"Lepas... lepaskan aku... dasar Dukun cabul sialan!" Madu terus menjerit jerit seraya meronta-ronta minta dilepaskan dari tali yang membelenggu kaki dan tangannya di atas kasur itu.
Tapi apalah daya, tenaganya cuma habis terkuras tak berguna.
"Hahaha... Teruslah menjerit dan bergerak liar. Dengan begitu, aku semakin tertantang."
Dukun cabul itu tertawa membahana, sampai Udin dan Ujang di luar kamar mendengarnya. Mereka kompak bergumam, "Enak sekali si tua itu..."
"Tolong lepaskan aku, Mbah. Ku mohon! Kalau Mbah bermurah hati, maka aku akan memberikan harta banyak."
Madu merayu mohon dengan iming imingnya. Tapi disayangkan, Dukun itu lebih menginginkan tubuh molek seksi itu.
Pergerakan brutal Madu saja sudah berhasil membuat adik kecil nya itu berdiri di dalam penjara kain.
" Uhh... Tak sabar, " batin Dukun itu seraya menelan salivanya membuat jakungnya langsung naik turun. Bibir yang kering pun ia basahi dengan lidahnya, tak lupa matanya menatap penuh gairah ke tubuh wanita yang memasang tampang memelas itu.
"Mbah... Mau apa?" tanya Madu ketakutan.
"Mau ini..."
Kokek.... Kokek....
"Huwaa..." Madu menjerit prustasi saat dadanya mendapat sentuhan kurang ajar dari tangan Dukun itu.
"Uhhh... Besar ya!" kata Dukun itu masih memainkan tangannya seperti sedang memainkan squisi.
"Bajingan! Keparat!" maki Madu.
"Oh, aku bajingan ya?" kata Dukun itu seraya membuktikan seorang bajingan itu seperti apa dengan cara melepas kancing itu mulai dari paling bawah, sengaja yang ingin melihat perut mulus Madu.
"Jangan! Jangan!"
"Berisik!" sentak sang Dukun seraya menarik sapu tangan dan menyumpal mulut Madu. Setelahnya, Dukun itu pun kembali melepaskan kancing hingga terbuka keseluruhannya.
"Wow... indah sekali!" Seru Dukun itu dengan mata melotot, saat melihat kulit bongkahan milik Madu, yang sangat bening dan mulus. Otong yang dibawah sana sontak langsung berkedut-kedut senang tak sabaran.
Tak mau membuang waktunya hanya untuk menatap dua bongkahan itu. Tangan sang Dukun pun seakan reflek, langsung menyapu dan mer*mas kembali, bukit kembar Milik Madu dengan sangat brutal. Tak lama kepala sang Dukun pun menelusup masuk, mencoba mengendus aroma wangi dari kedua bongkahan kembar Milik Madu.
Madu terlihat tak berdaya saat bagian tubuhnya mendapat sentuhan-sentuhan kurang ajar dari sang Dukun, Madu hanya menerima dengan pasrah saat Dukun itu dengan leluasa menyentuh, bahkan sampai mencium habis bongkahan kembar miliknya.
Disamping itu Sita yang sedari tadi pingsan, kini sudah terlihat sadar ketika mendengar teriakan keras dari Madu, karena tubuh Madu berada tepat di samping tubuh Sita yang sama-sama dalam keadaan tidur terlentang dengan tangan dan kaki yang terikat.
Dengan kepala yang masih sedikit pusing, Sita pun langsung membuka kedua matanya.
"Astaga! Dasar Dukun sialan! apa yang sedang kamu lakukan dengan tubuh temanku?" Tanya Sita kaget saat melihat lidah Dukun itu terus menyapu bongkahan bukit Madu penuh gairah.
"Ahhhhhh, rupanya kamu sudah sadar yah? seperti yang sedang kamu lihat sayang, aku lagi asik bermain dengan bongkahan milik teman mu itu."
Dukun itu kembali mer*mas dan melahap bukit Madu, tanpa sedikitpun mempunyai perasaan malu, karena tindakannya di lihat langsung oleh mata Sita.
Sedangkan Madu, terlihat terus menggeliatkan tubuhnya jijik. Meronta dan mencoba berteriak dengan mulut yang tersumpal oleh kain. Hingga butir-butir air bening pun jatuh tanpa permisi membasahi pipi Madu.
Cuih! Merasa jijik, Sita sontak meludahi Dukun itu, yang tepat jatuh mengenai lengannya.
"Menjijikan sekali!"
Sontak membuat sang Dukun pun menoleh dan menatap horor Sita, yang sudah meludahi tangannya.
"Berani yah kamu bersikap kurang ajar sama saya?"
Dukun itu pun langsung menyudahi perbuatan kurang ajarnya kepada Madu, untuk mendekati Sita yang sudah membuatnya sangat marah.
"Lihatlah apa yang akan aku lakukan terhadap kamu!"
Brak...
Sang Dukun yang langsung membuka paksa semua kancing baju milik Sita, karena ia sangat marah dengan perlakuan Sita yang sudah meludahinya.
"Mamah.... Hiks... hiks... hiks."
Mulut Sita pun berteriak memanggil sang Mamah seraya menangis.
"Hahaha... inilah akibat dari kamu yang kurang ajar! Kini giliran celana kamu yang akan aku buka paksa."
Sang Dukun tertawa membahana, tak menghiraukan tangisan sita.
"Jangan Mbah... ku mohon. Jangan lakukan itu terhadap saya, kasihanilah saya Mbah."
Sita yang begitu sangat ketakutan, terus memohon dan memelas. Namun, sang Dukun itu hanya menulikan telinganya.
Brakk...
Sang Dukun dengan sangat brutal langsung melepaskan kain celana milik Sita, hingga menyisakan kain yang berbentuk segitiga menutupi keintimannya saja.
"Dasar Dukun keparat! Bajingan! Hiks... hiks... hiks..." Sita terus melayangkan makiannya, dan langsung menangis pasrah saat sang Dukun itu berhasil kembali merusak kainnya.
"Hahaha... lihatlah sekarang. Tubuh mu sudah dalam keadaan polos. Kalau sudah begini, aku bisa bebas melakukan apa saja dengan tubuh polos mu."
Sang Dukun cabul itu tertawa ejek, saat melihat tubuh Sita yang polos.
Di luar sana, Udin dan Ujang yang berharap bisa mendapat bagian untuk icip-icip salah satu wanita tawanan itu. Terlihat gelisah, karena hingga sampai detik ini majikannya di dalam sana belum juga keluar dari kamarnya.
"Jang... kok, si Mbah lama amat yah?" Tanya Udin seraya berjalan mondar mandir di depan kamar si Mbah Dukun.
"Iya Din, kalau begini kapan kita dapat bagiannya yah? Sampai kapan kita harus berdiri disini untuk menununggu si Mbah keluar dari kamarnya?" Ujang pun bertanya dengan ketidakpastiannya dalam menunggu bagian.
"Hmmm, apa sebaiknya kita masuk saja ke dalam? Kita recokin si Mbah. Kan ada dua wanita tuh di dalam? Satu buat si Mbah, satu lagi buat kita." Usul Ujang dengan ide konyolnya.
"Gila lo Jang! Lo mau di gorok hidup-hidup oleh si Mbah? Berani lo berbuat tidak sopan dengan lancang mau merecokin si Mbah?" Udin langsung mencecar Ujang dengan banyak pertanyaan, seketika membuat Ujang langsung menciutkan nyali.
"Nggak lah, Din, gue nggak mau. Gue masih tetap mau hidup. Lagian gue kan belum tau rasanya surga dunia itu seperti apa, kalau gue mati sekarang, nantinya arwah gue jadi penasaran, Din,"ujar Ujang panjang kali lebar.
"Yaudah! Makanya kita sabar aja, nggak usah pake mau merecokin si Mbah segala. Ide lo itu, sama saja mencari mati. Biar si Mbah lama, pasti dia akan keluar juga dari kamarnya, jika dia keluar giliran kita yang masuk. Dan giliran kita yang merasakan kenikmatan surga dunia bersama wanita-wanita itu, Jang."
"Benar juga kata lo, Din. Kan ada pepatah mengatakan, orang sabar lama-lama bokongnya lebar."
Plak...
"Aduh! Kenapa lo main getok pala orang? Sakit tau." Keluh Ujang, saat kepalanya kena getok oleh Udin.
"Salah somplak! Bukan begitu bunyinya. Orang sabar itu di sayang Tuhan, bukan lama-lama bokongnya lebar."
"Nah, itulah maksud gue. Tapi, Din, memang nya Tuhan bisa sayang sama kita? Sedang kita saat ini dalam pekerjaan kotor. "
Udin langsung merapatkan bibirnya karena teman dodolnya itu membawa nama Tuhan yang jelas saja membenci pekerjaan hina mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
permana2579
author ko updetnya nggk setiap hari sih
2022-08-25
2