Bab 9

Nafsu bisa membutakan hati serta pikiran waras manusia. Seperti apa yang sedang di alami oleh Madu, karena Madu saat ini sedang dikuasai oleh hawa nafsunya sendiri, yang tak henti-hentinya dalam mengejar kepuasan dari sang menantunya. Dan demi mendapatkan kepuasan itu, dirinya sampai rela menempuh jalan apapun termasuk meminta bantuan dari seorang dukun sakti.

Tok...tok...tok

"Permisi..."

Dan di sinilah Madu bersama seorang suster yang menawarkan jasanya untuk mengantar Madu ke rumah orang sakti.

Suasana pelataran rumah yang suram dari kehidupan tetangga. Bahkan rumah yang berada di pinggir hutan itu, sama sekali tidak punya tetangga. Menyeramkan bagi Madu, membuat bulu bulu Madu merinding. Tapi tidak bulu yang ada di bawah sana.

"Tenang saja, Bu. Aman kok!" kata si Suster yang bernama Sita itu. Mencoba menenangkan hati Madu, dari rasa ketakutan yang sedang menyerangnya.

Madu hanya mengangguk pasrah. Namun ia semakin menempelkan sisi tubuhnya ke Sita, pertanda ia belum bisa melepaskan rasa ketakutan itu dari dalam dirinya.

Kalau bukan demi bisa mendapatkan kepuasan dari menantu idamannya itu. Mana mau Madu datang ke rumah dukun itu. Di samping rumahnya yang kumuh, rumah itu juga terlihat sangat menyeramkan, karena dikelilingi pohon bambu yang menjuntai tinggi-tinggi. Dan pohon beringin yang sangat besar nan tinggi berdiri kokoh tepat di depan rumah dukun itu.

Belum juga sebuah kuburan, yang ada dibawah pohon beringin itu. Konon kabarnya kuburan itu begitu sangat dikeramatkan oleh dukun itu, karena sampai dibuatkan bangun tembok yang mengelilinginya, sehingga menutupi kuburan keramat itu serta pohon beringin didalamnya.

"Orangnya ada enggak sih? Aku sangat takut sekali tahu, Sus." tanya Madu pelan. Dengan kepala yang sesekali celingukan.

"Pasti ada, Bu. Ibu sabar sedikit yah, tak lama lagi pasti Dukun itu keluar dan segera membukakan pintunya untuk kita masuk." Terang perawat itu yang justru terlihat santai saja. Tidak seperti Madu yang semakin merinding dalam menunggu pintu rumah dukun itu terbuka.

Ngak... ngak... ngak.

Suara burung gagak yang terdengar sangat menyeramkan, seakan ikut menghiasi keangkeran dari rumah dukun itu. Menambah rasa ketakutan dalam diri Madu, sehingga timbul rasa ingin cepat pulang saja dirinya dari rumah dukun itu.

"Ayo Sus, kita pulang saja dari rumah ini. Lagian kayaknya, dukun itu sedang tidak ada di rumahnya, karena dari tadi kita ketok-ketok tetapi dukun itu tidak muncul-muncul juga," terang Madu dengan kegusaran menahan rasa takut yang sedang menggerogotinya.

"Aduh, Bu. Sudah kepalang tanggung tau. Kita sudah berada disini. Sekali lagi yah, aku ketok-ketok pintunya siapa tahu dukun itu membukanya." Bujuk sita dengan keukeu.

Disaat Sita mencoba kembali lagi mengetok pintu rumah dukun itu, tetiba suara denyitan pintu yang terbuka pun terdengar.

Kreeekeek...

Perlahan pintu rumah reot itupun terbuka, nampak seorang pria yang berpakain serba hitam, dengan sorot mata yang sangat tajam langsung menatap Madu serta Sita dengan saling bergantian.

Tak lama pria itupun langsung melangkah keluar. Sembari membelai jenggot panjangnya, pria itu langsung berjalan mengitari dua wanita cantik itu dari atas rambut hingga ke ujung kakinya.

Sementara Madu dan Sita, hanya tertunduk. Tidak berani melihat sorot mata tajam dukun sakti itu.

Glukkk...

Sesaat Dukun itu langsung menelan salivanya, saat pandangannya berhenti tepat ke arah betis dari Madu yang sama sekali tidak tertutup karena hanya menggunakan rok yang hanya sampai menutupi bagian lututnya saja.

"Sempurna..." batin dukun itu yang terkagum-kagum saat melihat penuh mupeng betis bening milik Madu. Sesaat membuat dukun itu melamun hanyut bersama fantasi liarnya.

Sita pun sedikit memberanikan diri untuk melihat wajah Dukun itu, mata sita pun langsung membulat hebat saat mengetahui dukun itu menatap nakal betis dari Madu.

Ck, ternyata seorang Dukun cabul yang aku temui tapi biarlah, bukan saya ini yang meminta bantuan darinya. Batin Sita yang melihat sedikit kelakuan cabul dari Dukun itu.

"Heeheemm..." Sita pun berdehem saat dukun itu terlihat memandangi terus terusan tubuh bagian bawah Madu, Sita dengan sengaja menyadarkan dukun itu dari fantasi liarnya.

"Mbah kenapa? matanya kok terus-terusan memandangi betis dari temanku." Sita dengan sangat lancangnya dan berani sekali bertanya ke dukun itu.

Sontak membuat dukun itu langsung gelagapan, tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sita. Sementara Madu, ia langsung mengerutkan dahinya bingung karena tak sadar saat dukun itu memandangi betisnya.

"Sial! Saya harus jawab apa? Masa iya saya harus jawab tidak, sementara wanita itu jelas-jelas melihat saya, saat mata ini menatap kemulusan dari betis wanita yang ada di sebelahnya," batin dukun itu, sangat bingung menutupi otak cabulnya.

"Oh iya, kalian berdua ada keperluan apa menemuiku?' Tanya dukun itu mengalihkan topik pembahasan.

"Biar lebih nyaman bicaranya, sebaiknya kalian berdua masuk saja ke dalam. Silahkan." Pinta Dukun itu mempersilahkan.

Baru sekian langkah Madu menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumah dukun itu, bulu bulu romannya langsung saja pada berdiri, seakan-akan bagian tengkuknya kaya ada yang menghembuskan angin.

Sehingga membuat Madu seketika bergidik ngeri, dan semakin menempelkan tubuhnya ke Sita.

"Tenang, Bu. Nggak usah takut."ucap Sita seraya menggandeng tangan Madu.

Tenang tenang matamu somplak, orang ketakutan dari tadi hanya disuruh tenang tenang terus. Coba deh kamu berada diposisi saya! Apakah kamu bisa disuruh tenang. Batin Madu merasa kesal dengan Sita yang hanya menyuruhnya untuk tenang.

"Silahkan duduk." Pinta Dukun itu saat dirinya sudah duduk di dekat meja prakteknya.

Madu serta Sita pun turut duduk di hadapan dukun itu, meskipun dengan perasaan takut yang melanda perasaannya.

"Apa ada yang bisa saya kerjakan?" Tanya dukun itu, seraya menaburkan bubuk kemenyan ke dalam tungku yang berisikan bara arang yang menyala.

Sehingga membuat kepulan asap membumbung tinggi, dengan aroma khas dari bubuk kemenyan itu menambah aroma mistis terendus dalam penciuman Madu.

"Ini mbah, teman saya. Dia mau minta bantuan dari mbah." Terang Sita seraya menunjuk ke arah Madu.

Ahhh, ini kesempatan ku. Ternyata yang butuh bantuan dariku, ternyata wanita pemilik betis mulus itu. Betisnya aja mulus, apalagi bagian anunya? Pasti anunya juga mulus. Slreeeeep ahhh, tak sabar aku jadinya. Batin dukun itu menyeringai devil.

"Ayo Neng, silahkan ungkapkan keinginan kamu." Titah Dukun itu dengan bola mata yang melotot memandangi penuh nakal bibir sensual dari Madu.

"Ini mbah, saya mau pria yang ada didalam foto ini tergila-gila sama saya mbah. Buat dia agar selalu menuruti segala yang saya mau. Mbah bisa?" Terang Madu seraya tangannya menyodorkan foto Royco dihadapan Dukun itu.

Sang Dukun pun langsung meraih foto itu dari tangan Madu, dan tak lama dilihatnya foto Royco oleh Dukun itu terus-menerus.

Terpopuler

Comments

permana2579

permana2579

author ko jarang update sih, updatenya lama mohon jgn lama2 updatenya 👍🏻

2022-08-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!