Bab 2
Jam menunjukkan pukul setengah satu malam. Madu terlihat keluar dari kamarnya dengan gelas kosong di tangannya itu. Ia ingin ke dapur mengambil air minum.
Sampai di dapur. Ia dikejutkan oleh keberadaan Royco, menantunya itu sedang duduk santai di kursi meja makan seraya mengepulkan asap rokoknya.
"Uhuk... uhuk." Madu sengaja terbatuk batuk yang cuma dibuat-buatnya saja. Itu dia lakukan demi bisa menarik perhatian Royco.
"Eh... ma-maaf..." Royco baru sadar keberadaan Madu setelah mendengar batuknya yang mungkin tersebab oleh kepulan asap rokoknya. Ia merasa tidak enak hati. Canggung pun menyerangnya, karena bagaimanapun juga, dulu mertuanya itu pernah menjalin sebuah hubungan intim bersamanya, tanpa adanya komitmen apapun.
"Kamu belum tidur, Roy?" Tanya Madu, seraya menuangkan air minum kedalam gelas kosongnya.
"Belum Madu... eh ma-maaf maksud saya, Mamah." Jawab Royco yang seketika itu juga langsung menjadi salah tingkah. Lidah itu seakan belum terbiasa mengucap kata Mamah ke Madu yang sekarang telah menjadi ibu mertuanya.
"Uhuuk... uhuukk... " Sebutan Mamah membuat Madu terbatuk batuk sungguhan, karena dia tersedak air ketika mendengar Royco memanggilnya dengan kata Mamah.
Tentunya itu bukan sapaan yang diharapkan oleh Madu, karena hingga saat ini Madu masih enggan untuk merelakan, kalau Royco telah menjadi pasangangan sah dari putrinya. Sampai saat ini pun, Madu masih menaruh hati pada Royco, dan masih berharap lebih untuk bisa menjadi pemuas batinnya lagi.
Setelah berhasil menetralkan batuknya, Madu langsung berjalan ke tempat meja makan, dan langsung menarik kursi kemudian menaruh bokongnya tepat di hadapan tempat Royco duduk.
Madu langsung menatap intens mata Royco saat berhadap-hadapan dengannya. Akan tetapi, tatapan matanya yang mungkin bermakna aneh bagi Royco, pria itu lebih memilih melengos dan langsung menunduk, untuk melihat kearah bawah sana.
"Roy, bisakah kamu jangan memanggilku dengan sebutan kata Mamah lagi!" Pinta Madu seraya meraih tangan Royco untuk digenggamnya.
Deg...
Royco langsung mengangkat pandangannya ke Madu, lalu tertuju ke genggaman tangan Madu. Jantungnya pun seketika ingin lepas dari tempatnya, karena amat terkesiap saat Madu yang kini menjadi ibu mertuanya, terkesan frontal tanpa segan dan berani sekali menggenggam telapak tangannya penuh arti.
Tersadar kalau kontak fisik yang penuh arti itu salah, Royco pun dengan cepat, berusaha menarik tangannya. Takut Markisa, istrinya melihat dan berujung ada kesalahpahaman.
Namun, semakin Royco ingin melepaskan genggaman tangan dari Madu, semakin kuat pula Madu menggenggam tangannya.
"Kenapa Roy... ? Kenapa sekarang kamu tidak ingin lagi dipegang oleh ku?" Tanya Madu ingin penjelasan dari Royco. Wajahnya memelas agar Royco memberi perhatiannya.
"Jangan begini!" Royco menghentakkan tangannya dengan kasar dari genggaman Madu hingga terlepas.
"Mengapa, Roy."
"Ini salah! Sekarang kamu itu adalah ibu mertua ku. Aku ini sudah menjadi suami yang sah dari Markisa, tak pantas kamu bersikap seperti itu pada suami anakmu sendiri." Terang Royco tegas.
"Ta--tapi, aku masih sangat mencintaimu Roy. Aku ingin bisa seperti dulu lagi." Ujar Madu dengan memelas berharap Royco mau menerimanya.
"Maaf... aku nggak bisa! Dulu hanyalah masa lalu yang tak pantas untuk diungkit lagi. Sekarang aku adalah suami Markisa dan akan tetap menjadi suaminya, meskipun ibu kandungnya sendiri berniat untuk mengusiknya dengan menjadi pelakor dalam rumah tangga nya." Sindir Royco kepada Madu seraya mata itu melihat sinis ke arah Madu.
Degg....
Seketika itu juga hati Madu terasa sakit, bak ditikam-tikam menjadi ribuan bentuk. Saat orang yang dicintainya menyindirnya dengan sebutan pelakor.
Air mata itupun langsung menggenang memenuhi seluruh sudut matanya, dan tak lama bulir-bulir air bening itu jatuh tanpa permisi membasahi pipi Madu, karena betapa menyakitkan perkataan Royco terhadapnya.
"Pelakor...? Kamu menyebutku dengan kata itu, Roy? Apakah aku sampai serendah itu dalam pandanganmu, hiks...?" Madu bertanya dengan wajah memelas serta isakan pilu nya. "Salahkah jika diri ini terlalu menginginkanmu, hiks...?" Sambung Madu seraya mengusap air matanya, yang tak henti-hentinya terus mengalir membasahi kedua pipinya.
Royco tampak tak bergeming melihat Madu yang lagi menangis, dia pikir itu cuma akal-akalan dari Madu saja, agar membuatnya merasa iba.
Ck... Modus, jangan harap aku akan iba melihat kamu menangis. Aku tahu kalau kamu itu hanya berpura-pura, supaya mendapat simpati dari saya kan? Dalam hati, Royco berbicara.
Royco tidak tahu kalau Madu sedang menangis sungguhan, air mata yang di keluarkan oleh Madu itu bukanlah air mata buaya, melainkan air mata kesedihan karena merasa ditolak.
"Hari sudah mau pagi, aku harus pergi tidur sebelum Markisa tersadar kalau aku tak ada di dekatnya saat bangun nanti, permisi." Ijin Royco yang kemudian beranjak pergi dari hadapan Madu.
Merasa tidak puas karena tak berhasil membuat Royco menerima keinginannya, dengan cepat Madu langsung menghalangi langkah Royco.
"Jangan harap kamu bisa semudah itu pergi dariku, Roy." Madu menghalangi langkah Royco dengan berdiri di hadapannya seraya merentangkan kedua tangannya.
"Mau apa lagi kamu? Belum cukup jelaskah penolakanku itu, ha?!" ujar Royco tegas.
"Nggak Roy, dalam kamus ku nggak ada kata penolakan. Aku akan terus mengejar-ngejarmu sampai dapat, tak perduli meskipun caraku itu akan melukai hati Markisa, hati anak kandung ku sendiri." Ancam Madu.
Mendengar itu, Royco hanya sanggup geleng-geleng kepala karena demi mendapatkan kepuasan sesaat ibu mertuanya, wanita itu harus rela merendahkan diri sendiri.
"Madu... Madu. Ibu macam apa sih kamu itu?" Royco tersenyum miring, saat melihat Madu yang sudah kehilangan akal sehatnya.
Tak menghiraukan ancaman Madu, Royco pun terus melangkah mencoba menerobos halangan yang di lakukan oleh Madu.
Namun, bukannya lepas dari hadangan Madu, Royco malah terjebak dalam pelukan Paksa yang dilakukan oleh Madu dari arah belakang.
"kena kamu, Roy. Aku tidak akan melepaskan pelukan ini," kekeuh Madu seraya memeluk dengan kuat-kuat tubuh bagian belakang Royco.
Sontak, membuat Royco kaget bukan kepalang, sikap ibu mertuanya begitu sangat frontal yang tetiba saja berani memeluknya dari belakang.
Royco pun tak tinggal diam atas perbuatan yang dilakukan oleh ibu mertuanya itu, dengan terus meronta-ronta mencoba lepas dari belenggu tangan Madu yang terus menjeratnya.
"Lepaskan aku! Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah gila, yah?" Tanya Royco bertubi-tubi seraya terus melepaskan tangan Madu dari tubuhnya.
"Coba saja kamu lepas sendiri pelukan ini jika kamu bisa!" Tantang Madu.
Ceklek...
Lampu dapur pun tetiba menyala terang benderang, dan dengan kompak Royco serta juga Madu langsung dibuat melongo saat melihat seorang wanita yang menyalakan lampu itu.
Dengan cepat Madu pun langsung melepaskan dekapannya pada tubuh Royco, dan langsung bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Virushe Aira
baru pertama nemu novel pelakornya ibu mertua 😂
2022-09-29
2
Nova
dasar janda gatel loe madu... otak loe di dengkul
2022-09-23
1
Teguh Apriady
mantap thor
2022-08-03
1