jika mempunyai suami tampan macam ini. Aku mau dong menjadi Markisa, anak dari Bu bos kita," ujarnya yang terkesima, iri dengan Markisa.

"Aku dengar kabar sih, sebelum menikahi anaknya, pria itu juga pernah menjadi berondong kesayangan Bu bos kita loh," celetuk bisik dari salah satu karyawati yang dijuluki ratu gosip, memberitahukan masa lalu Madu.

"Hussst! ngawur kamu. Hati-hati lo kalo ngomong. Kalau Bu bos sampai mendengar, kamu bisa langsung di pecat dari sini. Sebaiknya kita dengarkan Bu, bos mau ngomong apa tuh sama kita semua!" seru karyawati yang lain.

"Huuuu, siapa yang ngawur?" Gumamnya seraya memanyunkan bibirnya cemberut gosipnya terabaikan.

"Apa ada yang tahu, kenapa saya menyuruh kalian semuanya berkumpul?" tanya tegas Madu kepada semua karyawati.

"Tidak Bu!" Jawab kompak semua pegawai itu.

Sebelum mengutarakan maksud ke para pegawinya, Madu pun sempat tersenyum dan melirik ke arah Royco. Dalam hatinya terkagum-kagum melihat Royco yang begitu sangat tampan dan gagah saat ini berada dekat disampingnya.

Sementara Royco, terlihat langsung melengos saat Madu melirik ke arahnya. Bukannya kurang ajar akan tindakan Royco terhadap Madu, tapi Royco khawatir, nanti Ibu Mertua sablengnya mengira dirinya memberikan harapan lagi.

"Perkenalkan, dia adalah Royco yang akan bekerja di kantor ini untuk membantu saya. Hormati dia, seperti kalian menghormati saya, karena Royco adalah suami dari putriku yang bernama Markisa. Kalian mengerti?" Ujar Madu dengan nada tegas memperkenalkan Royco kepada semua pegawainya.

"Mengerti Bu..." jawab dengan kompak para pegawainya.

"Oke! Cukup sampai disini, kalian semua boleh kembali ke tempat kerjanya masing-masing." Titah Madu yang kemudian memutar badannya menghadap Royco.

Sementara para pegawainya itu, terlihat berbondong-bondong pergi menuju ke meja nya masing-masing untuk langsung melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.

"Ayo Roy ikut aku! Akan aku tunjukan ruangan kerjamu." Ajak Madu yang terlihat senang, dan tanpa ragu lagi main tarik saja tangan Royco.

Namun dengan cepat Royco segera menepisnya.

"Kenapa Roy?"

"Aku bisa berjalan sendiri! Nggak usah pake dituntun segala. Memangnya aku buta apa? Sehingga kamu harus menuntun saya." Tolak Royco dengan nada ketus.

Sekali lagi Madu harus merasakan sakit hati lagi, karena penolakan telak yang dilakukan Royco. Sesaat pikiran jernihnya muncul untuk menyudahi saja, hasrat terlarangnya terhadap menantunya itu.

Namun, setan jahat yang sudah menyesatkan pikiran warasnya kembali hadir dan berbisik dalam hatinya.

'Sabar Madu! Lambat laun, Royco pasti akan luluh padamu! Incar saja terus. Dia itu laki laki biasa yang mempunyai titik lemah. Dan titik lemahnya itu adalah nafsnya. Teruslah goda birahinya dengan bermain cantik."

Hasrat Terlarangnya pun tetiba muncul dan bangkit lagi, setelah sebelumnya sempat meredup dan akan hilang dari diri Madu. Bahkan hasrat itu semakin besar dan menggebu-gebu, ingin sekali bisa merasakan kembali tindihan hangat dari mantan berondongnya itu.

"Lihat saja Roy, sampai dimana kamu akan kuat dalam menahan godaan ku?" batin Madu menyeringai evil.

"Baiklah Roy, aku nggak akan menuntun tangan mu lagi. Sekarang, ayo ikut aku untuk melihat ruangan kerjamu." Pinta Madu yang langsung berjalan di depan Royco.

Tanpa kata, Royco pun langsung berjalan mengekor di belakang Madu. Sekian menit Madu berjalan, akhirnya dia pun sampai juga di depan ruangan yang akan Royco pake untuk bekerja.

"Ayo masuk Roy, ini adalah ruangan untuk kamu bekerja." Terang Madu dengan ceria.

Sementara Royco, hanya datar saja dalam melihat ruangan yang di tunjukan oleh Madu itu, justru Ia sangat begitu khawatir dengan ruangan itu, karena bisa saja ruangan itu di gunakan Madu untuk menjeratnya masuk kedalam hasrat terlarangnya.

Sebelum masuk ke dalam ruangan itu, Royco langsung mendongakan kepalanya ke atas, seraya meminta kepada tuhan dalam hatinya. "Ya tuhan, bantu aku agar bisa lepas dari godaan panas sang mertua yang sudah sableng ini. Agar kelak rumah tangga ku bersama Markisa tak berantakan."

Setelahnya, Royco pun langsung melangkah masuk ke dalam ruangan itu, Ia terus berjalan menghampiri meja yang akan digunakannya dalam bekerja. Dan mata itu tak henti-hentinya terus menatap dengan tajam kursi yang sebentar lagi akan ia duduki.

"Huuuuft,,," Royco langsung membuang nafas beratnya, setelah menaruh bokongnya di atas kursi itu.

Dengan mata terpejam, Royco pun langsung memutar-mutar kursi yang masih ia duduki.

"Bagaimana Roy, apa kamu merasa nyaman dengan ruangan ini?" Tanya Madu dengan kaki itu melangkah menghampiri Royco.

"Nyaman...." Royco sengaja menjeda karena Madu langsung saja melukis senyumnya. "Nyaman kalau kamu pergi dari ruangan yang katanya milik ku sekarang." sambungnya yang to the point bahwa dirinya sangat terganggu oleh tingkah genit mertuanya itu.

Seketika itu ucapan Royco membuat wajah Madu langsung berubah, terpancar dari dalam wajah itu, ada aura kemarahan yang sangat besar. Namun, Madu hanya bisa mengelus dadanya, karena tidak mungkin dia bisa marah kepada pria yang selalu didambanya.

"Huuuft..." Madu membuang nafas kasarnya, mencoba mengendalikan amarah yang sudah memuncak.

"Sabar Madu... sabar... jangan biarkan Royco menang. " batinya mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Baiklah, jika kamu lebih nyaman aku pergi. Aku akan pergi sekarang dari sini. Tapi, perlu kamu ingat Roy, aku nggak akan menyerah untuk selalu mengejarmu. Ingat itu Roy!" tegas Madu yang kemudian langsung berlalu pergi.

Melihat itu Royco hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya berkata. "Madu... Madu, sampai kapan kamu akan begitu?"

Terpopuler

Comments

Teguh Apriady

Teguh Apriady

wake up thor

2022-08-10

1

Tuti Hayuningtyas

Tuti Hayuningtyas

lanjuuuut

2022-08-09

1

Teguh Apriady

Teguh Apriady

sampai kapan
sampai episode selanjutnya

2022-08-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!